Pada tanggal 17 Agustus 2025, pukul 06:38 Waktu Indonesia Tengah, gempa bumi dengan magnitudo 5.8 Mw melanda Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Indonesia. Gempa berpusat 12km (7,5mi) dari Kota Poso, pada kedalaman dangkal 8 kilometer (5,0mi).[3] Sedikitnya dua orang tewas, 44 orang luka-luka, sembilan diantaranya luka serius. Gempa bumi tersebut memicu tsunami minor dengan ketinggian 4,8cm (1,9in).[4]
Kondisi tektonik
Kondisi tektonik di Sulawesi
Sulawesi terletak dalam zona interaksi kompleks antara lempeng Australia, lempeng Pasifik, lempeng Filipina, dan lempeng Sunda, tempat banyak lempeng mikro kecil terbentuk. Struktur aktif utama di daratan bagian barat Sulawesi Tengah adalah patahan geser Sesar Palu-Koro yang berarah kiri-tengah NNW–SSE yang membentuk batas antara blok Sula Utara dan Makassar, dan bertanggung jawab atas gempa bumi Palu pada tahun 2018.[5] Berdasarkan interpretasi data Global Positioning System (GPS), blok Makassar saat ini berputar berlawanan arah jarum jam, dengan batas barat lautnya menunjukkan konvergensi dengan blok Sunda di seberang Selat Makassar.[6]
Wilayah pusat gempa terjadi merupakan bagian dari sesar Tokoraru. Sesar Tokararu merupakan patahan thrust atau patahan naik yang terletak di Sulawesi Tengah.[7] Sesar Tokararu memiliki panjang sekitar 80km (50mi) dan memiliki slip rate 2mm/per tahun dengan mekanisme reverse-slip.[8]
Gempa bumi
Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) gempa bumi tersebut terjadi dengan magnitudo 6,0 Mw, berpusat 18 kilometer (11mi) arah barat laut Poso pada kedalaman 10km (6,2mi), dengan titik koordinat gempa berada di 1.30 derajat lintang selatan dan 120.62 derajat bujur timur.[9] Sementara menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa bumi tersebut terjadi dengan magnitudo 5,8 Mw, dengan episentrum terletak 12 kilometer (7,5mi) Utara Barat laut Poso dan berkedalaman 8km (5,0mi) di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.[3]
Pada tanggal 14 Juli, satu bulan sebelum gempa bumi Poso pada tanggal 17 Agustus, gempa bumi berkekuatan 5,0 skala magnitudo,[12] berpusat 80km (50mi) dari Danau Poso merusak 38 rumah,[13] dan sepuluh hari kemudian terjadi dua gempa bumi berkekuatan 5,5 skala magnitudo,[14] dan 5,6 skala magnitudo[15] yang melukai empat orang, merusak 154 bangunan dan menyebabkan pemadaman listrik dan telekomunikasi.[16]
Analisis BMKG
Berdasarkan analisis BMKG, penyebab gempa ini adalah aktivitas sesar naik (thrust fault) pada Sesar Tokoraru. Gempa yang terjadi di Poso disebabkan oleh perubahan bentuk (deformasi) pada kerak bumi di area sesar yang sedang aktif. Perubahan ini ditandai dengan terangkatnya blok batuan sebagai akibat langsung dari adanya tekanan (gaya kompresional) yang bekerja di wilayah Sulawesi Tengah.[17]
Menurut data dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), pusat guncangan gempa (episenter) berlokasi sekitar 18 kilometer di barat laut Kota Poso. Hiposenter (kedalaman pusat gempa) tergolong dangkal, yaitu kurang lebih 10 kilometer. Kedalaman dangkal ini menguatkan gambaran aktivitas tektonik yang memang sangat rumit di Sulawesi Tengah, yang merupakan zona pertemuan berbagai sistem sesar aktif. Salah satu sistem yang terlibat adalah Sesar Tokoraru, yang memiliki arah dominan dari timur laut ke barat daya.[17]
Gempa Poso ini disebabkan oleh mekanisme patahan naik (thrust fault), yang ditandai dengan adanya tekanan pada bidang patahan, menyebabkan salah satu blok batuan terangkat secara vertikal di atas blok lainnya. Kedangkalan hiposenter menjadi faktor utama yang mengakibatkan guncangan gempa di permukaan terasa intensif dan berpotensi menimbulkan kerusakan signifikan pada fasilitas umum dan struktur bangunan di area terdampak. Berdasarkan kajian BMKG, peristiwa ini juga menghasilkan gelombang tsunami minor setinggi kurang dari 5 cm yang teramati di TPI Ampana, Tojo Una-una, Sulawesi Tengah.[17]
Laporan BNPB
BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) melaporkan pada Minggu (17/8/2025) pagi pukul 05.38 WIB, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, diguncang gempa berkekuatan M 6,0. Data menunjukkan pusat gempa (episenter) berada di darat pada koordinat 1,30 LS dan 120,62 BT dengan kedalaman hanya 10 kilometer. Secara spesifik, lokasi episenter berada 18 km barat laut Poso, yang juga berdekatan dengan Sigi dan Morowali Utara. Dipastikan bahwa guncangan ini tidak berpotensi tsunami.[18]
