*Daftar ini juga mencakup mereka yang tidak melabeli diri sebagai umat Theravāda, seperti mereka dalam masa prasektarian, masa awal, modernis, EBT-is, dll., tetapi sangat dipengaruhi dan/atau memengaruhi ajaran Theravāda klasik.
Aṭṭhakavagga dan Pārāyanavagga adalah dua koleksi kecil sutta. Keduanya dimasukkan ke dalam Khuddakanikāya sebagai bagian dari kitab Suttanipāta, yaitu kumpulan sabda yang diucapkan oleh Sang Buddha. Kumpulan sutta menggambarkan Aṭṭhakavagga sebagai beberapa khotbah pertama Buddha Gotama; kitab Udāna menggambarkan permintaan Sang Buddha kepada seorang biku untuk melafalkan Dhamma, dan Sang Buddha merespons dengan penuh persetujuan ketika biku tersebut melafalkan syair-syair Aṭṭhakavagga.
Penanggalan
Beberapa cendekiawan menganggap komposisi Aṭṭhakavagga dan Pārāyanavagga jauh lebih awal daripada sebagian besar kanon lainnya, dan mengungkapkan bentuk Buddhisme yang lebih kuno.[1] Keduanya dianggap lebih awal karena elemen-elemen bahasa dan komposisinya, pencantumannya dalam komentar-komentar (kitab tafsir) yang sangat awal, dan juga karena beberapa pihak melihatnya sebagai ekspresi dari versi keyakinan buddhis tertentu yang berbeda—dan mungkin ada sebelum—versi-versi yang dikodifikasikan di kemudian hari.[2] Dalam pemikiran ini, Pārāyanavagga agak lebih dekat dengan tradisi yang muncul belakangan dibandingkan dengan Aṭṭhakavagga.[3]Khaggavisāṇa Sutta ("Khotbah Cula Badak"), yang juga terdapat di dalam Suttanipāta, tampaknya juga mengungkapkan mode Sangha awal yang menekankan pada para kaum monastik yang mengembara secara individual, lebih sesuai dengan tradisi pertapaan sannyāsin di India.
Keparalelan
Pada tahun 1994, sekelompok teks yang termasuk di antara manuskrip India tertua yang pernah ditemukan didapati di Gandhara. Teks-teks ini mencakup versi yang relatif lengkap dari Sutta Cula Badak serta materi tekstual dari Aṭṭhakavagga dan Pārāyanavagga.
Secara umum, Aṭṭhakavagga dan Pārāyanavagga cenderung lebih kuat menekankan sisi penyangkalan (yakni penahanan diri) dari kepertapaan,[note 2] dan menunjukkan perhatian yang kuat untuk melepaskan pandangan-pandangan, serta mengatur aktivitas tubuh sehari-hari dan hasrat seksual.[4] Tidak seperti Pārāyanavagga yang secara eksplisit mengusung metafora menuju "pantai seberang" (Pali: pārāyana), Aṭṭhakavagga tidak memberikan rumusan "tujuan yang pasti" seperti Nirwana, melainkan mendeskripsikan "sosok yang ideal".[5] Sosok ideal ini terutama dicirikan oleh suddhi (kemurnian) dan santi (ketenangan).[5]Aṭṭhakavagga juga memberikan penekanan besar pada pelepasan, atau ketidakmelekatan terhadap, segala pandangan; dan enggan mengemukakan posisinya sendiri mengenai isu-isu metafisik mendasar.[1][5][6][7]
Penafsiran Theravāda
Tradisi Theravāda mengambil pandangan bahwa pernyataan-pernyataan di dalam teks tersebut, termasuk banyak hal yang jelas-jelas dimaksudkan untuk menjadi paradoks, memang sengaja dibuat untuk direnungkan dan dijelaskan. Sebuah kitab tafsir ekstensif yang diatribusikan kepada Sāriputta, berjudul Mahāniddesa, turut dijadikan sebagai bagian dari Tripitaka Pali. Kitab tafsir (komentar) tersebut berupaya menyelaraskan isi syair-syair terkait dengan ajaran-ajaran di dalam sutta-sutta lainnya.[web 1] Dalam beberapa kasus, kitab-kitab tafsir Theravāda menumpulkan atau meniadakan penolakan terhadap "segala pandangan" dengan menyatakan bahwa pandangan-pandangan yang ditolak tersebut adalah pandangan nonbuddhis (pandangan-salah; micchā-diṭṭhi), sembari menegaskan pentingnya pandangan-pandangan dari Jalan Utama Berunsur Delapan (pandangan-benar; sammā-diṭṭhi).[1]
Penafsiran kontemporer
Penafsiran sebagai heterodoks
Gomez membandingkan teks-teks ini dengan filosofi Madhyamaka yang berkembang kemudian. Filsafat ini, khususnya dalam bentuk tradisi Prasaṅgika, menjadikan penolakan terhadap pandangan pihak lain sebagai metode utamanya, alih-alih mengajukan pandangan sendiri.[1] Dengan demikian, menurut Gomez, sutta-sutta dalam bab ini mengarahkan untuk menolak semua jenis pandangan tanpa kecuali (sebagaimana dalam filosofi Madhyamaka).[note 3]
