PT Gunung Harta Transport Solutions (GHTS atau Gunung Harta Solutions) adalah perusahaan otobus Indonesia yang berpusat di Kota Malang, Jawa Timur. Didirikan pada tahun 2011 sebagai sebuah perusahaan spin-off dari Gunung Harta, perusahaan ini melayani bus antarkota dan bus pariwisata. Perusahaan otobus ini dikenal sebagai salah satu perintis bus Trans-Jawa dengan menghadirkan armada premium. Meskipun terkadang dirujuk sebagai "Gunung Harta Hijau", perusahaan otobus ini secara manajerial telah lepas dari entitas induk, meski masih dianggap "satu grup".[1]
Sejarah
GHTS memiliki rekam jejak panjang yang bermula dari Gunung Harta divisi Malang. Divisi ini pertama kali dibentuk pada tahun 2001 oleh I Gede Yoyok Santoso, yang merupakan anak sulung dari pendiri Gunung Harta, I Wayan Sutika. Sutika berasal dari Kabupaten Tabanan, Bali dan telah mendirikan Gunung Harta sebagai perusahaan tunggal sejak tahun 1993. Langkah awal pembentukan divisi Malang ini menjadi fondasi penting bagi ekspansi dan operasional bus Gunung Harta di wilayah Jawa Timur, sebelum akhirnya berkembang menjadi sebuah entitas yang makin mandiri di industri transportasi darat.[2]
Seiring dengan pertumbuhan pasar dan kebutuhan pengelolaan operasional yang lebih spesifik, divisi Malang ini mengalami transformasi bisnis yang signifikan. Pada tanggal 9 Desember 2011, divisi ini secara resmi memisahkan diri dan berkembang menjadi perusahaan yang secara struktural telah terpisah, tetapi masih menggunakan nama Gunung Harta di unit-unit busnya.[butuh rujukan] Pada masa-masa awal berdiri sebagai entitas mandiri, perusahaan ini memfokuskan lini usahanya pada penyediaan layanan armada bus pariwisata untuk memenuhi kebutuhan perjalanan wisata di berbagai daerah.[2]
Unit bus Gunung Harta Solutions yang menggunakan sasis tronton Volvo B11R 430 hp dan dirakit menggunakan karoseri AdiPutro Jetbus3+ UHD
Memasuki tahun 2016, GHTS, yang kala itu tampil dengan jenama Gunung Harta (Solutions), mengambil langkah strategis dengan memperluas jangkauan bisnisnya ke sektor angkutan bus antarkota antarprovinsi (AKAP). Perusahaan mulai membuka berbagai rute reguler komersial dengan fokus utama menghubungkan pusat-pusat ekonomi utama, seperti DKI Jakarta dan Kota Bandung di Jawa Barat, menuju kota-kota strategis di Jawa Timur, serta menghubungkan Jawa Timur langsung ke Bali. Ekspansi ini menandai era baru bagi GHTS sebagai salah satu pemain utama lini bus AKAP di Indonesia.[2]
Upaya peningkatan kualitas layanan dan keselamatan penumpang terus berlanjut hingga tahun 2023, ketika GHTS mengumumkan kemitraan strategis dengan PT Teknologi Karya Digital Nusa Tbk. (TKDN). Melalui kerja sama ini, GHTS mengadopsi sistem kamera pengawas canggih berteknologi kecerdasan buatan (AI) yang dilengkapi perangkat Advanced Driver Assistance Systems (ADAS) serta Driver Behavior Alerts. Langkah modernisasi ini diambil guna memantau kondisi kendaraan secara real-time, memberikan peringatan dini, dan mendeteksi objek demi menekan angka kecelakaan hingga nol.[3]
