Pandemi Covid-19 di Kalimantan Selatan dimulai dengan ditemukannya kasus positif pertama di Kota Banjarmasin pada 22 Maret 2020.[2] Setelah itu, jumlah kasus meningkat pesat, sebagian besar berkaitan dengan peserta Ijtima Ulama Dunia 2020.[3] Pada 7 Mei 2020, penyebaran pandemi telah menjangkau 13 kabupaten dan kota, dengan Kota Banjarmasin, Kabupaten Tanah Bumbu, dan Kabupaten Banjar sebagai wilayah dengan jumlah kasus tertinggi di Kalimantan Selatan.[4] Sampai dengan 14 Januari 2024, tercatat sebanyak 89.355 kasus Covid-19 di Kalimantan Selatan, dengan 86.676 kasus sembuh, serta 2.612 kasus meninggal dunia.
Statistik
Tanggapan
Jam malam diterapkan di Banjarmasin untuk mengurangi aktivitas warga di luar rumah.
Iring-iringan ambulans untuk menyosialisasikan PSBB di Banjarmasin.
Pada hari Sabtu, 16 Mei 2020. Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, dan Kabupaten Barito Kuala juga menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara serentak mulai pukul 00.01 WITA setelah disetujui oleh Kementerian Kesehatan RI pada 11 Mei 2020.[6]
Sebagai respons terhadap penyebaran COVID-19 di Kalimantan Selatan, pusat perbelanjaan terbesar di Kalimantan Selatan mendadak sepi. BRT Banjarbakula pun membatasi jumlah penumpang dan mengurangi jadwal keberangkatan. Sejumlah sekolah dan perguruan tinggi di Kalimantan Selatan memilih untuk melakukan kegiatan pembelajaran secara daring. Selain itu kegiatan kampus seperti wisuda dan pertemuan pun dibatalkan.[7]
Dampak dari pandemi COVID-19 membuat gelaran yang biasanya dihadiri jutaan jemaah, yaitu Haul Guru Sekumpul tahun 2021 ditiadakan. Banyak majelis taklim meliburkan sementara kegiatan. Masjid Raya Sabilal Muhtadin memutuskan untuk meniadakan kegiatan salat tarawih dan buka bersama selama bulan Ramadan 1441 H sebagai upaya mencegah penyebaran COVID-19.[8]