Pengaruh konstelasi politik Eropa antara Belanda dan Inggris terhadap Inderapura
Bermula pada tahun 1623 saat terjadi peristiwa "pembantaian bangsa Inggris" di Ambon, atau dikenal dengan peristiwa Ambonsche Moord. Peristiwa ini membuat perjanjian antara Belanda dan Inggris pada tahun 1619 tentang perjanjian kerja sama dan bagi rezeki putus, hal ini membuat keadaan politik antara Inggris dan Belanda di eropa memanas dan Belanda tak henti-hentinya berusaha mengelak dari tudingan tersebut.
Pasca kejadian Ambon tersebut Inggris berupaya mencari pengaruhnya di Sumatera yang bermula berkantor di Silebar, namun Inggris harus pergi dari Silebar karena Kota ini termasuk dalam pengaruh Banten yang dikuasai Belanda. Maka Inggris pindah ke Bengkulu[21] dan menetap disana sampai tahun 1825, selama hampir satu setengah abad.
Tak lama kemudian, beberapa utusan raja Inggris datang ke Aceh dan mendapatkan hak istimewa dan mereka satu-satunya bangsa eropa yang boleh berdagang di pantai barat. Hal ini dikarenakan Inggris dapat membantu kebutuhan rakyat Aceh terutama bahan pakaian dari India. Namun, segera VOC mengusulkan pada pimpinan di Amsterdam untuk mengaktifkan kantor-kantor di India dan memperbanyak pembelian tekstil mereka dan kemudian juga mendapatkan simpati dari raja Aceh yang membuat Inggris harus meninggalkan kantornya Aceh. Pada tahun 1618 Belanda berhasil menggantikan Inggris sebagai pemegang monopoli dagang di pantai barat selama 2 tahun.
Dalam tahun 1619, VOC dan EIC (East India Company) mendapat tekanan dari negara masing-masing untuk melakukan kerja sama di Sumatera dengan l membentuk front bersama di Aceh, dengan harapan harga lada dapat ditekan, secara bersama mendapatkan konsesi dagang yang menguntungkan dan menekan segala bentuk persaingan antara Belanda dan Inggris selama 20 tahun.
Pada tahun yang sama seorang pimpinan kompeni dibunuh di Aceh, dan ini dianggap sebagai kesempatan bagi Belanda dan Inggris untuk menekan Aceh memberikan izin berdagang di pantai barat Sumatera diperpanjang. Akan tetapi Aceh yang pada waktu itu berada di puncak kejayaan setelah mendapatkan kemenangan atas Pahang dan Malaka [22] serta Kedah, Patani dan Perak berhasil diduduki oleh armada laut Aceh dan kekuasaan dipantai timur Sumatera semakin kuat. Hal ini membuat Belanda dan Inggris pada tahun 1621 terpaksa memuat kapalnya di Aceh dengan harga yang ditentukan oleh Pemerintahan Kerajaan Aceh.
Kerja sama Belanda dan Inggris pun usai pada tahun 1623 setelah terjadinya pembantaian bangsa Inggris di Ambon seperti yang dijelaskan sebelumnya terjadi. Pada tahun 1641 Belanda berhasil merebut Malaka dari tangan Postugis, tak lama setelah Sultan Iskandar Muda wafat, dan hal ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh VOC tapi hal ini tidak didukung pula oleh pemerintahan Belanda di Eropa karena perkembangan politik di sana. Pada saat VOC berhasil di Sumatera terjadi kekacauan politik di Eropa yang menyudutkan Belanda sebagai akibat dari Pembantaian Bangsa Inggris di Ambon yang membuat pers Eropa tak henti-henti menyerang Belanda dan parlemen Inggris ribut. Terjadi beberapa kali serangan terhadap Belanda atas peristiwa yang terjadi di Ambon, beberapa serangan terhadap Belanda terjadi di tahun 1652 dan tahun 1665 yang dilatar belakangi oleh dendam orang Inggris.
Sewaktu pertikaian mulai dilupakan terjadi pula pertikaian dengan Prancis, di mana Raja Louis XIV menikah dengan putri Spanyol dan dengan demikian menganggap ia berhak atas daerah Nederlanden bagian selatan. Atas peristiwa tersebut, Belanda harus mencari dukungan dari negara lain di Eropa agar kedudukan negaranya tetap terjaga, dan Belanda pun mendekati Inggris dan Swedia, dan karena persekutuan inilah Belanda harus menahan pergerakannya di daerah jajahan untuk tidak berkonfrontasi langsung dengan Inggris yang membela Belanda di Eropa.[20]
Kondisi politik di Eropa ini pula dimanfaatkan oleh Inggris untuk kembali membangun kantor-kantor dagang di wilayah Sumatera yang dikuasai oleh Belanda seperti di Inderapura, Airhaji, dan di Batangkapeh. Inggris kemudian tetap merencanakan pertahanan di tempat-tempat lain di Pantai Barat tanpa menghiraukan protes VOC, tetapi Inggris yang sudah mendapatkan surat perjanjian dengan raja-raja kecil termasuk Inderapura yaitu Raja Adil dan Raja Ibrahim, EIC menganggap ia berhak menduduki Bengkulu, Inderapura, Manjuto, Batangkapeh dan seluruh daerah Bandar X.
