Kota Lubuk Linggau dikenal dengan sebutan "Kota Durian" karena menajadi kota penghasil durian setiap musim durian tiba dan "Kota Transit Menuju Kota Metropolis" karena berada persis di persimpangan Jalan Lintas Tengah Sumatera antara Provinsi Jambi, Lampung dan Bengkulu.[butuh rujukan]
Pada masa Agresi Belanda II, 1947–1949, kota Lubuk Linggau merupakan pusat komando tentara Indonesia yang tertinggi di Sumatera Bagian Selatan.[butuh rujukan]
Geografi
Luas wilayah kota Lubuk Linggau berdasarkan Undang-Undang No 7 Tahun 2001 seluas 401,50 km atau 40.150 ha yang meliputi 8 wilayah kecamatan dan 72 kelurahan. Kota Lubuk Linggau adalah suatu kota setingkat kabupaten paling barat di wilayah Sumatera Selatan yang terletak pada posisi antara 102 º 40' 0” - 103 º 0' 0” BT dan 3 º 4' 10” - 3 º 22' 30” LS dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu.[butuh rujukan]
Pada 1929, status Lubuk Linggau adalah sebagai Ibu Kota Marga Sindang Kelingi Ilir, di bawah Onder District Musi Ulu yang beribu kota di Muara Beliti. Pada 1933, ibu kota Onder District Musi Ulu dipindah dari Muara Beliti ke Lubuk Linggau. Pada 1942–1945, Lubuk Linggau menjadi Ibu kota Kewedanan Musi Ulu dan dilanjutkan setelah kemerdekaan.[butuh rujukan]
Pada waktu Clash I tahun 1947, Lubuk Linggau dijadikan Ibu kota Pemerintahan Provinsi Sumatra Bagian Selatan. Tahun 1948, Lubuk Linggau menjadi Ibu kota Kabupaten Musi Ulu Rawas dan tetap sebagai Ibu kota Keresidenan Palembang.[butuh rujukan]
Pada 1956, Lubuk Linggau menjadi Ibu kota Daerah Swatantra Tingkat II Musi Rawas. Tahun 1981 dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 tanggal 30 Oktober 1981 Lubuk Linggau ditetapkan statusnya sebagai Kota Administratif. Tahun 2001 dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2001 tanggal 21 Juni 2001 Lubuk Linggau statusnya ditingkatkan menjadi Kota. Pada 17 Oktober 2001 Kota Lubuk Linggau diresmikan menjadi Daerah Otonom.[butuh rujukan]
Pembangunan Kota Lubuk Linggau telah berjalan dengan pesat seiring dengan segala permasalahan yang dihadapinya dan menuntut ditetapkannya langkah-langkah yang dapat mengantisipasi perkembangan Kota, sekaligus memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Untuk itu diperlukan Manajemen Strategis yang diharapkan dapat mengelola dan mengembangkan Kota Lubuk Linggau sebagai kota transit ke arah yang lebih maju menuju Kota Metropolitan.[5]
Lubuk Linggau terletak di jalan raya antara Palembang dan Bengkulu. Terdapat sejumlah transportasi umum di Lubuk Linggau, seperti angkutan kota, becak, dan ojek.
Kota Lubuk Linggau memiliki beberapa pasar, seperti Pasar Satelit Bukit Sulap dan Pasar Muara. Kota Lubuk Linggau juga memiliki tempat perbelanjaan modern, yaitu:
Beberapa minimarket pun sudah tersdia di Kota Lubuk Linggau, termasuk Alfamart, Indomaret, dan SM Mart.
Pariwisata
Pada 2013, Pemerintah Kota Lubuk Linggau membuat program "VISIT LINGGAU 2015" dalam rangka meningkatkan kepariwisataan Kota Lubuk Linggau.[7] Beberapa tempat wisata yang ada di Kota Lubuk Linggau:{{
Bukit Sulap, yang letaknya sekitar 2 Km dari pusat kota diresmikan oleh Gubernur Sumatera SelatanAlex Noerdin pada tahun 2014. Tempat wisata ini sudah dilengkapi toko-toko dan warung-warung. Bukit Sulap akan dilengkapi oleh inclinator yang akan selesai pada tahun 2016. dari atas bukit bisa melihat langsung kota lubuk linggau dan bukit yang mengelilinginya
Air terjun Temam atau disebut juga "Niagara Lubuk Linggau", yang letaknya sekitar 8 km sudah dilengkapi toko dan warung. Pada malam hari, Air terjun Temam terlihat lebih bagus karena dilengkapi dengan lampu sorot.
Masjid Agung As Salam, merupakan masjid terbesar di Kota Lubuk Linggau. Letak masjid ini Masjid ini sedang direnovasi oleh pemerintah sejak tahun 2013 dalam menyambut Visit Linggau 2015. Masjid ini dilengkapi dengan Taman Kurma (eks Lapangan Merdeka) yang pohon kurmanya didatangkan langsung dari Arab. Masjid ini dilengkapi juga dengan air mancur menari-nari yang akan menari setiap adzan, serta nantinya dilengkapi juga menara kapsul.
Masjid Agung Darussalam Musi Rawas
Museum Subkoss Garuda,[8] terletak di seberang jalan yang menghadap Masjid Agung As-Salam.[9] Museum ini berisi peninggalan-peninggalan bersejarah yang digunakan selama perjuangan kemerdekaan di wilayah Sumatera Selatan.[10]
↑Kota Lubuklinggau. "Museum Perjuangan Subkoss". Giwang Sumsel. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan. Diakses tanggal 4 Juni 2025.
Pranala luar
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Lubuklinggau.
Wikisumber memiliki naskah asli yang berkaitan dengan artikel ini: