Piala Citra untuk Film Cerita Panjang Terbaik (atau yang biasa disebut Film Terbaik) merupakan salah satu kategori penghargaan tahunan yang dianugerahkan oleh Festival Film Indonesia sejak pertama kali diselenggarakan pada 5 April 1955. Mulai tahun 1979, teknik penjurian beralih ke dalam sistem unggulan (atau yang biasa dikenal dengan istilah nominasi) dengan jumlah setidaknya tiga atau lebih judul film yang dikompetisikan dalam kategori tersebut. Penghargaan ini diserahkan kepada produser film dan menjadi kategori terakhir yang diumumkan pada acara malam penganugerahan. Film Terbaik dianggap sebagai lambang supremasi tertinggi sekaligus paling bergengsi dari setiap perhelatan tahunan FFI yang menjadi standar film berkualitas dalam industri perfilman Indonesia, termasuk untuk penyutradaraan, akting, penulisan skenario, penyusunan musik, dan unsur teknis lainnya yang terlibat dalam sebuah produksi film.[1]
Penghargaan tersebut sempat tidak diberikan sebanyak tiga kali yaitu pada FFI 1967, 1977, dan 1984. Pada penyelenggaraan FFI tahun 1977, dewan juri menentukan aturan khusus untuk dapat meraih gelar Film Terbaik tahun itu, sebuah film harus memenangkan keempat kategori sekaligus, meliputi Sutradara Terbaik, Skenario Terbaik, Pengarah Sinematografi Terbaik dan Penyunting Gambar Terbaik. Berhubung tak ada satu pun film yang berhasil memenuhi kriteria, maka diputuskan tak ada pemenang untuk kategori Film Terbaik kala itu.[2] Namum sejak tahun 1985 disepakati bahwa Piala Citra untuk Film Terbaik tetap harus diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap industri perfilman tanah air.
Nagabonar karya M.T. Risyaf untuk pertama kalinya dinobatkan sebagai Film Terbaik pada FFI 1987 meskipun tidak memperoleh nominasi untuk kategori Sutradara Terbaik. Dua puluh tujuh tahun kemudian, momen tersebut kembali terjadi saat Cahaya dari Timur: Beta Maluku memenangkan kategori Film Terbaik pada perayaan FFI 2014 tanpa memasukkan nama Angga Dwimas Sasongko sebagai nominator Sutradara Terbaik.[3] Bahkan Cahaya dari Timur: Beta Maluku menjadi pemenang Film Terbaik kedua dalam sejarah FFI dengan jumlah perolehan Piala Citra paling sedikit, yaitu 2 piala (satu lagi untuk Pemeran Utama Pria Terbaik yang diraih oleh Chicco Jerikho), setelah Senyum di Pagi Bulan Desember karya Wim Umboh pada tahun 1975 yang hanya memenangkan kategori Film Terbaik. Kejadian serupa terulang lagi pada FFI 2025, di mana Pangku (film) yang menjadi karya debut Reza Rahadian berhasil meraih Piala Citra untuk kategori Film Terbaik tanpa mencantumkan Reza Rahadian sebagai sutradaranya.
Arisan! karya Nia Dinata menjadi film bertema LGBT pertama yang berhasil memenangkan kategori Film Terbaik pada tahun 2004. Lima belas tahun kemudian, Kucumbu Tubuh Indahku karya Garin Nugroho yang sempat menuai kontroversi saat peredarannya, menjadi film bertema LGBT kedua yang terpilih sebagai Film Terbaik dalam gelaran FFI 2019.
Ekskul karya Nayato Fio Nuala (pemenang Film Terbaik tahun 2006) menjadi film pertama dalam sejarah FFI yang kemenangannya secara resmi dianulir (atau dibatalkan) oleh Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) yang saat itu diketuai oleh Deddy Mizwar terkait adanya indikasi pelanggaran hak cipta ilustrasi musik dari beberapa film produksi luar negeri tanpa izin.[4]
Pada tahun 2007, Nagabonar Jadi 2 karya Deddy Mizwar menjadi film sekuel pertama yang berhasil mendapat gelar Film Terbaik setelah kemenangan film pendahulunya Nagabonar dalam kategori yang sama pada tahun 1987. Sementara itu, Siti (film) karya Eddie Cahyono menjadi film hitam putih pertama di era film berwarna yang kembali memenangkan kategori Film Terbaik pada tahun 2015, sejak terakhir kali Turang karya Bachtiar Siagian menjadi film hitam putih terakhir yang dinobatkan sebagai Film Terbaik pada FFI 1960. Sedangkan film horor pertama yang berhasil memenangkan penghargaan Film Terbaik dalam gelaran FFI 2020 adalah Perempuan Tanah Jahanam karya Joko Anwar.