Inovasi berlanjut pada tanggal 15 Agustus 2024 ketika GHTS membuat keputusan besar dalam efisiensi operasional dan dukungan akan kendaraan ramah lingkungan dengan menghentikan penggunaan bahan bakar solar bersubsidi pada 90 unit armadanya. GHTS sepenuhnya beralih menggunakan BBM nonsubsidi jenis Dex Series produksi Pertamina untuk melayani 17 trayek aktifnya. Yoyok Santoso mengeklaim keputusan ini terbukti meningkatkan kinerja mesin serta efisiensi armada, sebab penggunaan solar sebelumnya membuat bus sering kali harus mengganti filter hingga berkali-kali dalam kurun waktu dua kali perjalanan pulang-pergi, yang berdampak buruk pada performa oli dan mesin.[4]
Armada
Unit bus Gunung Harta Solutions yang bersanding dengan bus Mawar
Perkembangan skala armada GHTS terlihat sangat masif; per tahun 2024 perusahaan ini tercatat mengoperasikan sekitar 90 unit bus untuk melayani berbagai jalur operasinya.[5] GHTS dikenal luas di kalangan pecinta bus Indonesia sebagai salah satu perusahaan otobus yang paling banyak mengoleksi sasis berjenis tronton; per 2023, GHTS telah mengoleksi sebanyak 36 unit sasis tronton. Keputusan untuk berinvestasi secara masif pada sasis tronton didasari oleh pandangan Yoyok Santoso bahwa tipe sasis ini memiliki konstruksi kaki-kaki yang jauh lebih kokoh. Hal tersebut diklaim mampu memberikan tingkat kenyamanan yang lebih tinggi serta meminimalkan guncangan dibandingkan sasis reguler, terlebih lagi dengan telah tersambungnya seluruh jaringan Jalan Tol Trans-Jawa yang menghubungkan Jakarta hingga Surabaya.[6]
Dalam hal pemilihan bodi dan integrasi teknologi penunjang armada, GHTS memiliki kecenderungan kuat untuk mengandalkan hasil karya perusahaan karoseri Adi Putro dari berbagai generasi produknya.[7] Peremajaan skala besar tecatat pernah diumumkan pada 25 Maret 2018 dengan meluncurkan armada unggulan berbasis sasis Mercedes-Benz OC 500 RF 2542 6×2 dan Scania K410iB 6×2. Bus-bus ini kemudian dirakit menggunakan bodi Jetbus3+ buatan Adi Putro.[8] Selain itu, pada 2021 hingga 2023, perusahaan otobus ini meluncurkan unit Jetbus3+ Ultra-High-Decker (UHD) dan Super Double-Decker (SDD) di atas sasis Volvo B11R dan Mercedes-Benz OC 500 RF 2542.[9][10] Kemudian pada tahun 2025, GHTS juga mulai menjajal sasis buatan MAN, RR4 480.[11]Guna menjamin keamanan, pemantauan rute, dan keselamatan armada selama berada di jalan raya, bus-bus milik GHTS dan kelompok Gunung Harta dilengkapi dengan integrasi teknologi pemantau keselamatan sistem TransTRACK, yang dikembangkan oleh PT Indo Trans Teknologi.[12]
Inovasi armada GHTS terus berlanjut dengan diadopsinya bodi generasi terbaru dari Adi Putro, yaitu Jetbus5. Langkah ini tecermin salah satunya melalui peluncuran bustingkat (SuperDouble-Decker/SDD) berbasis bodi Jetbus5 edisi spesial ulang tahun ke-50 perusahaan karoseri Adi Putro. Ditopang oleh sasis bermesin bertenaga Volvo B11R 450 Euro 5, unit ini tampil beda menggunakan kelir dasar biru dongker dipadukan dengan aksen khusus angka 50 berwarna emas di bodi belakang. Pada bagian kabin, dek bawah dilengkapi dua kursi sleeper dan empat kursi eksekutif bersandaran kaki (foot rest), sedangkan dek atas diisi 30 kursi berkonfigurasi 2-2 yang seluruhnya ditunjang layar Audio/Video on Demand (AVOD).[13]
