Sumatra terkenal dengan gempa bumi yang kuat: Gempa Enggano tahun 2000 menandai awal periode aktivitas seismik yang berkelanjutan di wilayah tersebut, yang ditandai dengan gempa bumi Samudra Hindia 2004. Gempa bumi Enggano tahun 2000 terjadi di ujung tenggara segmen patahan yang pecah selama gempa bumi Sumatra 1833. Kelompok gempa bumi ini, selain gempa bumi Nias–Simeulue 2005, semuanya pecah di sepanjang megathrust yang membentuk antarmuka antara lempeng Australia dan lempeng Sunda.[6] Gempa ini adalah satu-satunya yang tidak menyebabkan tsunami yang merusak.
Gempa bumi
Gempa bumi tersebut melibatkan patahan pada dua patahan berbeda dengan mekanisme yang berbeda. Subkejadian pertama menyebabkan patahan yang membentang dari utara ke selatan di dalam lempeng Australia dengan mekanisme pergeseran lateral kiri. Patahan gempa merambat ke utara hingga mencapai megathrust, memicu subkejadian kedua di sepanjang megathrust Sunda itu sendiri. Patahan pergeseran lateral kemungkinan mewakili pergeseran pada zona patahan yang sudah ada sebelumnya, mirip dengan kemungkinan penyebab gempa bumi M 7,9 yang terjadi sekitar 1.000 km ke selatan pada tanggal 18 Juni 2000 dengan mekanisme serupa.[6]
Menurut model patahan terbatas yang dirilis oleh USGS, patahan gempa membentang lebih dari 190 km (120 mil) kali 35 km (22 mil) dari barat laut Kabupaten Seluma hingga barat daya Pulau Enggano. Zona pergeseran terbesar terjadi di selatan-barat daya hiposenter, di mana terjadi pergeseran hingga 6.154 m (20,19 kaki).[6] Zona pergeseran lain terjadi di utara-timur laut hiposenter, menghasilkan pergeseran sebesar 5.223 m (17,14 kaki). Seluruh proses patahan berlangsung hampir 40 detik dengan fase pelepasan momen seismik terbesar terjadi hampir 25 detik setelah inisiasi.
Pada tanggal 31 Desember 2000, terdapat 346 gempa susulan yang melebihi Mw4.0 yang membentang sekitar 190 km (120 mil) sepanjang arah barat laut–tenggara, dengan beberapa terjadi tepat di bawah Pulau Enggano.[6]
Dampak dan korban
Gempa ini dirasakan sangat kuat pada skala VIII MMI[7][8] di pulau Enggano. Sedangkan dirasakan VII MMI di Bengkulu, V-VI MMI di Pagaralam, Lubuk Linggau dan Palembang serta IV-V MMI di Lampung, Banten dan Jakarta.[9] Sebanyak 103 orang tewas, lebih dari 2.000 orang luka-luka dan sedikitnya 15.000 rumah rusak berat, dan 29.940 rusak ringan, gedung-gedung sekolah juga runtuh di mana 566 gedung TK, 418 SD, 81 SLTP, dan 31 SLTA di samping 13 gereja, 377 masjid, tiga pura, 35 puskesmas, 68 puskesmas pembantu dan lain-lain.
↑Abercrombie, R. E.; Antolik, M.; Ekström, G. (2003). "The June 2000 Mw 7.9 earthquakes south of Sumatra: Deformation in the India–Australia Plate". Journal of Geophysical Research. 108 (B1): ESE 6–1. Bibcode:2003JGRB..108.2018A. doi:10.1029/2001JB000674.