Abbad dikenal dalam peristiwa ketika solat ia dipanah musuh saat sedang berjaga dalam perjalan bersama Muhammad paska Pertempuran Dzatur Riqa. Ia ditugaskan berjaga malam bersama Ammar bin Yasir, saat giliran berjaga, ia mengerjakan solat, lalu dipanah musuh hingga tiga kali, setelah solat barulah ia membangunkan Ammar untuk menghadapi musuh.[4]
Nabi Muhammad menugaskan Abbad sejumlah tugas. Abbad termasuk di antara detasemen yang membunuh Ka'ab bin al-Asyraf setelah Perang Badar, disebabkan Kaab merencanakan untuk membunuh Muhammad.[5] Nabi juga mengutusnya untuk mengumpulkan sedekah dari Bani Muzainah, Bani Sulaim, dan Bani Mushthaliq, salah satu bagian dari kabilah Khuza'ah.[1] Dalam Pertempuran Wadil Qura setelah Khaibar, Nabi menyiapkan para sahabat untuk berperang dan membariskan mereka. Satu bendera diserahkan kepada Sa'ad bin Ubadah, satu bendera lagi diserahkan kepada Al-Hubab binAl-Mundzir dan satu bendera lagi diserahkankepada kepada Abbad bin Bisyr.[6]
Setelah Fathu Mekah, Nabi Muhammad juga menjadikannya sebagai pembagi ghanimah (harta rampasan perang) padaPertempuran Hunain.[1] Pada tahun 9 H, ia ditugaskan mengurus sedekah dari Bani Sulaim dan Muzainah.[6] Nabi juga menjadikannya sebagai komandan pengawalnya dalam Pertempuran Tabuk.[3] Ketika Muhammad mendengar bacaan Abbad di dalam masjid, ia mendoakannya,"Ya Allah sayangilah Abbad."[7]
Kematian
Peta Lokasi Yamamah.
Setelah Nabi wafat, Abbad berpartisipasi dalam Perang Riddah pada masa Khalifah Abu Bakar, dan dia terbunuh dalam Pertempuran Yamamah pimpinan Khalid bin Walid melawan Musailamah pada tahun 12 H, serta dia berusia 45 tahun.[3] Sehari sebelumnya ia bermimpi melihat langit terbuka untuknya dan ia ceritakan pada kawannya Abu Said al-Khudri.[4] Saat pertempuran Abbad memberi semangat pada para sahabat,"Wahai kaum Anshar, berpencarlah kalian dari pasukan! Patahkanlah sarung pedang kalian! Dan janganlah kalian meninggalkan Islam yang datang dari arahmu!", sehingga mereka bersama-sama merangsek pasukan Musailamah, setelah banyak luka di tubuhnya ia pun roboh di dekat gerbang benteng. Jasadnya nyaris tidak dikenali karena penuh luka.[7]
Abbad bin Bisyr memiliki riwayat dari satu hadits Nabi yang diriwayatkan atas Abdurrahman bin Tsabit bin ash-Shamit al-Anshari,[3] dan Abu Dawud meriwayatkannya tentang keutamaan kaum Anshar.[8]
Az-Zarkali, Khairuddin bin Mahmud bin Muhammad (2002). Al-A’lām (dalam bahasa bahasa Arab). Vol.Jilid 3. Beirut: Dar el-Ilm Lilmalayin. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-08-09. Diakses tanggal 2017-08-03. ; Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)