Abu Qatadah turut serta dalam semua pertempuran bersama NabiMuhammad setelah Perang Badar. Muhammad berkata tentangnya,"Sebaik-baik pasukan berkuda kita hari ini adalah Abu Qatadah."[1] Gelar itu ia peroleh saat operasi Ghazwatul Ghabab (Pertempuran Hutan) setelah Perjanjian Hudaibiyah. Dalam operasi itu ia membunuh Abdurrahman bin Uyainah dan Muhriz. Ia ikut membunuh Sallam bin Abil Huqaiq, tokoh Yahudi yang terlibat dalam menggalang Pertempuran Khandaq mengepung muslimin. Abu Qatadah pergi ke Hadhra' yang terletak di Nejd pada tahun 8 H. Ia pergi bersama lima belas orang laki-laki. Lalu mereka berhasil mendapatkan harta rampasan berupa 200 ekor unta dan 2.000 kambing serta menyandera tawanan.[1]
Ia kemudian ikut serta dalam penaklukan Islam di Persia di masa Umar bin Khattab, berhasil membunuh pemimpin Persia dan dihadiahkan ikat pinggang mahal senilai 15.000 dinar.[1] Di masa Marwan bin al-Hakam menjadi walikota di Madinah, ia mengirim utusan kepada Abu Qatadah lalu memintanya untuk memperlihatkan kepadanya sejumlah sikap teladan Muhammad dan para Sahabat. Lalu ia berangkat bersama Marwan hingga memenuhi keperluannya.
Ia meninggal di Madinah pada tahun 54 H masa kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan dalam usia 70 tahun dengan tetap tampak awet muda dimana ia pernah didoakan Muhammad,"Ya Allah, berkahilah ia pada rambut dan kulitnya".[2][1]
Referensi
1234Al-Mishri, Mahmud (2010). Sahabat-sahabat Rasulullah Jilid 4. Jakarta : Pustaka Ibnu Katsir. ISBN 9789797194386