MatagiPemburu Matagi dan seekor beruang hitam jepang, 1966, Kamikoani, Akita
Matagi (マタギcode: ja is deprecated , atau lebih jarang 又鬼code: ja is deprecated ) adalah suku pemburu tradisional di musim dingin yang menetap di Wilayah Tōhoku di utara Jepang. Mereka banyak ditemui di Prefektur Akita, tempat asal anjing Akita terutama di kota Ani.[1] Selain itu, mereka juga menghuni hutan Shirakami-Sanchi di antara Prefektur Akita dan Aomori, beserta sejumlah daerah lain di Jepang. Tercatat sebagai kelompok tersendiri sejak abad pertengahan, orang-orang Matagi hidup dengan berburu rusa dan beruang hingga kini, dengan kebudayaan yang memiliki banyak kesamaan dengan praktik pemujaan beruang orang Ainu.
Seiring diperkenalkannya senjata api modern pada abad ke-19, dan produksi massal peluru isi ulang yang dimulai dengan senapan Murata, kebutuhan untuk berburu beruang secara berkelompok telah berkurang, yang menyebabkan kemunduran budaya Matagi.
Terdapat beberapa teori mengenai asal-usul kata Matagi. Salah satu teori yang terkenal adalah bahwa kata tersebut berasal dari kata dialek Tōhoku yamadachi (山立code: ja is deprecated , "pemburu"). Ada juga hipotesis bahwa kata "matagi" berasal dari kata Ainumatangi atau matangitono, yang berarti "manusia musim dingin" atau "pemburu". Teori yang terakhir didukung oleh keberadaan sejumlah kosakata tentang perburuan dalam dialek Matagi yang berasal dari bahasa Ainu.[2][3]
Asal-usul etnis
Menurut Lee dan Hasegawa, orang Matagi merupakan keturunan dari para pemburu dan nelayan berbahasa Ainu yang bermigrasi dari Hokkaido ke utara Honshu. Mereka juga menyumbang sejumlah toponimi dan istilah Ainu yang berkaitan dengan fitur geografi, hewan buruan, dan air kepada orang-orang berbahasa Japonik.[4]
Praktik berburu
Makiri, pisau berburu tradisional Matagi
Spiritualitas
Orang Matagi memiliki kebudayaan yang unik yang berpusat pada keyakinan terhadap dewa gunung dan hukum adat yang khas.[5][6] Bagi mereka, berburu adalah cara hidup, bukan cabang olahraga.[7] Hewan yang diburu dianggap sebagai hadiah dari dewata gunung, dan mereka memiliki cara tertentu untuk menyembelih dan mempersiapkan hewan tersebut. Setelah hewan dibunuh, hewan tersebut dipuji, dan rohnya dihibur. Kemudian, untuk mengganti kehilangan nyawa, semua bagian tubuhnya, mulai dari bulu hingga jeroan mereka manfaatkan.[8] Penekanan diberikan pada tindakan mengambil nyawa hewan melalui upacara dan refleksi, yang kemudian diteruskan dari generasi ke generasi.[9]
Dalam sejarah, masyarakat Jepang arus utama memandang masyarakat Matagi sebagai orang-orang yang "tidak suci" lantaran kebiasaan mereka memakan banyak hewan yang dianggap kotor dan mencemari ritual.[8] Dalam gulungan makimono yang dimiliki oleh banyak keluarga Matagi, tercatat legenda mengenai leluhur yang diberi izin tertentu untuk berburu dan memakan hewan-hewan itu karena sang leluhur memberikan pelayanan khusus kepada dewi gunung Yamanokami pada masa sulit.[10]
Matagi pada masa kini
Orang Matangi tinggal di kampung-kampung kecil di hutan bewuk di gunung-gunung Tōhoku dan bertani selama musim tanam dan panen. Pada musim dingin dan awal musim semi, mereka membentuk kelompok berburu yang bisa menghabiskan waktu hingga berminggu-minggu di belantara.[9]
Di masa modern, beberapa orang Matagi terlibat konflik dengan penggiat lingkungan, menyusul kekhawatiran akan penggundulan hutan dan menurunnya populasi hewan tertentu.[11] Mereka tidak lagi berburu kambing-hutan jepang yang dilindungi, tetapi masih berburu beruang hitam jepang dengan izin khusus.
Dalam budaya populer
Orang Matagi muncul dalam novel biografi Dog Man: An Uncommon Life on a Faraway Mountain karya Martha Sherrill, yang menceritakan seorang Matagi bernama Uesugi, yang menjadi teman si tokoh utama yang berupaya melestarikan anjing ras Akita, yang digunakan secara luas untuk berburu oleh Matagi.
Seorang Matagi berperan sebagai tokoh utama dalam novel The Girl with the Face of the Moon karya Ellis Amdur. Dalam serial mangaGolden Kamuy, seorang pemburu Matagi bernama Tanigaki Genjirou ditampilkan secara menonjol, beserta budaya Ainu secara umum.[12] Seri manga Shikanoko Nokonoko Koshitantan menampilkan karakter Matagi bernama Souichirou Kumatori yang mencoba memburu tokoh utama, seekor rusa, untuk prosesi festival lokal di kampung halamannya di Hokkaido.
Tokoh utama, Hitomi, dalam serial buku komik dengan judul yang sama karya HS Take dan Isabella Mazantini digambarkan sebagai seorang Matagi.[13]
Blacker, Carmen (1997). "The Mistress of the Animals in Japan: Yamanokami". Dalam Billington, Sandra; Green, Miranda (ed.). The Concept of the Goddess. Routledge. hlm.178–185. doi:10.4324/9780203456385. ISBN978-0203456385.