^ Catatan: Untuk negara ini, hanya menampilkan jumlah penduduk dengan kewarganegaraan Jepang, karena jumlah orang Jepang naturalisasi dan keturunannya tidak diketahui.
Dalam beberapa konteks, istilah "orang Jepang" mungkin digunakan secara khusus merujuk kepada (Yamato-minzoku) dari Jepang daratan; dalam konteks lain istilah itu mungkin mencakup kelompok lain yang berasal dari kepulauan Jepang, seperti orang Ryukyu (Ryūkyū-minzoku), yang memiliki ikatan dengan orang Yamato tetapi umumnya dianggap berbeda, dan orang Ainu (Ainu-minzoku).[18] Dalam beberapa dekade terakhir, ada kenaikan jumlah orang dengan akar Jepang dan non-Jepang, seperti orang setengah Jepang.
Shakōki-dogū (遮光器土偶) (1000–400 BC), arca "tipe bermata melotot". Tokyo National Museum
Bukti arkeologis yang mengindikasikan bahwa orang Zaman Batu tinggal di kepulauan Jepang selama periode Paleolitikum dari 39.000 hingga 21.000 tahun yang lalu.[19][20] Jepang dulu terhubung dengan Asia daratan oleh setidaknya satu jembatan darat, dan pemburu-pengumpulnomadik menyeberang ke Jepang. Perkakas batu api dan peralatan dari tulang dari zaman ini telah digali di Jepang.[21][22]
Setelah Perang Dunia II, Kotondo Hasebe dan Hisashi Suzuki mengklaim bahwa asal-usul orang Jepang bukan pendatang di periode Yayoi (300 SM – 300 M) tetapi orang-orang di periode Jōmon.[25] Namun, Kazuro Hanihara mengumumkan teori percampuran rasial baru pada tahun 1984[25] dan "model struktur ganda" pada tahun 1991.[26] Menurut Hanihara, garis keturunan orang Jepang modern dimulai dengan orang Jōmon, yang berpindah ke kepulauan Jepang selama zaman Paleolitikum, dilanjutkan dengan gelombang imigrasi kedua, dari Asia Timur ke Jepang selama periode Yayoi (300 SM). Setelah ekspansi populasi pada zaman Neolitikum, para pendatang ini pada suatu saat menemukan jalan ke kepulauan Jepang selama periode Yayoi. Akibatnya, pergantian pemburu-pengumpul adalah hal yang umum di wilayah Kyūshū, Shikoku, dan Honshū bagian selatan, tetapi tidak begitu menonjol di pulau-pulau sekitarnya, Okinawa dan Hokkaidō, dan orang Ryukyu dan Ainu menunjukkan karakteristik percampuran. Mark J. Hudson mengklaim bahwa citra utama etnik orang Jepang secara biologis dan bahasa terbentuk dari 400 SM hingga 1.200 M.[25] Saat ini, teori yang paling dipercaya adalah orang Jepang saat ini tercipta dari penanam padi Yayoi dan beragam etnisitas periode Jōmon.[27] Namun, beberapa studi baru-baru ini berpendapat bahwa orang Jōmon memiliki keberagaman etnik lebih banyak daripada yang awalnya disarankan[28] atau bahwa orang-orang di Jepang memiliki warisan genetik yang besar dari tiga populasi kuno, daripada hanya dua.[29][30]
Beberapa potongan tembikar tertua dunia yang diketahui dikembangkan oleh orang Jōmon pada periode Upper Palaeolithic, berasal dari sejauh-jauhnya 16.000 tahun. Nama "Jōmon" (縄文 Jōmon) berarti "bermotif kabel", dan berasal dari tanda karakteristik yang ditemukan pada tembikar. Orang Jōmon sebagian besar pemburu-pengumpul, tetapi juga mempraktikkan pertanian awal, seperti budidaya kacang Azuki. Setidaknya satu situs Jōmon menengah-ke-akhir (Minami Mizote (南溝手code: ja is deprecated ), ca1200–1000 SM) menampilkan pertanian menumbuhkan padi zaman purba, mengandalkan terutama pada ikan dan kacang-kacangan untuk memperoleh protein. Akar etnik dari populasi periode Jōmon adalah heterogen, dan berasal dari Asia Tenggara kuno, dataran tinggi Tibet, Taiwan kuno, dan Siberia.[27][31][32]
Dimulai sekitar 300 SM, orang Yayoi yang berasal dari Asia Timur Laut memasuki pulau-pulau Jepang dan menggantikan atau bercampur baur dengan orang Jōmon.
