Masjid Sulthoni Wotgaleh didirikan pada masa Kerajaan Mataram Islam sekitar tahun 1600 M. Masjid ini dikenal sebagai salah satu dari masjid Pathok Negoro, yakni masjid yang berada di batas wilayah kerajaan dan berfungsi ganda sebagai simbol religius sekaligus pos pertahanan luar kerajaan. Di area belakang masjid terdapat kompleks makam “Hastono Wotgaleh” yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Panembahan Purbaya I yang merupakan putra dari Panembahan Senopati, sosok pejuang tangguh dari Mataram yang dikenal sebagai Banteng Mataram karena keberaniannya dalam berperang, termasuk saat menyerbu Batavia. .[1] Pangeran Purbaya gugur dalam pertempuran mempertahankan Keraton Plered dari serangan Karaeng Galesong dan Trunojoyo pada tahun 1677. Hari lahir dan wafatnya sering diperingati oleh para peziarah yang datang dari berbagai daerah.[3] Makam tersebut juga menjadi peristirahatan Panembahan Purbaya II dan III. Secara etimologis, nama Wotgaleh berasal dari kata wot (jembatan atau lintasan) dan galeh/galih (hati), yang secara simbolis dimaknai sebagai tempat penguatan hati dalam mencapai kesabaran lahir dan batin.[2]
Deskripsi bangunan
Atap dan 4 saka guru.
Secara arsitektural, Masjid Sulthoni Wotgaleh merepresentasikan gaya masjid tradisional Jawa. Bangunannya menggunakan atap berbentuk Tajug, dengan tipologi Tajug Lawakan Lambang Teplok, yakni atap tajug utama di bagian tengah dikelilingi atap pananggap di keempat sisinya. Di bagian atas atap pananggap terdapat unsur blandar lumajang yang terhubung ke sunduk-kili pamidhangan atau saka guru.
Ruang utama masjid dilengkapi dua ruang tambahan di sisi kiri dan kanan, masing-masing berfungsi sebagai pawestren (area salat perempuan) dan ruang pengurus masjid (takmir). Serambi masjid berbentuk Limasan, ditopang oleh delapan tiang utama, dengan atap emper di bagian luar. Serambi ini masih menyimpan beduk lama, yang dahulu digunakan untuk menandai waktu salat sebelum penggunaan pengeras suara.[2]
Seiring berjalannya waktu, Masjid Sulthoni Wotgaleh mengalami sejumlah perubahan fisik yang cukup signifikan. Seluruh lantai masjid telah diganti menggunakan keramik putih. Dinding bagian dalam, termasuk area mihrab, juga dilapisi keramik setinggi satu meter. Meskipun demikian, empat saka guru beserta umpaknya masih dipertahankan dalam kondisi asli. Struktur tumpangsari telah mendapatkan tambahan elemen kayu baru yang dipernis mengkilap.[butuh rujukan]
Meskipun mengalami renovasi, sejumlah elemen asli masjid tetap dipertahankan. Komponen pintu dan jendela masih menggunakan material lama. Atap masjid ditopang oleh usuk dengan pola ri gereh, yaitu model sejajar tanpa pusat. Namun demikian, sebagian elemen usuk telah diganti dengan kayu baru karena kondisi sebelumnya yang sudah tidak layak.[1]
Kesakralan
Kompleks pemakaman Wotgalih tidak hanya menyimpan makam keluarga Pangeran Purbaya, tetapi juga makam keluarga Sultan Hamengkubuwono II dan IV, menambah aura kesakralan kawasan ini. Di tengah masyarakat, berkembang mitos bahwa wilayah ini memiliki kekuatan gaib yang bisa menyebabkan pesawat atau burung jatuh jika melintasi area di atasnya. Beberapa insiden jatuhnya pesawat yang terjadi di sekitar kawasan ini turut memperkuat kepercayaan tersebut. Oleh karena itu, pengunjung yang memasuki kawasan makam dan masjid ini diwajibkan menjaga etika dan perilaku demi menghormati nilai-nilai spiritual yang melekat kuat di tempat tersebut.[3]