Konsep dan makna
Acintya merupakan representasi simbolis dan personal dari sifat-sifat Tuhan yang berada di luar jangkauan pikiran. Ia dikenal sejak zaman kuno dalam budaya Hindu Jawa dan Bali sebelum penggunaan istilah Sang Hyang Widhi–pada umat Hindu Bali masa kini–untuk mengacu kepada konsep ketuhanan. Dalam tradisi Saiwa, Acintya diyakini sebagai manifestasi dari Siwa, dewa yang utama.
Acintya seringkali berkaitan dengan konsep pemujaan terhadap dewa matahari, Surya.[3] Hubungan tersebut menyiratkan suatu makna bahwa seperti halnya Matahari yang tidak mampu dipandang secara langsung, demikian pula sifat-sifat Tuhan tidak sepenuhnya dapat dipahami oleh akal manusia.
Dalam sebagian besar wujud ikonisnya, Acintya dilambangkan sebagai sosok manusia tanpa busana, dengan pancaran di beberapa titik tubuhnya. Sosok yang telanjang melambangkan kesadaran murni, mengindikasikan kondisi pikiran yang tidak lagi terbelenggu pada sensasi indrawi.[4]