Kapitalisme
| Bagian dari seri |
| Sistem ekonomi |
|---|
|
Model kawasan |
|
Sektor |
Kapitalisme adalah sebuah sistem ekonomi yang didasarkan pada kepemilikan swasta atas alat produksi dan penggunaannya untuk tujuan mendapatkan laba.[1][2] Sistem sosial-ekonomi ini telah berkembang secara historis dalam beberapa tahap dan didefinisikan oleh sejumlah elemen penyusunnya: hak milik swasta, motif laba, akumulasi modal, pasar kompetitif, komodifikasi, kerja upahan, serta penekanan pada inovasi dan pertumbuhan ekonomi.[3][4] Ekonomi kapitalis dapat mengalami siklus bisnis berupa ekspansi ekonomi yang diikuti oleh resesi.[5]
Para ekonom, sejarawan, ekonom politik, dan sosiolog telah mengadopsi berbagai perspektif berbeda dalam analisis mereka mengenai kapitalisme dan telah mengakui berbagai bentuk praktiknya. Bentuk-bentuk ini meliputi kapitalisme laissez-faire, kapitalisme pasar bebas, kapitalisme negara, dan kapitalisme kesejahteraan. Berbagai bentuk kapitalisme memiliki variasi dalam hal tingkat pasar bebas, kepemilikan publik,[6] hambatan terhadap persaingan bebas, dan kebijakan sosial yang disetujui negara. Tingkat persaingan di pasar, peran intervensi dan regulasi, serta cakupan kepemilikan negara bervariasi di antara berbagai model kapitalisme.[7][8] Sejauh mana pasar bebas beroperasi dan aturan yang menetapkan hak milik swasta merupakan persoalan politik dan kebijakan. Sebagian besar sistem ekonomi yang ada di dunia saat ini adalah ekonomi campuran yang menggabungkan elemen pasar bebas dengan intervensi negara dan, dalam beberapa kasus, perencanaan ekonomi.[8]
Kapitalisme dalam bentuk modernnya muncul dari agrarianisme di Inggris, serta dari praktik-praktik merkantilis di negara-negara Eropa antara abad ke-16 dan ke-18. Revolusi Industri pada abad ke-18 mengukuhkan kapitalisme sebagai mode produksi dominan yang dicirikan oleh sistem kerja pabrik dan pembagian kerja yang kompleks. Melalui globalisasi, kapitalisme menyebar ke seluruh dunia pada abad ke-19 dan ke-20, terutama sebelum Perang Dunia I dan berlanjut lagi setelah berakhirnya Perang Dingin. Selama abad ke-19, kapitalisme pada umumnya tidak diregulasi oleh negara, tetapi menjadi lebih diatur pada periode pasca-Perang Dunia II melalui aliran Keynesianisme, yang kemudian diikuti dengan kembalinya model kapitalisme yang lebih tidak teregulasi yang disebut neoliberalisme mulai dekade 1980-an.
Etimologi
Istilah "kapitalis", yang berarti pemilik modal, muncul lebih awal daripada istilah "kapitalisme" dan bermula sejak pertengahan abad ke-17. Kata "kapitalisme" berasal dari kata capital (modal), yang berevolusi dari capitalecode: la is deprecated , sebuah kata Latin akhir yang didasarkan pada caputcode: la is deprecated , yang berarti "kepala"—yang juga merupakan asal mula kata "harta benda" dan "ternak" dalam artian properti yang dapat dipindahkan (yang jauh di kemudian hari baru merujuk khusus pada hewan ternak). Capitalecode: la is deprecated muncul pada abad ke-12 hingga ke-13 untuk merujuk pada dana, stok barang dagangan, sejumlah uang, atau uang yang menghasilkan bunga.[9]: 232 [10] Pada tahun 1283, kata ini digunakan dalam pengertian aset modal dari sebuah perusahaan dagang dan sering dipertukarkan dengan kata-kata lain—kekayaan, uang, dana, barang, aset, properti, dan sebagainya.[9]: 233
Hollantse Mercurius (1651-1691)[11] menggunakan kata "kapitalis" pada tahun 1653 dan 1654 untuk merujuk pada para pemilik modal.[9]: 234 Dalam bahasa Prancis, Étienne Clavier menyebut capitalistes pada tahun 1788,[12] empat tahun sebelum penggunaan pertamanya yang tercatat dalam bahasa Inggris oleh Arthur Young dalam karyanya Travels in France (1792).[10][13] Dalam karyanya Principles of Political Economy and Taxation (1817), David Ricardo menyebut "sang kapitalis" berkali-kali.[14] Penyair Inggris Samuel Taylor Coleridge menggunakan kata "kapitalis" dalam karyanya Table Talk (1823).[15] Pierre-Joseph Proudhon menggunakan istilah ini dalam karya pertamanya, Apa itu Properti? (1840), untuk merujuk pada para pemilik modal. Benjamin Disraeli menggunakan istilah ini dalam karyanya pada tahun 1845 yang berjudul Sybil.[10] Alexander Hamilton menggunakan kata "kapitalis" dalam Report of Manufactures miliknya yang dipresentasikan kepada Kongres Amerika Serikat pada tahun 1791.
Penggunaan awal istilah "kapitalisme" dalam pengertian modernnya dikaitkan dengan Louis Blanc pada tahun 1850 ("Apa yang saya sebut 'kapitalisme' yaitu perampasan modal oleh sebagian orang dengan menyingkirkan yang lain") dan Pierre-Joseph Proudhon pada tahun 1861 ("Rezim ekonomi dan sosial di mana modal, sebagai sumber pendapatan, umumnya tidak dimiliki oleh mereka yang membuatnya bekerja melalui tenaga kerja mereka").[9]: 237 Karl Marx sering merujuk pada "modal" dan pada "mode produksi kapitalis" dalam Das Kapital (1867).[16][17] Marx tidak menggunakan bentuk kata kapitalisme, melainkan menggunakan kata modal, kapitalis, dan mode produksi kapitalis, yang sering muncul.[18] Karena kata tersebut diciptakan oleh para kritikus sosialis terhadap kapitalisme, ekonom dan sejarawan Robert Hessen menyatakan bahwa istilah "kapitalisme" itu sendiri merupakan istilah yang merendahkan dan keliru untuk menyebut individualisme ekonomi.[19] Bernard Harcourt sependapat dengan pernyataan bahwa istilah tersebut keliru, sembari menambahkan bahwa istilah itu secara menyesatkan mengisyaratkan seolah-olah ada yang namanya "modal" yang secara inheren berfungsi dengan cara tertentu dan diatur oleh hukum ekonominya sendiri yang stabil.[20]
Dalam bahasa Inggris, istilah "kapitalisme" pertama kali muncul, menurut Oxford English Dictionary (OED), pada tahun 1854, dalam novel The Newcomes karya novelis William Makepeace Thackeray, yang mana kata tersebut berarti "memiliki kepemilikan atas modal".[21] Juga menurut OED, Carl Adolph Douai, seorang sosialis dan abolisionis Jerman-Amerika, menggunakan istilah "kapitalisme swasta" pada tahun 1863.
Istilah lain yang kadang-kadang digunakan untuk menyebut kapitalisme antara lain:
- Mode produksi kapitalis[22]
- Liberalisme ekonomi[23]
- Usaha bebas[24][halaman dibutuhkan]
- Ekonomi usaha bebas[25]
- Pasar bebas[24][halaman dibutuhkan]
- Ekonomi pasar bebas[25]
- Laissez-faire[26]
- Ekonomi pasar[27]
- Sistem laba[28][halaman dibutuhkan]
- Pasar yang mengatur diri sendiri[24][halaman dibutuhkan]
Definisi
Tidak ada definisi kapitalisme yang disepakati secara universal; tidak jelas apakah kapitalisme mendeskripsikan keseluruhan masyarakat, suatu jenis tatanan sosial tertentu, atau komponen maupun elemen penting dari suatu masyarakat.[29] Negara-negara yang secara resmi didirikan sebagai antitesis terhadap kapitalisme, seperti Uni Republik Sosialis Soviet (Uni Soviet), dan Republik Rakyat Tiongkok, terkadang dianggap justru menunjukkan karakteristik kapitalisme, terlepas dari penolakan berdasarkan ideologi komunis yang mereka klaim.[30] Nancy Fraser menggambarkan penggunaan istilah "kapitalisme" oleh banyak penulis sebagai "terutama bersifat retoris, kurang berfungsi sebagai konsep yang sebenarnya melainkan hanya sebagai isyarat akan perlunya sebuah konsep".[31] Para akademisi yang tidak kritis terhadap kapitalisme justru jarang menggunakan istilah "kapitalisme" itu sendiri.[32] Beberapa pihak meragukan bahwa istilah "kapitalisme" memiliki martabat ilmiah yang valid,[29] dan istilah ini umumnya tidak dibahas dalam ilmu ekonomi arus utama,[31] bahkan ekonom Daron Acemoglu menyarankan agar istilah "kapitalisme" ditinggalkan sepenuhnya.[33] Akibatnya, pemahaman mengenai konsep kapitalisme cenderung sangat dipengaruhi oleh para penentang kapitalisme serta oleh para pengikut dan kritikus Karl Marx.[32]
Sejarah


Kapitalisme, dalam bentuk modernnya, dapat ditelusuri dari kemunculan kapitalisme agraris dan merkantilisme pada awal masa Renaisans, di negara-negara kota seperti Florence.[35] Modal telah ada pada tahap awal dalam skala kecil selama berabad-abad[36] dalam bentuk kegiatan perdagangan, penyewaan, dan peminjaman, serta kadang-kadang sebagai industri berskala kecil dengan sejumlah pekerja upahan. Pertukaran komoditas sederhana dan pada akhirnya produksi komoditas sederhana, yang merupakan dasar awal bagi pertumbuhan modal dari perdagangan, memiliki sejarah yang sangat panjang. Selama Zaman Kejayaan Islam, bangsa Arab mempromosikan kebijakan ekonomi kapitalis seperti perdagangan bebas dan perbankan. Penggunaan angka Hindu-Arab oleh mereka memfasilitasi pembukuan. Inovasi-inovasi ini bermigrasi ke Eropa melalui mitra dagang di kota-kota seperti Venesia dan Pisa. Ahli matematika Italia berkeliling ke wilayah Mediterania untuk berdiskusi dengan para pedagang Arab dan kembali untuk mempopulerkan penggunaan angka Hindu-Arab di Eropa.[37]
Agrarianisme
Landasan ekonomi dari sistem pertanian feodal mulai bergeser secara substansial di Inggris pada abad ke-16 ketika sistem manorial telah runtuh dan tanah mulai terkonsentrasi di tangan segelintir tuan tanah dengan perkebunan yang semakin luas. Alih-alih menggunakan sistem tenaga kerja berbasis hamba sahaya, para pekerja semakin banyak dipekerjakan sebagai bagian dari ekonomi berbasis uang yang lebih luas dan terus berkembang. Sistem ini menekan para tuan tanah maupun penyewa untuk meningkatkan produktivitas pertanian guna meraup keuntungan; melemahnya kekuatan koersif aristokrasi untuk menarik surplus petani mendorong mereka untuk mencoba metode yang lebih baik, dan para penyewa juga memiliki insentif untuk menyempurnakan metode mereka agar dapat berkembang dalam pasar tenaga kerja yang kompetitif. Syarat-syarat sewa tanah mulai tunduk pada kekuatan pasar ekonomi, alih-alih pada sistem adat dan kewajiban feodal yang stagnan seperti sebelumnya.[38][39]
Merkantilisme


Doktrin ekonomi yang berlaku dari abad ke-16 hingga abad ke-18 umumnya disebut merkantilisme.[40][41] Periode ini, yang dikenal sebagai Abad Penjelajahan, dikaitkan dengan eksplorasi geografis ke negeri-negeri asing oleh para pedagang saudagar, terutama dari Inggris dan Negara-Negara Rendah. Merkantilisme merupakan sistem perdagangan untuk mencari laba, meskipun komoditas sebagian besar masih diproduksi dengan metode non-kapitalis.[42] Sebagian besar akademisi memandang era kapitalisme saudagar dan merkantilisme sebagai asal mula kapitalisme modern,[41][43] meskipun Karl Polanyi berpendapat bahwa ciri khas kapitalisme adalah pembentukan pasar yang digeneralisasi untuk apa yang ia sebut sebagai "komoditas fiktif", yaitu tanah, tenaga kerja, dan uang. Oleh karena itu, ia berargumen bahwa "baru pada tahun 1834 pasar tenaga kerja yang kompetitif terbentuk di Inggris, sehingga kapitalisme industri sebagai suatu sistem sosial tidak dapat dikatakan telah ada sebelum tanggal tersebut".[44]
Inggris memulai pendekatan merkantilisme yang berskala besar dan integratif selama Era Elizabeth (1558–1603). Penjelasan yang sistematis dan koheren tentang neraca perdagangan dipublikasikan melalui argumen Thomas Mun dalam bukunya England's Treasure by Forraign Trade, or the Balance of our Forraign Trade is The Rule of Our Treasure. Buku tersebut ditulis pada dekade 1620-an dan diterbitkan pada tahun 1664.[45]
Para pedagang Eropa, yang didukung oleh kontrol negara, subsidi, dan monopoli, meraup sebagian besar laba mereka dengan membeli dan menjual barang. Menurut perkataan Francis Bacon, tujuan merkantilisme adalah "pembukaan dan penyeimbangan perdagangan dengan baik; pembinaan para pelaku manufaktur; penghapusan kemalasan; penekanan pemborosan dan tindakan berlebihan melalui undang-undang kemewahan; perbaikan dan pengelolaan tanah; serta pengaturan harga...".[46]
Setelah periode proto-industrialisasi, Perusahaan Hindia Timur Britania dan Perusahaan Hindia Timur Belanda, pasca-kontribusi besar dari Benggala Mughal,[47][48] mengawali era perdagangan dan perniagaan yang ekspansif.[49][50] Perusahaan-perusahaan ini dicirikan oleh kekuasaan kolonial dan ekspansionis yang diberikan kepada mereka oleh negara-bangsa.[49] Selama era ini, para pedagang, yang sebelumnya telah berniaga di bawah tahap merkantilisme terdahulu, menginvestasikan modal di berbagai Perusahaan Hindia Timur dan koloni-koloni lainnya, untuk mencari laba atas investasi.[butuh rujukan]
Revolusi Industri

Pada pertengahan abad ke-18, sekelompok ahli teori ekonomi, yang dipimpin oleh David Hume (1711–1776)[52] dan Adam Smith (1723–1790), menantang doktrin-doktrin fundamental merkantilis—seperti keyakinan bahwa kekayaan dunia bersifat konstan dan bahwa suatu negara hanya dapat meningkatkan kekayaannya dengan mengorbankan negara lain.
Selama Revolusi Industri, para industrialis menggantikan peran para pedagang sebagai faktor dominan dalam sistem kapitalis dan mengakibatkan kemunduran keterampilan kerajinan tradisional yang dimiliki oleh para perajin, serikat pekerja (gilda), dan pekerja harian. Kapitalisme industri menandai perkembangan sistem pabrik dalam manufaktur, yang dicirikan oleh pembagian kerja yang kompleks di antara dan di dalam proses kerja serta rutinitas tugas-tugas pekerjaan; dan pada akhirnya mengukuhkan dominasi mode produksi kapitalis.[53]
Britania Raya yang telah terindustrialisasi pada akhirnya meninggalkan kebijakan proteksionis yang sebelumnya diwajibkan oleh merkantilisme. Pada abad ke-19, Richard Cobden (1804–1865) dan John Bright (1811–1889), yang mendasarkan keyakinan mereka pada Mazhab Manchester, memprakarsai sebuah gerakan untuk menurunkan tarif.[54] Pada dekade 1840-an, Britania Raya mengadopsi kebijakan yang tidak terlalu proteksionis, dengan pencabutan Undang-Undang Jagung pada tahun 1846 dan pencabutan Undang-Undang Navigasi pada tahun 1849.[55] Britania Raya memangkas tarif dan kuota impor, sejalan dengan advokasi David Ricardo mengenai perdagangan bebas.
