Walaupun diberi nama Kedundang, stasiun ini secara administratif tidak terletak di Kalurahan Kedundang, tetapi di sebelah utara kalurahan tersebut dan berbatasan di stasiun ini.
Sejarah
Stasiun Kedundang yang terletak di lintas antara Stasiun Wates dengan Stasiun Wojo ini sempat dinonaktifkan mulai tanggal 21 Juli 2007, dimaksudkan untuk efisiensi setelah dibukanya jalur ganda lintas Yogyakarta-Kutoarjo, karena fungsi awalnya hanya sebagai stasiun persilangan antarkereta api sewaktu masih menggunakan jalur rel tunggal.[4] Dahulu sekitar 2 km ke arah timur stasiun ini, sebelum Stasiun Wates, terdapat Halte Pakualam yang berlokasi di Hargorejo, Kokap, Kulon Progo.
Kondisi bangunan lama
Bangunan lama Stasiun Kedundang memiliki arsitektur yang mirip dengan Stasiun Sukoharjo, Stasiun Winongo, Stasiun Palbapang, dan Stasiun Bantul, yaitu ciri khas desain atap dan lubang ventilasi udara yang berbentuk bulat. Stasiun ini diperkirakan juga dibangun saat pembangunan jalur rel Yogyakarta-Maos-Cilacap pada kurun waktu tahun 1887 oleh perusahaan kereta api negara pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen. Saat masih aktif, stasiun ini terakhir memiliki tiga jalur kereta api dengan jalur 1 yang lama merupakan sepur lurus.[5]
Bangunan lama stasiun yang memiliki gaya khas era Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) tersebut memiliki beberapa ruangan, diantaranya ruang tunggu penumpang, ruang pelayanan tiket, ruang kepala stasiun, dan ruang PPKA yang tampaknya dibangun belakangan karena bentuk bangunannya berbeda dengan bentuk asli (bangunan stasiun ini bergaya 1950-an).
Selama masa-masa nonaktifnya, kondisi jendela, pintu, lantai, dan ruang tunggu mulai rusak karena sudah tidak ada yang merawat untuk membersihkan stasiun. Masih terdapat juga toilet, sumur, gardu persinyalan blok, dan dua rumah dinas DKA. Pada sebelah barat stasiun terdapat perlintasan sebidang dengan nomor pos jaga 667. Papan nama stasiun versi Perumka saat itu juga masih terpasang.
Pengoperasian kembali
Sehubungan dengan pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta di Temon, Kulon Progo, muncul wacana untuk mengaktifkan kembali Stasiun Kedundang sebagai stasiun sub penghubung untuk menuju bandara.[6][7] Terkait dengan hal tersebut, bangunan lama stasiun beserta seluruh fasilitas dan rumah dinas, kecuali gardu persinyalan blok intermediet, sudah dirobohkan karena terkena dampak pembangunan jalur baru stasiun tersebut menuju bandara YIA.
Sejak 18 Agustus 2021, stasiun ini resmi dioperasikan kembali ditandai dengan switch-over persinyalan elektrik.[3] Bangunan stasiun lama yang berada di sisi selatan jalur rel sudah digantikan dengan bangunan baru di sisi utara jalur rel. Sistem persinyalan blok intermediate yang digunakan di stasiun ini selama masa nonaktifnya kini telah dibongkar dan digantikan dengan sistem persinyalan elektrik produksi Len Industri. Stasiun ini kembali memiliki tiga jalur kereta api dengan jalur 1 merupakan sepur lurus arah Kutoarjo, jalur 2 merupakan sepur lurus arah Yogyakarta sekaligus sepur raya percabangan jalur lintas bandara tersebut, dan jalur 3 juga merupakan sepur raya seperti halnya jalur 2. Kemudian pada tahun 2022, dibangun satu jalur belok baru di dekat ruang PPKA baru sehingga jumlah jalur bertambah menjadi empat. Jalur belok baru tersebut dijadikan sebagai jalur 1 yang baru sehingga penomoran jalur-jalur eksisting di stasiun ini diubah dengan menambah semua nomor jalurnya dengan angka satu.
Saat ini Stasiun Kedundang hanya melayani persusulan antar kereta api serta pengaturan wesel menuju Bandara Internasional Yogyakarta.
Bangunan lama dari Stasiun Kedundang merupakan Bangunan Cagar Budaya (BCB) yang ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Bupati Kulon Progo Nomor 586/A/2018 dan berada di Tanah Pakualaman. Bangunan lama tersebut diganti dengan bangunan baru yang terletak di sisi utara dari Jalur kereta api Cilacap–Yogyakarta, dan tidak memiliki rancang bangun yang identik dengan bangunan lama.[8]
Pemerintah melalui BPCB DIY menyayangkan tindakan sewenang-wenang tersebut, pihak BPCB kemudian menerjunkan polisi khusus cagar budaya untuk mengamati penghancuran BCB Stasiun Kedundang. Bangunan baru Stasiun Kedundang beroperasi sejak 18 Agustus 2021 bersamaan dengan pengoperasian Percabangan YIA.[8]
Lebih lanjut, disebutkan bahwa penghancuran tersebut juga tidak memperoleh izin/kesepahaman dari Kadipaten Pakualaman. Pakar berpendapat, pihak Kadipaten dapat meminta pertanggungjawaban kepada pihak yang terlibat, diantaranya Kemenhub RI, Kereta Api Indonesia dan Pemerintah Daerah Kulon Progo atas tindakan tersebut. Meski demikian, belum ada tindak lanjut atas pelanggaran tersebut.[9]
Insiden
Pada tanggal 8 April 2025 sekitar pukul 10.30 WIB,[10]Commuter Line Prambanan Ekspres nomor KA 502 relasi Kutoarjo–Yogyakarta mengalami mogok di KM 503+2 antara Kedundang–Wojo. Kereta tersebut berhenti di dekat rumah PPKA atau rumah sinyal Stasiun Kedundang. Penumpang dievakuasi ke luar dari kereta dan selanjutnya menunggu rangkaian pengganti yang didatangkan dari Yogyakarta untuk kembali melanjutkan perjalanan.[11] Penumpang kereta api tersebut mengatakan bahwa keterlambatan sekitar 2 jam.[12]
Galeri
Stasiun Kedundang lama
Bangunan lama Stasiun Kedundang sebelum dibongkar
Papan nama yang terpasang di bangunan lama Stasiun Kedundang
Tampak emplasemen, 2016
Gardu persinyalan blok intermediet Stasiun Kedundang yang beroperasi hingga 2021
Proses konstruksi Stasiun Kedundang baru
Proses pembangunan Stasiun Kedundang yang baru, 2020.
Proses pembangunan gardu persinyalan elektrik baru untuk Stasiun Kedundang, 2020
Catatan
↑Pengaktifan sinyal blok tertutup dan penonaktifan sinyal blok intermediate. Kereta api bandara menuju Stasiun YIA belum beroperasi kala itu.