B xxxx E** (Depok Margonda hingga Depok Timur) / Z** (Cinere hingga Bojongsari) (Tidak ada hubungannya dengan B xxxx ZZ* yang digunakan untuk pejabat pemerintahan)
Ada dua kemungkinan asal-usul nama 'Depok'. Yang pertama menunjukkan bahwa wilayah tersebut sudah dikenal sebagai Depok ketika tanah tersebut dibeli oleh Cornelis Chastelein, seorang pejabat senior di Perusahaan Hindia Timur Belanda, pada tanggal 18 Mei 1696. Tanah yang dibeli berukuran sekitar 12,44 km², kira-kira 6,2% dari luas Depok saat ini. Selain mendirikan perkebunan dengan bantuan penduduk setempat, Chastelein juga terlibat dalam pekerjaan misionaris, memperkenalkan agama Kristen kepada penduduk setempat. Dia mendirikan sebuah jemaat lokal bernama De Eerste Protestante Organisatie van Christenen (DEPOC), dan pada tahun 1950-an, beberapa anggota komunitas Depok di Belanda mengklaim bahwa akronim ini memengaruhi nama modern kota tersebut.[6] Penjelasan alternatif lainnya adalah bahwa nama tersebut berasal dari kata bahasa Sundapadepokan 'pertapaan', karena situs tersebut sebelumnya digunakan sebagai tempat retret keagamaan.[7][8]
Sebelum meninggal pada 28 Juni 1714, Chastelein menulis surat wasiat yang membebaskan keluarga-keluarga yang diperbudak di Depok dan memberi mereka sebagian tanah miliknya, mengubah mereka menjadi pemilik tanah.
Oleh karena itu, 12 keluarga budak menjadi pemilik tanah (selamanya sebagaimana diberikan kepada mereka dengan surat kepemilikan dari Chastelein sendiri dalam wasiatnya) dan membebaskan laki-laki, perempuan, dan anak-anak mereka.
Para budak yang dibebaskan juga disebut sebagai orang Mardijker – dan itu berasal dari kata *Merdeka* atau kebebasan dalam Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, 28 Juni telah ditetapkan sebagai Depokse Dag (Hari Depok) oleh keturunan keluarga Depok asli, dan pada 28 Juni 2014, untuk memperingati ulang tahun ke-300 wasiat Chastelein, mereka mendirikan monumen setinggi 3 meter di tanah mereka, tetapi pemerintah kota pada saat itu melarangnya, dengan alasan keterkaitannya dengan sejarah kolonial Belanda.[9]
Keluarga budak asli Depok berasal dari orang Bali, orang Ambon, orang Bugis, orang Sunda dan orang Indo Portugis, yaitu keturunan Mestizo dan orang Mardijker. Isakh, Yakub, Yonatan, Yusuf, dan Samuel adalah nama keluarga yang dibaptis oleh Chastelein setelah keluarga budak tersebut memeluk agama Kristen Protestan. Keluarga-keluarga lainnya mempertahankan nama asli mereka dan mungkin sudah beragama Kristen (Katolik Roma) sebelum bergabung dengan gereja Protestan Chastelein. Keturunan keluarga Depok asli, kecuali keluarga Sadokh, masih tinggal di Indonesia, Belanda, Norwegia, Kanada, dan Amerika Serikat.[11][10]
Pada tahun 1871, pemerintah kolonial memberikan Depok status khusus (Gemeente), yang memungkinkan wilayah tersebut untuk membentuk pemerintahan lokalnya sendiri yang dipimpin oleh seorang dewan pemimpin (Presiden). Pemerintahan lokal ini berakhir pada tahun 1952, ketika administrasi Depok menyerahkan wewenangnya kepada pemerintah Indonesia, kecuali untuk wilayah-wilayah tertentu.