Meskipun secara garis besar setuju dengan pengamatan Gomez, Tillman Vetter mengajukan beberapa penyesuaian berdasarkan tinjauan historis dan doktrinal.[8] Pertama, ia mencatat bahwa kedua koleksi kecil sutta ini memiliki corak yang beragam sehingga tidak semuanya selaras dengan kesimpulan Gomez. Dengan mengajukan argumen mengenai adanya lapisan-lapisan waktu penulisan (stratifikasi kronologis), Vetter berpendapat bahwa sutta-sutta yang mendukung gagasan Gomez kemungkinan besar berasal dari kelompok petapa heterodoks[butuh klarifikasi] yang telah ada sebelum masa Buddha Gotama. Kelompok ini kemudian terintegrasi ke dalam Saṅgha pada masa-masa awal dengan membawa naskah-naskah mereka sendiri, lalu menyusun sutta-sutta tambahan guna memadukan ajaran mereka dengan ajaran Sang Buddha.[8][note 4]
Penafsiran sebagai ortodoks
Paul Fuller menolak argumen dari Gomez dan Vetter.[7] Ia mengemukakan bahwa
Fuller menyatakan bahwa di dalam Nikāya, "pandangan benar" mencakup sikap tidak bergantung pada pengetahuan (ñāṇa) maupun pandangan (diṭṭhi). Ia juga menyinggung perumpamaan Buddha yang menyebut Dhamma-Nya sebagai sebuah rakit yang pada akhirnya harus ditinggalkan. Ia melihat bahwa cara Aṭṭhakavagga menyikapi masalah pengetahuan (ñāṇa) dan kebijaksanaan (paññā) sejalan dengan kitab Paṭṭhāna, sebuah kitab dalam Abhidhammapiṭaka, di masa selanjutnya, yang seolah-olah memberikan kritik terhadap praktik berdana, penjagaan sila, kewajiban peribadatan, dan praktik jhāna. Menurut Fuller, pendekatan khusus dalam kedua teks tersebut bukanlah sebuah serangan terhadap praktik maupun kebijaksanaan, melainkan untuk menegaskan bahwa kemelekatan pada jalan spiritual itu sendiri bersifat destruktif.[9] Begitu pula halnya dengan cara teks ini membahas meditasi konsentrasi (samatha-bhāvanā). Tujuannya adalah untuk memperingatkan bahaya kemelekatan pada pandangan terang, sekaligus menyampaikan pesan bahwa pandangan terang mengenai hakikat segala sesuatu niscaya membutuhkan pikiran yang tenang.[9]
Alexander Wynne turut menolak dua klaim Vetter mengenai Pārāyanavagga. Pertama, Wynne menyanggah argumen Vetter yang menyatakan bahwa teks tersebut memiliki lapisan-lapisan waktu penulisan. Kedua, ia juga menolak anggapan bahwa Pārāyanavagga mengajarkan sikap yang berbeda mengenai praktik perhatian penuh serta pandangan terang dibandingkan teks-teks buddhis lainnya.[10][note 6]
↑Dalam Kanon Pali, bab-bab ini masing-masing adalah bab keempat dan kelima dari Suttanipāta di dalam Khuddakanikāya.
↑Kepertapaan sebagai proses penyangkalan (meniadakan) hasrat sensual.
↑Penafsiran ini tidak sejalan dengan penafsiran tradisional Theravāda yang menyatakan bahwa pandangan-pandangan yang ditolak tersebut adalah pandangan nonbuddhis (pandangan-salah; micchā-diṭṭhi), sembari menegaskan pentingnya pandangan-pandangan dari Jalan Utama Berunsur Delapan (pandangan-benar; sammā-diṭṭhi).
↑Dengan demikian, Vetter menganggap bahwa bagian teks yang berisi tentang "penolakan segala pandangan" bukanlah ajaran asli Buddha, melainkan ajaran kelompok petapa aliran lain (heterodoks) yang teksnya masuk dan tercampur ke dalam Kanon Pali pada masa-masa awal. Penafsiran ini juga tidak sejalan dengan penafsiran tradisional Theravāda.
↑Maksud dari "sikap kognitif yang sama" bukanlah menyamakan nilai atau fungsi dari pandangan salah dan pandangan benar, melainkan menyamakan sikap mental tertinggi terhadap keduanya, yakni ketidakmelekatan. Dalam kerangka ortodoksi Theravāda, pandangan benar (sammā-diṭṭhi) mutlak diperlukan sebagai instrumen (ibarat rakit) untuk menyeberang menuju pencerahan. Namun, pada pencapaian akhirnya, rakit pandangan benar tersebut tidak boleh terus dilekati atau dijadikan alat identifikasi diri (diṭṭhupādāna).
↑Wynne mendedikasikan sebuah bab khusus yang menjelaskan tentang Pārāyanavagga.
Burford, Grace G. (1994), "Theravada Soteriology and the Paradox of Desire", dalam Buswell, Robert E. JR; Gimello, Robert M. (ed.), Paths to Liberation. The Marga and its Transformations in Buddhist Thought, Delhi: Motilal Banarsidass Publishers
Burford, Grace G. (1996), "Culaniddesa", dalam Potter, Karl H. (ed.), Encyclopedia of Indian philosophies: Abhidharma Buddhism to 150 A. D., Motilal Banarsidass Publ.
Fronsdal, Gil (2016), The Buddha before Buddhism: Wisdom from the Early Teachings, Shambhala Publications