Karier dalam perfilman
Pada tahun 1973, Abiyoga mulai memasuki bidang film dengan mendirikan perusahaan PT Prasidi Teta Film, semula sebagai Komisaris Utama dan Direktur sejak 1993. Sejak 1989 ia memimpin PT Mutiara Eranusa Film. Dikenal sebagai insan film yang gigih mengartikulasikan segala hal yang dapat menunjang keberlanjutan industri sinematografi Indonesia. Salah satu pokok pikiran sekaligus obsesi yang dengan konsisten dijalankannya adalah "membuat film murah yang tidak murahan". Produksi pertama PT Prasidi Teta Film adalah film Hati Yang Perawan pada tahun 1984, yang dibuat berdasar cerita pendek karangannya dan disutradarai oleh Chaerul Umam.
Film ketiganya Naga Bonar (1986) terpilih sebagai film Terbaik pada Festival Film Indonesia 1987. Film Ayahku (1987), diunggulkan sebagai film Terbaik, skenario, pemain utama pria dan pemain pembantu pada Festival Film Indonesia 1988 dan juga dipilih oleh Festival Film International untuk dipertunjukkan di Tokyo, Jepang, sebagai salah satu dari 15 film terbaik di Asia tahun 1989. Film ketiganya Noesa Penida (1988) mendapatkan penghargaan untuk peran pembantu, fotografi dan ilustrasi musiknya. Filmnya Cas Cis Cus (1989) mendapat penghargaan untuk pemain anak-anak.
Cinta Dalam Sepotong Roti (1990) meraih penghargaan sebagai film terbaik pada Festival Film Indonesia 1991, Piala Antemas sebagai film terlaris pada 1991-1992 serta penghargaan FFAP 1992 untuk sutradara pendatang baru. Plong (1991) menjadi unggulan film terbaik Festival Film Indonesia 1992. Surat untuk Bidadari mendapat penghargaan di Festival Film Internasional Berlin, sebagai terbaik pada Festival Taomina XXIV 1994 dan pemenang Young Cinema pada Festival Film Internasional Tokyo 1994. Badut-badut Kota (1993), sutradaranya mendapatkan penghargaan dari FFAP 1994. Meski hampir sebagian besar produksinya mendapat penghargaan, tapi hampir seluruhnya kurang sukses secara komersial.
Abiyoga dikenal pula sebagai produser yang rajin mengemukakan pikirannya bagi pengembangan perfilman nasional, baik melalui seminar maupun melalui tulisan-tulisan yang dipublikasikan. Sejak tahun 1995 ia juga mulai menulis skenario untuk sinetron film penyuluhan Tanah Kita yang dinominasikan menang pada Festival Sinetron Indonesia 1996, sinetron Tembang Jatidiri yang bercerita tentang Serangan Umum 1 Maret 1949, sinetron Hati Yang Perawan (1995) dan sinetron Nurlela (1995).
Tahun 1995, Abiyoga diangkat menjadi anggota dan ketua komisi A Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) untuk masa jabatan hingga 1998. Untuk prestasinya sebagai produser, ia mendapatkan penghargaan Hadiah Djamaluddin Malik pada tahun 1997 dari BP2N. Sebagai penulis cerita, Abiyoga sudah menerbitkan 4 novel dan satu kumpulan cerita pendek, serta memenangkan hadiah dari perlombaan yang diselenggarakan oleh majalah Femina untuk karya novel dan cerita pendeknya.
Pada tahun 2010, Abiyoga memproduseri film Bahwa Cinta Itu Ada, yang disutradarai oleh Sujiwo Tedjo. Film ini dibintangi antara lain oleh Ariyo Wahab dan Eva Asmarani. Film ini bercerita tentang perjalanan hidup beberapa mahasiswa di sebuah kampus di Bandung.[4]
Pada tahun 2017, Abiyoga memproduseri film Iqro: Petualangan Meraih Bintang yang diproduksi oleh Salman Film Academy, sebuah rumah produksi film di bawah manajemen Masjid Salman Institut Teknologi Bandung.[5] Pada tahun yang sama ia menerima penghargaan Pencapaian Seumur Hidup (Lifetime Achievement Awards) dalam ajang Festival Film Indonesia 2017 di Manado, Sulawesi Utara.[6] Penghargaan tersebut diserahkan oleh produser dan sutradara Mira Lesmana.[7]