Tahun 1980an-2004: pendidikan dan awal karier
Setelah menyelesaikan studi di Liceo Classico Raffaello, kota Urbino, Italia, dia mendapat gelar Kedokteran dari Università Cattolica del Sacro Cuore, sebuah sekolah Kedokteran di kota Roma dan kemudian menerima gelar Ph.D. bidang Ilmu Mikrobiologi dari University of Genoa. Burioni menghadiri beberapa pertemuan penting di bidang medis, seperti hadir sebagai tamu undangan di Pusat Pengendalian Penyakit di Atlanta, Georgia dan Institut Wistar dari Universitas Pennsylvania di laboratorium Dr. Hilary Koprowski dan Carlo Maria Croce. Dia juga pernah menjadi ilmuwan tamu di Center for Molecular Genetics di University of California, San Diego, dan di Scripps Research Institute. Tahun 1995, dia diangkat menjadi Asisten Profesor di Sekolah Kedokteran Università Cattolica del Sacro Cuore, Roma. Dan tahun 1999, dia pindah menjadi Asisten Profesor bagian virologi di Sekolah Kedokteran Universitas Ancona.[1]
2016–sekarang: melawan gerakan anti vaksinasi dan karier selanjutnya
Tahun 2016, Burioni menjadi juru kampanye untuk melawan gerakan anti vaksinasi dan kemudian menjadi terkenal di Italia setelah dia tampil pada sebuah acara Televisi dengan tema Virus, melalui saluran TV nasional Italia, Rai 2.[2] Pada acara tersebut, dua narasumber yang mendukung anti vaksinasi, yakni Red Ronnie, seorang DJ, dan mantan aktris Eleonora Brigliadori, mendapat sorotan lebih banyak selama sesi acara. Sementara Burioni hanya mendapat beberapa menit untuk membantah pernyataan Ronie dan Eleonora. Setelah acara tesebut, Burioni memberi tanggapan dengan memposting ke Facebook pandangannya tentang vaksinasi sesuai fakta. Postingan tersebut dibaca oleh lebih dari 5 juta orang dalam satu hari. Acara Televisi "Virus" tersebut akhirnya dibatalkan pada akhir musim.[3] Sejak saat itu, pengikutnya (follower) di media sosial mengalami kenaikan, sekitar 480.000 pengikut di Facebook[2] dan lebih dari 114,000 pengikut di Twitter.
Tahun 2017, dia menulis sebuah buku berbahasa Italia yang berjudul "Il vaccino non è un'opinione: Le vaccinazioni spiegate a chi proprio non le vuole capire" ("Vaksin bukanlah sebuah opini: Vaksinasi, dijelaskan kepada mereka yang tidak ingin memahaminya")[5], dan buku tersebut memenangkan penghargaan Premio Asimov 2017 (Asimov Award), sebuah penghargaan tahunan yang diadakan oleh Gran Sasso Science Institute dari L'Aquila, yang diberikan terhadap buku-buku diseminasi sains yang diterbitkan di Italia pada tahun sebelumnya.[6][7]
Pada tahun 2018, Burioni bersama beberapa rekannya membuat situs Medical Facts. Semua artikel yang dimuat di situs tersebut ditulis oleh para ilmuwan medis, dokter, dan ahli kesehatan lainnya dengan tujuan untuk mempromosikan berita dan pengetahuan tentang berbagai informasi masalah kesehatan.[2][8]
Pada Januari 2019, Burioni meluncurkan Pakta untuk Sains (Pact for Science), menyerukan kepada semua partai politik di Italia untuk menandatangani dan berjanji untuk mengikuti lima poin:
- Mendukung sains sebagai nilai universal kemajuan dan kemanusiaan;
- Menolak untuk mendukung atau mentolerir pseudosains, pseudomedicine, dan perawatan apa pun yang tidak didasarkan pada bukti ilmiah dan medis;
- Mencegah pseudo-ilmuwan membuat keputusan yang tidak dapat dibenarkan mengenai intervensi perawatan kesehatan yang telah terbukti aman baik secara ilmiah maupun medis;
- Mengimplementasikan program yang telah dirancang untuk memberikan informasi yang benar kepada publik tentang sains, menggunakan para ahli di bidangnya;
- Memastikan bahwa penelitian ilmiah didukung secara memadai dalam hal pembiayaan publik.
Banyak para politikus telah menandatangani sumpah tersebut, termasuk Beppe Grillo, pendiri Gerakan Bintang Lima, sebuah partai yang memiliki ikatan kuat dengan gerakan anti vaksinasi.[9][10][11]