Kemudian atas muslihat Belanda, para pemimpin pribumi yang pro Belanda diperintahkan untuk menyerang pertahanan Inggris, akan tetapi atas perintah dari Amsterdam pengusiran bangsa Inggris di Sumatera Barat haruslah menggunakan cara yang halus tanpa perang langsung melawan Inggris. Oleh karena itu, Belanda memanfaatkan pribumi untuk menyerang dan Inggris pun juga mempergunakan Pribumi untuk mempertahankan kantor-kantor mereka. Bahkan sebelum penyerangan, Belanda membantu bangsa Inggris untuk mengungsi sebelum di serang, baru lah perang antar Belanda dan Inggris dilaksanakan dengan menggunakan pasukan orang Pribumi yang pro Belanda dan Inggris.
Perperangan tersebut dimenangkan oleh Belanda dan memaksa Inggris untuk mundur ke Bengkulu dan Inderapura. Inggris pada saat di Inderapura kembali meminta Sultan untuk menandatangani perjanjian, dan mengusir kapal-kapal Belanda yang berada disana. Akibat ulah Inggris tersebut, Belanda melapor ke Batavia dan VOC yang berada di Batavia tetap memerintahkan pimpinan di Sumatera Barat untuk tidak mencari gara-gara dengan Inggris.
Setelah itu, seorang yang menamakan dirinya kemenakan Raja Minangkabau bernama Sultan Abdul Jalil dari Saruaso sampai di Inderapura, utusan ini pun melakukan perundingan yang menghasilkan keputusan bahwa Inderapura diserahkan sepenuhnya kepada Inggris. Kemudian, setelah perundingan Sultan mengirimkan surat kepada VOC dengan persetujuan raja Minangkabau daerah Indrapura telah diserahkan kepada Inggris dan wakil VOC dipersilahkan menghubungi langsung wakil-wakil Inggris jika ingin mendapatkan keterangan lebih lanjut.
Belanda segera memberikan kabar kepada Batavia dan meminta untuk dikirimkan ekspedisi, namun pimpinan di Batavia tetap tidak ingin bermusuhan dengan Inggris. Maka datang usulan dari Batavia untuk membumi hanguskan semua pohon lada di Inderapura. Sebab tanpa Lada, VOC menganggap Inderapura tidak berarti lagi dan tidak memiliki nilai ekonomi.
Setelah itu, Inderapura dibawah Sultan Pesisir meminta bantuan dari VOC namun ditolak (atas perintah dari atas) dan hanya mengizinkan beberapa serdadu untuk ditempatkan di Airhaji, sekadar sebagai pengawal kehormatan.
Akhirnya Sultan Pesisir hanya diperbolehkan memiliki satu orang pengawal kehormatan. Kemudian, satu-satunya pengawal raja tersebut ditarik kembali ke kantor VOC di Airhaji tapi Sultan menolak, akan tetapi Sersan pimpinan kantor VOC di Airhaji marah dan dengan beberapa tentara datang menyerang Inderapura (1792). Akibat dari peristiwa tersebut 7 (tujuh) orang mati dan Sultan melarikan diri ke Muko-Muko di bawah perlindungan Inggris dan meninggal di sana pada tahun 1824.[20]
Tahun 1825, saudara perempuan Sultan Pesisir meninggalkan Bengkulu menuju Padang membawa semua anggota keluarga dan para pengikutnya. Salah seorang yang ikut adalah anak sultan terakhir bernama Marah Yahya yang berhak menggantikan Sultan Pesisir. Kemudian rombongan keluarga kerajaan Inderapura ini datang mengunjungi Residen Militer Belanda di Kota Padang bernama Ridder de Steurs. Kunjungan ini bermaksud menanyakan kemungkinan Marah Yahya diangkat menjadi Raja Inderapura.
Tanggal 6 Desember 1825 Marah Yahya diangkat menjadi Tuanku Regen Inderapura dengan nama Akhmadsyah. Akan tetapi, daerah Inderapura telah menciut, ke Selatan terhalang karena Inggris yang telah menempatkan pula Regen mereka di Muko-Muko.
Tahun 1911 regen terakhir dipensiunkan dengan hormat dan tidak diganti lagi. Kemudian di akhir masa eksisnya kerajaan Inderapura, kerajaan ini menjadi bagian tak berarti dari Balai Selasa di bawah Controleur yang berkedudukan di Balai Selasa.[20]
Akhirnya riwayat kerajaan Inderapura selesai, Kerajaan ini mati terjepit antara kepentingan-kepentingan Belanda dan Inggris yang bertentangan di Sumatera, disela itu juga terjadi intrik kepentingan antara pemimpin-pemimpin sendiri yang tidak bekerja sama, dan saling menghianati. Hasil negeri satu-satunya ialah lada, kekayaan dan kejayaan didapat dari lada dan oleh lada pula lah Inderapura jatuh, hingga saat ini.[20]