Ekonomi
Kepala biro Roma The New York Times Jason Horowitz menyebut penutupan yang diperluas membuat hal tersebut "mengorbankan perekonomian Italia dalam jangka pendek untuk menyelamatkannya dari kerusakan akibat virus korona dalam jangka panjang", di mana Milan dianggap sebagai pusat ekonomi dan budaya sementara Venesia adalah salah satu tujuan wisata yang paling penting.[20] Wilayah Lombardia dan Veneto menghasilkan sepertiga dari produk domestik bruto Italia.
Sebelum terjadinya perluasan daerah karantina, ekonomi Italia sudah diperkirakan memasuki resesi karena dampak wabah virus korona, di mana sektor pariwisata dan barang-barang mewah sangat terpukul oleh pengurangan serta pembatasan perjalanan.[21] Dampak karantina yang lebih luas diperkirakan akan membawa ekonomi Eropa secara keseluruhan ke dalam resesi, dan akan mengganggu rantai pasokan ke, misalnya, produsen mobil Jerman seperti Volkswagen.[22] Berenberg Bank merevisi perkiraannya untuk pertumbuhan ekonomi Italia pada tahun 2020 dari -0,3% sebelum lockdown menjadi -1,2%.[23]
FTSE MIB, tolok ukur indeks saham Italia, anjlok 11 persen pada tanggal 9 Maret ketika pasar dibuka kembali.[24] Sektor-sektor yang paling terpukul akibat lockdown ini adalah sektor perhotelan, makanan, ritel, seni, hiburan dan transportasi, yang semuanya menyumbang 23 persen dari produk domestik bruto negara tersebut. Pariwisata, sektor lain yang menyumbang 6 persen terhadap PDB Italia, juga diperkirakan akan mengalami krisis, di mana destinasi yang biasanya ramai menjadi kosong.[25]