Women From Rote Island karya Jeremias Nyangoen pada tahun 2023 berhasil mencatat rekor baru sepanjang FFI pernah digelar sebagai Film Terbaik pertama yang berhasil menyapu bersih seluruh kategori yang dikompetisikan yaitu Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Skenario Asli Terbaik dan Pengarah Sinematografi Terbaik.[5]
Jatuh Cinta Seperti di Film-Film karya Yandy Laurens menjadi pemenang Film Terbaik pertama dalam sejarah FFI yang berhasil merebut keempat kategori akting pada tahun 2024, di antaranya Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Ringgo Agus Rahman, Pemeran Utama Perempuan Terbaik untuk Nirina Zubir, Pemeran Pendukung Pria Terbaik untuk Alex Abbad dan Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik untuk Sheila Dara. Sebelumnya, pada perhelatan FFI pertama di tahun 1955, Lewat Djam Malam karya Usmar Ismail yang berhasil menjadi Film Terbaik hanya memenangkan tiga kategori akting di antaranya Pemeran Utama Pria Terbaik untuk A. N. Alcaff, Pemeran Utama Perempuan Terbaik untuk Dhalia dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik untuk Bambang Hermanto. Kemudian pada tahun 1983, Di Balik Kelambu karya Teguh Karya yang saat itu memenangkan kategori Film Terbaik kembali memenangkan tiga kategori akting di antaranya Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Slamet Rahardjo, Pemeran Utama Perempuan Terbaik untuk Christine Hakim dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik untuk Maruli Sitompul. Selanjutnya pada tahun 1989, Teguh Karya kembali mengulangi rekor lewat Pacar Ketinggalan Kereta sebagai pemenang Film Terbaik dengan tiga kemenangan untuk kategori akting di antaranya Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Rachmat Hidayat, Pemeran Utama Perempuan Terbaik untuk Tuti Indra Malaon dan Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik untuk Niniek L. Karim. Pada tahun 2004, Arisan! karya Nia Dinata kembali menjadi pemenang Film Terbaik dengan tiga pemerannya berhasil memenangkan kategori akting di antaranya Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Tora Sudiro, Pemeran Pendukung Pria Terbaik untuk Surya Saputra dan Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik untuk Rachel Maryam. Dan yang terakhir pada 2010, 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta karya Benni Setiawan memenangkan Film Terbaik dengan tiga kemenangan pada kategori akting di antaranya Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Reza Rahadian, Pemeran Utama Perempuan Terbaik untuk Laura Basuki dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik untuk Rasyid Karim.
Hingga saat ini, selain menjadi sutradara dengan perolehan Piala Citra terbanyak untuk kategori Sutradara Terbaik, Teguh Karya masih menjadi satu-satunya sutradara yang paling sering menghasilkan film yang dinobatkan sebagai Film Terbaik FFI, yaitu sebanyak lima kali dari delapan kali nominasi (tahun 1974 lewat Cinta Pertama, 1979 lewat November 1828, 1983 lewat Di Balik Kelambu, 1986 lewat Ibunda, dan 1989 lewat Pacar Ketinggalan Kereta). Hampir sebanyak gelar yang diraihnya sebagai Sutradara Terbaik, hanya Ranjang Pengantin dikalahkan oleh Senyum di Pagi Bulan Desember pada tahun 1975.
Pemenang dan nominasi
Di bawah ini adalah daftar penerima penghargaan Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia sejak tahun 1955. Mulai tahun 1979, judul film pemenang diikuti nominasi film terbaik lainnya. Kategori Film Terbaik pada tahun 2006 tetap dimasukkan, meskipun terjadi pembatalan pemenang kategori ini pada tahun tersebut, untuk menghargai karya para nominator yang lain.[7]
↑Pattisina, Edna C. (16 Desember 2005). "Gie Film Terbaik". Kompas.com. Diarsipkan dari asli tanggal 12 Maret 2007. Diakses tanggal 29 Desember 2006.