Keberadaan masjid ini sejak awal berkaitan erat dengan masa kejayaan Kerajaan Sumedang Larang yang kemudian bertransformasi menjadi Kabupaten Sumedang.[3] Sejak berdiri, Masjid Agung Sumedang berfungsi sebagai pusat syiar Islam dan kegiatan keagamaan masyarakat di wilayah Priangan Timur.[3]
Masjid Agung Sumedang dilindungi oleh Undang-undang Kepurbakalaan sebagai salah satu bangunan bersejarah di Jawa Barat.[2]
Sejarah
Masjid Agung Sumedang dibangun pada tahun 1850 ketika Bupati Sumedang dijabat oleh Pangeran Suria Kusumah Adinata yang dikenal dengan sebutan Pangeran Sugih.[4] Pembangunan masjid ini dilaksanakan di atas tanah wakaf yang diberikan oleh Raden Dewi Siti Aisyah.[1]
Pembangunan dimulai pada 4 Rajab 1267 Hijriyah/3 Juni 1850 Masehi.[4] Pembangunan masjid selesai pada 8 Ramadhan 1270 H/5 Juni 1854 Masehi.[2] Pada tahap awal, masjid memiliki luas bangunan sekitar 583,66 meter persegi yang berdiri di atas lahan seluas 6.755 meter persegi.[4]
Pangeran Sugih yang dikenal sebagai salah satu bupati ternama di Tatar Sunda dan dijuluki sebagai bapak pembangunan Sumedang, turut berperan dalam keberadaan Masjid Agung Sumedang.[1] Sebelum berada di lokasi sekarang, Masjid Agung Sumedang sempat berdiri di kawasan yang kini dikenal sebagai SD Sukaraja dan kemudian dipindahkan oleh Pangeran Sugih.[1]
Perluasan bangunan
Bangunan Masjid Agung Sumedang mengalami perluasan pada masa pemerintahan Bupati Pangeran Aria Soeria Atmadja yang dikenal sebagai Pangeran Mekah.[4] Perluasan tersebut dilakukan ke arah depan, samping utara, dan samping selatan dengan penghulunya K.H.R. Muhammad Hamim.[4]
Renovasi dan pemugaran
Masjid Agung Sumedang telah mengalami tiga kali renovasi besar sejak pengelolaannya berada di bawah Departemen Agama Kabupaten Sumedang.[1] Renovasi pertama dilakukan pada tahun 1952.[1] Pada masa ini, masjid tetap berdiri kokoh meskipun gempa besar merusak sejumlah bangunan di sekitarnya.[1]
Renovasi ketiga dimulai pada 27 September 2002 dan diresmikan pada 22 April 2004 oleh Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan dan Bupati Sumedang Don Murdono.[1] Pada tahap ini dibangun menara azan setinggi 35,5 meter serta dilakukan renovasi fasilitas penunjang seperti tempat wudhu, toilet, dan ruang DKM.[1]
Arsitektur dan akulturasi
Masjid Agung Sumedang pada tahun 2011.
Masjid Agung Sumedang merupakan hasil akulturasi arsitektur Islam, Tiongkok, dan pengaruh kolonial Belanda.[5] Bentuk atap bersusun tiga menyerupai pagoda merupakan ciri utama pengaruh budaya Tiongkok.[5] Atap tersebut semakin ke atas semakin mengecil, dengan puncak berbentuk mamale dan mustaka yang menyerupai mahkota raja.[4] Penggunaan mahkota sebagai puncak atap berkaitan dengan latar Sumedang sebagai wilayah bekas kerajaan.[2]
Pengaruh Tiongkok juga terlihat pada ukiran kayu bermotif khas Tiongkok yang menghiasi kusenpintu, jendela, dan mimbar masjid.[4][5] Pengaruh arsitektur Belanda tampak pada bentuk kolom dan jendela berukuran besar dengan ujung setengah lingkaran.[1]
Interior
Masjid Agung Sumedang memiliki banyak tiang penyangga besar yang terbuat dari susunan bata bulat, baik di bagian dalam maupun luar bangunan.[4] Mimbar masjid yang masih asli memiliki empat tiang berwarna keemasan dan dihiasi ukiran bergaya Tiongkok.[5] Secara simbolik, bentuk atap, ornamen puncak, tiang segi delapan, dan motif ukiran mencerminkan makna kesucian, kedamaian, keabadian, kemakmuran, serta perlindungan spiritual.[5]