Modernitas

Proses globalisasi yang lebih luas membawa kapitalisme ke seluruh penjuru dunia. Menjelang awal abad ke-19, serangkaian sistem pasar yang terhubung secara longgar telah menyatu menjadi sebuah sistem global yang relatif terintegrasi, yang pada gilirannya mengintensifkan proses globalisasi ekonomi dan globalisasi lainnya.[56][57] Pada akhir abad ke-20, kapitalisme berhasil mengatasi tantangan dari ekonomi terencana terpusat dan kini menjadi sistem yang mencakup seluruh dunia,[25][58] dengan ekonomi campuran sebagai bentuk dominannya di dunia Barat yang terindustrialisasi.
Industrialisasi memungkinkan produksi barang-barang rumah tangga yang murah dengan memanfaatkan skala ekonomi, sementara pertumbuhan populasi yang pesat menciptakan permintaan yang berkelanjutan terhadap komoditas. Imperialisme pada abad ke-18 secara meyakinkan membentuk globalisasi.[56][59][60][61]
Setelah terjadinya Perang Candu Pertama dan Kedua (1839–1860) oleh Britania Raya dan Prancis serta selesainya penaklukan Britania atas India pada tahun 1858 dan penaklukan Prancis atas Afrika, Polinesia, dan Indochina pada tahun 1887, populasi yang besar di Asia menjadi konsumen bagi produk ekspor Eropa. Bangsa Eropa menjajah berbagai wilayah di Afrika dan kepulauan Pasifik. Kolonisasi oleh bangsa Eropa, khususnya Afrika oleh Britania Raya dan Prancis, menghasilkan sumber daya alam yang berharga seperti karet, intan, dan batu bara serta membantu memacu perdagangan dan investasi di antara negara-negara kekuatan kekaisaran Eropa, koloni-koloni mereka, dan Amerika Serikat:
Penduduk London dapat memesan melalui telepon, sambil menyeruput teh paginya, berbagai produk dari seluruh penjuru bumi, dan dengan wajar mengharapkan pengiriman awal produk-produk tersebut ke depan pintunya. Militerisme dan imperialisme dari persaingan ras dan budaya tidak lebih dari sekadar hiburan di surat kabar hariannya. Sungguh sebuah episode yang luar biasa dalam kemajuan ekonomi umat manusia di zaman yang berakhir pada bulan Agustus 1914 tersebut.[62]
Dari dekade 1870-an hingga awal 1920-an, sistem keuangan global utamanya terikat pada standar emas.[63][64] Britania Raya pertama kali secara resmi mengadopsi standar ini pada tahun 1821. Negara-negara yang segera menyusul adalah Kanada pada tahun 1853, Newfoundland pada tahun 1865, serta Amerika Serikat dan Jerman (secara de jure) pada tahun 1873. Teknologi baru seperti telegraf, kabel transatlantik, radiotelepon, kapal uap, dan kereta api memungkinkan perpindahan barang dan informasi ke seluruh dunia pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.[65]
Di Amerika Serikat, hingga dekade 1920-an, istilah "kapitalis" terutama merujuk pada para pengusaha kuat[66] karena meluasnya skeptisisme masyarakat serta kritik terhadap kapitalisme maupun para pendukungnya yang paling gigih.

Masyarakat kapitalis kontemporer berkembang di Barat dari tahun 1950 hingga saat ini dan sistem semacam ini terus berlanjut di seluruh dunia—contoh relevan yang bermula di Amerika Serikat setelah tahun 1950-an, Prancis setelah era 1960-an, Spanyol setelah era 1970-an, Polandia setelah tahun 2015, dan lainnya. Pada tahap ini, sebagian besar pasar kapitalis dianggap[oleh siapa?] telah maju dan dicirikan oleh pasar swasta dan publik yang mapan untuk ekuitas dan utang, standar hidup yang tinggi (seperti yang diklasifikasikan oleh Bank Dunia dan IMF), keberadaan investor institusional berskala besar, serta sistem perbankan yang terdanai dengan baik. Sebuah kelas manajerial yang signifikan telah muncul[kapan?] dan menentukan proporsi yang cukup besar dalam hal investasi beserta keputusan lainnya. Masa depan yang berbeda dari apa yang dibayangkan oleh Marx telah mulai terlihat—dieksplorasi dan dijabarkan oleh Anthony Crosland di Britania Raya melalui bukunya tahun 1956 yang berjudul The Future of Socialism[67] dan oleh John Kenneth Galbraith di Amerika Utara melalui bukunya tahun 1958, The Affluent Society,[68] 90 tahun setelah riset Marx mengenai keadaan kapitalisme pada tahun 1867.[69]
Lonjakan ekonomi pascaperang berakhir pada penghujung 1960-an dan awal 1970-an, di mana situasi ekonomi menjadi semakin buruk seiring dengan meningkatnya stagflasi.[70] Monetarisme, sebuah modifikasi dari Keynesianisme yang lebih selaras dengan analisis laissez-faire, semakin menonjol di dunia kapitalis, khususnya selama masa jabatan Ronald Reagan di Amerika Serikat (1981–1989) dan Margaret Thatcher di Britania Raya (1979–1990). Minat publik dan politik mulai bergeser dari kekhawatiran yang disebut sebagai isu kolektivis dalam kapitalisme terkelola milik Keynes menuju fokus pada pilihan individu, yang dinamakan "kapitalisme yang dipasarkan kembali".[71]
Berakhirnya Perang Dingin dan pembubaran Uni Soviet memungkinkan kapitalisme untuk menjadi sistem yang benar-benar global dengan cara yang belum pernah terjadi sejak masa sebelum Perang Dunia I. Perkembangan ekonomi global yang neoliberal akan mustahil terjadi tanpa runtuhnya komunisme.[72][73][74]
Ekonom Harvard Kennedy School, Dani Rodrik, membedakan antara tiga varian historis kapitalisme:[75]
- Kapitalisme 1.0 pada abad ke-19 pada umumnya melibatkan pasar yang tidak diregulasi dengan peran minimal dari negara (selain dari pertahanan nasional dan perlindungan hak milik properti);
- Kapitalisme 2.0 selama tahun-tahun pasca-Perang Dunia II melibatkan Keynesianisme, adanya peran substansial negara dalam meregulasi pasar, dan negara kesejahteraan yang kuat;
- Kapitalisme 2.1 melibatkan kombinasi antara pasar yang tidak diregulasi, globalisasi, dan berbagai kewajiban nasional oleh negara.
Hubungan dengan demokrasi
Hubungan antara demokrasi dan kapitalisme merupakan ranah perdebatan dalam teori maupun dalam gerakan politik populer.[76] Perluasan hak pilih bagi pria dewasa di Britania Raya pada abad ke-19 terjadi seiring dengan perkembangan kapitalisme industri, dan demokrasi perwakilan meluas pada saat yang sama dengan kapitalisme, sehingga mengarahkan para kapitalis untuk mengajukan adanya hubungan kausal atau timbal balik di antara keduanya. Namun, menurut beberapa penulis pada abad ke-20, kapitalisme juga mendampingi berbagai formasi politik yang sangat berbeda dari demokrasi liberal, termasuk rezim fasis, monarki absolut, dan negara satu partai.[41] Teori perdamaian demokratis menegaskan bahwa negara-negara demokrasi jarang memerangi negara demokrasi lainnya, tetapi pihak lain menyarankan bahwa hal ini mungkin disebabkan oleh kesamaan atau stabilitas politik, alih-alih karena mereka "demokratis" atau "kapitalis". Para kritikus berpendapat bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi di bawah kapitalisme telah mengarah pada demokrasi, hal tersebut mungkin tidak akan terjadi di masa depan karena rezim otoriter telah mampu mengelola pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan beberapa prinsip persaingan kapitalisme[77][78] tanpa memberikan kelonggaran terhadap kebebasan politik yang lebih besar.[79][80]
Ilmuwan politik Torben Iversen dan David Soskice memandang demokrasi dan kapitalisme saling mendukung satu sama lain.[81] Robert Dahl berpendapat dalam On Democracy bahwa kapitalisme bermanfaat bagi demokrasi karena pertumbuhan ekonomi dan kelas menengah yang besar berdampak baik bagi demokrasi.[82] Ia juga berargumen bahwa ekonomi pasar menyediakan pengganti atas kendali pemerintah terhadap ekonomi, yang mana hal ini mengurangi risiko tirani dan otoritarianisme.[82]
Dalam bukunya yang berjudul The Road to Serfdom (1944), Friedrich Hayek (1899–1992) menegaskan bahwa pemahaman pasar bebas mengenai kebebasan ekonomi yang ada di dalam kapitalisme merupakan prasyarat bagi kebebasan politik.[83] Ia berpendapat bahwa mekanisme pasar adalah satu-satunya cara untuk memutuskan apa yang harus diproduksi dan bagaimana mendistribusikan barang tanpa menggunakan paksaan. Milton Friedman dan Ronald Reagan juga mempromosikan pandangan ini.[84] Friedman mengklaim bahwa operasi ekonomi yang terpusat selalu dibarengi dengan represi politik. Menurut pandangannya, transaksi dalam ekonomi pasar bersifat sukarela dan keragaman luas yang dimungkinkan oleh aktivitas sukarela tersebut merupakan ancaman mendasar bagi para pemimpin politik yang represif dan sangat mengurangi kekuasaan mereka untuk melakukan paksaan. Beberapa pandangan Friedman juga disetujui oleh John Maynard Keynes, yang meyakini bahwa kapitalisme sangat penting agar kebebasan dapat bertahan dan berkembang.[85][86] Freedom House, sebuah wadah pemikir asal Amerika Serikat yang melakukan riset internasional tentang, serta mengadvokasi, demokrasi, kebebasan politik, dan hak asasi manusia, berargumen bahwa "terdapat korelasi yang tinggi dan signifikan secara statistik antara tingkat kebebasan politik sebagaimana diukur oleh Freedom House dan kebebasan ekonomi sebagaimana diukur oleh survei Wall Street Journal/Heritage Foundation".[87]
Dalam Capital in the Twenty-First Century (2013), Thomas Piketty dari Paris School of Economics menegaskan bahwa ketimpangan adalah konsekuensi tak terhindarkan dari pertumbuhan ekonomi dalam ekonomi kapitalis dan konsentrasi kekayaan yang diakibatkannya dapat menggoyahkan kestabilan masyarakat demokratis serta menggerogoti cita-cita keadilan sosial yang menjadi landasan mereka.[88] Menurut Clara Mattei, kapitalisme dan demokrasi "pada dasarnya tidak selaras" karena demokrasi yang sesungguhnya membutuhkan setidaknya sedikit agen ekonomi, yang mana secara inheren digerogoti oleh kapitalisme dengan membuat mayoritas penduduk bergantung pada penjualan tenaga kerja mereka untuk dapat bertahan hidup.[89]
Negara-negara bersistem ekonomi kapitalis telah berkembang pesat di bawah rezim politik yang dianggap otoriter atau menindas. Singapura memiliki ekonomi pasar terbuka yang sukses sebagai hasil dari iklimnya yang kompetitif, ramah bisnis, serta supremasi hukum yang tangguh. Meskipun demikian, Singapura sering mendapat kecaman karena gaya pemerintahannya yang, meskipun demokratis dan secara konsisten merupakan salah satu yang paling rendah tingkat korupsinya,[90] sebagian besar beroperasi di bawah kekuasaan satu partai. Lebih jauh lagi, negara tersebut tidak terlalu membela kebebasan berekspresi seperti yang dibuktikan oleh persnya yang diregulasi pemerintah, serta kecenderungannya untuk menegakkan hukum yang melindungi kerukunan etnis dan agama, martabat peradilan, maupun reputasi pribadi. Sektor swasta (kapitalis) di Republik Rakyat Tiongkok telah tumbuh secara eksponensial dan berkembang pesat sejak awal kemunculannya, meskipun memiliki pemerintahan yang otoriter. Kekuasaan Augusto Pinochet di Cile menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan tingkat ketimpangan yang tinggi[91] dengan menggunakan cara-cara otoriter untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi investasi dan kapitalisme. Demikian pula, pemerintahan otoriter Suharto dan pemberantasan Partai Komunis Indonesia memungkinkan terjadinya ekspansi kapitalisme di Indonesia.[92][93]
Istilah "kapitalisme" dalam pengertian modernnya sering kali dikaitkan dengan Karl Marx.[42][94] Dalam Das Kapital, Marx menganalisis "mode produksi kapitalis" menggunakan metode kritik yang kemudian dikenal sebagai Marxisme. Namun, meskipun Marx banyak membahas kapitalisme secara ekstensif, ia lebih jarang menggunakan istilah "kapitalisme" dibandingkan "mode produksi kapitalis". Kolaboratornya, Friedrich Engels, memainkan peran penting dalam mempopulerkan istilah tersebut dalam interpretasi yang lebih politis dari karya mereka. Pada abad ke-20, para pendukung sistem kapitalis sering kali mengganti istilah "kapitalisme" dengan frasa-frasa seperti "usaha bebas" atau "perusahaan swasta" untuk menghindari konotasi negatifnya. Demikian pula, istilah "kapitalis" kadang-kadang diganti dengan "investor" atau "wirausahawan" untuk menekankan peran produktif alih-alih akumulasi kekayaan yang pasif.[95]
Karakteristik
Secara umum, kapitalisme sebagai suatu sistem ekonomi dan mode produksi dapat diringkas melalui hal-hal berikut:[96]
- Akumulasi modal:[97] produksi untuk meraup laba dan akumulasi sebagai tujuan implisit dari seluruh atau sebagian besar kegiatan produksi, pembatasan atau penghapusan produksi yang sebelumnya dilakukan atas dasar sosial bersama atau rumah tangga pribadi.[98]
- Produksi komoditas: produksi untuk pertukaran di pasar; untuk memaksimalkan nilai tukar alih-alih nilai guna.
- Pertukaran barang atau jasa, yang dapat difasilitasi oleh kontrak.[99] Pertukaran jasa dapat berupa kerja upahan.[100]
- Kepemilikan swasta atas alat produksi.[7]
- Investasi uang untuk menghasilkan laba.[101]
- Penggunaan mekanisme harga untuk mengalokasikan sumber daya di antara berbagai pemanfaatan yang saling bersaing.[7]
- Penggunaan faktor produksi dan bahan baku secara efisien secara ekonomi akibat maksimalisasi nilai tambah dalam proses produksi.[102][103]
- Kebebasan para kapitalis untuk bertindak demi kepentingan mereka sendiri dalam mengelola bisnis dan investasi mereka.[104]
- Penyediaan modal oleh "pemilik tunggal sebuah perusahaan, atau oleh pemegang saham dalam kasus perusahaan saham gabungan".[105]
Pasar
Dalam bentuk kapitalisme pasar bebas dan laissez-faire, pasar digunakan secara sangat luas dengan regulasi yang minim atau bahkan tidak ada sama sekali terhadap mekanisme penetapan harga. Dalam ekonomi campuran, yang saat ini hampir bersifat universal,[106] pasar terus memainkan peran dominan, namun pasar tersebut diregulasi sampai batas tertentu oleh negara guna mengoreksi kegagalan pasar, mendorong kesejahteraan sosial, melestarikan sumber daya alam, mendanai pertahanan dan keselamatan publik, atau untuk alasan rasional lainnya. Dalam sistem kapitalis negara, pasar menjadi hal yang paling tidak diandalkan, karena negara sangat bergantung pada badan usaha milik negara atau perencanaan ekonomi tidak langsung untuk mengakumulasi modal.
