Tulasi (Dewanagari: तुलसी;,IAST:Tulasī,तुलसी) alias Wrinda (Dewanagari: वृन्दा;,IAST:Vṛndā,वृन्दा) adalah dewi dalam agama Hindu yang merupakan personifikasi dari tanaman ruku-ruku atau kemangi hutan, yang dalam bahasa Sanskerta disebut tanaman tulasi. Dia dianggap sebagai salah satu manifestasi dari Dewi Laksmi, sehingga dianggap sepadan dengan permaisuri Dewa Wisnu. Dalam cerita versi lain, sebagai Wrinda (sebelum menjadi Dewi Tulasi) dia menikah dengan Jalandara. Daunnya dianjurkan sebagai persembahan dalam ritual pemujaan Wisnu dan para awataranya, seperti Kresna dan Witoba. Secara tradisional, tanaman tulasi ditanam di halaman tengah rumah keluarga Hindu di India.[2] Tanaman ini dibudidayakan untuk tujuan keagamaan, dan untuk memperoleh minyak atsiri yang dihasilkannya.
Legenda
Kitab Hindu Skandapurana, Padmapurana, dan Siwapurana mengandung legenda asal-usul tanaman ruku-ruku atau tulasi. Dikisahkan bahwa dunia pernah dikuasai oleh Jalandara, musuh para dewa terutama Dewa Siwa. Dia menikah dengan Wrinda, putri asuraKalanemi. Dalam suatu konflik dengan Siwa, Jalandara berubah wujud sebagai Siwa gadungan dan menggoda Parwati, istri Siwa. Sebaliknya Wrinda digoda oleh Wisnu, atas permohonan dari Parwati sebagai balasan atas tipu daya Jalandara, serta agar Jalandara mudah dikalahkan sebab kekuatan Jalandara didukung oleh kesetiaan Wrinda.[3] Wisnu pun mengganggu Wrinda dengan memberikan mimpi buruk bahwa Jalandara telah gugur dalam pertempuran. Saat Wrinda bangun, dia merasa galau, lalu berjalan ke tengah hutan dan berjumpa seorang resi jelmaan Wisnu. Sang resi menunjukkan Jalandara yang telah dimutilasi kepada Wrinda. Atas permohonan Wrinda, Wisnu menciptakan Jalandara palsu yang diklaim sebagai Jalandara yang telah hidup kembali.
Menyaksikan suaminya hidup kembali, Wrinda bercengkerama dengannya selama beberapa hari. Akhirnya dia menyadari tipuan Wisnu seusai melakukan hubungan seksual dengan Jalandara palsu. Dia mengutuk Wisnu bahwa istrinya (Laksmi) juga akan dipisahkan darinya (dikisahkan dalam wiracaritaRamayana). Kemudian Wrinda bakar diri meskipun Wisnu sudah mencoba menghentikannya.[4] Dalam sejumlah cerita rakyat di India, tidak ada narasi tentang hubungan seksual. Sebaliknya, kesetiaan Wrinda dianggap ternodai hanya dengan memandang Wisnu seolah-olah memandang suaminya sendiri, atau dengan menyentuh kaki Wisnu dengan gestur yang hanya diperuntukkan bagi suaminya.[5][6]
Tanaman ruku-ruku atau kemangi hutan, yang dikenal oleh umat Hindu sebagai tulasi.
Setelah konflik antara Jalandara dan para dewa berakhir, Wisnu masih trauma dengan kematian Wrinda, dan menolak untuk beranjak dari api yang membakar tubuh Wrinda. Para dewa memohon kepada Prakerti (personifikasi kekuatan alam), yang kemudian menawarkan tiga benih untuk ditanam di tempat Wisnu berada, masing-masing melambangkan triguna: satwam, rajas, dan tamas. Benih-benih tersebut tumbuh menjadi tiga tanaman: dhātrī (prem ceri atau malaka), mālatī (melati), dan tulasī (ruku-ruku). Ketiganya dipersonifikasikan sebagai tiga wanita: Swara, Laksmi, dan Gauri. Wisnu pun terpesona melihat mereka. Karena mālatī dianggap "curang" (sebab dia berasal dari Laksmi, yang sudah menjadi "sakti" [pasangan] Wisnu), dia pun dikutuk. Namun, dhātrī dan tulasī memiliki cinta sejati kepada Wisnu, dan membuatnya melupakan kesedihannya. Mereka pun menemani Wisnu kembali ke Waikunta.[7][8][9]
Versi lainnya
Dalam versi lain kisah asal-usul tanaman ruku-ruku, Wrinda mengorbankan dirinya di tumpukan kayu bakar saat acara kremasi suaminya (yang gugur di tangan Siwa),. Wisnu memastikan bahwa dia akan menjelma dalam wujud tanaman ruku-ruku (tulasi). Dia pun memperoleh status "dewi" bernama Tulasi, sementara wujud fisiknya adalah tanaman ruku-ruku (tulasi).[10]
Sebuah legenda Waisnawa (aliran Hinduisme yang memuliakan Wisnu sebagai dewa tertinggi) menghubungkan asal-usul tulasi dengan peristiwa Samudramantana, pengadukan Samudra Susu oleh para dewa dan para asura. Di akhir pengadukan, Dhanwantari muncul dari samudra dengan tirta amerta (ramuan keabadian). Wisnu berhasil mengamankannya untuk dibagikan kepada para dewa, setelah para asura mencoba mencurinya. Wisnu dipercaya telah meneteskan air mata bahagia—dengan tetesan pertama jatuh ke dalam kendi amerta—dan dari tetesan itu muncul tanaman tulasi.[11]