Kehidupan awal
Rondahaim Saragih Garingging lahir pada tahun 1828 di Juma Simandei, Sinondang, Pamatang Raya, ibu kota Partuanan Raya. Ayahnya, Tuan Jinmahadim Saragih Garingging gelar Tuan Huta Dolog, adalah penguasa Partuanan Raya. Ibunya, Puang Ramonta boru Purba Dasuha, adalah putri dari Guru Raya. Oleh karena Puang Ramonta hanyalah selir dari Tuan Jimmahadim, kehidupan Rondahaim dan ibunya serba kekurangan. Pada masa kecilnya, Rondahaim telah diperkenalkan oleh keempat pamannya, yakni Guru Murjama, Guru Onding, Guru Nuan, dan Guru Juhang, kepada Raja Padang Tengku Muhammad Nurdin. Rondahaim belajar bahasa Melayu dan ilmu pemerintahan selama tinggal di Kerajaan Padang. Pada tahun 1840, saat Rondahaim berusia 12 tahun, ayahnya meninggal dunia. Kekuasaan ayahnya kemudian digantikan oleh pamannya, Tuan Murmahata Saragih Garingging gelar Tuan Sinondang, sebagai pemangku raja. Tuan Murmahata juga menikahi ibu Rondahaim.
Perjuangan melawan Belanda
Selama berkuasa, Tuan Rondahaim aktif memperluas wilayah kekuasaannya sekaligus menentang aneksasi oleh Pemerintah Kolonial Belanda di daerah Sumatera Timur. Tuan Rondahaim mempersatukan raja-raja di Simalungun untuk melawan Pemerintah Kolonial yang saat itu melakukan ekspansi perkebunan.
Pada tahun 1860-an, Belanda sedang melakukan ekspansi perkebunan di daerah Sumatera Timur dengan membuka hutan belantara lalu mengubahnya menjadi perkebunan tembakau, karet, kakao, kopi, dan lain sebagainya. Seiring ekspansi perkebunan ini, intervensi birokrasi kekuasaan kolonial pun semakin meningkat di daerah Sumatera Timur. Belanda melakukan tekanan politik kepada kekuasaan-kekuasaan tradisional. Bahkan, apabila ingin melakukan sirkulasi kekuasaan politik, para raja lokal harus mendapat persetujuan Belanda, baik melalui residen maupun asisten residen. Raja-raja di Sumatera Timur pun menjadi bagian dalam birokrasi kolonial. Perusahaan perkebunan Belanda memberikan semacam konsesi yang dibayar kepada kekuasaan lokal. Bayaran itu menjadi sumber pendapatan para raja lokal.[7]
Di tengah ekspansi ini, Tuan Rondahaim dengan tegas menolak tunduk pada Belanda. Ia justru mempersatukan raja-raja lokal dan panglima perang di Simalungun yang waktu itu terpecah-pecah menjadi bagian kecil. Raja-raja yang berhasil dipersatukan antara lain Raja Siantar, Bandar, Sidamanik, Tanah Jawa, Pane, Raya, Purba, Silimakuta, dan Dolok Silau.[7]
Saat itu, Tuan Rondahaim bergelar Raja Goraha, semacam panglima perang kerajaan. Pada tahun 1880-an, Tuan Rondahaim mengadakan pertemuan dengan para raja Simalungun untuk memikirkan ancaman Hindia Belanda yang hendak menguasai Simalungun. Para raja di Simalungun lalu bersepakat untuk menentang Belanda.
Tuan Rondahaim lalu menggalang kekuatan rakyat yang siap bertempur, sekaligus menjaling jejaring politik di Semenanjung Melayu. Ia juga membangun koneksi dengan pialang senjata modern di Penang. Senjata modern dibarter dengan lada, komoditas laris dari pantai timur Sumatera.[7]
Tuan Rondahaim membentuk pasukan tempur dengan dipimpin Panglima Besar Torangin Damanik yang berasal dari Kerajaan Sidamanik. Setelah berhasil melakukan konsolidasi kekuatan, Tuan Rondahaim menyusun strategi perang. Pasukannya mulai menyerang markas-markas Belanda pada waktu-waktu tertentu. Dengan gerilya malam, pasukan Tuan Rondahaim muncul tiba-tiba di hadapan pasukan Belanda. Pasukannya juga melancarkan Perang Raya pada 1887, dengan membakar dan memusnahkan gudang-gudang perkebunan Belanda. Pertempurannya melawan upaya aneksasi Belanda terhadap wilayah kekuasaannya, antara lain terjadi pada 21 Oktober 1887 di Dolok Merawan dan 12 Oktober 1889 di Bandar Padang. Tuan Rondahaim sangat ditakuti Belanda hingga mendapat julukan "Napoleon der Bataks," yang berarti Napoleon-nya orang-orang Batak.
Suatu ketika, Belanda mengajak Tuan Rondahaim untuk berunding di Pelabuhan Matapao. Tuan Rondahaim mencurigai ajakan tersebut. Lalu, ia mengumpulkan pasukannya dan memilih orang yang paling mirip dengannya. Orang itu juga dipakaikan baju raja.
Sesaat sebelum sampai di tempat perundingan, orang yang menyamar menjadi Tuan Rondahaim itu ditembak mati oleh tentara Belanda.[7]
Akhir hidup
Pada tahun 1887, pasukan kolonial Belanda berhasil memukul mundur pasukan Partuanan Raya. Sejak serangan ke Bajalinggei pada bulan Februari 1888, tidak ada lagi konflik terbuka antara pasukan kolonial Belanda dengan pasukan Tuan Rondahaim. Selain itu, Tuan Rondahaim juga menghadapi pemberontakan internal di wilayah kekuasaannya. Ada dua orang bangsawan yang menduduki beberapa kampung di wilayah kekuasannya dan melakukan kontak dengan Belanda. Kesehatan Tuan Rondahaim pun berangsur-angsur memburuk. Sekujur tubuhnya membengkak dan tidak dapat diobati oleh satu pun tabib di Raya. Pada Juli 1891, Tuan Rondahaim meninggal dunia di Rumah Bolon Raya. Menurut catatan Jaulung Wismar Saragih, kematian Tuan Rondahaim diratapi oleh semua orang di Raya.
Sampai akhir hayatnya, Tuan Rondahaim tidak pernah ditangkap dan tidak pernah menyerah pada kekuasaan Belanda. Namun, setelah Tuan Rondahaim meninggal, tidak ada lagi perlawanan besar dari Simalungun. Raja-raja lokal di Simalungun akhirnya menyatakan tunduk pada Belanda, menjadi bagian dari birokrasi kolonial dan akhirnya menerima uang konsesi dari hasil perkebunan yang digarap perusahaan Belanda.