Persaingan muncul ketika lebih dari satu produsen mencoba menjual produk yang sama atau serupa kepada pembeli yang sama. Para penganut teori kapitalis meyakini bahwa persaingan akan mendorong inovasi dan harga yang lebih terjangkau. Monopoli atau kartel dapat berkembang, terutama jika tidak ada persaingan. Monopoli terjadi ketika sebuah perusahaan memiliki eksklusivitas atas suatu pasar. Oleh karena itu, perusahaan tersebut dapat terlibat dalam perilaku pencarian rente seperti membatasi hasil produksi dan menaikkan harga karena tidak ada ketakutan akan persaingan.
Pemerintah telah menerapkan undang-undang dengan tujuan mencegah terciptanya monopoli dan kartel. Pada tahun 1890, Undang-Undang Antitrust Sherman menjadi undang-undang pertama yang disahkan oleh Kongres Amerika Serikat untuk membatasi monopoli.
Kerja upahan
Kerja upahan, yang biasanya disebut sebagai pekerjaan berbayar atau buruh berbayar, merujuk pada hubungan sosial-ekonomi antara seorang pekerja dan pemberi kerja di mana pekerja menjual tenaga kerja mereka di bawah kontrak kerja formal maupun informal.[100] "Semua kontrak kerja dirancang/telah dirancang secara hukum untuk mengikat pekerja dengan satu atau lain cara demi memenuhi kewajiban kerja yang telah disanggupi oleh pekerja tersebut. Itulah salah satu tujuan utama dari kontrak kerja." Transaksi-transaksi ini biasanya terjadi di pasar tenaga kerja di mana upah atau gaji ditentukan oleh pasar.[107]
Sebagai imbalan atas uang yang dibayarkan sebagai upah (biasanya untuk kontrak kerja jangka pendek) atau gaji (dalam kontrak kerja permanen), produk kerja umumnya menjadi properti yang tak terbedakan dari pemberi kerja. Seorang pekerja upahan adalah seseorang yang sarana pendapatan utamanya berasal dari penjualan tenaga kerjanya melalui cara ini.[108]
Motif laba
Motif laba, dalam teori kapitalisme, adalah keinginan untuk mendapatkan pendapatan dalam bentuk laba (keuntungan). Dengan kata lain, alasan keberadaan suatu bisnis adalah untuk menghasilkan laba.[109] Motif laba berfungsi menurut teori pilihan rasional, atau teori bahwa setiap individu cenderung mengejar apa yang menjadi kepentingan terbaik mereka sendiri. Oleh karena itu, bisnis berupaya memberikan keuntungan bagi diri mereka sendiri dan/atau para pemegang saham mereka dengan memaksimalkan laba.
Dalam teori kapitalis, motif laba dikatakan dapat memastikan bahwa sumber daya dialokasikan secara efisien. Sebagai contoh, ekonom Austria Henry Hazlitt menjelaskan: "Jika tidak ada laba dalam pembuatan suatu barang, itu adalah pertanda bahwa tenaga kerja dan modal yang dicurahkan untuk produksinya salah arah: nilai sumber daya yang harus dihabiskan untuk membuat barang tersebut lebih besar daripada nilai barang itu sendiri".[110]
Para ahli teori sosialis mencatat bahwa, tidak seperti kaum merkantilis, para kapitalis mengakumulasi laba mereka sembari mengharapkan tingkat laba mereka tetap sama. Hal ini menimbulkan masalah karena pendapatan di bagian masyarakat lainnya tidak meningkat dalam proporsi yang sama.[111]
Hak milik swasta
Hubungan antara negara, mekanisme formalnya, dan masyarakat kapitalis telah diperdebatkan di berbagai bidang teori sosial dan politik, dengan diskusi aktif sejak abad ke-19. Hernando de Soto adalah seorang ekonom kontemporer asal Peru yang berpendapat bahwa karakteristik penting dari kapitalisme adalah berfungsinya perlindungan negara terhadap hak properti dalam sistem properti formal di mana kepemilikan dan transaksi dicatat dengan jelas.[112]
Menurut de Soto, ini adalah proses di mana aset fisik diubah menjadi modal, yang pada gilirannya dapat digunakan dengan lebih banyak cara dan jauh lebih efisien dalam ekonomi pasar. Sejumlah ekonom berhaluan Marxis berpendapat bahwa undang-undang inklosur di Inggris dan undang-undang serupa di tempat lain merupakan bagian integral dari akumulasi primitif kapitalis dan bahwa kerangka hukum spesifik mengenai kepemilikan tanah swasta telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan kapitalisme.[113][114]
Hak milik swasta tidaklah bersifat mutlak, karena di banyak negara, negara memiliki kekuasaan untuk menyita properti swasta, biasanya untuk kepentingan umum, di bawah wewenang pencabutan hak milik.
Persaingan pasar
Dalam ekonomi kapitalis, persaingan pasar adalah perseteruan di antara para penjual yang berusaha mencapai berbagai tujuan seperti meningkatkan laba, pangsa pasar, dan volume penjualan dengan memvariasikan elemen-elemen bauran pemasaran: harga, produk, distribusi, dan promosi. Merriam-Webster mendefinisikan persaingan dalam bisnis sebagai "upaya dua pihak atau lebih yang bertindak secara independen untuk mengamankan bisnis pihak ketiga dengan menawarkan syarat-syarat yang paling menguntungkan".[115] Hal ini digambarkan oleh Adam Smith dalam The Wealth of Nations (1776) dan para ekonom setelahnya sebagai upaya mengalokasikan sumber daya produktif pada penggunaan yang bernilai paling tinggi[116] dan mendorong efisiensi. Smith dan para ekonom klasik lainnya sebelum Antoine Augustine Cournot merujuk pada persaingan harga dan nonharga di antara para produsen untuk menjual barang-barang mereka dengan persyaratan terbaik melalui penawaran pembeli, yang tidak selalu harus berjumlah besar ataupun merujuk pada pasar dalam keadaan ekuilibrium akhir.[117] Persaingan tersebar luas di seluruh proses pasar. Ini merupakan suatu kondisi di mana "pembeli cenderung bersaing dengan pembeli lain, dan penjual cenderung bersaing dengan penjual lain".[118] Dalam menawarkan barang untuk dipertukarkan, pembeli saling bersaing memberikan penawaran untuk membeli komoditas tertentu dalam jumlah spesifik yang tersedia, atau yang mungkin akan tersedia jika penjual memilih untuk menawarkan barang tersebut. Demikian pula, para penjual saling menawar dengan penjual lain dalam menawarkan barang di pasar, bersaing untuk mendapatkan perhatian dan sumber daya pertukaran dari pembeli. Persaingan timbul dari kelangkaan, karena mustahil untuk memuaskan semua keinginan manusia yang dapat dibayangkan, dan hal ini terjadi ketika orang-orang berusaha memenuhi kriteria yang digunakan untuk menentukan alokasi.[118]: 105
Dalam karya-karya Adam Smith, gagasan tentang kapitalisme dimungkinkan melalui persaingan yang menciptakan pertumbuhan. Meskipun kapitalisme belum memasuki ilmu ekonomi arus utama pada masa Smith, konsep ini sangat vital bagi pembangunan masyarakat idealnya. Salah satu blok fondasi kapitalisme adalah persaingan. Smith meyakini bahwa masyarakat yang makmur adalah masyarakat di mana "setiap orang harus bebas memasuki dan meninggalkan pasar serta berganti pekerjaan sesering yang ia mau."[119] Ia meyakini bahwa kebebasan untuk bertindak demi kepentingan diri sendiri sangatlah penting bagi keberhasilan masyarakat kapitalis. Sebagai tanggapan terhadap pemikiran bahwa apabila seluruh partisipan hanya berfokus pada tujuan mereka masing-masing, maka kesejahteraan masyarakat akan terabaikan begitu saja, Smith bersikeras bahwa terlepas dari kekhawatiran para kaum intelektual, "tren global hampir tidak akan berubah jika mereka menahan diri untuk tidak mengejar tujuan pribadi mereka."[120] Ia bersikeras bahwa tindakan segelintir partisipan tidak dapat mengubah arah perjalanan masyarakat. Sebaliknya, Smith menegaskan bahwa mereka justru harus berfokus pada kemajuan pribadi dan hal ini nantinya akan menghasilkan pertumbuhan menyeluruh bagi semua pihak.
Persaingan di antara para partisipan, "yang semuanya berusaha saling menyingkirkan dari pekerjaan, mewajibkan setiap orang untuk berusaha melakukan pekerjaannya melalui persaingan menuju pertumbuhan."[119]
Pertumbuhan ekonomi
Pertumbuhan ekonomi merupakan kecenderungan yang menjadi karakteristik dari ekonomi kapitalis.[121][122] Namun, ekonomi kapitalis dapat mengalami fluktuasi pertumbuhan yang tidak dapat dijelaskan semata oleh perubahan demografis maupun teknologi. Fluktuasi ini, yang melibatkan periode pertumbuhan ekonomi dan resesi yang berkelanjutan, disebut sebagai siklus bisnis dalam ilmu makroekonomi. Pertumbuhan ekonomi diukur sebagai pertumbuhan dalam investasi, hasil ekonomi (output), dan konsumsi ekonomi per kapita. Perubahan dalam jam kerja itu sendiri tidak dianggap sebagai faktor pertumbuhan ekonomi.[5]
Sebagai mode produksi
Mode produksi kapitalis merujuk pada sistem pengorganisasian produksi dan distribusi dalam masyarakat kapitalis. Kegiatan pencarian uang swasta dalam berbagai bentuk (penyewaan, perbankan, perdagangan saudagar, produksi untuk laba, dan sebagainya) telah mendahului perkembangan mode produksi kapitalis itu sendiri.
Istilah mode produksi kapitalis didefinisikan oleh kepemilikan swasta atas alat produksi, ekstraksi nilai lebih oleh kelas pemilik untuk tujuan akumulasi modal, kerja berbasis upah dan, setidaknya sejauh menyangkut komoditas, berbasis pasar.[123]
Kapitalisme dalam bentuk aktivitas pencarian uang telah eksis dalam wujud saudagar dan rentenir yang bertindak sebagai perantara antara konsumen dan produsen yang terlibat dalam produksi komoditas sederhana (sehingga muncul sebutan "kapitalisme saudagar") sejak awal peradaban. Hal yang spesifik mengenai "mode produksi kapitalis" adalah bahwa sebagian besar input dan output produksi dipasok melalui pasar (yaitu berupa komoditas) dan pada dasarnya seluruh produksi berada dalam mode ini.[7] Sebaliknya, pada masa feodalisme yang berkembang, sebagian besar atau seluruh faktor produksi, termasuk tenaga kerja, dimiliki sepenuhnya oleh kelas penguasa feodal dan produk-produknya juga dapat dikonsumsi tanpa pasar dalam bentuk apa pun, ini merupakan produksi untuk digunakan di dalam unit sosial feodal dan untuk perdagangan terbatas.[97] Hal ini membawa konsekuensi penting bahwa, di bawah kapitalisme, seluruh organisasi proses produksi dibentuk dan diorganisasikan kembali agar sesuai dengan rasionalitas yang dibatasi secara ekonomi oleh kapitalisme, yang diekspresikan dalam hubungan harga antara input dan output (upah, biaya faktor non-tenaga kerja, penjualan, dan laba) dan bukan konteks rasional yang lebih luas yang dihadapi oleh masyarakat secara keseluruhan—artinya, seluruh proses diorganisasikan dan dibentuk kembali agar sesuai dengan "logika komersial". Pada dasarnya, akumulasi modal pada akhirnya mendefinisikan rasionalitas ekonomi dalam produksi kapitalis.[98]
Sebuah masyarakat, wilayah, atau negara disebut kapitalis jika sumber utama pendapatan dan produk yang didistribusikan berasal dari aktivitas kapitalis, namun demikian hal ini belum tentu berarti bahwa mode produksi kapitalis bersifat dominan di masyarakat tersebut.
Ekonomi campuran bergantung pada negara tempat mereka berada untuk menyediakan sejumlah barang atau jasa tertentu, sementara pasar bebas memproduksi dan mengelola sisanya.[105]
Peran pemerintah
Lembaga-lembaga pemerintah meregulasi standar layanan di banyak industri, seperti maskapai penerbangan dan penyiaran, serta mendanai berbagai macam program. Selain itu, pemerintah meregulasi aliran modal dan menggunakan instrumen keuangan seperti suku bunga untuk mengendalikan faktor-faktor seperti inflasi dan pengangguran.[124]
Penawaran dan permintaan

Dalam struktur ekonomi kapitalis, penawaran dan permintaan adalah model ekonomi mengenai penentuan harga di suatu pasar. Model ini mempostulatkan bahwa dalam pasar persaingan sempurna, harga satuan untuk suatu barang tertentu akan bervariasi hingga mencapai titik di mana kuantitas yang diminta oleh konsumen (pada harga saat ini) akan sama dengan kuantitas yang ditawarkan oleh produsen (pada harga saat ini), yang menghasilkan ekuilibrium ekonomi untuk harga dan kuantitas.
"Hukum dasar" dari penawaran dan permintaan, seperti yang dideskripsikan oleh David Besanko dan Ronald Braeutigam, adalah empat hal berikut:[125]: 37
- Jika permintaan meningkat (kurva permintaan bergeser ke kanan) dan penawaran tidak berubah, maka terjadi kelangkaan, yang mengarah pada harga ekuilibrium yang lebih tinggi.
- Jika permintaan menurun (kurva permintaan bergeser ke kiri) dan penawaran tidak berubah, maka terjadi surplus, yang mengarah pada harga ekuilibrium yang lebih rendah.
- Jika permintaan tidak berubah dan penawaran meningkat (kurva penawaran bergeser ke kanan), maka terjadi surplus, yang mengarah pada harga ekuilibrium yang lebih rendah.
- Jika permintaan tidak berubah dan penawaran menurun (kurva penawaran bergeser ke kiri), maka terjadi kelangkaan, yang mengarah pada harga ekuilibrium yang lebih tinggi.
Daftar penawaran
Daftar penawaran adalah tabel yang menunjukkan hubungan antara harga suatu barang dan kuantitas yang ditawarkan.
Daftar permintaan
Daftar permintaan, yang digambarkan secara grafis sebagai kurva permintaan, merepresentasikan jumlah barang tertentu yang bersedia dan mampu dibeli oleh pembeli pada berbagai harga, dengan asumsi bahwa semua determinan permintaan selain harga barang yang bersangkutan, seperti pendapatan, selera dan preferensi, harga barang substitusi, serta harga barang komplementer, tetap sama. Menurut hukum permintaan, kurva permintaan hampir selalu digambarkan melandai ke bawah, yang berarti bahwa ketika harga menurun, konsumen akan membeli lebih banyak barang tersebut.[126]
Sama seperti kurva penawaran yang mencerminkan kurva biaya marjinal, kurva permintaan ditentukan oleh kurva utilitas marjinal.[127]
Ekuilibrium
Dalam konteks penawaran dan permintaan, ekuilibrium ekonomi merujuk pada suatu keadaan di mana kekuatan-kekuatan ekonomi seperti penawaran dan permintaan berada dalam keseimbangan dan tanpa adanya pengaruh eksternal, nilai (ekuilibrium) dari variabel-variabel ekonomi tidak akan berubah. Sebagai contoh, dalam model persaingan sempurna pada buku teks standar, ekuilibrium terjadi pada titik di mana kuantitas yang diminta dan kuantitas yang ditawarkan bernilai sama.[128] Ekuilibrium pasar, dalam hal ini, merujuk pada suatu kondisi di mana harga pasar terbentuk melalui persaingan sedemikian rupa sehingga jumlah barang atau jasa yang dicari oleh pembeli sama dengan jumlah barang atau jasa yang diproduksi oleh penjual. Harga ini sering disebut sebagai harga kompetitif atau harga keseimbangan pasar dan akan cenderung tidak berubah kecuali jika terjadi perubahan pada penawaran atau permintaan.
