Perhatian: untuk penilai, halaman pembicaraan artikel ini telah diisi sehingga penilaian akan berkonflik dengan isi sebelumnya. Harap salin kode dibawah ini sebelum menilai.
Cari artikel bahasaCari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
Halaman bahasa acak
Peta zona pemakaian kopulada, ja, ya dalam dialek-dialek bahasa Jepang
Dialek bahasa Jepang (方言code: ja is deprecated , hōgen) adalah variasibahasa Jepang yang berbeda-beda menurut pemakai dan daerahnya di Jepang. Bahasa Jepang yang menjadi lingua franca di Jepang disebut hyōjungo (標準語code: ja is deprecated (bahasa Jepang Standar) atau kyōtsūgo (共通語code: ja is deprecated (bahasa umum) yang awalnya didasarkan pada dialek Tokyo. Dalam bahasa Jepang, dialek disebut -ben (弁code: ja is deprecated ), sehingga dikenal sebutan Osaka-ben (大阪弁code: ja is deprecated ) (dialek Osaka), Nagoya-ben名古屋弁code: ja is deprecated (dialek Nagoya), dan sebagainya. Selain disebut Kyoto-ben, dialek Kyoto secara khusus disebut Kyo-kotoba (京言葉code: ja is deprecated )
Berbeda dari bahasa Jepang Standar, dialek-dialek bahasa Jepang menggunakan kosakata, ekspresi, aksen, dan intonasi yang khas daerah tersebut. Di antara kosakata khas daerah misalnya: menkoi (めんこいcode: ja is deprecated ) untuk cantik (untuk sesuatu yang kecil) dalam dialek-dialek Jepang Timur, omoroi (おもろいcode: ja is deprecated ) untuk lucu dalam dialek Kansai, batten (ばってんcode: ja is deprecated ) untuk tetapi dalam dialek-dialek Kyushu. Berbeda dari dialek Tokyo yang menjadi dasar bahasa Jepang Standar, dialek-dialek bahasa Jepang lainnya sering mendapat pandangan negatif, mulai dari "bahasa orang desa yang tidak berpendidikan", "medok", hingga "bahasa hancur". Ada pula dialek bahasa Jepang yang dinilai "kotor", sedangkan dialek lainnya dianggap "bernilai tinggi".
Peta dialek bahasa Jepang dan bahasa-bahasa Japonik
Penduduk Hokkaido sebagian besar merupakan pendatang yang relatif baru dari berbagai daerah di Jepang. Dialek Hokkaido (Hokkaidō-ben) dipengaruhi secara jelas oleh dialek Tohoku (Tōhoku-ben) yang dipakai penduduk paling timur Pulau Honshu. Hal ini disebabkan letak geografis Hokkaido dan Tohoku yang berdekatan. Ciri khas dialek Hokkaido adalah perbedaan jender yang lebih sedikit dan banyaknya kosakata khas daerah. Kalimat dalam dialek Hokkaido diakhiri dengan kata dabesa (だべさ) dan bukan desu (です). Ada kecenderungan orang Hokkaido untuk berbicara cepat dan disingkat-singkat seperti sering ditemui dalam cara berbicara orang di daerah pedalaman di Jepang.
Dialek Tohoku dipakai orang yang tinggal di 6 prefektur di wilayah Tohoku yang merupakan daerah timur laut di Pulau Honshu. Dialek ini dapat berbeda jauh dari bahasa Jepang Standar. Bila ada orang berbicara dalam dialek Tohoku di televisi, maka stasiun televisi akan menampilkan teks terjemahan dalam bahasa Jepang Standar.
Salah satu ciri khas dialek Tohoku yang sangat mencolok adalah tidak adanya perbedaan antara vokal tinggi "i" dan "u" sehingga kata-kata seperti sushi, susu (jelaga), dan shishi (singa) diucapkan seperti sebuah homofon (kata-kata tersebut diucapkan dengan perbedaan yang jelas dalam dialek-dialek bahasa Jepang yang lain). Dialek Tohoku tidak mengenal perbedaan yang jelas atau sedikitnya perbedaan dalam pengucapan antara shi dan su, antara chi dan tsu, serta dakuonji (じ/ぢ) dan zu (ず/づ). Bunyi-bunyi chi (ぢ), zu (づ), ji (じ), dan zu (ず) semua diucapkan seperti [dzü]. Oleh karena itu, dialek Tohoku sering disebut Zūzū-ben (ズーズー弁code: ja is deprecated , dialek Zūzū).
Ciri khas dialek Kanto yang mengakhiri kalimat dengan "-be" (~べ) dan "-nbe" (~んべ) juga dimiliki oleh dialek Tohoku. Dialek Kanto Timur terutama mirip dengan dialek Tohoku. Dialek-dialek lokal Kanto di Tokyo dan daerah pinggirannya menghilang secara perlahan-lahan karena bahasa Jepang Standar lebih dulu dikenal secara luas di Kanto dibandingkan daerah-daerah lain di Jepang.
Dialek-dialek di Jepang bagian barat (kecuali Kyushu) memiliki perbedaan mencolok dari bahasa Jepang Standar. Di antara ciri khas dialek Jepang Barat adalah penggunaan kata oru (おる) untuk iru (いる, ada) serta pemakaian kopulaja (じゃ) atau ya (や) dan bukan da (だ). Akhiran bentuk negasi adalah -n (~ん) seperti dalam wakaran (わからん, tidak tahu), dan bukan -nai (~ない) seperti dalam wakaranai (わからない). Ciri-ciri khas tersebut sebagian berasal dari bahasa Jepang Kuno.
Dialek Hiroshima menggunakan kopulaja (じゃ) dan bukan da (だ). Kalimat yang berakhiran dengan ne (ね) diganti dengan no (の). Seperti halnya dialek-dialek Kyushu, ken (けん) dipakai sebagai pengganti kara (から). Kalimat diakhiri dengan kata jakenno (じゃけんの) dan bukan da, walaupun arti harfiah jaken (じゃけん) sebenarnya adalah dakara (だから, maka, oleh sebab itu).
Dialek Yamaguchi menggunakan lebih banyak yōon dan diftong dibandingkan dialek lainnya di Jepang. Konsonan ch sangat sering digunakan, akhiran -choru (~ちょる) sering dipakai untuk menggantikan bahasa Jepang Standar -te iru (~ている), serta -cha (~ちゃ) dipakai untuk menggantikan da (だ) dalam bahasa Jepang Standar.
Dialek Hata di Hata (ujung paling barat Prefektur Kochi).
Dialek Umpaku
Umpaku merujuk kepada wilayah bekas Provinsi Izumo (un dari karakter 雲 dalam Izumo no Kuni, 出雲国) dan wilayah bekas Provinsi Hōki (haku dari karakter 伯 dalam Hōki no Kuni, 伯耆国). Dialek-dialek Umpaku dituturkan orang di bagian timur Prefektur Shimane, bagian barat Prefektur Tottori.
Di antara kosakata dari dialek Izumo dikenal luas di Jepang adalah kata dan dan (だんだん) yang berarti terima kasih. Dialek Izumo menggantikan sukoshi (すこし, sedikit) dengan chonboshi (ちょんぼし), dan banjimashite (晩じまして) sebagai ucapan selamat petang (satu jam sebelum dan sesudah matahari terbenam).[2]
Kyushu
Dialek Kyushu dituturkan orang yang tinggal di Kyushu. Dilihat dari segi perbendaharaan kosakata, dialek Satsugū (Prefektur Kagoshima) dan dialek Hichiku dipengaruhi dialek Kansai, tetapi aksen yang dipakai adalah aksen Tokyo yang disederhanakan atau disamarkan.
Dialek Hakata dituturkan orang di distrik Hakata yang merupakan pusat kota Fukuoka. Kata tanya yang dipakai dalam dialek Hakata adalah -to? (と?) sebagai pengganti -no (の?), misalnya kaeru to? (mau pulang?) atau kaeriyō to? (帰りよーと?), dan bukan kaeru no? (帰るの?) seperti dalam bahasa Jepang Standar.
Dialek Tsushima adalah dialek yang dituturkan orang di Pulau Tsushima. Walaupun letak Tsushima berdekatan dengan Semenanjung Korea, dialek Tsushima tidak ada hubungannya dengan bahasa Korea selain sejumlah kosakata yang dipinjam dari bahasa Korea.
Kosakata serapan bahasa Korea dalam dialek Tsushima