Di Kabupaten Poso, gempa bumi terasa sangat kuat selama sekitar 15 detik, menyebabkan sebagian besar penduduk di beberapa desa di Kecamatan Poso Pesisir, seperti Masani, Tokorondo, Towu, Pinedapa, Tangkura, dan Lape, merasakan dampaknya. Akibatnya, sebagian besar warga bergegas keluar dari rumah mereka untuk mencari lokasi yang lebih aman.[18]
BPBD Poso langsung berkoordinasi dengan pemerintah daerah setelah guncangan berhenti untuk memulai pendataan. Laporan sementara mencatat 29 korban luka-luka, dengan rincian 13 orang dirujuk ke RSUD Poso dengan 2 orang kritis dan 6 orang dirawat di Puskesmas Tokorondo. Selain itu, Gereja Jemaat Elim di Desa Masani dilaporkan rusak.[18]
Di Kabupaten Sigi guncangan gempa berlangsung sedang selama kira-kira 7 detik, mendorong warga keluar rumah. BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Sigi segera melakukan pemantauan dan koordinasi, tidak ada korban jiwa atau kerusakan bangunan yang dilaporkan di wilayah tersebut.[18]
Beberapa jam pasca-gempa, BPBD Kabupaten Poso melanjutkan upaya penanganan darurat, termasuk penilaian di lapangan dan koordinasi dengan pihak terkait. Kebutuhan mendesak yang teridentifikasi adalah tenda dan obat-obatan untuk membantu warga terdampak.[18]
Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., telah memberikan instruksi agar jajarannya bergerak cepat. Kepala BNPB juga menginstruksikan Deputi Bidang Penanganan Darurat untuk memperkuat koordinasi dengan elemen-elemen di daerah, serta memerintahkan tim segera menuju lokasi guna memberikan pendampingan, pemantauan, dan menangani segala prioritas darurat.[18]
Dampak dan korban
Dua orang dilaporkan tewas, korban tewas tersebut ialah sepasang suami istri yang mengalami luka berat akibat tertimpa keruntuhan gereja.[19][20] sekitar 44 orang lainnya terluka, sembilan luka berat dan menjalani operasi di rumah sakit.[21][22]
Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Poso, total sekitar 254 rumah rusak dengan; 172 rumah rusak ringan, tiga rumah rusak sedang, 82 rumah rusak berat, dan 30 fasilitas umum berupa sekolah, Polindes, dan kantor desa.[23] Sementara, kerusakan rumah ibadah terdiri dari tiga gereja rusak berat, tiga gereja rusak ringan. Lalu ada 21 pura keluarga rusak ringan, dan satu masjid rusak ringan.[24] Satu unit gedung sekolah SDN 1 Tangkura juga mengalami kerusakan, tiga unit fasilitas ibadah rusak, meliputi Gereja Jemaat Elim Desa Masani, Gereja Gloria, GPDL Mahnaimz.[25][26] Sebuah gereja runtuh di Kota Poso, menimpa sejumlah jemaah yang sedang beribadah.[27][28][29] Kerusakan pada bangunan tersebut meliputi sembilan desa, yaitu desa yang terdampak gempa di Kecamatan Poso Pesisir yakni, Desa Masani, Desa Bega, Desa Tokorondo, Desa Towu, Desa Lape, Desa Tangkura dan Desa Patiwunga.[30]
Bantuan
Menteri Sosial Saifullah Yusuf memerintahkan untuk mengirimkan bantuan kepada para korban gempa bumi di wilayah Kabupaten Poso.[31] Menurut Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos) bantuan yang akan disalurkan berupa kasur, selimut, tenda, makanan siap saji, termasuk makanan dan kebutuhan untuk anak.[32][33] Total nilai bantuan yang dikirimkan itu adalah Rp202 juta dengan rincian 150 lembar kasur, 100 lembar selimut, 100 paket kidsware atau pakaian anak, 200 lembar tenda gulung, 20 paket family kit, 48 paket makanan anak, 230 paket makanan siap saji, dan tiga lembar tenda serbaguna.[34][35] Bantuan lain yang disalurkan untuk korban luka berat yang dirawat di RSUD sebesar Rp5 juta, paket sembako, dan santunan korban meninggal dunia sebanyak Rp15 juta. Bantuan lainnya adalah buffer stock logistik senilai Rp200,7 juta untuk mendukung kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak.[36]
↑Bergman, S.C.; Coffield, D.Q.; Talbot, J.P.; Garrard, R.A. (1996). "Tertiary Tectonic and magmatic evolution of western Sulawesi and the Makassar Strait, Indonesia: evidence for a Miocene continent-continent collision". Dalam Blundell, D.J.; Hall, R. (ed.). Tectonic Evolution of Southeast Asia. Geological Society, Special Publications. Vol.106. hlm.391–429. doi:10.1144/GSL.SP.1996.106.01.25. ISBN9781897799529. S2CID140682113.