Ekuilibrium parsial
Ekuilibrium parsial, seperti namanya, hanya mempertimbangkan sebagian dari pasar untuk mencapai ekuilibrium. Jain mengajukan pemikiran (yang dikaitkan dengan George Stigler): "Ekuilibrium parsial adalah ekuilibrium yang hanya didasarkan pada rentang data yang terbatas, contoh standarnya adalah harga satu produk, dengan harga semua produk lainnya dianggap tetap selama analisis tersebut".[129]
Sejarah
Menurut Hamid S. Hosseini, "kekuatan penawaran dan permintaan" telah dibahas sampai batas tertentu oleh beberapa cendekiawan Muslim awal, seperti cendekiawan Mamluk abad keempat belas Ibnu Taimiyah, yang menulis: "Jika keinginan terhadap suatu barang meningkat sementara ketersediaannya menurun, harganya akan naik. Di sisi lain, jika ketersediaan barang tersebut meningkat dan keinginan terhadapnya menurun, harganya akan turun".[130]

Karya John Locke pada tahun 1691 yang berjudul Some Considerations on the Consequences of the Lowering of Interest and the Raising of the Value of Money[131] memuat deskripsi yang awal dan jelas[butuh sumber nonprimer] tentang penawaran dan permintaan beserta hubungan di antara keduanya. Dalam deskripsi ini, permintaan diposisikan sebagai rente: "Harga komoditas apa pun naik atau turun sesuai dengan proporsi jumlah pembeli dan penjual" dan "hal yang mengatur harga... [barang] tidak lain adalah kuantitasnya secara proporsional dengan rentenya".
David Ricardo memberi judul salah satu bab dalam karyanya pada tahun 1817 yang berjudul Principles of Political Economy and Taxation dengan nama "Mengenai Pengaruh Permintaan dan Penawaran terhadap Harga" ("On the Influence of Demand and Supply on Price").[132] Dalam Prinsip-Prinsip Ekonomi Politik dan Perpajakan, Ricardo memaparkan secara lebih ketat gagasan tentang berbagai asumsi yang digunakan untuk membangun pemikirannya mengenai penawaran dan permintaan.
Dalam esainya pada tahun 1870 yang berjudul "On the Graphical Representation of Supply and Demand", Fleeming Jenkin dalam proses "memperkenalkan metode diagramatik ke dalam literatur ekonomi Inggris" menerbitkan gambar kurva penawaran dan permintaan untuk pertama kalinya di sana,[133] yang mencakup statika komparatif dari pergeseran penawaran atau permintaan dan penerapannya pada pasar tenaga kerja.[134] Model ini dikembangkan lebih lanjut dan dipopulerkan oleh Alfred Marshall dalam buku teks tahun 1890, Principles of Economics.[132]
Jenis
Terdapat banyak varian kapitalisme yang keberadaannya berbeda-beda menurut negara dan kawasan.[135] Varian-varian tersebut memiliki perbedaan dalam hal susunan kelembagaan dan kebijakan ekonominya. Ciri-ciri umum di antara semua bentuk kapitalisme yang berbeda tersebut adalah bahwa mereka secara dominan didasarkan pada kepemilikan swasta atas alat produksi serta produksi barang dan jasa untuk meraup laba; alokasi sumber daya berbasis pasar; dan akumulasi modal.
Varian-varian ini meliputi kapitalisme maju, kapitalisme korporasi, kapitalisme keuangan, kapitalisme pasar bebas, merkantilisme, kapitalisme negara, dan kapitalisme kesejahteraan. Varian teoritis kapitalisme lainnya meliputi anarko-kapitalisme, kapitalisme komunitas, kapitalisme humanistik, neo-kapitalisme, kapitalisme monopoli negara, dan teknokapitalisme.
Maju
Kapitalisme maju adalah situasi yang berkaitan dengan suatu masyarakat di mana model kapitalis telah terintegrasi dan berkembang secara mendalam serta ekstensif untuk jangka waktu yang lama. Berbagai penulis mengidentifikasi Antonio Gramsci sebagai ahli teori awal yang berpengaruh mengenai kapitalisme maju, meskipun ia sendiri tidak menggunakan istilah tersebut. Dalam tulisan-tulisannya, Gramsci berusaha menjelaskan bagaimana kapitalisme telah beradaptasi untuk menghindari penggulingan revolusioner yang tampaknya tak terelakkan pada abad ke-19. Inti dari penjelasannya adalah penurunan paksaan kasar sebagai instrumen kekuasaan kelas, yang digantikan oleh penggunaan lembaga-lembaga masyarakat sipil untuk memanipulasi ideologi publik agar memihak pada kepentingan para kapitalis.[136][137][138]
Jürgen Habermas telah menjadi kontributor utama dalam analisis mengenai masyarakat kapitalistik maju. Habermas mengamati empat ciri umum yang menjadi karakteristik kapitalisme maju:
- Konsentrasi aktivitas industri di beberapa perusahaan besar.
- Ketergantungan terus-menerus pada negara untuk menstabilkan sistem ekonomi.
- Sebuah pemerintahan yang secara formal demokratis yang melegitimasi aktivitas negara dan meredam oposisi terhadap sistem tersebut.
- Penggunaan kenaikan upah nominal untuk menenangkan segmen angkatan kerja yang paling gelisah.[139]
Korporasi
Kapitalisme korporasi adalah ekonomi kapitalis pasar bebas atau pasar campuran yang dicirikan oleh dominasi korporasi hierarkis dan birokratis.[140]
Keuangan
Kapitalisme keuangan adalah subordinasi proses produksi pada akumulasi laba uang dalam suatu sistem keuangan. Dalam kritik mereka terhadap kapitalisme, Marxisme dan Leninisme sama-sama menekankan peran modal keuangan sebagai penentu dan kepentingan kelas penguasa dalam masyarakat kapitalis, terutama pada tahap-tahap akhir.[141][142]
Rudolf Hilferding dikreditkan sebagai pihak yang pertama kali mempopulerkan istilah kapitalisme keuangan melalui Finance Capital, studinya pada tahun 1910 mengenai kaitan antara perusahaan perwalian (trust), bank, dan monopoli di Jerman—sebuah studi yang dimasukkan oleh Vladimir Lenin ke dalam Imperialisme, Tahap Tertinggi Kapitalisme (1917), yang merupakan analisisnya tentang hubungan imperialis negara-negara kekuatan besar dunia.[143] Lenin menyimpulkan bahwa bank-bank pada masa itu beroperasi sebagai "pusat saraf utama dari seluruh sistem kapitalis pada ekonomi nasional".[144] Bagi Komintern (didirikan pada tahun 1919), frasa "kediktatoran kapitalisme keuangan"[145] menjadi istilah yang lazim digunakan.
Fernand Braudel di kemudian hari menunjuk pada dua periode sebelumnya ketika kapitalisme keuangan telah muncul dalam sejarah manusia—yakni bersama bangsa Genoa pada abad ke-16 serta bangsa Belanda pada abad ke-17 dan ke-18—meskipun pada masa-masa tersebut sistem ini berkembang dari kapitalisme komersial.[146][verifikasi] Giovanni Arrighi memperluas analisis Braudel untuk menunjukkan bahwa dominasi kapitalisme keuangan adalah fenomena jangka panjang yang berulang, setiap kali fase ekspansi kapitalis komersial/industri sebelumnya mencapai titik jenuh.[147]
Pasar bebas
Ekonomi kapitalis pasar bebas adalah sistem ekonomi di mana harga barang dan jasa sepenuhnya ditetapkan oleh kekuatan penawaran dan permintaan dan diharapkan, oleh para penganutnya, dapat mencapai titik ekuilibrium tanpa campur tangan kebijakan pemerintah. Sistem ini biasanya melibatkan dukungan untuk pasar yang sangat kompetitif dan kepemilikan swasta atas alat produksi.[148] Kapitalisme laissez-faire adalah bentuk yang lebih ekstensif dari ekonomi pasar bebas ini, tetapi peran negara di dalamnya terbatas hanya pada melindungi hak properti.[149] Dalam teori anarko-kapitalis, hak properti dilindungi oleh perusahaan swasta dan hukum yang dihasilkan oleh pasar. Menurut para penganut anarko-kapitalis, hal ini melibatkan hak properti tanpa hukum perundang-undangan melalui hukum perbuatan melawan hukum (gugatan), kontrak, dan properti yang dihasilkan oleh pasar, serta industri swasta yang mandiri.[150][151]
Fernand Braudel berpendapat bahwa pertukaran pasar bebas dan kapitalisme sampai batas tertentu saling bertentangan; pertukaran pasar bebas melibatkan transaksi publik yang transparan dan sejumlah besar pesaing yang setara, sedangkan kapitalisme melibatkan sejumlah kecil partisipan yang menggunakan modal mereka untuk mengendalikan pasar melalui transaksi privat, pengendalian informasi, dan pembatasan kompetisi.[152]
Merkantilis

Merkantilisme adalah bentuk nasionalis dari kapitalisme awal yang muncul sekitar akhir abad ke-16. Bentuk ini dicirikan oleh keterkaitan antara kepentingan bisnis nasional dengan kepentingan negara dan imperialisme. Akibatnya, aparatur negara digunakan untuk memajukan kepentingan bisnis nasional di luar negeri. Contoh dari hal ini adalah para kolonis yang tinggal di Amerika yang hanya diizinkan untuk berdagang dengan dan membeli barang dari negara induk mereka masing-masing (misalnya, Britania Raya, Prancis, dan Portugal). Merkantilisme didorong oleh keyakinan bahwa kekayaan suatu negara ditingkatkan melalui neraca perdagangan yang positif dengan negara lain—ini sejalan dengan fase perkembangan kapitalis yang kadang-kadang disebut sebagai akumulasi modal primitif.[153]
Sosial
Ekonomi pasar sosial adalah sistem kapitalis pasar bebas atau pasar campuran, yang terkadang diklasifikasikan sebagai ekonomi pasar terkoordinasi, di mana intervensi pemerintah dalam pembentukan harga dijaga seminimal mungkin, tetapi negara menyediakan layanan yang signifikan di berbagai bidang seperti jaminan sosial, perawatan kesehatan, tunjangan pengangguran, dan pengakuan hak-hak buruh melalui pengaturan perundingan bersama tingkat nasional.[154]
Model ini menonjol di negara-negara Eropa Barat dan Utara serta Jepang, meskipun dengan konfigurasi yang sedikit berbeda.[155] Sebagian besar perusahaan dimiliki oleh swasta dalam model ekonomi ini. Kapitalisme Rhine adalah model kapitalisme kontemporer dan adaptasi dari model pasar sosial yang ada di benua Eropa Barat saat ini.[156]
Negara
Kapitalisme negara adalah ekonomi pasar yang didominasi oleh badan usaha milik negara, di mana perusahaan-perusahaan negara tersebut diorganisasikan sebagai bisnis komersial yang berorientasi pada pencarian laba. Sebutan ini telah digunakan secara luas selama bagian-bagian tertentu dari abad ke-20 dan ke-21, khususnya di beberapa bekas negara Blok Timur seperti Yugoslavia. Menurut Aldo Musacchio, seorang profesor di Harvard Business School, kapitalisme negara adalah suatu sistem di mana pemerintah menjalankan pengaruh yang luas terhadap ekonomi, baik melalui kepemilikan langsung maupun subsidi. Kapitalisme negara kontemporer dikaitkan dengan model kapitalisme Asia Timur, dirigisme, dan ekonomi Norwegia.[157] Sebagai alternatif, Merriam-Webster mendefinisikan kapitalisme negara sebagai "suatu sistem ekonomi di mana kapitalisme swasta dimodifikasi oleh berbagai tingkat kepemilikan dan kendali pemerintah".[158]
Dalam tulisan-tulisannya, Vladimir Lenin mengkarakterisasi ekonomi Rusia Soviet sebagai kapitalisme negara, karena ia meyakini bahwa kapitalisme negara merupakan langkah awal menuju perkembangan sosialisme.[159][160]
Sejumlah ekonom dan akademisi sayap kiri termasuk Richard D. Wolff serta beberapa filsuf berhaluan Marxis seperti Raya Dunayevskaya dan C. L. R. James, berargumen bahwa ekonomi di bekas Uni Soviet dan Blok Timur merepresentasikan bentuk kapitalisme negara karena organisasi internal dalam perusahaan mereka maupun sistem kerja upahan tetap tidak berubah.[161][162][163]
Istilah tersebut tidak digunakan oleh para ekonom Mazhab Austria untuk mendeskripsikan kepemilikan negara atas alat produksi. Ekonom Ludwig von Mises berpendapat bahwa sebutan kapitalisme negara adalah label baru untuk label lama yaitu sosialisme negara dan ekonomi terencana, serta perbedaannya dengan sebutan-sebutan terdahulu ini hanyalah pada aspek-aspek nonesensial.[164]
Politik
Kapitalisme politik atau kapitalisme berorientasi politik adalah sebuah istilah yang dicetuskan oleh Max Weber dalam bukunya pada tahun 1921 yang berjudul Ekonomi dan Masyarakat untuk mendeskripsikan pencarian laba moneter melalui cara-cara nonpasar.[165][166] Pada tahun 2015, Randall G. Holcombe mendeskripsikan kapitalisme politik sebagai suatu sistem ekonomi di mana perbedaan tajam antara negara dan pasar menjadi kabur.[167][168]
Kesejahteraan
Kapitalisme kesejahteraan adalah kapitalisme yang mencakup kebijakan kesejahteraan sosial. Saat ini, kapitalisme kesejahteraan paling sering dikaitkan dengan model kapitalisme yang dapat ditemukan di Eropa Tengah dan Utara seperti model Nordik, ekonomi pasar sosial, dan kapitalisme Rhine. Dalam beberapa kasus, kapitalisme kesejahteraan eksis di dalam ekonomi campuran, namun negara kesejahteraan dapat dan memang eksis secara independen dari kebijakan-kebijakan yang umum pada ekonomi campuran, seperti intervensionisme negara dan regulasi yang ekstensif.[169]
Ekonomi campuran pada umumnya merupakan ekonomi kapitalis berbasis pasar yang terdiri dari kepemilikan swasta dan kepemilikan publik atas alat produksi serta intervensionisme ekonomi melalui kebijakan makroekonomi yang dimaksudkan untuk mengoreksi kegagalan pasar, mengurangi pengangguran, dan menjaga tingkat inflasi agar tetap rendah. Tingkat intervensi di pasar bervariasi di berbagai negara. Beberapa ekonomi campuran seperti Prancis di bawah sistem dirigisme juga menampilkan tingkat perencanaan ekonomi tidak langsung pada ekonomi yang pada umumnya berbasis kapitalis.
Sebagian besar ekonomi kapitalis modern didefinisikan sebagai ekonomi campuran pada taraf tertentu, namun ekonom Prancis Thomas Piketty menyatakan pada tahun 2013 bahwa ekonomi kapitalis mungkin akan beralih ke pendekatan yang jauh lebih laissez-faire dalam waktu dekat.[170]
Eko-kapitalisme
Eko-kapitalisme, yang juga dikenal sebagai "kapitalisme lingkungan" atau (terkadang[171]) "kapitalisme hijau", adalah pandangan bahwa modal eksis di alam sebagai "modal alam" (ekosistem yang memiliki hasil ekologis) yang menjadi sandaran bagi semua kekayaan. Oleh karena itu, pemerintah harus menggunakan instrumen kebijakan berbasis pasar (seperti pajak karbon) untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan.[172]
Kapitalisme berkelanjutan
Kapitalisme berkelanjutan adalah bentuk konseptual kapitalisme yang didasarkan pada praktik-praktik berkelanjutan yang berupaya melestarikan umat manusia dan planet ini, sembari mengurangi berbagai eksternalitas dan tetap memiliki kemiripan dengan kebijakan ekonomi kapitalis. Sebuah ekonomi kapitalistik harus berekspansi untuk dapat bertahan hidup dan menemukan pasar-pasar baru untuk mendukung ekspansi tersebut.[173] Sistem kapitalis sering kali merusak lingkungan serta merugikan individu-individu tertentu yang tidak memiliki akses terhadap representasi yang layak. Namun, keberlanjutan memberikan dampak yang sebaliknya; hal ini tidak hanya menyiratkan kelanjutan, tetapi juga pemulihan sumber daya.[174] Keberlanjutan sering kali dianggap berkaitan dengan environmentalisme, dan kapitalisme berkelanjutan juga menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan pada tata kelola ekonomi serta aspek sosial dari kapitalisme.
Pentingnya kapitalisme berkelanjutan baru-baru ini mulai lebih disadari, tetapi konsep ini bukanlah hal yang baru. Perubahan terhadap model ekonomi saat ini akan memiliki implikasi sosial, lingkungan, dan ekonomi yang berat serta membutuhkan upaya dari individu, maupun kepatuhan dari pemerintah daerah, negara bagian, dan federal. Kontroversi menyelimuti konsep ini karena ia menuntut peningkatan praktik-praktik berkelanjutan dan penurunan nyata dalam perilaku konsumtif saat ini.[175]
Ini adalah konsep kapitalisme yang dijabarkan dalam manifesto Al Gore dan David Blood untuk Generation Investment Management demi mendeskripsikan struktur politik, ekonomi, dan sosial jangka panjang yang akan memitigasi ancaman-ancaman yang ada saat ini terhadap planet dan masyarakat.[176] Menurut manifesto mereka, kapitalisme berkelanjutan akan mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) ke dalam penilaian risiko dalam upaya untuk membatasi eksternalitas.[177] Sebagian besar gagasan yang mereka cantumkan berkaitan dengan perubahan ekonomi dan aspek sosial, tetapi sangat sedikit yang secara eksplisit berkaitan dengan perubahan kebijakan lingkungan apa pun.[176]
Akumulasi modal
Akumulasi modal adalah proses "menghasilkan uang" atau menumbuhkan sejumlah uang awal melalui investasi dalam produksi. Kapitalisme didasarkan pada akumulasi modal, di mana modal keuangan diinvestasikan guna menghasilkan laba dan kemudian diinvestasikan kembali ke dalam produksi lebih lanjut dalam sebuah proses akumulasi yang berkelanjutan. Dalam teori ekonomi Marxis, dinamika ini disebut sebagai hukum nilai. Akumulasi modal membentuk landasan kapitalisme, di mana aktivitas ekonomi diatur di sekitar akumulasi modal, yang didefinisikan sebagai investasi untuk mewujudkan laba finansial.[178] Dalam konteks ini, "modal" didefinisikan sebagai uang atau aset keuangan yang diinvestasikan dengan tujuan untuk menghasilkan lebih banyak uang (baik dalam bentuk laba, sewa, bunga, royalti, keuntungan modal, atau bentuk imbal hasil lainnya).[179]
Dalam ilmu ekonomi arus utama, akuntansi, dan ilmu ekonomi Marxis, akumulasi modal sering kali disamakan dengan investasi dari pendapatan laba atau tabungan, terutama dalam barang modal riil. Konsentrasi dan sentralisasi modal adalah dua hasil dari akumulasi tersebut. Dalam makroekonomi dan ekonometrika modern, frasa "pembentukan modal" sering digunakan dan lebih disukai daripada "akumulasi", meskipun Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) saat ini merujuknya sebagai "akumulasi". Istilah "akumulasi" kadang-kadang digunakan dalam neraca nasional.
Kerja upahan
Kerja upahan merujuk pada penjualan tenaga kerja di bawah kontrak kerja formal maupun informal kepada seorang pemberi kerja.[100] Transaksi-transaksi ini biasanya terjadi di pasar tenaga kerja di mana upah ditentukan oleh pasar.[107][180] Dalam ilmu ekonomi Marxis, para pemilik alat produksi dan pemasok modal ini pada umumnya disebut kaum kapitalis. Deskripsi tentang peran kapitalis telah bergeser, pertama-tama merujuk pada perantara yang tidak berguna di antara para produsen, kemudian menjadi pemberi kerja bagi para produsen, dan akhirnya menjadi pemilik dari alat produksi.[95] Tenaga kerja mencakup seluruh sumber daya manusia secara fisik maupun mental, termasuk kapasitas kewirausahaan dan keterampilan manajemen, yang diperlukan untuk memproduksi produk dan layanan. Produksi adalah tindakan membuat barang atau jasa dengan mengerahkan tenaga kerja.[181][182]
Kritik

Kritik terhadap kapitalisme datang dari berbagai pendekatan politik dan filosofis, termasuk sudut pandang anarkis, sosialis, agama, dan nasionalis.[183] Di antara mereka yang menentangnya atau ingin memodifikasinya, sebagian percaya bahwa kapitalisme harus dihapuskan melalui revolusi, sementara yang lain meyakini bahwa sistem ini harus diubah secara perlahan melalui reformasi politik.[184]

Kritik terhadap kapitalisme menuding bahwa sistem ini secara inheren bersifat eksploitatif terhadap tenaga kerja,[185][186][187] mengalienasi,[188] tidak berkelanjutan,[189] dan tidak efisien secara ekonomi[190][191][192]—serta menciptakan ketimpangan ekonomi yang masif,[193][194] mengkomodifikasi manusia,[195] merusak lingkungan,[196] tidak demokratis,[197][198][199] tidak mampu menyediakan kesempatan kerja penuh,[200] menanamkan pembangunan yang tidak merata dan keterbelakangan di antara negara-bangsa,[201][202][203] dan mengarah pada pengikisan hak asasi manusia[204] karena adanya dorongan terhadap ekspansi imperialis dan perang.[205][206]
Kritikus lain berpendapat bahwa ketidakadilan bukan disebabkan oleh konstruksi netral-etika dari sistem ekonomi yang umumnya dikenal sebagai kapitalisme, melainkan karena etika dari mereka yang membentuk dan menjalankan sistem tersebut. Sebagai contoh, beberapa pihak berpendapat bahwa etika Milton Friedman mengenai 'memaksimalkan nilai pemegang saham' menciptakan bentuk kapitalisme yang berbahaya,[207][208] sementara etika 'kecukupan' (enough) dari Millard Fuller atau John Bogle menciptakan bentuk yang berkelanjutan.[209][210] Etika yang adil dan pengambilan keputusan etis yang terpadu diteorikan dapat menciptakan bentuk kapitalisme yang tidak terlalu merusak.[211]
Warisan telah diperdebatkan sebagai bukan bagian mendasar dari kapitalisme,[212] melainkan sebuah bentuk nepotisme.[213]
Lihat pula
- A Failure of Capitalism
- Pemikiran ekonomi kuno
- Kapitalisme dana talangan
- Pandangan Kristen tentang kemiskinan dan kekayaan
- Korporatokrasi
- Komunisme
- Teori Deng Xiaoping
- Sosiologi ekonomi
- Krisis keuangan global pada September 2008
- Ekonomi humanistik
- Tangan tak terlihat
- Kapitalisme tahap akhir
- Le Livre noir du capitalisme
- Puncak kapitalisme
- Perestroika
- Pasca-Fordisme
- Kapitalisme rasial
- Pencarian rente
- Orang yang sukses atas usaha sendiri
- Pekerjaan mandiri
- Sosialisme
- Kapitalisme pengawasan
Referensi
- ↑ Rosser, Mariana V.; Rosser, J Barkley (2003). Comparative Economics in a Transforming World Economy. MIT Press. hlm. 7. ISBN 978-0-262-18234-8.
In capitalist economies, land and produced means of production (the capital stock) are owned by private individuals or groups of private individuals organized as firms.
- ↑ Sternberg, Elaine (2015). "Defining Capitalism". Economic Affairs. 35 (3): 380–396. doi:10.1111/ecaf.12141. S2CID 219373247.
- ↑ Heilbroner, Robert L. (2018). "Capitalism". The New Palgrave Dictionary of Economics. hlm. 1378–1389. doi:10.1057/978-1-349-95189-5_154. ISBN 978-1-349-95188-8.
- ↑ Gregory, Paul; Stuart, Robert (2013). The Global Economy and its Economic Systems. South-Western College Publishing. hlm. 41. ISBN 978-1-285-05535-0.
Capitalism is characterized by private ownership of the factors of production. Decision making is decentralized and rests with the owners of the factors of production. Their decision making is coordinated by the market, which provides the necessary information. Material incentives are used to motivate participants.
- 1 2 Hodrick, R.; Prescott, E. (1997). "Postwar US business cycles: An empirical investigation" (PDF). Journal of Money, Credit and Banking. 29 (1): 1–16. doi:10.2307/2953682. JSTOR 2953682. S2CID 154995815.
- ↑ Gregory, Paul; Stuart, Robert (2013). The Global Economy and its Economic Systems. South-Western College Publishing. hlm. 107. ISBN 978-1-285-05535-0.
Real-world capitalist systems are mixed, some having higher shares of public ownership than others. The mix changes when privatization or nationalization occurs. Privatization is when property that had been state-owned is transferred to private owners. Nationalization occurs when privately owned property becomes publicly owned.
- 1 2 3 4 Macmillan Dictionary of Modern Economics (Edisi 3). 1986. hlm. 54.
- 1 2 Bronk, Richard (2000). "Which model of capitalism". OECD Observer. Vol. 1999, no. 221–222. OECD. hlm. 12–15. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 April 2018. Diakses tanggal 6 April 2018.
- 1 2 3 4 Braudel, Fernand (1979). The Wheels of Commerce: Civilization and Capitalism 15th–18th Century. Harper and Row.
- 1 2 3 James Augustus Henry Murray. "Capital". A New English Dictionary on Historical Principles. Oxford English Press. Vol. 2. p. 93.
- ↑ "Hollandsche Mercurius (1651-1691)". Encyclopedie Nederlandstalige Tijdschriften (dalam bahasa Dutch). Diakses tanggal 19 October 2025. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ↑ E.g., "L'Angleterre a-t-elle l'heureux privilège de n'avoir ni Agioteurs, ni Banquiers, ni Faiseurs de services, ni Capitalistes ?" in [Étienne Clavier] (1788) De la foi publique envers les créanciers de l'état : lettres à M. Linguet sur le n° CXVI de ses annales p. 19 Diarsipkan 19 March 2015 di Wayback Machine.
- ↑ Arthur Young. Travels in France.
- ↑ Ricardo, David (1821). Principles of Political Economy and Taxation (Edisi 3). John Murray Publisher. hlm. 54.
- ↑ Samuel Taylor Coleridge. Tabel The Complete Works of Samuel Taylor Coleridge Diarsipkan 23 February 2020 di Wayback Machine.. p. 267.
- ↑ Saunders, Peter (1995). Capitalism. University of Minnesota Press. hlm. 1.
- ↑ MEW, 23, & Das Kapital. Kritik der politischen Oekonomie. Erster Band-Verlag von Otto Meissner (1867)
- ↑ The use of the word "capitalism" appears in Theories of Surplus Value, volume II. ToSV was edited by Kautsky.
- ↑ Hessen, Robert (2008) "Capitalism", in Henderson, David R. (ed.) The Concise Encyclopedia of Economics p. 57
- ↑ Harcourt, Bernard E. (2020) For Coöperation and the Abolition of Capital, Or, How to Get Beyond Our Extractive Punitive Society and Achieve a Just Society, Rochester, NY: Columbia Public Law Research Paper No. 14-672, p. 31
- ↑ James Augustus Henry Murray. "Capitalism" p. 94.
- ↑ Mandel, Ernst (2002). An Introduction to Marxist Economic Theory. Resistance Books. hlm. 24. ISBN 978-1-876646-30-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 February 2017. Diakses tanggal 29 January 2017.
- ↑ Werhane, P. H. (1994). "Adam Smith and His Legacy for Modern Capitalism". The Review of Metaphysics. 47 (3).
- 1 2 3 "Free enterprise". Roget's 21st Century Thesaurus (Edisi Third). Philip Lief Group. 2008.
- 1 2 3 Heilbroner, Robert L.; Boettke, Peter J. "Capitalism". www.britannica.com.
- ↑ Barrons Dictionary of Finance and Investment Terms. 1995. hlm. 74.
- ↑ "Market economy". Merriam-Webster Unabridged Dictionary.
- ↑ Shutt, Harry (2010). Beyond the Profits System: Possibilities for the Post-Capitalist Era. Zed Books. ISBN 978-1-84813-417-1.
- 1 2 Wolf, Harald (2004). "Capitalism". Dalam Ritzer, George (ed.). Encyclopedia of Social Theory. Sage Publications. hlm. 76–80. ISBN 978-1-4522-6546-9.
- ↑ Howard, M.C.; King, J.E. (January 2001). "'State Capitalism' in the Soviet Union". History of Economics Review. 34 (1): 110–126. doi:10.1080/10370196.2001.11733360.
- 1 2 Harris, Neal; Delanty, Gerard (2023). "What is capitalism? Toward a working definition". Social Science Information. 62 (3): 323–344. doi:10.1177/05390184231203878.
- 1 2 Delacroix, Jacques (2007). "Capitalism". Dalam Ritzer, George (ed.). Encyclopedia of Social Theory. Wiley. doi:10.1002/9781405165518.wbeosc004. ISBN 978-1-4051-2433-1.
- ↑ Acemoglu, Daron (2017). "Capitalism". Economic Ideas You Should Forget. hlm. 1–3. doi:10.1007/978-3-319-47458-8_1. ISBN 978-3-319-47457-1.
- ↑ Behringer, Wolfgang (2011). "Core and Periphery: The Holy Roman Empire as a Communication(s) Universe". The Holy Roman Empire, 1495–1806 (PDF). Oxford: Oxford University Press. hlm. 347–358. ISBN 978-0-19-960297-1. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 9 October 2022. Diakses tanggal 7 August 2022.
- ↑ "Cradle of capitalism". The Economist. 16 April 2009. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 January 2018. Diakses tanggal 9 March 2015.
- ↑ Warburton, David (2003). Macroeconomics from the beginning: The General Theory, Ancient Markets, and the Rate of Interest. Paris: Recherches et Publications. hlm. 49.
- ↑ Koehler, Benedikt (2014). Early Islam and the Birth of Capitalism. Lexington Books. hlm. 2.
In Baghdad, by the early tenth century a fully-fledged banking sector had come into being...
- ↑ Brenner, Robert (1 January 1982). "The Agrarian Roots of European Capitalism". Past & Present (97): 16–113. doi:10.1093/past/97.1.16. JSTOR 650630.
- ↑ "The Agrarian Origins of Capitalism". July 1998. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 December 2019. Diakses tanggal 17 December 2012.
- ↑ An Introduction to Marxist Economic Theory. Resistance Books. 2002. ISBN 978-1-876646-30-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 December 2016. Diakses tanggal 27 August 2016 – via Google Books.
- 1 2 3 Burnham, Peter (2003). Capitalism: The Concise Oxford Dictionary of Politics. Oxford University Press.
- 1 2 Scott, John (2005). Industrialism: A Dictionary of Sociology. Oxford University Press.
- ↑ Encyclopædia Britannica (2006)
- ↑ Polanyi, Karl (1944). The Great Transformation. Boston: Beacon Press. hlm. 87.
