Tidak jelas apakah "bahasa Pra-Kara" berkaitan dengan bahasa yang dipertuturkan pada masa Konfederasi Gaya.
Asal-usul dan klasifikasi
Hubungan rumpun Japonik dengan rumpun bahasa lainnya dianggap kontroversial. Ada banyak hipotesis, tetapi tidak ada yang diterima secara luas. Japonik adalah rumpun bahasa yang berdiri sendiri[16] dan rekonstruksi bentuk purbanya mengisyaratkan kesamaan kuat dengan bahasa-bahasa Asia Tenggara.[17]
Diskusi ilmiah tentang asal-usul rumpun bahasa Japonik masih menghasilkan banyak pertanyaan.[18] Hubungan paling jelas tampaknya adalah dengan toponim dari selatan Korea, yang mungkin berasal dari bahasa Gaya (Kara), sebuah bahasa isolat purba, atau bahasa lainnya yang belum pernah diketahui.[19] Alexander Vovin (2008, 2013)[20][21] menemukan banyak toponim yang diduga berasal dari bahasa-bahasa Japonik di Semenanjung Korea, terutama di Silla dan Paekche. Masyarakat agrikultural berbahasa Japonik mungkin pernah tinggal di bagian tengah dan selatan Semenanjung Korea, sebelum ditaklukkan oleh penutur bahasa Koreanik dari utara. Kelompok penakluk ini kemungkinan berasal dari tengah dan selatan Manchuria, yang akrab dengan perang berkuda ala Asia Tengah. Sejak ke-6 atau ke-7, bahasa-bahasa Japonik menjadi terpinggirkan di Silla (bagian tenggara Korea Selatan) (Vovin 2013:227-228). Beberapa penutur bahasa Japonik ini beremigrasi ke kepulauan Jepang, sementara yang lain membaur ke dalam masyarakat Korea.
Vovin tidak menganggap bahwa rumpun Japonik memiliki hubungan dengan Koreanik; ia percaya bahwa penutur Japonik digantikan seluruhnya oleh penutur Koreanik di Asia daratan. Vovin (2014)[22] berpendapat bahwa penutur bahasa Japonik awalnya berdiam di Tiongkok Selatan sebelum bermigrasi ke Jepang melalui Semenanjung Korea, sementara bahasa-bahasa Koreanik, yang menunjukkan berbagai kesamaan tipologis dengan rumpun bahasa Paleosiberia berasal dari Siberia (Vovin 2015)./> (Vovin 2015).[23] Selain itu, Vovin (1998)[24] juga menganggap bahwa bahasa Japonik digunakan oleh kebudayaan Kofun dan bukan Yayoi. Orang-orang Yayoi diduga menggunakan bahasa Austroasia atau Tai-Kadai, berdasarkan rekonstruksi istilah Japonik *(z/h)ina-Ci 'padi (tanaman)', *koma-Ci 'gabah', dan *pwo 'pelepah/kulit biji-bijan' yang menurut Vovin berasal dari istilah pertanian Yayoi.
Vovin (2013) juga mencatat bahwa nama lama untuk Pulau Jeju adalah tammura, yang dapat dianalisis sebagai bahasa Jepang tani mura たにむら (谷村 'pemukiman lembah') atau tami mura たみむら (民村 'pemukiman orang-orang'). Dengan demikian, Vovin menyimpulkan bahwa penutur Japonik pernah ada di Pulau Jeju sebelum digantikan oleh penutur Koreanic yang datang sekitar sebelum abad ke-15, yaitu pada saat negara Tamna di Jeju dikuasai oleh Dinasti Joseon.
Peneliti lain, seperti Paul K. Benedict, menyatakan bahwa bahasa Jepang berhubungan dengan bahasa Austronesia, sesuai dengan teori rumpun bahasa Austro-Tai-Jepang yang diajuakannya. Namun, pengelompokan Austro-Tai-Jepang ini tidak diterima secara luas oleh ahli bahasa. Meskipun Vovin (2014)[22] tidak mempertimbangkan adanya hubungan genetik (hubungan bahasa yang bisa diusut hingga ke leluhur bersama) antara bahasa Japonik dan Tai-Kadai, ia menduga bahwa penutur Japonik purba pernah melakukan kontak intensif dengan penutur Tai-Kadai, sesuai hipotesisnya tentang asal rumpun Japonik di Tiongkok Selatan.
Ada bukti tipologis yang mengisyaratkan bahwa Proto-Japonik bersifat monosilabis, memiliki pola kalimat SPO dan merupakan sebuah bahasa isolatif, kesemuanya merupakan fitur yang umum dalam rumpun Tai-Kadai.[25]
Teori lain dikemukakan oleh ahli bahasa berkebangsaan Jepang Īno Mutsumi. Setelah menganalisis hasil rekonstruksi bahasa-bahasa Sino-Tibet, ia berpendapat bahwa bahasa Jepang berhubungan dengan bahasa Sino-Tibet, terutama bahasa Myanmar. Karena memiliki tata bahasa serupa (SOV, sintaksis), kosakata dasar non-pinjaman dan fakta bahwa bentuk purba Sino-Tibet adalah non-tonal seperti di sebagian kecil dari bahasa Sino-Tibet hari ini, ia mengusulkan bahwa bahasa Jepang berasal dari rumpun Sinitik.[26][27]
Analisis tahun 2015 yang dilakukan menggunakan Automated Similarity Judgment Program mengelompokkan bahasa-bahasa Japonik dengan Ainu dan kemudian dengan bahasa-bahasa Austroasia.[28] Namun, kesamaan antara Ainu dan Japonik lebih karena kontak ekstensif antara keduanya. Konstruksi gramatikal analitis yang dikembangkan oleh bahasa Ainu mungkin saja disebabkan kontak dengan bahasa Jepang dan bahasa-bahasa Japonic lainnya, yang memiliki pengaruh besar pada bahasa Ainu dengan sejumlah besar kata-kata dipinjamkan ke dalam bahasa Ainu, dan dalam skala lebih kecil, dari bahasa Ainu ke bahasa-bahasa Japonik.[29] Belum dibuktikan adanya hubungan silsilah antara Ainu dengan semua rumpun bahasa lainnya. Oleh sebab itu, Ainu dianggap sebagai bahasa isolat.