300+ ≥3.0 Mw[1] Mw4.9 pada 13 Oktober 2025 (terkuat)
Korban
6 terluka
Pada tanggal 30 September 2025, pukul 23:49:49 WIB (16:49:42 UTC), gempa bumi dengan magnitudo 6,0 (Mw) melanda Kabupaten Sumenep di Jawa Timur.[2]Pusat gempa berada di dasar laut dekat Pulau Sapudi. Gempa bumi terasa hampir sebagian besar di wilayah Jawa Timur, Bali, dan Lombok, dengan guncangan gempa terkuat berada di Pulau Sapudi.
Kondisi tektonik
Pulau Jawa berada di dekat batas konvergen aktif yang memisahkan Lempeng Sunda di sebelah utara dan Lempeng Australia di sebelah selatan. Di perbatasan ini, yang ditandai dengan Palung Sunda dan Lempeng Australia yang bergerak ke arah utara men-subduksi di bawah Lempeng Sunda. Zona subduksi mampu menghasilkan gempa bumi Megathrust hingga bermagnitudo 8,7, sementara Lempeng Australia juga dapat menghasilkan gempa bumi dalam dari litosfer ke bawah (gempa bumi intralempeng) di lepas pantai Pulau Jawa. Zona subduksi ini menghasilkan dua gempa bumi dan tsunami yang merusak pada tahun 2006 dan 1994.
Wilayah Sumenep khususnya, memiliki sejarah panjang gempa bumi merusak. Sejarah mencatat setidaknya tujuh gempa bumi merusak pernah terjadi di wilayah ini. Antara lain gempa bumi tahun 1863, gempa bumi Sumenep-Sapudi 1891, serta gempa bumi tahun 1904. Dalam catatan modern, gempa bumi magnitudo 6,0 pada 11 Oktober 2018 menewaskan tiga orang, melukai 34 lainnya, dan merusak 210 rumah.[3]
Gempa bumi
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa gempa bumi tersebut berkekuatan magnitudo 6,5 Mw namun kemudian direvisi menjadi magnitudo 6,0.[4] Episentrum gempa berada di dasar laut dengan titik koordinat 7,25 LS dan 114,22 BT, atau jika ditarik garis lurus berada di 50 kilometer sebelah tenggara Kabupaten Sumenep pada kedalaman 11km (6,8mi).[5] Sementara Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melaporkan magnitudo gempa sebesar 6,0 (Mw) dengan kedalaman 24,6km (15,3mi). Beberapa gempa susulan terjadi dengan magnitudo di atas Mw 3,0. Gempa susulan terkuat dengan magnitudo 4,5 Mw terjadi pada 1 Oktober, pukul 00:15 Waktu Indonesia Barat (17:15 UTC).[6]Skala Intensitas Modified Mercalli maksimum diperkirakan sebesar VI (kuat) oleh BMKG.[7]
Menurut Direktur Gempa bumi dan tsunami BMKG, Daryono, bahwa gempa tersebut termasuk dalam kategori gempa dangkal.[8] Sumber gempa tersebut berasosiasi dengan perpanjangan sesar offshore Zona Kendeng atau Madura Strait Back Arc Thrust, dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).[9]
Pada tanggal 13 Oktober, gempa susulan berkekuatan 4,9 melanda Sumenep,[10] menyebabkan satu rumah rusak parah di Kecamatan Gayam.[11]
Dampak
Sumenep
Enam orang terluka akibat terkena serpihan kaca bangunan yang rusak atau terkena puing-puing bangunan yang jatuh.[12][13] Sebanyak 435 bangunan dilaporkan rusak, dengan 100 rumah rusak parah, 10 rumah rusak sangat parah, 150 rumah rusak sedang, dan 139 rumah rusak ringan. Selain itu, 26 tempat ibadah juga terdampak, terdiri dari 13 unit rusak ringan, 9 unit rusak sedang, dan 4 unit rusak berat. Sedangkan 7 unit sarana pendidikan dilaporkan rusak: empat rusak ringan, dua sedang, satu berat. Sementara fasilitas umum yang rusak tercatat dua unit.[14][15] kerusakan tersebar di dua kecamatan, yakni Gayam, dan Nonggunong, semuanya berada di kawasan Pulau Sapudi, wilayah yang paling dekat dengan pusat gempa.[16][17] Sebanyak 10 sekolah dasar (SD) di kecamatan Gayam, dan Nonggunong mengalami kerusakan.[18] Di Desa Gendang, Kecamatan Gayam, satu rumah roboh, tiga rumah ambruk, dan satu rumah rusak sebagian, serta plafon masjid di bawah kubah runtuh.[19] Kerusakan pada bangunan di Kabupaten Sumenep meliputi empat kecamatan, yakni Kecamatan Gayam, Nonggunong, Talango, dan Saronggi.[20]
Situbondo
Di Kabupaten Situbondo, tiga bangunan mengalami kerusakan, terdiri atas dua rumah, satu mushalla, dan sekolah dasar rusak ringan hingga sedang.[21] Kerusakan tersebut berada di tiga kecamatan, yaitu kecamatan Mangaran, Panarukan dan Panji.[22]
Pada tanggal 29 September, Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo runtuh, dan menjebak puluhan santri yang berada didalamnya. Keruntuhan tersebut terjadi sekitar 200 kilometer dari pusat gempa. Peristiwa seismik ini secara signifikan menghambat operasi penyelamatan yang sedang berlangsung di pondok pesantren yang runtuh tersebut. Menurut Mohammad Syafii, Kepala Basarnas, gempa bumi telah memadatkan puing-puing, sehingga mengurangi ruang bagi korban yang terjebak. Ia mencatat bahwa celah antar puing yang awalnya selebar 50 sentimeter kini hanya 10 sentimeter, sehingga meningkatkan kesulitan akses bagi para korban selamat.[27] Gempa bumi ini juga meningkatkan kekhawatiran tentang integritas struktural bangunan yang tersisa, karena getaran dari gempa berpotensi menyebabkan keruntuhan lebih lanjut.[27]