Soedarno Nadi, yang lebih dikenal sebagai Kiai Haji Samanhudi (8 Oktober 1868 – 28 Desember 1956), adalah pendiri Sarekat Dagang Islam, sebuah organisasi di Indonesia yang semula berfungsi sebagai perkumpulan para pedagang batik di Surakarta, dan kemudian memperluas cakupannya ke isu-isu politik nasionalis.[1]
Lahir di Laweyan, Solo, ia menempuh pendidikan hingga tingkat SR (Sekolah Rakyat) yang setara dengan sekolah menengah atas, namun ia tidak lulus. Ia kemudian belajar agama Islam di Surabaya. Pada saat yang sama, ia mulai berdagang batik.
Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam pada tahun 1911. Organisasi ini beranggotakan para pengusaha batik di Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan tujuan memperkuat pangsa pasar mereka dalam menghadapi persaingan dari pihak Tionghoa. Para anggota organisasi ini disatukan oleh agama yang sama, yaitu Islam, meskipun agama tersebut dipengaruhi oleh berbagai unsur mistisisme dan tradisi lokal. Samanhudi tetap menjabat sebagai ketua hingga tahun 1914, dua tahun setelah Tjokroaminoto mengubah organisasi perdagangan tersebut menjadi organisasi politik.
Sejak tahun 1920, Samanhudi tidak lagi aktif di partai. Kondisi kesehatannya menurun, namun minatnya terhadap gerakan-gerakan kebangsaan tidak pernah surut. Ia menarik diri dari sorotan publik, hingga setelah kemerdekaan Indonesia, ketika ia kembali aktif. Dalam rangka mempertahankan Republik Indonesia dari agresi militer Belanda, bekas penjajah, Samanhudi membentuk Cabang Solo dari Barisan Pemberontak Indonesia dan Cabang Persatuan Pancasila. Ketika Belanda melancarkan agresi kedua, ia membentuk pasukan bernama Gerakan Kesatuan Alap-alap, yang bertugas menyediakan pasokan logistik bagi pasukan-pasukan yang bertempur di garis depan. Banyak jasa yang ia berikan selama Revolusi Nasional Indonesia berlangsung.