Perbedaan sektarian
Tabel berikut berisi daftar gelar yang tidak lengkap yang digunakan di antara banyak aliran dalam Buddhisme Jepang.
| Aliran |
Istilah umum |
Kepala aliran atau wihara |
| Risshū |
|
|
| Tendai |
- 法印 (Hōin)
- 和尚 (Kashō)
- 阿闍梨 (Ajari)
|
|
| Shingon |
- 法印 (Hōin)
- 前官 (Zengan)
- 和尚 (Wajō)
- 方丈 (Hōjō)
- 阿闍梨 (Ajari)
- 僧正 (Sōjō)
|
- 管長 (Kanchō)
- 長者 (Chōja)
- 化主 (Keshu)
- 門跡 (Monzeki)
- 座主 (Zasu)
|
| Rinzai Zen |
- 和尚 (Oshō)
- 方丈 (Hōjō)
- 老師 (Rōshi)
|
|
| Soto Zen |
- 和尚 (Oshō)
- 方丈 (Hōjō)
- 老師 (Rōshi)
|
- 貫首 (Kanshu)
- 猊下 (Geika;
rotates biennially)
|
| Jōdo-shū |
|
|
| Jōdo Shinshū |
- 院家 (Inge)
- 院住 (Injū)
- 御前 (Onmae)
- 御院 (Goin)
|
- 門主 (Monshu)
- 門首 (Monshu)
- 法主 (Hossu)
|
| Nichiren |
|
|
| Lainnya |
- 尊師 (Sonshi)
- 教務 (Kyōmu) *院主 (Inju)
|
- 管主 (Kanzu)
- 別当 (Bettō)
- 能化 (Nōge)
|
Sebagaimana ditunjukkan di atas, istilah 和尚 (Oshō, dll.) dapat dilafalkan dengan beberapa cara, tergantung pada aliran atau tradisi yang bersangkutan. Asalnya berasal dari kata Sanskerta upādhyāya yang awalnya merujuk pada seseorang yang memberikan sila kepada orang lain.
Hōin (法印) awalnya merupakan gelar yang diberikan oleh kaisar kepada seorang biksu. Gelar ini masih digunakan hingga saat ini secara bergilir. Khususnya dalam Buddhisme Shingon Koyasan, seorang biksu senior diangkat menjadi Hōin untuk masa jabatan satu tahun dan bertugas sebagai pemimpin semua upacara besar di Gunung Koya. Setelah masa jabatan mereka berakhir, mereka menerima gelar Zengan (前官).
Shōnin (上人) adalah gelar penghormatan kepada seseorang yang telah mencapai tingkat pencerahan tertentu. Goin (御院) dan Inke (院家) merujuk pada kuil itu sendiri.
Dalam kasus Buddhisme Tanah Murni, yang tidak menekankan disiplin kebiaraan dan lebih mengutamakan kehidupan rumah tangga, kata-kata untuk biara cenderung mencerminkan institusi dibandingkan orang yang bertanggung jawab. Di wilayah Kansai, Goingesan (ご院家さん), Goinsan (御院さん) dan Goensan (ご縁さん) umumnya digunakan di kalangan umat Buddha Shin. Struktur kebiaraan juga cenderung diwariskan dari garis keturunan keluarga dalam tradisi Tanah Murni.
Hōushu atau Hossu (法主) adalah gelar yang digunakan oleh Ekan Ikeguchi di Saifuku-ji, Kagoshima. Gelar ini juga digunakan di antara Tujuh Kuil Utama Jōdo-shū dan Taiseki-ji milik aliran Nichiren Shōshū.
Dalam tradisi Tendai, istilah Zasu 座主 adalah hal yang umum. Kepala wihara juga kadang-kadang disebut sebagai Yama no zasu (山の座主), yang berarti "Kepala dari gunung."
Monzeki (門跡) adalah istilah yang diperuntukkan bagi pemuka agama dari garis keturunan bangsawan atau kekaisaran, dan masih digunakan hingga saat ini di Daikaku-ji di Shingon dan Hongan-ji di Jōdo Shinshū.[14][3][15]