Palung SundaKerak samudra terbentuk di punggung tengah samudra, sementara litosfer menunjam kembali ke dalam astenosfer di palung-palung seperti Palung Sunda.
Palung Sunda dan episentrum di sepanjangnya, akibat proses penunjaman di mana Lempeng India menunjam di bawah fragmen benua dari lempeng mikro timur.
Pada tahun 2005, para ilmuwan menemukan bukti bahwa aktivitas gempa bumi tahun 2004 di area Palung Jawa dapat memicu pergeseran katastrofis lebih lanjut dalam periode yang relatif singkat, mungkin kurang dari satu dekade.[3] Ancaman ini telah menghasilkan kesepakatan internasional untuk membangun sistem peringatan dini tsunami di sepanjang pesisir Samudra Hindia.[4]
Untuk sekitar separuh panjangnya, di lepas pantai Sumatra, palung ini terbagi menjadi dua lembah paralel oleh sebuah punggungan bawah laut, dan sebagian besar palung tersebut setidaknya terisi sebagian oleh sedimen. Pemetaan batas lempeng setelah gempa bumi Samudra Hindia 2004 menunjukkan kemiripan dengan kabel jembatan gantung, dengan puncak dan lembah, yang merupakan indikasi dari kekasaran permukaan dan sesar yang terkunci, alih-alih bentuk baji tradisional yang diperkirakan sebelumnya.[5]
Eksplorasi
Beberapa eksplorasi paling awal dari palung ini terjadi pada akhir tahun 1950-an ketika Robert L. Fisher, seorang ahli geologi riset di Institusi Oseanografi Scripps, menyelidiki palung tersebut sebagai bagian dari eksplorasi lapangan ilmiah berskala global terhadap dasar laut dan struktur kerak bawah laut dunia. Pendugaan gema-bom, analisis deret-gema, dan manometer adalah beberapa teknik yang digunakan untuk menentukan kedalaman palung ini. Penelitian tersebut berkontribusi pada pemahaman mengenai karakteristik penunjaman dari tepian Pasifik.[6] Berbagai lembaga telah mengeksplorasi palung ini setelah gempa bumi tahun 2004, dan eksplorasi-eksplorasi tersebut telah mengungkap perubahan ekstensif di dasar laut.[7]
Penyelaman berawak
Kapal Pendukung Kapal Selam Dalam DSSV Pressure Drop dan DSV Limiting Factor di bagian buritannya
Pada tanggal 5 April 2019 Victor Vescovo melakukan penyelaman berawak pertama ke titik terdalam palung tersebut menggunakan Kendaraan Selam Dalam Limiting Factor (sebuah kapal selam model Triton 36000/2) dan mengukur kedalaman 7.192m (23.596ft) ±13m (43ft) melalui pengukuran tekanan CTD langsung di 11°7'44" LS, 114°56'30" BT,[8][9] sekitar 500km ([convert: unit tak dikenal]) di sebelah selatan Bali. Area operasi tersebut disurvei oleh kapal pendukung, Kapal Pendukung Kapal Selam Dalam DSSV Pressure Drop, dengan sistem perum gema multibeam Kongsberg SIMRAD EM124. Data yang dikumpulkan disumbangkan kepada inisiatif Seabed 2030 GEBCO.[10][11] Penyelaman ini merupakan bagian dari Ekspedisi Five Deeps. Tujuan dari ekspedisi ini adalah untuk memetakan secara menyeluruh dan mengunjungi titik-titik terdalam dari kelima samudra di dunia pada akhir September 2019.[12]
Untuk menyelesaikan perdebatan mengenai titik terdalam di Samudra Hindia, Zona rekahan Diamantina disurvei oleh Ekspedisi Five Deeps pada bulan Maret 2019, mencatat kedalaman air maksimum 7.019m (23.028ft) ±17m (56ft) di 33°37'52" LS, 101°21'14" BT untuk Kedalaman Dordrecht.[8] Hal ini mengonfirmasi bahwa Palung Sunda memang lebih dalam daripada lokasi terdalam di Zona Rekahan Diamantina.[13]
Referensi
↑Palung Sunda (4°30' LS 11°10' LS 100°00' BT 119°00' BT Diakreditasi oleh: SCGN (Apr. 1987) Palung ini diteliti secara cukup rinci pada tahun 1920-an–1930-an oleh ahli geodesi Belanda F.A. Vening Meinesz, yang melakukan pengukuran gravitasi pendulum klasik di sebuah kapal selam Belanda. Ditampilkan sebagai Palung Jawa di ACUF (Advisory Committee on Undersea Features Gazetteer). lihat juga: http://www.gebco.net/
Špičák, A., V. Hanuš, and J. Vaněk (2007), Earthquake occurrence along the Java trench in front of the onset of the Wadati–Benioff zone: Beginning of a new subduction cycle?, Tectonics, 26, TC1005