Selama periode Bersiap (perang saudara Indonesia dan perang kemerdekaan dari Belanda) tahun 1945, Depok mengalami kekerasan, dan beberapa penduduknya tewas dibunuh oleh kelompok pemuda setempat.[12] Ketidakstabilan yang disebabkan oleh Perang Kemerdekaan Indonesia menyebabkan beberapa keluarga asli Depok meninggalkan kota tersebut. Banyak keluarga yang selamat kemudian menetap di Belanda dan berbagai negara lain sebagai bagian dari komunitas Indo yang lebih luas.[13]
Depok pernah menjadi pusat ResidensiOmmelanden vanBatavia atau Keresidenan Daerah sekitar Jakarta berdasarkan Keputusan GubernurBatavia yaitu en Ommelanden per tanggal 11 April1949 Nomor Pz/177/G.R. yang dimuat di dalam Javasche Courant1949 Nomor 31. Residensi ini membubarkan RegentschapMeester Cornelis yang terbentuk sejak 1925.[23]
Pada Maret 1982, Depok diklasifikasi ulang sebagai kota administratif di dalam Kabupaten Bogor. Pada 20 April 1999, kota Depok bergabung dengan beberapa distrik tetangga di Kabupaten Bogor untuk membentuk kota otonom yang independen dari Kabupaten, dengan luas 199,91 km².[24] Tanggal ini diperingati sebagai tanggal resmi berdirinya Depok.
Sebelumnya, pemerintah lebih dulu berinisiatif memperluas wilayah Jakarta hingga Ciawi, Cibinong, Bekasi, dan Tangerang. Oleh karenanya, Ali menugaskan jajarannya untuk mengkaji perluasan wilayah Jakarta. Alhasil, wilayah Cibinong, Bekasi, dan Depok dianggap strategis dan berpeluang untuk bergabung dengan Jakarta. Hal inilah yang menjadi cikal bakal kawasan Jabodetabekjur.
Sebelum diusulkan menjadi kotamadya, Wali kota Administratif Depok, Badrul Kamal mengajukan beberapa kecamatan di Kabupaten Bogor untuk bergabung dengan Depok. Pada saat itu, Kota Administratif Depok hanya memiliki tiga kecamatan, yaitu Pancoran Mas, Beji, dan Sukmajaya, di mana untuk membentuk sebuah kota diperlukan setidaknya enam kecamatan.[26]
Secara geografis Kota Depok terletak pada koordinat 6° 19’ 00”–6° 28’ 00” Lintang Selatan dan 106° 43’ 00”–106° 55’ 30” Bujur Timur. Dengan luas wilayah sekitar 200,29km², Depok merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian 50–140 mdpl dan kemiringan lerengnya kurang dari 15%. Depok dilalui sungai-sungai besar yaitu Sungai Ciliwung dan Sungai Pesanggrahan.[28] Selain itu, ada juga 13 sub satuan wilayah aliran sungai dan 22 buah danau.[butuh rujukan]
Geologi
Kota Depok berada di atas lapisan rubanah yang didominasi oleh batu aluvium, yang dapat diidentifikasi dengan data gravitasi ESA-MWT untuk mengetahui kepadatan batuan.[29] Pengamatan ini telah dikorelasikan dengan studi geologis lainnya.[30] Lapisan aluvium ini berada 0–68 m di bawah batuan dasar.[29] Unit batuan Depok berasal dari kala Pleistosen.[butuh rujukan]
Kota Depok berada di dataran rendah aluvial transisi menuju dataran tinggi Bogor dengan ketinggian rata-rata yang berkisar antara 60-150 mdpl. Berdasarkan klasifikasi Köppen, Kota Depok dikategorikan sebagai wilayah yang beriklim hutan hujan tropis (Af) dengan dua pola musim, yakni musim kemarau dan musim penghujan yang jelas sepanjang tahun (curah hujannya selalu di atas 60 mm sepanjang tahun karena pengaruh iklim hutan hujan tropis/Af). Musim kemarau di Kota Depok biasanya berlangsung antara periode Mei hingga September, sedangkan musim penghujan terjadi antara periode Oktober hingga April dengan puncak musim penghujan biasanya terjadi antara bulan Desember hingga awal Maret. Oleh karena wilayahnya yang berada di dataran rendah aluvial transisi, suhu udara rata-rata di Kota Depok berkisar antara 23°C hingga 32°C.[butuh rujukan]