Selain varian double-decker, GHTS juga menambah kekuatan armadanya dengan meluncurkan bodi Jetbus5 Ultra-High-Decker (UHD). Tipe UHD mengombinasikan konsep bus SuperHigh-Decker dan Double-Decker, karena posisi pengemudi dan kernet bus berada terpisah di dek bawah, sementara seluruh kabin penumpang ditempatkan di dek atas. Desain ini memberikan ruang bagasi yang amat luas sehingga mampu mengangkut kargo dalam jumlah besar hingga beberapa unit sepeda motor. Ditopang oleh sasis premium Volvo B11R 450, bus double-glass bermotif pola pengecatan khas GHTS ini dilengkapi beragam fasilitas kenyamanan lengkap, mulai dari portUSB, dispenser air, hingga ruang khusus merokok.[14]
Ciri khas tampilan
Identitas visual bus milik GHTS sangat mudah dikenali oleh masyarakat dan para pengguna jasa transportasi darat di jalan raya. Setelah mengalami pemisahan entitas (spin-off), GHTS secara khusus mempertahankan dan menggunakan corak warna hijau pupus sebagai warna dasar utama pada seluruh armada busnya, yang mana warna ini awalnya merupakan warna khas pola pengecatan bus Gunung Harta sejak era 2000-an. Sementara itu, PT Gunung Harta mengadopsi warna merah. Meskipun perusahaan ini menggunakan gambar gunung hijau sebagai logonya, baik Gunung Harta maupun GHTS lebih dikenal dengan gambar karakter Walt Disney, Miki Tikus, yang berbaring santai di atas balon. Ikon tersebut menggambarkan bahwa bus tersebut telah suspensi udara sehingga membuat perjalanan terasa sangat nyaman.[15]
Trayek
Bus GHTS dengan karoseri Jetbus5 UHD.
Layanan angkutan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) yang diusung oleh GHTS berfokus pada pemanfaatan jalur-jalur utama via Jalan Tol Trans-Jawa untuk memberikan efisiensi waktu tempuh bagi para penumpangnya. Rute-rute yang dilayani GHTS mencakup perjalanan dari wilayah barat menuju wilayah timur, seperti pemberangkatan dari DKI Jakarta serta Kota Bandung di Jawa Barat menuju titik-titik tujuan populer di Jawa Timur, seperti Kota Kediri, Kota Malang, dan empat kabupaten di wilayah Madura, ataupun menghubungkan Kota Malang secara langsung ke Denpasar, Bali.[16][17][18][19][20]
Selain menawarkan kecepatan tempuh melalui jalur tol lintasan utama, kenyamanan layanan AKAP GHTS didukung penuh oleh penyediaan fasilitas interior bus yang sangat memanjakan para penumpang selama perjalanan jauh. Hal yang membuat fasilitas bus GHTS diminati oleh masyarakat adalah ketersediaan fasilitas toilet di dalam bus serta ketersediaan ruang khusus merokok bagi penumpang. Ditambah lagi dengan penerapan pemesanan tiket secara daring hasil kerja sama dengan BRI, perjalanan menggunakan bus AKAP GHTS menjadi makin praktis dan mudah diakses.[7] Bus-bus GHTS dirancang khusus dengan kapasitas 36 tempat duduk yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, seperti leg rest, port USB untuk pengisian daya, selimut, bantal, layanan makan gratis, hingga perangkat hiburan audio dan video.[8]
Bisnis nontrayek
Pada masa-masa awal berdiri sebagai entitas mandiri, GHTS memfokuskan lini usahanya pada penyediaan layanan armada bus pariwisata untuk memenuhi kebutuhan perjalanan wisata di berbagai daerah.[2] Per pendataan Spionam pada tahun 2026, GHTS hanya memiliki dua unit kendaraan pariwisata dengan sasis Hino serta satu unit Toyota.[21]