- ↑ Onnekink, David; Rommelse, Gijs (2011). Ideology and Foreign Policy in Early Modern Europe (1650–1750). Ashgate Publishing. hlm. 257. ISBN 978-1-4094-1914-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 March 2015. Diakses tanggal 27 June 2015.
- ↑ Quoted in Clark, George (1961). The Seventeenth Century. New York: Oxford University Press. hlm. 24.
- ↑ Om Prakash, "Empire, Mughal", History of World Trade Since 1450, edited by John J. McCusker, vol. 1, Macmillan Reference USA, 2006, pp. 237–240, World History in Context. Retrieved 3 August 2017
- ↑ Ray, Indrajit (2011). Bengal Industries and the British Industrial Revolution (1757-1857). hlm. 57, 90, 174. doi:10.4324/9780203830895. ISBN 978-1-136-82552-1.
- 1 2 Banaji, Jairus (2007). "Islam, the Mediterranean and the Rise of Capitalism". Historical Materialism. 15 (1): 47–74. doi:10.1163/156920607X171591.
- ↑ "Economic system | History, Types, & Facts | Britannica Money". Encyclopedia Britannica.
- ↑ Watt steam engine image located in the lobby of the Superior Technical School of Industrial Engineers of the UPM[butuh klarifikasi] (Madrid).
- ↑ Hume, David (1752). Political Discourses. Edinburgh: A. Kincaid & A. Donaldson.
- ↑ Burnham, Peter (1996). "Capitalism". Dalam McLean, Iain; McMillan, Alistair (ed.). The Concise Oxford Dictionary of Politics. Oxford Quick Reference (Edisi 3). Oxford: Oxford University Press (dipublikasikan 2009). ISBN 978-0-19-101827-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 July 2020. Diakses tanggal 14 September 2019.
Industrial capitalism, which Marx dates from the last third of the eighteenth century, finally establishes the domination of the capitalist mode of production.
- ↑ "Laissez-faire". Diarsipkan dari asli tanggal 2 December 2008.
- ↑ Burnham, Peter (1996). "Capitalism". Dalam McLean, Iain; McMillan, Alistair (ed.). The Concise Oxford Dictionary of Politics. Oxford Quick Reference (Edisi 3). Oxford: Oxford University Press (dipublikasikan 2009). ISBN 978-0-19-101827-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 July 2020. Diakses tanggal 14 September 2019.
For most analysts, mid- to late-nineteenth century Britain is seen as the apotheosis of the laissez-faire phase of capitalism. This phase took off in Britain in the 1840s with the repeal of the Corn Laws, and the Navigation Acts, and the passing of the Banking Act.
- 1 2 James, Paul; Gills, Barry (2007). Globalization and Economy, Vol. 1: Global Markets and Capitalism. London: SAGE Publications. hlm. xxxiii.
- ↑ "Impact of Global Capitalism on the Environment of Developing Economies" (PDF). Impact of Global Capitalism on the Environment of Developing Economies: The Case of Nigeria: 84. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 20 March 2020. Diakses tanggal 31 July 2020.
- ↑ Fulcher 2004, hlm. 99.
- ↑ Thomas, Martin; Thompson, Andrew (1 January 2014). "Empire and Globalisation: from 'High Imperialism' to Decolonisation". The International History Review. 36 (1): 142–170. doi:10.1080/07075332.2013.828643. ISSN 0707-5332. S2CID 153987517.
- ↑ "Globalization and Empire" (PDF). Globalization and Empire. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 23 September 2020. Diakses tanggal 31 July 2020.
- ↑ "Europe and the causes of globalization" (PDF). Europe and the Causes of Globalization, 1790 to 2000. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 7 December 2017. Diakses tanggal 31 July 2020.
- ↑ "Commanding Heights: Episode One: The Battle of Ideas". PBS. 24 October 1929. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 March 2010. Diakses tanggal 31 July 2010.
- ↑ Eichengreen, Barry (6 August 2019). Globalizing Capital: A History of the International Monetary System (Edisi 3rd). Princeton University Press. doi:10.2307/j.ctvd58rxg. ISBN 978-0-691-19458-5. LCCN 2019018286. S2CID 240840930.[halaman dibutuhkan]
- ↑ Eichengreen, Barry; Esteves, Rui Pedro (2021). "International Finance". Dalam Fukao, Kyoji; Broadberry, Stephen (ed.). The Cambridge Economic History of the Modern World. Vol. 2: 1870 to the Present. Cambridge University Press. hlm. 501–525. ISBN 978-1-107-15948-8.
- ↑ Bordo, Michael D.; Eichengreen, Barry; Irwin, Douglas A. (June 1999). "Is Globalization Today Really Different than Globalization a Hundred Years Ago?". NBER. doi:10.3386/w7195.
- ↑ Andrews, Thomas G. (2008). Killing for Coal: America's Deadliest Labor War. Cambridge: Harvard University Press. hlm. 64. ISBN 978-0-674-03101-2.
- ↑ Crosland, Anthony (1956). The Future of Socialism. United Kingdom: Jonathan Cape.[halaman dibutuhkan]
- ↑ Galbraith, John Kenneth (1958). The Affluent Society. United States: Houghton Mifflin.[halaman dibutuhkan]
- ↑ Shiller, Robert (2012). Finance and The Good Society. United States: Princeton University Press.[halaman dibutuhkan]
- ↑ Barnes, Trevor J. (2004). Reading economic geography. Blackwell Publishing. hlm. 127. ISBN 978-0-631-23554-5.
- ↑ Fulcher 2004.
- ↑ Gerstle, Gary (2022). The Rise and Fall of the Neoliberal Order: America and the World in the Free Market Era. Oxford University Press. hlm. 10–12, 149. ISBN 978-0-19-751964-6.
The collapse of communism, then, opened the entire world to capitalist penetration, shrank the imaginative and ideological space in which opposition to capitalist thought and practices might incubate, and impelled those who remained leftists to redefine their radicalism in alternative terms, which turned out to be those that capitalist systems could more, rather than less, easily manage. This was the moment when neoliberalism in the United States went from being a political movement to a political order.
- ↑ Bartel, Fritz (2022). The Triumph of Broken Promises: The End of the Cold War and the Rise of Neoliberalism. Harvard University Press. hlm. 5–6, 19. ISBN 978-0-674-97678-8.
- ↑ Greene J (April 2020). "Bookends to a Gentler Capitalism: Complicating the Notion of First and Second Gilded Ages". The Journal of the Gilded Age and Progressive Era. 19 (2). Cambridge University Press: 197–205. doi:10.1017/S1537781419000628.
- ↑ Rodrik, Dani (2009), "Capitalism 3.0", dalam Hemerijck, Anton; Knapen, Ben; van Doorne, Ellen (ed.), Aftershocks, Amsterdam University Press, hlm. 185–193, ISBN 978-90-8964-192-2, JSTOR j.ctt46mtqx.23, diakses tanggal 14 January 2021
- ↑ Milner, Helen V (2021). "Is Global Capitalism Compatible with Democracy? Inequality, Insecurity, and Interdependence". International Studies Quarterly. 65 (4): 1097–1110. doi:10.1093/isq/sqab056.
- ↑ Epstein, Gady. "The Winners And Losers in Chinese Capitalism". Forbes. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 November 2015. Diakses tanggal 28 October 2015.
- ↑ "The rise of state capitalism". The Economist. ISSN 0013-0613. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 June 2020. Diakses tanggal 24 October 2015.
- ↑ Mesquita, Bruce Bueno de (September 2005). "Development and Democracy". Foreign Affairs. Vol. 84, no. 5. Diarsipkan dari asli tanggal 20 February 2008. Diakses tanggal 26 February 2008.
- ↑ Siegle, Joseph; Weinstein, Michael; Halperin, Morton (1 September 2004). "Why Democracies Excel" (PDF). Foreign Affairs. 83 (5): 57. doi:10.2307/20034067. JSTOR 20034067. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 12 April 2019. Diakses tanggal 26 August 2018.
- ↑ Iversen, Torben; Soskice, David (2019). Democracy and Prosperity: Reinventing Capitalism through a Turbulent Century. Princeton University Press. ISBN 978-0-691-18273-5. JSTOR j.ctv4g1r3n.
- 1 2 Dahl, Robert A. (2020). On Democracy (dalam bahasa Inggris). Yale University Press. ISBN 978-0-300-25799-1.
- ↑ John, K. (2016). "Another Road to Serfdom". CESifo Working Paper No. 5967. Munich.
- ↑ Pryor, Frederic L. (2010). "Capitalism and freedom?". Economic Systems. 34 (1): 91–104. doi:10.1016/j.ecosys.2009.09.003.
- ↑ Hayek, Friedrich August (1944). The Road to Serfdom. University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-32059-5. [halaman dibutuhkan]
- ↑ Bellamy, Richard (2003). The Cambridge History of Twentieth-Century Political Thought. Cambridge University Press. hlm. 60. ISBN 978-0-521-56354-3.
- ↑ Karatnycky, Adrian (2001). Freedom in the World: The Annual Survey of Political Rights and Civil Liberties. Transaction Publishers. hlm. 11. ISBN 978-0-7658-0101-2.
- ↑ Piketty, Thomas (2014). Capital in the Twenty-First Century. Belknap Press. hlm. 571. ISBN 978-0-674-43000-6.
- ↑ Mattei, Clara (2026). Escape from Capitalism: An Intervention. Simon & Schuster. hlm. 139–163. ISBN 978-1668085141.
- ↑ "Transparency International Corruption Measure 2015". Transparency International Corruption Measure 2015 – By Country / Territory. Transparency International. Diarsipkan dari asli tanggal 31 March 2016. Diakses tanggal 20 September 2016.
- ↑ Klein, Naomi (2008). The Shock Doctrine: The Rise of Disaster Capitalism. Picador. ISBN 0-312-42799-9 p. 105 Diarsipkan 19 March 2015 di Wayback Machine..
- ↑ Farid, Hilmar (2005). "Indonesia's original sin: mass killings and capitalist expansion, 1965–66". Inter-Asia Cultural Studies. 6 (1): 3–16. doi:10.1080/1462394042000326879. S2CID 145130614.
- ↑ Robinson, Geoffrey B. (2018). The Killing Season: A History of the Indonesian Massacres, 1965–66. Princeton University Press. hlm. 177. ISBN 978-1-4008-8886-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 April 2019. Diakses tanggal 1 August 2018.
- ↑ ""capitalism, n.2". OED Online". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 September 2020. Diakses tanggal 19 January 2013.
- 1 2 Williams, Raymond (1983). "Capitalism". Keywords: A vocabulary of culture and society, revised edition. Oxford University Press. hlm. 51. ISBN 978-0-19-520469-8.
- ↑ "Althusser and the Renewal of Marxist Social Theory". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 April 2015. Diakses tanggal 24 March 2015.
- 1 2 Marx, Karl. "Thirty Two". Economic Manuscripts: Capital Vol. I. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 February 2015. Diakses tanggal 24 March 2015 – via Marxists Internet Archive.
- 1 2 "The contradictions of capitalism – Democratic Socialist Perspective". dsp.org.au. 26 January 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 6 April 2015.
- ↑ Goldberg, Victor P. (21 November 2012). "Contracts". The Oxford Handbook of Capitalism. Oxford University Press. hlm. 250–274. doi:10.1093/oxfordhb/9780195391176.013.0010. ISBN 978-0-19-539117-6.
- 1 2 3 Steinfeld 2009, hlm. 3.
- ↑ Fulcher 2004, hlm. 14.
- ↑ Reisman, George (1998). Capitalism: A complete understanding of the nature and value of human economic life. Jameson Books. ISBN 0-915463-73-3.
- ↑ Hunt, E. K.; Lautzenheiser, Mark (2014). History of Economic Thought: A Critical Perspective. PHI Learning. ISBN 978-0-7656-2599-1.
- ↑ Reisman, George (1998). Capitalism: A complete understanding of the nature and value of human economic life. Jameson Books. ISBN 978-0-915463-73-2.
- 1 2 Wright, Edmund, ed. (2006). The Desk Encyclopedia of World History. New York: Oxford University Press. hlm. 111–112. ISBN 978-0-7394-7809-7.
- ↑ Fulcher 2004, hlm. 58.
- 1 2 Deakin & Wilkinson 2005.
- ↑ Editorial Board (2013). "W". Concise Dictionary of Economics. V&S Publishers. hlm. 278. ISBN 978-93-5057-032-6.
- ↑
Compare:
Duska, Ronald F. (1997). "The Why's of Business Revisited". Contemporary Reflections on Business Ethics. Issues in Business Ethics. Vol. 23. Dordrecht: Springer Science & Business Media (dipublikasikan 2007). hlm. 41. ISBN 978-1-4020-4984-2. Diakses tanggal 8 July 2019.
In microeconomics courses, profit maximization is frequently given as the goal of the firm. ... In microeconomics, profit maximization functions largely as a theoretical goal, with economists using it to prove how firms behave rationally to increase profit. Unfortunately, it ignores many real-world complexities.
- ↑ "The Function of Profits". Mises Institute. 7 October 2008.
- ↑ Warren, Chris (2022). "What Is Capitalism". Australian Socialist. 28 (2/3): 30–31.
- ↑ Hernando de Soto. "The mystery of capital". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 February 2008. Diakses tanggal 26 February 2008.
- ↑ Karl Marx. "Capital, v. 1. Part VIII: primitive accumulation". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 March 2008. Diakses tanggal 26 February 2008.
- ↑ N.F.R. Crafts (April 1978). "Enclosure and labor supply revisited". Explorations in Economic History. 15 (2): 172–183. doi:10.1016/0014-4983(78)90019-0.
- ↑ "Definition of COMPETITION". Diarsipkan dari asli tanggal 4 July 2008. Diakses tanggal 24 March 2015.
- ↑ Stigler, George J. (2008). "competition". The New Palgrave Dictionary of Economics (Edisi 2nd). Diarsipkan dari asli tanggal 15 February 2015.
- ↑ Blaug, Mark (2008). "Invisible hand". The New Palgrave Dictionary of Economics. Vol. 4 (Edisi 2nd). hlm. 565. Diarsipkan dari asli tanggal 5 June 2013.
- 1 2 Heyne, Paul; Boettke, Peter J.; Prychitko, David L. (2014). The Economic Way of Thinking (Edisi 13th). Pearson. hlm. 102–106. ISBN 978-0-13-299129-2.
- 1 2 Warsh, David (2007). Knowledge and the Wealth of Nations. W. W. Norton. hlm. 42.
- ↑ Lippit, Victor (2005). Capitalism. ProQuest: Taylor & Francis. hlm. 2.
- ↑ Joff, Michael (2011). "The root cause of economic growth under capitalism". Cambridge Journal of Economics. 35 (5): 873–896. doi:10.1093/cje/beq054.
The tendency for capitalist economies to grow is one of their most characteristic properties.
- ↑ Baumol, William J. (2004). The Free-Market Innovation Machine: Analyzing the Growth Miracle of Capitalism. Princeton: Princeton University Press. ISBN 978-0-691-11630-3.
- ↑ Encyclopedia of Marxism at marxism.org. "Capitalism". Marxists Internet Archive. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 May 2019. Diakses tanggal 8 July 2011.
- ↑ "Capitalism." World Book Encyclopedia. 1988. p. 194.
- ↑ Besanko, David; Braeutigam, Ronald (2010). Microeconomics (Edisi 4th). Wiley.
- ↑ Unlike most graphs, supply & demand curves are plotted with the independent variable (price) on the vertical axis and the dependent variable (quantity supplied or demanded) on the horizontal axis.
- ↑ "Marginal Utility and Demand". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 November 2006. Diakses tanggal 9 February 2007.
- ↑ Varian, Hal R. (1992). Microeconomic Analysis (Edisi Third). New York: Norton. ISBN 978-0-393-95735-8.