Orang Yayoi membawa pertanian padi basah dan teknologi perunggu dan besi yang canggih ke Jepang. Sistem sawah yang lebih produktif memberikan kesempatan masyarakat untuk memperbanyak populasi dan lama kelamaan menyebar, pada gilirannya menjadi dasar bagi lembaga lebih maju dan menandakan peradaban baru periode Kofun berikutnya.
Estimasi populasi di Jepang pada akhir periode Jōmon adalah sekitar delapan ratus ribu, dibandingkan dengan tiga juta pada periode Nara. Mempertimbangkan jumlah pertumbuhan masyarakat berburu dan bertani, diperkirakan satu setengah juta imigran pindah ke Jepang pada periode tersebut. Menurut beberapa studi, orang Yayoi menciptakan "masyarakat hierarki Jepang".[33][34]
Selama periode kolonial Jepang dari 1895 hingga 1945, frasa "orang Jepang" digunakan tidak hanya merujuk kepada penduduk kepulauan Jepang, tetapi juga orang-orang dari koloni yang memegang kewarganegaraan Jepang, seperti orang Taiwan dan orang Korea. Istilah resmi yang digunakan untuk menyebut etnik Jepang selama periode ini adalah "orang pedalaman" (内地人code: ja is deprecated , naichijin). Perbedaan bahasa seperti itu memfasilitasi asimilasi paksa terhadap identitas etnik yang dijajah ke dalam identitas Kekaisaran Jepang yang tunggal.[35]
Bahasa Jepang adalah sebuah bahasa Japonik yang berkerabat dengan bahasa-bahasa Ryukyu dan diperlakukan sebagai sebuah bahasa isolate di masa lalu. Bentuk bahasa paling awal yang berhasil dibuktikan, bahasa Jepang Kuno, berasal dari abad ke-8. Fonologi bahasa Jepang dicirikan dengan relatif sedikit jumlah fonem vokal, banyak geminasi dan sistem aksen nada yang berbeda. Bahasa Jepang modern memiliki tripartite sistem penulisan menggunakan hiragana, katakana dan kanji. Bahasa itu memiliki kata asli Jepang dan banyak jumlah kata yang diturunkan dari bahasa Tionghoa. Di Jepang tingkat melek huruf orang dewasa dalam bahasa Jepang melebihi 99%.[37] Lusinan dialek bahasa Jepang dituturkan di wilayah-wilayah Jepang. Untuk saat ini, bahasa Jepang dikategorikan sebagai anggota rumpun bahasa Japonik atau sebagai bahasa isolate tanpa kerabat hidup yang diketahui jika bahasa Ryukyu dihitung sebagai dialek.[38]
Agama Jepang secara tradisi bersifat sinkretis, menggabungkan elemen Buddhisme dan Shinto (Shinbutsu-shūgō).[39] Shinto, agama politeistik tanpa kitab atau kanon agama, adalah agama asli Jepang. Shinto adalah salah satu syarat dasar bagi keluarga kekaisaran Jepang untuk berkuasa dan dikodifikasi sebagai agama resmi negara pada tahun 1868 (Shinto Negara), tetapi dihapuskan oleh pendudukan Amerika Serikat pada tahun 1945. Buddhisme Mahayana tiba di Jepang pada abad keenam dan berkembang ke dalam banyak sekte berbeda. Saat ini, bentuk Buddhisme terbesar di antara orang Jepang adalah sekte Jōdo Shinshū yang didirikan oleh Shinran.[40]
Mayoritas besar orang Jepang mengaku memercayai Shinto dan Buddhisme.[41][42][43] Agama orang Jepang sebagian besar berperan sebagai fondasi mitologi, tradisi dan aktivitas terkait lingkungan, daripada sumber tunggal yang memandu moral dalam kehidupan seseorang.[butuh rujukan]
