Akuntansi Hollywood (bahasa Inggris:Hollywood accountingcode: en is deprecated ) adalah istilah untuk metode akuntansi dan alokasi biaya dalam industri film dan televisi yang dapat menyebabkan sebuah produksi dilaporkan menghasilkan sedikit atau tidak ada laba bersih menurut definisi kontrak, meskipun memperoleh pendapatan bruto yang besar. Sengketa mengenai formula laba bersih telah menjadi subjek litigasi dan kajian hukum, salah satunya dalam perkara Buchwald v. Paramount Pictures.[1] Praktik ini terutama menjadi kontroversial ketika kompensasi penulis, aktor, produser, atau pemegang hak dihitung sebagai persentase "laba bersih".
Istilah tersebut tidak merujuk pada satu standar akuntansi tertentu. Sengketa biasanya timbul dari definisi kontraktual mengenai pendapatan, biaya distribusi, beban overhead, bunga, dan biaya antarentitas.
Mekanisme
Studio film besar sering menggunakan entitas khusus untuk memproduksi dan mendistribusikan film. Dalam perhitungan laba kontraktual, pendapatan dapat dikurangi oleh berbagai biaya, antara lain:
biaya produksi;
biaya pemasaran;
biaya distribusi;
biaya overhead studio;
bunga atau biaya pembiayaan;
biaya penggunaan fasilitas atau jasa perusahaan terafiliasi; dan
persentase tertentu dari pendapatan sebagai biaya distribusi internal.
Apabila biaya tersebut dihitung berdasarkan rumus kontrak yang sangat menguntungkan studio, "laba bersih" yang menjadi dasar partisipasi dapat tetap nol walaupun film sukses secara komersial.
Partisipasi bruto dan bersih
Pihak dengan daya tawar besar dapat menegosiasikan partisipasi bruto (gross participation) atau bentuk "adjusted gross", yaitu bagian dari pendapatan sebelum banyak biaya dikurangkan. Pihak dengan posisi tawar lebih lemah sering hanya memperoleh partisipasi laba bersih.
Karena definisi "net profit" dalam kontrak hiburan dapat sangat berbeda dari laba akuntansi biasa, persentase laba bersih yang tinggi belum tentu lebih bernilai daripada persentase pendapatan bruto yang kecil.
Contoh sengketa
Sejumlah perkara terkenal berkaitan dengan perhitungan laba film.
Coming to America
Penulis Art Buchwald menggugat Paramount atas film Coming to America. Dalam tahap ganti rugi perkara tersebut, pengadilan tingkat pertama menilai ketentuan tertentu dalam formula laba bersih Paramount bersifat unconscionable; perkara tersebut kemudian menjadi referensi penting dalam diskusi mengenai kontrak partisipasi laba film.[1][2] Sengketa tersebut menjadi salah satu contoh paling terkenal dalam pembahasan akuntansi Hollywood.
Forrest Gump
Penulis Winston Groom, yang novelnya menjadi dasar Forrest Gump, mempertanyakan perhitungan laba film setelah Paramount menyatakan film tersebut masih belum menghasilkan laba bersih menurut formula kontraknya; Groom memiliki hak 3 persen atas laba bersih berdasarkan perjanjiannya.[3] Walaupun film tersebut menghasilkan pendapatan box office yang besar, formula kontraktual menghasilkan laba bersih yang jauh lebih kecil atau tidak ada untuk tujuan tertentu.
Harry Potter and the Order of the Phoenix
Sebuah laporan laba yang bocor pada 2010 menunjukkan bahwa Harry Potter and the Order of the Phoenix masih mencatat defisit sekitar US$167 juta menurut formula laba bersih Warner Bros. walaupun pendapatan box office globalnya sekitar US$938 juta.[4][5] Dokumen tersebut sering dikutip sebagai ilustrasi cara biaya distribusi, bunga, dan overhead dapat memengaruhi laba kontraktual.
Kajian hukum dan ekonomi
Ekonom hukum Victor P. Goldberg menelaah mengapa klausul net profits tetap bertahan di industri film meskipun sering dikritik karena film sukses dapat tidak menghasilkan laba bersih kontraktual. Ia menekankan bahwa struktur kontrak, termasuk keberadaan peserta berbasis pendapatan bruto, memengaruhi pembagian nilai ekonomi suatu film.[6]
Televisi
Perselisihan serupa terjadi dalam produksi televisi. Produser dan peserta laba dapat menuduh studio atau jaringan membebankan biaya lisensi atau biaya internal yang terlalu rendah atau terlalu tinggi antara entitas terafiliasi.
Perkara mengenai serial seperti Bones dan The Walking Dead menunjukkan bagaimana transaksi antarperusahaan dan definisi keuntungan dalam kontrak dapat menghasilkan sengketa besar.
Perbedaan dengan laba GAAP
"Laba bersih" dalam kontrak partisipasi film adalah istilah kontraktual dan tidak harus sama dengan laba bersih yang dihitung menurut standar akuntansi untuk laporan keuangan perusahaan. Karena itu, perselisihan sering berfokus pada formula kontrak, biaya distribusi, overhead, dan transaksi antarentitas, bukan hanya kepatuhan terhadap GAAP.[7]
Kritik
Kritikus menilai akuntansi Hollywood dapat membuat partisipasi laba bersih tidak transparan dan memberi studio insentif untuk memindahkan pendapatan atau biaya antara entitas yang dikendalikannya. Studio berpendapat bahwa pemasaran, distribusi, pembiayaan, kegagalan produksi lain, serta risiko investasi memang menghasilkan biaya nyata yang harus diperhitungkan.
Karena banyak perselisihan bergantung pada bahasa kontrak, penyelesaiannya dapat berlangsung melalui audit kontraktual, arbitrase, negosiasi, atau litigasi.
12Marcus, Andrew J. (1991). "Buchwald v. Paramount Pictures Corp. and the Future of Net Profit Participation in the Motion Picture Industry". Cardozo Arts & Entertainment Law Journal. 9.