- ↑ Jain, T. R. (2006). Microeconomics and Basic Mathematics. New Delhi: VK Publications. hlm. 28. ISBN 978-81-87140-89-4.[pranala nonaktif permanen]
- ↑ Hosseini, Hamid S. (2003). "Contributions of Medieval Muslim Scholars to the History of Economics and their Impact: A Refutation of the Schumpeterian Great Gap". Dalam Biddle, Jeff E.; Davis, Jon B.; Samuels, Warren J. (ed.). A Companion to the History of Economic Thought. Malden, Massachusetts: Blackwell. hlm. 28–45 [28 & 38]. doi:10.1002/9780470999059.ch3. ISBN 978-0-631-22573-7. (citing Hamid S. Hosseini, 1995. "Understanding the Market Mechanism Before Adam Smith: Economic Thought in Medieval Islam," History of Political Economy, Vol. 27, No. 3, 539–561).
- ↑ John Locke (1691) Some Considerations on the consequences of the Lowering of Interest and the Raising of the Value of Money Diarsipkan 24 March 2015 di Wayback Machine.
- 1 2 Thomas M. Humphrey, 1992. "Marshallian Cross Diagrams and Their Uses before Alfred Marshall", Economic Review, Mar/Apr, Federal Reserve Bank of Richmond, pp. 3–23 Diarsipkan 19 October 2012 di Wayback Machine..
- ↑ A. D. Brownlie and M. F. Lloyd Prichard, 1963. "Professor Fleeming Jenkin, 1833–1885 Pioneer in Engineering and Political Economy", Oxford Economic Papers, 15(3), p. 211.
- ↑ Fleeming Jenkin, 1870. "The Graphical Representation of the Laws of Supply and Demand, and their Application to Labour", in Alexander Grant, ed., Recess Studies, Edinburgh. Ch. VI, pp. 151–185. Edinburgh. Scroll to chapter link Diarsipkan 16 July 2020 di Wayback Machine..
- ↑ Hall, Peter A.; Soskice, David (20 September 2001). Varieties Of Capitalism: The Institutional Foundations of Comparative Advantage. Oxford University Press, U.S.A. ISBN 0-19-924775-7.
- ↑ Lears, T. J. Jackson (1985) "The Concept of Cultural Hegemony"
- ↑ Holub, Renate (2005) Antonio Gramsci: Beyond Marxism and Postmodernism
- ↑ Boggs, Carl (2012) Ecology and Revolution: Global Crisis and the Political Challenge
- ↑ Habermas, 1988: 37, 75.
- ↑ Barnett, H C (January 1981). "Crime and Delinquency". Office of Justice Programs.
- ↑ Imperialism, the Highest Stage of Capitalism ibid. Finance Capital and the Finance Oligarchy Diarsipkan 2 April 2015 di Wayback Machine.
- ↑ Foster, John Bellamy; McChesney, Robert W. (1 October 2009). "Monopoly-Finance Capital and the Paradox of Accumulation". Monthly Review. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 August 2016. Diakses tanggal 27 August 2016.
- ↑ Frederic Jameson, 'Culture and Finance Capital', in The Jameson Reader (2005) p. 257
- ↑ Quoted in E. H. Carr, The Bolshevik Revolution 2 (1971) p. 137
- ↑ Quoted in F. A Voight, Unto Caesar (1938) p. 22
- ↑ C. J. Calhoun/G. Derluguian, Business as Usual (2011) p. 57
- ↑ Jameson, pp. 259–260
- ↑ Jahan, Sarwat; Saber Mahmud, Ahmed. "What Is Capitalism?". International Monetary Fund.
- ↑ "Laissez-faire". Encyclopædia Britannica.
- ↑ "Anarcho-capitalism". Encyclopædia Britannica.
- ↑ Perumal J., Prashanth (13 December 2023). "Understanding the debates around anarcho-capitalism". The Hindu. Diarsipkan dari versi asli pada 13 December 2023.
- ↑ Braudel, F.; Ranum, P. M.; Ranum, P. P. (1977). Afterthoughts on Material Civilization and Capitalism. Johns Hopkins symposia in comparative history. Johns Hopkins University Press. hlm. 47–63. ISBN 978-0-8018-1901-8. Diakses tanggal 6 April 2022.
- ↑ "Mercantilism". Encyclædia Britannica.
- ↑ Müller-Armack, Alfred (December 1978). "The Social Market Economy as an Economic and Social order". Review of Social Economy. 36 (3): 325–331. doi:10.1080/00346767800000020.
- ↑ "Humanistic economics, a new paradigm for the 21st century" (PDF). Real-world economics review (Issue 96). 2021. hlm. 184–202.
- ↑ "Rhenish Capitalism". Oxford Reference.
- ↑ Musacchio, Aldo. "Economist Debates: State capitalism: Statements". The Economist. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 July 2012. Diakses tanggal 20 June 2012.
- ↑ State capitalism Diarsipkan 3 July 2015 di Wayback Machine.. Merriam-Webster. Retrieved 7 July 2015.
- ↑ V. I. Lenin. The Tax in Kind Diarsipkan 7 September 2015 di Wayback Machine.. Lenin's Collected Works, 1st English ed., Progress Publishers, Moscow, 1965, vol. 32, pp. 329–365.
- ↑ V. I. Lenin. To the Russian Colony in North America Diarsipkan 18 June 2015 di Wayback Machine.. Lenin Collected Works, Progress Publishers, 1971, Moscow, vol. 42, pp. 425c–427a.
- ↑ "State capitalism" in the Soviet Union Diarsipkan 28 July 2019 di Wayback Machine., M. C. Howard and J. E. King
- ↑ Richard D. Wolff (27 June 2015). Socialism Means Abolishing the Distinction Between Bosses and Employees Diarsipkan 11 March 2018 di Wayback Machine.. Truthout. Retrieved 9 July 2015.
- ↑ Dunayevskaya, Raya (1941). "The Union of Soviet Socialist Republics is a Capitalist Society". Marxists Internet Archive. Diarsipkan dari asli tanggal 7 December 2019.
- ↑ Von Mises, Ludwig (1979). Socialism: An Economic and Sociological Analysis. Indianapolis: Liberty Classics. ISBN 978-0-913966-63-1. Diakses tanggal 31 May 2007.
The socialist movement takes great pains to circulate frequently new labels for its ideally constructed state. Each worn-out label is replaced by another which raises hopes of an ultimate solution of the insoluble basic problem of Socialism—until it becomes obvious that nothing has been changed but the name. The most recent slogan is 'State Capitalism.' It is not commonly realized that this covers nothing more than what used to be called Planned Economy and State Socialism, and that State Capitalism, Planned Economy, and State Socialism diverge only in non-essentials from the "classic" ideal of egalitarian Socialism.
- ↑ Vahabi, Mehrdad (2023). "Prologue". Destructive Coordination, Anfal and Islamic Political Capitalism. SpringerLink. hlm. XV. doi:10.1007/978-3-031-17674-6. ISBN 978-3-031-17673-9.
- ↑ Krieger, Tim; Meierrieks, Daniel (December 2016). "Political capitalism: The interaction between income inequality, economic freedom and democracy". European Journal of Political Economy. 45: 115–132. doi:10.1016/j.ejpoleco.2016.10.005. hdl:10419/125138.
- ↑ Holcombe, Randall (2015-03-20). "Political Capitalism as a Distinct Economic System". Master Resource (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-04-21.
- ↑ Holcombe, Randall G. (2018). Political Capitalism: How Economic and Political Power Is Made and Maintained. Cambridge Studies in Economics, Choice, and Society. Cambridge: Cambridge University Press. doi:10.1017/9781108637251. ISBN 978-1-108-47177-0.
- ↑ Esping-Andersen, Gøsta (1990). The Three Worlds of Welfare Capitalism. Princeton University Press. ISBN 978-0-691-02857-6.
- ↑ Piketty, Thomas (2013). "Repenser l'impôt progressif sur le revenu" [To rethink income tax progressivity]. Le capital au XXIe siècle (dalam bahasa Prancis). Éditions du Seuil. hlm. 799, 800. ISBN 978-2-02-108228-9.
Si cette régressivité fiscale au sommet de la hiérarchie sociale devait se confirmer et s'amplifier à l'avenir, [...] il est bien évident qu'une telle sécession fiscale des plus riches [avec les autres classes] est potentiellement extrêmement dommageable pour le consentement fiscal dans son ensemble [qui] s'en trouve amoindri [...]. Il est vital pour l'État social moderne que le système fiscal qui le sous-tend conserve un minimum de progressivité.
[If tax regressivity on top of the social hierarchy may settle in and escalate in the future, it is obvious that such a tax secession between the richest and the other classes will be highly harmful towards the agreement over the taxation system which will weaken. It is essential for the modern social system that the taxation system preserve a sort of tax progressivity.] - ↑ Balch, Oliver (24 November 2019). "Green capitalism sometimes also referring to sustainable businesses". The Guardian.
- ↑ "Definition of Eco-Capitalism". collinsdictionary.com. Diakses tanggal 27 November 2015.
- ↑ Mitra, Basavadatta; Gadhok, Saagar; Salhotra, Shivam; Agarwal, Sakshi (2011). "The convergence of sustainable capitalism". 2011 IEEE International Professional Communication Conference. hlm. 1–7. doi:10.1109/IPCC.2011.6087226. ISBN 978-1-61284-779-5. S2CID 31292223.
- ↑ Schweickart, David (1 January 2009). "Is Sustainable Capitalism an Oxymoron?". Perspectives on Global Development and Technology. 8 (2–3): 559–580. doi:10.1163/156914909X424033.
- ↑ Harrison, Neil (2013). Sustainable Capitalism and the Pursuit of Well-Being. doi:10.4324/9780203071878. ISBN 978-0-203-07187-8.[halaman dibutuhkan]
- 1 2 Gore, Al; Blood, David. "A Manifesto for Sustainable Capitalism" (PDF). Generation Foundation. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 24 January 2014. Diakses tanggal 24 October 2022.
- ↑ "Sustainable Capitalism" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 9 October 2022. Diakses tanggal 18 February 2017.
- ↑ "Economics A–Z: Capital". The Economist. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 August 2017. Diakses tanggal 25 March 2015.
- ↑ "Encyclopedia of Marxism – Glossary of terms: Capital". Marxists Internet Archive. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 June 2015. Diakses tanggal 25 March 2015.
- ↑ Marx 1990, hlm. 1005.
- ↑ Ragan, Christopher T. S.; Lipsey, Richard G. Microeconomics. 12th Canadian ed. Toronto, Pearson Education, 2008. ISBN 978-0-321-31491-8
- ↑ Robbins, Richard H. Global problems and the culture of capitalism. Boston: Allyn & Bacon, 2007. ISBN 978-0-205-52487-7
- ↑ Tormey, Simon (2004). Anticapitalism. One World Publications. hlm. 10. ISBN 978-1-78074-250-2.
- ↑ Pons, Silvio; Smith, Stephen A., ed. (21 September 2017). The Cambridge History of Communism. Cambridge University Press. hlm. 49–73. doi:10.1017/9781316137024. ISBN 978-1-316-13702-4.
- ↑ "Exploitation". Stanford Encyclopedia of Philosophy. 20 December 2001. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 November 2020. Diakses tanggal 26 December 2020.
- ↑ Hickel, Jason; Sullivan, Dylan (2023-07-01). "Capitalism, Global Poverty, and the Case for Democratic Socialism". Monthly Review (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-07-22.
Capital accumulation requires cheap labor, however, and these concessions would have brought capitalism in the core to its knees were it not for the fact that capitalists were able to obtain cheap labor instead in the periphery, through colonial and neocolonial forms of appropriation, which continue to this day.
- ↑ Mattei, Clara (2026). Escape from Capitalism: An Intervention. Simon & Schuster. hlm. 13–16. ISBN 978-1668085141.
- ↑ "Alienation." pp. 10. in A Dictionary of Philosophy (rev. 2nd ed.). 1984.
- ↑ Nelson, Anitra (31 January 2024). "Degrowth as a Concept and Practice: Introduction". The Commons Social Change Library (dalam bahasa Australian English). Diakses tanggal 24 February 2024.
- ↑ Shutt, Harry (March 2010). Beyond the Profits System: Possibilities for a post-capitalist era. Zed Books. ISBN 978-1-84813-417-1.
- ↑ Rogers, Heather. "The Conquest of Garbage". isreview.org. International Socialist Review (1997). Diarsipkan dari asli tanggal 10 May 2021. Diakses tanggal 13 March 2008.
- ↑ Rea, K.J. "Monopoly, Imperfect Competition, and Oligopoly". Diarsipkan dari asli tanggal 12 June 2010. Diakses tanggal 11 March 2008.
- ↑ King, Matthew Wilburn (25 May 2021). "Why the next stage of capitalism is coming". BBC Future. Diakses tanggal 21 October 2021.
- ↑ Ghodsee, Kristen; Orenstein, Mitchell A. (2021). Taking Stock of Shock: Social Consequences of the 1989 Revolutions. Oxford University Press. hlm. 192. doi:10.1093/oso/9780197549230.001.0001. ISBN 978-0-19-754924-7.
Without an accompanying welfare state in which social programs funded by a progressive income tax redistribute from the rich to the poor, capitalism can be a deeply unfair system where a small, well-connected elite captures a majority of the wealth and power, and not necessarily through meritocratic processes.
- ↑ Daniel Margrain (25 August 2019). "The Commodification of Everything". Renegade Inc. Diarsipkan dari asli tanggal 21 October 2021. Diakses tanggal 21 October 2021.
- ↑ Hickel, Jason (2021). Less is More: How Degrowth Will Save the World. Windmill Books. hlm. 39–40. ISBN 978-1-78609-121-5.
It was only with the rise of capitalism over the past few hundred years, and the breathtaking acceleration of industrialization from the 1950s, that on a planetary scale things began to tip out of balance.
- ↑ Sullivan, Dylan; Hickel, Jason (2023). "Capitalism and extreme poverty: A global analysis of real wages, human height, and mortality since the long 16th century". World Development. 161 106026. Bibcode:2023WoDev.16106026S. doi:10.1016/j.worlddev.2022.106026.
Capitalism is a highly productive system, but it is also undemocratic: decisions about what to produce and how to use surplus are determined by the few who own and control the means of production. For capital, the purpose of production is not primarily to meet human needs, as we might expect in a more democratic system, but rather to extract and accumulate profit.
- ↑ Merkel, Wolfgang (26 July 2014). "Is capitalism compatible with democracy?". Zeitschrift für Vergleichende Politikwissenschaft. 8 (2). Springer Science and Business Media LLC: 109–128. doi:10.1007/s12286-014-0199-4. hdl:10419/270951. ISSN 1865-2646. S2CID 150776013.
- ↑ Slobodian, Quinn (2023). Crack-Up Capitalism: Market Radicals and the Dream of a World Without Democracy. Metropolitan Books. hlm. 10. ISBN 978-1-250-75389-2.
- ↑ Rank, Mark Robert (2023). The Poverty Paradox: Understanding Economic Hardship Amid American Prosperity. Oxford University Press. hlm. 4, 121. ISBN 978-0190212636.
The tendency of our free market economy has been to produce a growing number of jobs that will no longer support a family. In addition, the basic nature of capitalism ensures that unemployment exists at modest levels. Both of these directly result in a shortage of economic opportunities in American society.
- ↑ Patnaik, Utsa (1982). "'Neo-Marxian' Theories of Capitalism and Underdevelopment: Towards a Critique". Social Scientist. 10 (11): 3–32. doi:10.2307/3516858. ISSN 0970-0293. JSTOR 3516858.
- ↑ Warke, Thomas W. (1973). "The Marxian Theory of Underdevelopment: A Review Article". The Journal of Developing Areas. 7 (4): 699–710. ISSN 0022-037X. JSTOR 4190085.