Pasal 10 Konstitusi Jepang menentukan istilah "orang Jepang" berdasarkan kebangsaan (kewarganegaraan) Jepang saja, tanpa memandang etnisitas.[47]Pemerintah Jepang menganggap semua warga naturalisasi dan warga negara Jepang kelahiran asli dengan latar belakang multi-etnik sebagai "orang Jepang", dan dalam sensus nasional Japanese Statistics Bureau hanya menanyakan kewarganegaraan, sehingga tidak ada data sensus resmi terkait keberagaman kelompok etnik di Jepang. Meskipun hal ini berkontribusi pada atau memperkuat keyakinan luas bahwa Jepang adalah negara homogen secara etnik, seperti yang ditunjukan dalam klaim mantan Perdana Menteri Jepang Tarō Asō bahwa Jepang adalah bangsa dengan "satu ras, satu peradaban, satu bahasa dan satu budaya",[48] beberapa ahli berpendapat bahwa lebih tepat menjelaskan negara Jepang sebagai masyarakat multietnik.[49][50]
Anak yang lahir dari pasangan beda negara akan menerima kewarganegaraan Jepang jika satu orang tuanya adalah warga negara Jepang. Namun, hukum Jepang menyatakan bahwa anak yang merupakan warga negara ganda harus memilih salah satu kewarganegaraan sebelum berusia 20.[51][52] Studi memperkirakan bahwa 1 dari 30 anak yang lahir di Jepang lahir dari pasangan beda ras, dan anak-anak ini terkadang dijuluki sebagai hāfu (setengah Jepang).[53]
Menurut Association of Nikkei and Japanese Abroad, ada 4,0 juta Nikkeijin tinggal di negara yang mereka kunjungi.[17] Komunitas asing ini yang terbesar ada di negara bagian Brasil São Paulo dan Paraná.[60] Ada juga komunitas Jepang yang kohesif dan signifikan di Filipina,[61]Malaysia Timur, Peru, negara bagian AS Hawaii, California, dan Washington, dan kota KanadaVancouver dan Toronto. Lain hal, jumlah warga negara Jepang yang tinggal di luar negeri lebih dari satu juta menurut Ministry of Foreign Affairs.
↑Agnote, Dario (October 11, 2006). "A glimmer of hope for castoffs". The Japan Times. Diarsipkan dari asli tanggal June 7, 2011. Diakses tanggal August 9, 2016.
↑Kindaichi, Haruhiko (2011-12-20). Japanese Language: Learn the Fascinating History and Evolution of the Language Along With Many Useful Japanese Grammar Points. Tuttle Publishing. ISBN9781462902668
↑Satō Makoto. "Shinto and Buddhism". Kokugakuin University Encyclopedia of Shinto. Diarsipkan dari asli tanggal April 1, 2018. Diakses tanggal March 31, 2018.
↑"Asian Americans: A Mosaic of Faiths". Pew Research Center's Religion & Public Life Project. July 19, 2012. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 16, 2013. Diakses tanggal March 17, 2015.
↑""Aso says Japan is nation of 'one race'"". The Japan Times. October 18, 2005. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 24, 2023. Diakses tanggal May 24, 2023. Note: The term which Kyodo News translates as "race" here is 民族 (minzokucode: ja is deprecated ), which is often translated as "people", "nation", or "ethnic group".
↑John LieMultiethnic Japan (Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press, 2001)
↑Oguma Eiji, A Genealogy of 'Japanese' Self-images (Melbourne: Trans Pacific Press, 2002)
↑"On nationality, Ministry of Justice Q&A". Japanese Ministry of Justice. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 25, 2023. Diakses tanggal May 25, 2023. Note: Before the legal age of adulthood in Japan was lowered from 20 to 18 on April 1, 2022, the legal limit age for the choice of nationality was 22.
↑"The Choice of Nationality"(PDF). Embassy of Japan in the Philippines. Diarsipkan(PDF) dari versi aslinya tanggal March 18, 2023. Diakses tanggal May 25, 2023.
↑Cole, Fay-Cooper (1912). "Chinese Pottery in the Philippines"(PDF). Field Museum of Natural History. Anthropological Series. 12 (1). Diarsipkan(PDF) dari versi aslinya tanggal September 3, 2021. Diakses tanggal January 12, 2021.