Wali kota Depok saat ini dijabat oleh Supian Suri, didampingi wakil wali kota, Chandra Rahmansyah. Supian dan Chandra adalah pemenang pada pemilihan umum wali kota Depok 2024. Serah terima jabatan dari Wali Kota Depok terdahulu, Mohammad Idris, kepada Supian, disaksikan perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, di Ruang Rapat Paripurna, Gedung DPRD Kota Depok, Komplek Perkantoran Kota Kembang, Grand Depok City, Cilodong, Depok, Jawa Barat.[butuh rujukan]
Karakteristik suku bangsa penduduk Kota Depok memiliki keberagaman. Berdasarkan data Sensus Penduduk Indonesia 2000, sebagian besar penduduk Kota Depok adalah orang Betawi, Jawa, dan Sunda. Jumlah yang signifikan juga berasal dari suku Batak dan Minangkabau. Keberagaman suku bangsa di Kota Depok memengaruhi perbedaan budaya dan adat istiadat masyarakat. Berikut adalah besaran penduduk Kota Depok berdasarkan suku bangsa sesuai data Sensus Penduduk tahun 2000;[35]
Perkembangan Kota Depok dari aspek geografi, demografi maupun sumber pendapatan begitu pesat.[36] Ada beberapa indikator yang dapat dipergunakan sebagai acuan tentang pertumbuhan ekonomi di Kota Depok, diantaranya:
Indeks daya beli masyarakat Depok semakin meningkat dan mengalami peningkatan dari 576,76 pada tahun 2006 menjadi 648,58 pada tahun 2010.[37]
Capaian Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Depok meningkat dari 6,54% pada 2016 menjadi 7,28% pada 2017.[38]
Terjadi peningkatan dari tahun ke tahun pada peranan sektor tersier, yaitu dari 50,42% pada tahun 2006 menjadi 58,92% pada tahun 2010.[39]
Wali kota Depok Mohammad Idris menyebutkan ada hampir 100 taman di Kota Depok atau lebih tepatnya sekitar 65 taman. Angka ini lebih banyak apabila dibandingkan dengan Kota Bandung yang terkenal memiliki berbagai macam taman dengan beragam konsep yang kreatif.[55]
Pemerintah Kota Depok meresmikan 5 stadion diantaranya 4 stadion umum dan 1 stadion internasional. Stadion ini diresmikan dikarenakan minat pemuda terhadap sepak bola cukup tinggi terlebih di Kota Depok. Berikut beberapa stadion yang sudah diresmikan:
↑"Depok". www.depok.nl. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2011-07-24.
↑Meijer, Hans. 'In Indie geworteld, de Geschiedenis van Indische Nederlanders, de twintigste eeuw.' (Publisher Bert Bakker, Amsterdam, 2004) P.245 ISBN90-351-2617-3
↑"Sejarah Depok". Diarsipkan dari asli tanggal 2022-03-08. Diakses tanggal 2022-01-30.
↑P1ntum4suk (2017-09-01). "Inilah Sejarah Kota Depok Yang Jarang Diketahui". Depok News (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari asli tanggal 2022-06-02. Diakses tanggal 2022-05-24.Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
12"Landbouwstatistiekkaart" (Map). Perpustakaan Universitas Leiden. 1:150.000 (dalam bahasa (Belanda)). Batavia: Topographische Dienst. 1933. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-06-01. Diakses tanggal 24 Mei 2022.Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
↑Turkandi T, Sidarto, Agustyanto D A and Hadiwijoyo M M P 1992 Geologi Lembar Jakarta dan Kepulauan Seribu, Jawa (bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi)
↑Arifianto, Bambang; Fahas, Eva; Nurulliah, Novianti; Kasumaningrum, Yulistyne (19 Agustus 2022). "Jabar Masih Harus Terus Berbenah". Pikiran Rakyat. Bandung. hlm.1.