- ↑ Martins, Carlos Eduardo (January 2022). "The Longue Durée of the Marxist Theory of Dependency and the Twenty-First Century". Latin American Perspectives. 49 (1): 18–35. doi:10.1177/0094582X211052029.
- ↑ Abeles, Marc (2006). "Globalization, Power, and Survival: an Anthropological Perspective" (PDF). Anthropological Quarterly. 79 (3): 484–486. doi:10.1353/anq.2006.0030. S2CID 144220354. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 9 October 2022.
- ↑ Farid, Hilmar (2005). "Indonesia's original sin: mass killings and capitalist expansion, 1965–66". Inter-Asia Cultural Studies. 6 (1): 3–16. doi:10.1080/1462394042000326879. S2CID 145130614.
- ↑ Bevins, Vincent (2020). The Jakarta Method: Washington's Anticommunist Crusade and the Mass Murder Program that Shaped Our World. PublicAffairs. hlm. 240–241. ISBN 978-1-5417-4240-6.
Maybe, the countries of the developing world would have been able to come together and insist on changing the rules of global capitalism. Perhaps many of these countries would not be capitalist at all.
- ↑ Stout, Lynn (2012). The Shareholder Value Myth. San Francisco, CA: Berrett-Koehler Publishers, Inc. hlm. 15–23. ISBN 978-1-60509-813-5.
- ↑ Gelles, David (2022). The Man Who Broke Capitalism. New York: Simon & Schuster. hlm. 1–13. ISBN 978-1-9821-7644-0.
- ↑ Fuller, Millard (1994). The Theology of the Hammer. Macon, GA: Smyth & Helwys Publishing. hlm. 31–39. ISBN 1-880837-92-7.
- ↑ Bogle, John (2009). Enough. Hoboken, New Jersey: John Wiley & Sons. hlm. 229–248. ISBN 978-0-470-52423-7.
- ↑ Knowlton & Hedges (2021). Better Capitalism. Eugene, OR: Wipf & Stock Publishers. hlm. 34–37, 235–242. ISBN 978-1-7252-8093-9.
- ↑ Haslett, D. W. (1986). "Is Inheritance Justified?". Philosophy & Public Affairs. 15 (2). Wiley: 122–155. ISSN 0048-3915. JSTOR 2265382.
- ↑ Pérez-González, Francisco (1 November 2006). "Inherited Control and Firm Performance". American Economic Review. 96 (5): 1559–1588. doi:10.1257/aer.96.5.1559. ISSN 0002-8282.
Daftar pustaka
- Bacher, Christian (2007). Capitalism, Ethics and the Paradoxon of Self-Exploitation. Munich: GRIN Verlag. hlm. 2. ISBN 978-3-638-63658-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 November 2015. Diakses tanggal 27 June 2015.
- Boldizzoni, Francesco (2020). Foretelling the End of Capitalism: Intellectual Misadventures since Karl Marx. Cambridge, MA: Harvard University Press. ISBN 978-0-674-91932-7.
- Carsel, Wilfred (1940). "The Slaveholders' Indictment of Northern Wage Slavery". Journal of Southern History. 6 (4): 504–520. doi:10.2307/2192167. JSTOR 2192167.
- Deakin, Simon; Wilkinson, Frank (2005). The Law of the Labour Market: Industrialization, Employment, and Legal Evolution. Oxford, UK: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-815281-1.
- De George, Richard T. (1986). Business Ethics. New York: Macmillan. hlm. 104. ISBN 978-0-02-328010-8.
- Elkins, Caroline (2005). Britain's Gulag: The Brutal End of Empire in Kenya. London: Jonathan Cape. ISBN 978-0-224-07363-9.
- Fitzhugh, George (2008). Cannibals All!. Applewood Books. ISBN 978-1-4290-1643-8.
- Fulcher, James (2004). Capitalism: A Very Short Introduction. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-280218-7.
- Graeber, David (2004). Fragments of an Anarchist Anthropology. Prickly Paradigm Press. ISBN 978-0-9728196-4-0.
- Graeber, David (2007). Possibilities: Essays on Hierarchy, Rebellion, and Desire. AK Press. ISBN 978-1-904859-66-6.
- Hallgrimsdottir, Helga Kristin; Benoit, Cecilia (2007). "From Wage Slaves to Wage Workers: Cultural Opportunity Structures and the Evolution of the Wage Demands of the Knights of Labor and the American Federation of Labor, 1880–1900". Social Forces. 85 (3): 1393–411. doi:10.1353/sof.2007.0037. JSTOR 4494978. S2CID 154551793.
- James, Paul; Gills, Barry (2007). Globalization and Economy, Vol. 1: Global Markets and Capitalism. London: SAGE Publications. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 September 2020. Diakses tanggal 17 May 2014.
- Krahn, Harvey J., and Graham S. Lowe (1993). Work, Industry, and Canadian Society. 2nd ed. Scarborough, Ont.: Nelson Canada. xii, 430 p. ISBN 0-17-603540-0
- Lash, Scott; Urry, John (2000). "Capitalism". Dalam Abercrombie, Nicholas; Hill, Stephen; Turner, Bryan S (ed.). The Penguin Dictionary of Sociology (Edisi 4th). London: Penguin Books. hlm. 36–40. ISBN 978-0-14-051380-6.
- Marx, Karl (1847). Wage Labour and Capital. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 September 2019. Diakses tanggal 25 March 2015.
- Marx, Karl (1990) [1867]. Capital, Volume I. London: Penguin Classics. ISBN 978-0-14-044568-8.
- McCraw, Thomas K. (August 2011). "The Current Crisis and the Essence of Capitalism". The Montreal Review. ISSN 0707-9656. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 September 2011. Diakses tanggal 14 August 2011.
- Nelson, John O. (1995). "That a Worker's Labour Cannot Be a Commodity". Philosophy. 70 (272): 157–165. doi:10.1017/s0031819100065359. JSTOR 3751199. S2CID 171054136.
- Obrinsky, Mark (1983). Profit Theory and Capitalism. Philadelphia: University of Pennsylvania Press. hlm. 1. ISBN 978-0-8122-7863-7.
- Olusoga, David; Erichsen, Casper W. (2010). The Kaiser's Holocaust: Germany's Forgotten Genocide. London: Faber and Faber. ISBN 978-0-571-23141-6.
- Roediger, David (2007a) [1991]. The Wages of Whiteness: Race and the Making of the American Working Class (Edisi revised and expanded). London & New York: Verso. ISBN 978-1-84467-145-8.
- Roediger, David (2007b). "An Outmoded Approach to Labour and Slavery". Labour/Le Travail. 60: 245–250. JSTOR 25149808.
- Steinfeld, Robert J. (2009). Coercion/Consent in Labor (PDF). Theorising Key Migration Debates. Centre on Migration, Policy and Society (COMPAS) Working Paper No. 66. Oxford, UK: University of Oxford. St Anne's College, Oxford University. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 1 March 2014. Diakses tanggal 3 July 2025.
- Wolf, Eric R. (1982). Europe and the People Without History. Berkeley: University of California Press. ISBN 978-0-520-04459-3.
- Wood, Ellen Meiksins (2002). The Origin of Capitalism: A Longer View. London: Verso. ISBN 978-1-85984-392-5.
- Young, John (1997). Peasant Revolution in Ethiopia: The Tigray People's Liberation Front, 1975–1991. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-02606-2.
Bacaan lanjutan
- Alperovitz, Gar (2011). America Beyond Capitalism: Reclaiming Our Wealth, Our Liberty, and Our Democracy, 2nd Edition. Democracy Collaborative Press. ISBN 0-9847857-0-1.
- Altvater, Elmar; Crist, Eileen; Haraway, Donna; Hartley, Daniel; Parenti, Christian; McBrien, Justin; Moore, Jason (2016). Anthropocene or Capitalocene? Nature, History, and the Crisis of Capitalism. PM Press. ISBN 978-1-62963-148-6.
- Ascher, Ivan. Portfolio Society: On the Capitalist Mode of Prediction. Zone Books, 2016. ISBN 978-1935408741
- Baptist, Edward E. The Half Has Never Been Told: Slavery and the Making of American Capitalism. New York, Basic Books, 2014. ISBN 0-465-00296-X.
- Beckert, Sven (2025). Capitalism: A Global History. Penguin Press. ISBN 978-0735220836.
- Barbrook, Richard (2006). The Class of the New (Edisi paperback). London: OpenMute. ISBN 978-0-9550664-7-4. Diarsipkan dari asli tanggal 1 August 2018. Diakses tanggal 11 June 2019.
- Block, Fred; Somers, Margaret R. (2014). The Power of Market Fundamentalism: Karl Polanyi's Critique. Cambridge, MA: Harvard University Press. ISBN 978-0-674-05071-6.
- Braudel, Fernand. Civilization and Capitalism, 15th-18th Century, 3 volumes.
- Callinicos, Alex. "Wage Labour and State Capitalism – A reply to Peter Binns and Mike Haynes", International Socialism, 2nd series, 12, Spring 1979.
- Case, Anne; Deaton, Angus (2020). Deaths of Despair and the Future of Capitalism. Princeton University Press. ISBN 978-0-691-19078-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 March 2020. Diakses tanggal 6 March 2020.
- Farl, Erich. "The Genealogy of State Capitalism". In: International London, vol. 2, no. 1, 1973.
- Fisher, Mark (2009). Capitalist Realism: Is There No Alternative?. John Hunt Publishing. ISBN 978-1-84694-317-1.
- Gough, Ian. State Expenditure in Advanced Capitalism Diarsipkan 7 February 2012 di Wayback Machine. New Left Review.
- Habermas, J. [1973] Legitimation Crisis (eng. translation by T. McCarthy). Boston, Beacon. From Google books Diarsipkan 20 November 2015 di Wayback Machine.; excerpt.
- Harvey, David (2014). Seventeen Contradictions and the End of Capitalism. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-936026-0.
- Hyman, Louis and Edward E. Baptist (2014). American Capitalism: A Reader. Simon & Schuster. ISBN 978-1-4767-8431-1.
- Ingham, Geoffrey (2008). Capitalism: With a New Postscript on the Financial Crisis and Its Aftermath. Cambridge: Polity Press. ISBN 978-0-7456-3648-1.
- James, Paul; Patomäki, Heikki (2007). Globalization and Economy, Vol. 2: Global Finance and the New Global Economy. London: SAGE Publications. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 September 2020. Diakses tanggal 28 January 2018.
- James, Paul; Palen, Ronen (2007). Globalization and Economy, Vol. 3: Global Economic Regimes and Institutions. London: Sage Publications. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 September 2020. Diakses tanggal 28 January 2018.
- James, Paul; O'Brien, Robert (2007). Globalization and Economy, Vol. 4: Globalizing Labour. London: Sage Publications. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 September 2020. Diakses tanggal 28 January 2018.
- Jameson, Fredric (1991). Postmodernism, or, the Cultural Logic of Late Capitalism.
- Kocka, Jürgen (2016). Capitalism: A Short History. Princeton: Princeton University Press. ISBN 978-0-691-16522-6.
- Kotler, Philip (2015). Confronting Capitalism: Real Solutions for a Troubled Economic System. AMACOM. ISBN 978-0814436455
- Mandel, Ernest (1999). Late Capitalism. ISBN 978-1859842027
- Mander, Jerry (2012). The Capitalism Papers: Fatal Flaws of an Obsolete System. Counterpoint. ISBN 978-1-61902-158-7.
- Marcel van der Linden, Western Marxism and the Soviet Union. New York, Brill Publishers, 2007.
- Mattei, Clara E. (2022). The Capital Order: How Economists Invented Austerity and Paved the Way to Fascism. University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-81839-9.
- Mayfield, Anthony. "Economics", in his On the Brink: Resource Depletion, Debt Collapse, and Super-technology ([Vancouver, B.C., Canada]: On the Brink Publishing, 2013), pp. 50–104.
- Musacchio, Aldo; Lazzarini, Sergio G. (2014). Reinventing State Capitalism: Leviathan in Business, Brazil and Beyond. Cambridge, MA: Harvard University Press. ISBN 978-0-674-72968-1.
- Newitz, Annalee (2006). Pretend We're Dead: Capitalist Monsters in American Pop Culture. Durham, NC: Duke University Press. ISBN 978-0-8223-3745-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 October 2016. Diakses tanggal 26 October 2016.
- Nitzan, Jonathan; Bichler, Shimshon (2009). Capital as Power: A Study of Order and Creorder. Routledge. ISBN 978-0-415-49680-3.
- Panitch, Leo, and Sam Gindin (2012). The Making of Global Capitalism: the Political Economy of American Empire. London, Verso. ISBN 978-1-84467-742-9.
- Piketty, Thomas (2014). Capital in the Twenty-First Century. Cambridge, MA: Belknap Press. ISBN 978-0-674-43000-6.
- Piketty, Thomas (2020). Capital and Ideology. Cambridge, MA: Belknap Press. ISBN 978-0-674-98082-2.
- Polanyi, Karl (2001). The Great Transformation: The Political and Economic Origins of Our Time. Beacon Press; 2nd ed. ISBN 0-8070-5643-X
- Reisman, George (1998). Capitalism: A complete understanding of the nature and value of human economic life. Jameson Books. ISBN 978-0-915463-73-2.
- Richards, Jay W. (2009). Money, Greed, and God: Why Capitalism is the Solution and Not the Problem. New York: HarperOne. ISBN 978-0-06-137561-3
- Roberts, Paul Craig (2013). The Failure of Laissez-faire Capitalism: towards a New Economics for a Full World. Atlanta, Ga.: Clarity Press. ISBN 978-0-9860362-5-5
- Robinson, William I. Global Capitalism and the Crisis of Humanity. Cambridge University Press, 2014. ISBN 1-107-69111-7
- Schram, Sanford F. (2015). The Return of Ordinary Capitalism: Neoliberalism, Precarity, Occupy. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-025302-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 September 2020. Diakses tanggal 12 February 2017.
- Hoevet, Ocean. "Capital as a Social Relation" (New Palgrave article)
- Sombart, Werner (1916) Der moderne Kapitalismus. Historisch-systematische Darstellung des gesamteuropäischen Wirtschaftslebens von seinen Anfängen bis zur Gegenwart. Final edn. 1916, repr. 1969, paperback edn. (3 vols. in 6): 1987 Munich: dtv. (Also in Spanish; no English translation yet.)
- Sonenscher, Michael (2022). Capitalism: The Story behind the Word. Princeton: Princeton University Press. ISBN 978-0-691-23720-6.
- Tarnoff, Ben, "Better, Faster, Stronger" (review of John Tinnell, The Philosopher of Palo Alto: Mark Weisner, Xerox PARC, and the Original Internet of Things, University of Chicago Press, 347 pp.; and Malcolm Harris, Palo Alto: A History of California, Capitalism, and the World, Little, Brown, 708 pp.), The New York Review of Books, vol. LXX, no. 14 (21 September 2023), pp. 38–40. "[Palo Alto is] a place where the [United States'] contradictions are sharpened to their finest points, above all the defining and enduring contradictions between democratic principle and antidemocratic practice. There is nothing as American as celebrating equality while subverting it. Or as Californian." (p. 40.)
- Wallerstein, Immanuel (1983). Historical Capitalism. Verso Books. ISBN 978-0-86091-761-8.
- Wolff, Richard D. (2012). Democracy at Work: A Cure for Capitalism. Haymarket Books. ISBN 978-1-60846-247-6.
- Wolf, Martin (2023). The Crisis of Democratic Capitalism. Random House. ISBN 978-0-241-30342-9.
Pranala luar
- Capitalism di In Our Time di BBC. (listen now)
- Capitalism at Encyclopædia Britannica Online.
- Selected Titles on Capitalism and Its Discontents Diarsipkan 23 January 2018 di Wayback Machine.. Harvard University Press.
| Sumber pustaka mengenai Capitalism |
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |