*Daftar ini juga mencakup mereka yang tidak melabeli diri sebagai umat Theravāda, seperti mereka dalam masa prasektarian, masa awal, modernis, EBT-is, dll., tetapi sangat dipengaruhi dan/atau memengaruhi ajaran Theravāda klasik.
Satipaṭṭhāna Sutta[1][a] (Majjhima Nikaya 10: Diskursus tentang Penegakan Perhatian Penuh), dan Mahāsatipaṭṭhāna Sutta[2] (Dīgha Nikāya 22: Diskursus Agung tentang Penegakan Perhatian Penuh), merupakan dua diskursus yang paling terkenal dan paling banyak dipelajari dalam Kanon Pāli Buddhisme Theravada. Keduanya berperan sebagai landasan utama bagi praktik meditasi vipassana kontemporer. Teks Pāli Satipaṭṭhāna Sutta dan Mahāsatipaṭṭhāna Sutta pada dasarnya memiliki isi yang hampir sama. Perbedaan utamanya terletak pada bagian mengenai Empat Kebenaran Mulia (Pali: Catu Ariya Sacca) dalam pengamatan terhadap fenomena batin (Pali: Dhammānupassana), yang dibahas jauh lebih panjang dan terperinci dalam Mahāsatipaṭṭhāna Sutta.[3][4] Kedua sutta (diskursus) ini ini menekankan praktik sati (perhatian penuh) "demi pemurnian makhluk-makhluk, demi mengatasi kesedihan dan ratapan, demi memadamkan penderitaan dan dukacita, demi menapaki jalan kebenaran, dan demi merealisasikan nibbāna."[c]
Dalam Satipatthana Sutta (Majjhima Nikaya 10), Sang Buddha menjelaskan empat "landasan perhatian penuh"[6] atau "kerangka acuan"[7] untuk direnungkan[6] atau difokuskan[7] setelah meninggalkan kehidupan duniawi: kāyā (badan), vedanā (sensasi/perasaan yang muncul dari persepsi), cittā (kesadaran), dan dhammas (unsur-unsur ajaran Buddha). Sutta ini kemudian memberikan uraian mengenai berbagai praktik Buddhis yang dikelompokkan di bawah keempat kategori tersebut.
Kāyā (body)
Vedanā (sensasi/perasaan yang timbul dari persepsi)
Sarvāstivāda Smṛtyupasthāna Sūtra memiliki sejumlah perbedaan dibandingkan dengan versi Theravāda. Salah satunya adalah penekanan pada postur tubuh sebagai objek perenungan pertama, bukan pernapasan. Menurut Bhante Sujato, teks ini tampaknya lebih menekankan pada samatha atau ketenangan batin, sedangkan versi Theravāda lebih menekankan pada Vipassana atau kewawasan.[8] Selain itu, teks ini kerap menyebut “bhikkhu dan bhikkhunī” alih-alih hanya “bhikkhu” laki-laki.
Bagian mengenai Smṛtyupasthāna juga ditemukan dalam berbagai versi Tibet dan Tiongkok dari sutra Prajñāpāramitā yang berukuran besar, misalnya versi 25.000 baris yang diterjemahkan oleh Edward Conze. Versi ringkas ini dimasukkan ke dalam sutra yang lebih luas dan muncul sebagai bagian dari khotbah Buddha kepada Subhuti. Dalam bentuknya yang sederhana, teks ini hanya menguraikan praktik tertentu untuk perenungan tubuh, sedangkan tiga satipatthana lainnya sekadar disebutkan tanpa penjelasan rinci.[9]
↑Meskipun menyadari bahwa ekāyano [...] maggo "lebih umum" diterjemahkan sebagai "satu-satunya jalan," Anālayo (2006, hlm. 27-9) berpendapat bahwa ekāyano [...] maggo paling tepat diterjemahkan sebagai "jalan langsung" berdasarkan makna kontekstual dari ekāyano dalam Mahāsīhanāda Sutta (Majjhima Nikaya 12, Ñanamoli & Bodhi, 1994, di mana ekāyano menggambarkan jalan "satu-satunya"), Ketidakhadirannya dalam sutta lain, implikasi realisasi cepat dalam Sutta Satipaṭṭhāna itu sendiri, dan elaborasi komentar. Kamus Pali-Inggris Pali Text Society (Rhys Davids & Stede, 1921-25) tampaknya mendukung penilaian Anālayo dalam entri mereka untuk "Ayana": "ekāyano maggo mengarah ke satu tujuan, jalan langsung" (diperoleh 15 Mei 2010 dari http://dsalsrv02.uchicago.edu/cgi-bin/philologic/getobject.pl?c.0:1:2056.pali.895215).
↑Yang terkenal, Sang Buddha menyatakan di awal uraian ini: "Inilah jalan langsung [Pāli: ekāyano [...] maggo],[b] para biksu, untuk penyucian makhluk, untuk mengatasi kesedihan dan ratapan, untuk memadamkan penderitaan dan duka, untuk berjalan di jalan kebenaran, untuk realisasi nibbāna."[5]
Gethin, Rupert (1992), The Buddhist Path to Awakening, OneWorld Publications
Gethin, Rupert (2004), "On the Practice of Buddhist Meditation According to the Pali Nikayas and Exegetical Sources", Buddhismus in Geschichte und Gegenwart, 9: 201–21
Gethin, Rupert (2008), Sayings of the Buddha: New Translations from the Pali Nikayas, Oxford World's Classics
Gyori, Thomas I. (1996). The Foundations of Mindfulness (Satipatthāna) as a Microcosm of the Theravāda Buddhist World View (M.A. dissertation). Cited in Anālayo (2006). Washington: American University.
Hamilton, Sue (1996; reprinted 2001). Identity and Experience: The Constitution of the Human Being according to Early Buddhism. Oxford: Luzac Oriental. ISBN1-898942-23-4.
Kuan, Tse-fu (2008), Mindfulness in Early Buddhism: New Approaches through Psychology and Textual Analysis of Pāli, Chinese and Sanskrit Sources, Routledge, ISBN978-0-415-43737-0
Thera, Nyanaponika (1996), The Heart of Buddhist Meditation: A Handbook of Mental Training based on the Buddha's Way of Mindfulness, York Beach, ME: Samuel Weiser, ISBN0-87728-073-8
Vetter, Tilmann (1988), The Ideas and Meditative Practices of Early Buddhism, BRILL
Vipassana Research Institute (trans.) (1996). Mahāsatipaṭṭhāna Sutta: The Great Discourse on Establishing Mindfulness. Seattle, WA: Vipassana Research Publications of America. ISBN0-9649484-0-0.
Williams, Paul; Tribe, Anthony (2000), Buddhist Thought, Routledge