Ia dikenal atas "Doktrin Kirkpatrick" yang menganjurkan dukungan terhadap rezim-rezim otoriter di seluruh dunia jika mereka sejalan dengan tujuan Washington. Ia menulis, "pemerintahan otoriter tradisional tidak terlalu represif dibandingkan otokrasi revolusioner."[2] Pada Perang Falkland, Kirkpatrick berseberangan dengan Reagan karena ia menempatkan rasa simpati terhadap pihak junta Argentina sementara Reagan mendukung sisi lain yakni Perdana Menteri Britania RayaMargaret Thatcher.
Kirkpatrick bertugas dalam kabinet Reagan di Dewan Keamanan Nasional, Dewan Penasihat Intelijen Luar Negeri, dan Dewan Tinjauan Kebijakan Pertahanan, serta memimpin Komisi Menteri Pertahanan mengenai Fail-Safe dan Pengurangan Risiko Sistem Komando dan Kendali Nuklir.[3] Ia menulis kolom surat kabar bersindikasi setelah meninggalkan dinas pemerintahan pada tahun 1985, dengan spesialisasi analisis mengenai kegiatan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Kabinet
Kirkpatrick (tengah) dengan anggota Kabinet Reagan, 1981
Saat pertama kali bertemu Ronald Reagan, ia berkata kepada Richard V. Allen: "Dengar, saya adalah seorang Demokrat ALF-CIO dan saya khawatir bahwa persoalan saya bertemu Ronald Reagan mengenai apapun bisa disalahpahami."[4] Ia bertanya kepada Reagan apakah ia tidak keberatan memiliki seorang Demokrat di jajarannya; Reagan menjawab bahwa ia sendiri mendukung Demokrat sampai menginjak umur 51 tahun, dan di situasi apapun, ia menyatakan ketertarikan dengan pandangan Kirkpatrick mengenai kebijakan luar negeri.[5]
Kirkpatrick adalah pendukung vokal atas dukungan AS terhadap rezim militer di El Salvador pada masa-masa awal pemerintahan Reagan. Ketika empat perempuan anggota organisasi keagamaan asal AS dibunuh oleh tentara El Salvador pada tahun 1980, Kirkpatrick menyatakan keyakinannya yang "tegas dan tak tergoyahkan" bahwa militer El Salvador tidak bertanggung jawab atas peristiwa tersebut, seraya menambahkan bahwa "para biarawati itu bukan sekadar biarawati. Mereka adalah aktivis politik. Kita seharusnya bersikap sedikit lebih jelas mengenai hal ini daripada yang kita lakukan saat ini."[6] Setelah dokumen-dokumen yang sebelumnya dirahasiakan dibuka untuk publik pada tahun 1990-an, anggota Kongres dari New Jersey, Robert Torricelli, menyatakan bahwa "kini jelas bahwa sementara Pemerintahan Reagan menyatakan adanya kemajuan hak asasi manusia di El Salvador, mereka mengetahui kenyataan mengerikan bahwa militer El Salvador sedang melakukan kampanye teror dan penyiksaan secara luas."[7]
Ia merupakan salah satu pendukung kuat terhadap junta militer Argentina setelah invasi Argentina terhadap Kepulauan Falkland milik Britania Raya pada 1982 yang memicu Perang Falkland. Ia memiliki "titik lemah" terhadap diktator Argentina Leopoldo Galtieri[1] dan menyarankan netralitas ketimbang saran Sekretaris Luar Negeri Amerika SerikatAlexander Haig yang menganjurkan kebijakan pro-Inggris.[5] Kirkpatrick—yang menurut Duta Besar Inggris untuk PBB, Sir Anthony Parsons, sangat terlibat dalam kebijakan Amerika Latin—bahkan sampai mendukung kediktatoran Argentina dengan mendesak Pemerintahan Reagan untuk bertindak sesuai ketentuan Pakta Rio tahun 1947, yang menyatakan bahwa serangan terhadap satu negara di kawasan tersebut harus dianggap sebagai serangan terhadap mereka semua.[8]
"Rezim otoriter pada umumnya tidak menerapkan sistem ekonomi komando sepenuhnya. Rezim otoriter biasanya memiliki semacam sistem ekonomi tradisional yang disertai dengan adanya kepemilikan pribadi. Rezim Nazi membiarkan kepemilikan tetap berada di tangan swasta, namun negara mengambil alih kendali atas perekonomian. Kendali dipisahkan dari kepemilikan, tetapi pada hakikatnya itu adalah sistem ekonomi komando karena dikendalikan oleh negara. Ekonomi komando merupakan ciri khas negara totaliter."[9]
Menjelaskan kekecewaannya terhadap organisasi internasional, khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa, ia menyatakan:
"Saat saya mengamati perilaku negara-negara anggota PBB (termasuk negara kita sendiri), saya tidak menemukan alasan yang masuk akal untuk mengharapkan salah satu pemerintah tersebut untuk secara permanen mengesampingkan kepentingan nasional mereka sendiri demi kepentingan negara lain."
