Ajahn Sao Kantasīlo (1859–1942) adalah seorang biku dalam tradisi pengembara (Tradisi Hutan Tailan) dari Buddhisme Theravāda. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat dihormati oleh para biku dan umat awam, memiliki penampilan agung dan tenang, serta dicirikan dengan sifat pendiam yang hanya sedikit berbicara.[1]
Praktik dan karakteristik
Karakter Ajahn Sao digambarkan sangat lembut dan tenang (berbeda dengan muridnya, Ajahn Mun, yang memiliki citta atau batin yang cenderung "bertualang").[2] Ia memiliki kebiasaan bermeditasi dengan duduk maupun berjalan (caṅkama) selama berjam-jam setiap harinya.[3]Citta milik Ajahn Sao dilaporkan cenderung stabil dan mantap sejak awal latihannya hingga akhir hayatnya.[4]
Ajahn Sao mempraktikkan kebiasaan makan hanya sekali sehari dan secara konsisten menjalani gaya hidup mengembara di hutan-hutan dan perbukitan.[5] Ia bersama Ajahn Mun mempraktikkan pola hidup pertapaan tersebut di tengah kemiskinan dan keterbatasan tanpa bergantung pada kemewahan; pada awalnya mereka bahkan sering hanya memakan nasi tawar tanpa lauk karena masyarakat desa di sekitar perbukitan saat itu belum memahami cara persembahan makan bagi biku Kammaṭṭhāna.[6]
Kemampuan supernatural
Selama latihan meditasinya, Ajahn Sao mengembangkan satu keanehan spesifik, yakni tubuhnya dapat melayang secara fisik.[2] Ia mendapati bahwa tubuhnya bisa mengapung sekitar tiga kaki di atas permukaan tanah saat ia berada dalam kondisi samādhi.[4]
Awalnya ia meragukan pengalaman ini dan membuka matanya untuk memastikan; tindakannya tersebut menyebabkan citta-nya keluar dari samādhi, yang berakibat tubuhnya jatuh terhempas ke tanah hingga memar.[2] Di kemudian hari, dengan kehati-hatian yang lebih besar untuk mempertahankan sati (perhatian penuh) selama samādhi, ia bereksperimen dengan menyelipkan objek kecil di atap ilalang pondoknya. Ketika ia merasa melayang kembali, ia mampu mencapai objek tersebut, menggenggamnya, dan perlahan-lahan mengendalikan penurunannya kembali ke tanah.[4]
Aspirasi menjadi paccekabuddha
Ajahn Mun mengungkapkan bahwa di kehidupan masa lampaunya, Ajahn Sao pernah membuat tekad (ikrar) untuk menjadi seorang Paccekabuddha. Saat usahanya dalam meditasi menguat, ikatan terhadap janji kuno tersebut kembali teringat dan menahannya untuk meraih Nibbāna di kehidupan saat itu.[7]
Menyadari hambatan ini, Ajahn Sao lalu melepaskan tekad masa lalunya tersebut dan menggantinya dengan tekad untuk mencapai Nibbāna secepat mungkin agar terbebas dari penderitaankelahiran kembali yang tak berkesudahan. Setelah janji lama tersebut dilepaskan, meditasi Ajahn Sao berkembang dengan lancar dan ia akhirnya mencapai "Kebahagiaan Tertinggi". Kemampuannya dalam mengajar (terutama untuk mengajar kelompok secara luas) dilaporkan sangat terbatas, yang oleh Ajahn Mun dikaitkan dengan kecenderungan aslinya sebagai sosok Paccekabuddha.[7]
Hubungan dengan Ajahn Mun
Ajahn Sao adalah guru pendamping bagi Ajahn Mun Bhūridatta pada masa awal latihannya.[8] Mereka sering mengembara bersama menjelajahi provinsi-provinsi di kawasan timur laut Tailan.[9] Keduanya menghabiskan hampir sepanjang tahun, baik saat maupun setelah masa vassa (retret musim hujan), secara bersama-sama di masa-masa tersebut.[3]
Meskipun pada tahun-tahun pertengahan mereka mulai lebih sering menghabiskan masa vassa di lokasi yang terpisah (untuk mengakomodasi jumlah murid yang semakin bertambah), mereka tetap menempatkan diri pada lokasi yang berdekatan agar bisa saling mengunjungi. Keduanya sangat saling menghormati dan mengasihi; apabila murid dari salah satunya datang berkunjung, pertanyaan pertama yang mereka ajukan selalu mengenai kesehatan dan kesejahteraan satu sama lain.[3]
Sebagai seorang guru terhadap Ajahn Mun, Ajahn Sao menyadari perbedaan karakter batin mereka. Mengingat batin Ajahn Mun yang sangat lincah, Ajahn Sao kerap mendorong Ajahn Mun untuk menyelidiki dan mencari sendiri solusi atas kendala meditasinya, alih-alih memberikannya instruksi langsung.[8]
Gaya pengajaran
Sesuai dengan karakternya, Ajahn Sao lebih suka berbicara sedikit dan sering kali merasa enggan untuk memberikan wejangan kepada umat awam. Saat diminta untuk berbicara, ia menggunakan kata-kata yang sangat hemat.[9] Salah satu ringkasan pengajarannya yang kerap diulang adalah:
"Kalian harus meninggalkan kejahatan dan menumbuhkan kebajikan. Sungguh beruntung dapat terlahir sebagai manusia, janganlah menyia-nyiakan kesempatan yang baik saat ini. Status kita sebagai manusia sangatlah mulia, oleh karena itu hindarilah semua perilaku yang tidak berperikemanusiaan. Jika tidak, kalian akan merosot lebih rendah dari hewan, dan akan lebih menderita lagi ketika kalian akhirnya jatuh ke dalam neraka. Siksaan yang kalian alami di sana akan jauh lebih menyedihkan daripada keberadaan binatang mana pun. Maka janganlah melakukan kejahatan!"[1]
Setelah mengucapkan pesan singkat tersebut, ia biasanya langsung meninggalkan tempat duduk dan kembali ke pondoknya tanpa menghiraukan siapa pun lagi.[3]