Nama Plasakuning berasal dari pohon palasa yang dahulu berdiri tegak di selatan masjid. Namun, pohon palasa tersebut sudah tidak ada lagi. Sejak awal, kawasan sekitar Masjid Plasakuning sudah ditetapkan sebagai kawasan mutihan, yakni banyak diisi oleh santri yang benar-benar serius mendalami ajaran agama Islam. Masyarakat Plasakuning terbagi menjadi dua bagian: Plasakuning Jero yang sebagian besar warganya masih keturunan Kiai Mursada, pendiri masjid ini; serta Plasakuning Jaba yang warganya tak memiliki hubungan darah dengan Kiai Mursada.[1]
Kiai Mursada, menurut tradisi turun-temurun masyarakat Plosokuning, adalah anak dari Kiai Nur Iman Mlangi, ulama dan putra Amangkurat IV yang memilih jalan hidupnya sebagai seorang penuntut ilmu agama Islam. Setahun setelah mendirikan Masjid Mlangi pada 1723, ayahnya memintanya untuk membangun satu lagi masjid di sebelah timur, tepatnya di pedukuhan Plasakuning. Antara Geger Pacinan hingga Perang Takhta Jawa Ketiga dan Perjanjian Giyanti, kedua masjid ini sering dijadikan sebagai tempat berlindung dari para pemberontak.[2]
Di masa pemerintah Hamengkubuwana II, masjid ini mendapat renovasi, tepatnya pada tahun 1812. Bangunan masjid ini terkena gempa bumi tahun 1867 yang melanda Yogyakarta, sehingga harus direkonstruksi dua tahun setelahnya. Pada masa Agresi Militer Belanda I dan II, masyarakat memanfaatkan Masjid Pathok Nagara Plasakuning sebagai tempat berlindung dari serangan musuh.[3]
Deskripsi bangunan
Bagian serambi masjid
Arsitektur masjid tersebut masih asli tanpa banyak diubah-ubah. Di depan masjid tersebut terdapat kolam untuk menyucikan diri pada jamaah sebelum masuk masjid. Sementara itu, di belakang masjid terdapat makam. Semua bagian masjid ini termasuk dalam zona inti pelestarian dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya, Masjid Plasakuning juga merupakan masjid yang memperlihatkan bentuk dan komponen masjid Jawa klasik, meski terdapat juga pengubahan dan pengembangan yang dilakukan sehubung dengan kebutuhan umat di zaman sekarang.[4]
Masjid ini berorientasi ke arah kiblat, sehingga saf sejajar dengan bangunan masjid. Bagian dalam masjid sudah dialasi karpet, sedangkan pada serambinya tidak. Makam yang berada di belakang masjid termasuk makam dari pendiri masjid, Kiai Mursada.[5]
Kehidupan sekitar masjid
Di sekitar Masjid Plasakuning berdiri beberapa pondok pesantren. Pondok-pondok pesantren ini, pada masa lampau, tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan di wilayah tersebut, tetapi juga kekuatan politik di bagian utara dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Saat ini, santri yang banyak belajar di pondok-pondok pesantren tersebut berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, bahkan ada juga yang berasal dari Dunia Muslim lainnya. Selain pondok pesantren, di sekitar masjid ini juga berdiri beberapa sekolah modern berbasis Islam.[5]
Galeri
Gapura timur Masjid Pathoknegara Plasakuning, Yogyakarta
Masjid Pathok Nagara Sulthani Plasakuning dari sisi timur laut
Tampak depan bagian kuncung, dari gerbang timur.
Masjid Pathok Nagara Sulthani Plasakuning dari sisi timur laut
Kuncungan Masjid Pathok Nagara Sulthani Plasakuning