"Saya menyimpulkan bahwa adalah kesalahan mendasar untuk berpikir bahwa keselamatan, keadilan, atau kebajikan datang hanya melalui lembaga-lembaga manusia."
"Demokrasi tidak hanya membutuhkan kesetaraan tetapi juga keyakinan yang teguh pada nilai setiap orang, yang kemudian setara. Pengalaman lintas budaya mengajarkan kita bukan hanya bahwa orang memiliki kepercayaan yang berbeda, tetapi bahwa orang mencari makna dan memahami diri mereka sendiri dalam beberapa hal sebagai anggota kosmos yang diperintah oleh Tuhan."
Mengenai sosialisme, ia berkata:
"Saat saya membaca karya-karya kaum sosialis utopis, sosialis ilmiah, Sosial-Demokrat Jerman, dan sosialis revolusioner—apa pun yang bisa saya baca, baik dalam bahasa Inggris maupun Prancis—saya sampai pada kesimpulan bahwa hampir semuanya, termasuk kakek saya, berupaya mengubah sifat dasar manusia. Semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa upaya tersebut kecil kemungkinannya untuk berhasil. Oleh karena itu, saya semakin memusatkan perhatian pada filsafat politik dan kian menjauhi segala bentuk aktivisme sosialis."[10]
Dictatorships and Double Standards: Rationalism and Reason in Politics, 1982 (ISBN0-671-43836-0)
Presidential Nominating Process: Can It Be Improved, 1980 (ISBN0-8447-3397-0)
Dismantling the Parties: Reflections on Party Reform and Party Decomposition, 1978 (ISBN0-8447-3293-1)
The New Presidential Elite: Men and Women in National Politics, 1976 (ISBN0-87154-475-X)
Political Woman, 1974 (ISBN0-465-05970-8), the first major study of women in American political life. It includes interviews with 50 successful political women, representing 26 states.[11]
Referensi
12"Jeane Kirkpatrick". The Economist. December 19, 2006. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 20, 2007. Diakses tanggal August 16, 2007.
12Cornwell, Rupert (December 11, 2006). "Jeane Kirkpatrick". The Independent. London, UK. Diarsipkan dari asli tanggal October 1, 2007. Diakses tanggal August 16, 2007.
↑"Socialism: What Happened? What Now?". symposium transcript. Notesonline and the New Economy Information Service. June 27, 2002. Diarsipkan dari asli tanggal December 6, 2006. Diakses tanggal December 9, 2006.
Bashevkin, Sylvia. Women as Foreign Policy Leaders: National Security and Gender Politics in Superpower America (Oxford UP, 2018) excerpt; also online review
Byrnes, Sean T. "The United States in Opposition: The United Nations, The Third World, and Changing American Visions of Global Order, 1970–1984". (PhD Diss. Emory University, 2014) excerpt.
Collier, Peter. Political Woman: The Big Little Life of Jeane Kirkpatrick (2012).
Rowlett, Bianca Joy. Jeane Kirkpatrick and Neoconservatism: The Intellectual Evolution of a Liberal (2014)