Film ini mempermasalahkan kebobrokan moral dan sosial akibat pembangunan yang berlangsung pesat. Sebuah akibat yang tidak hanya terjadi di kota, tetapi sudah menyentuh pelosok desa, karena masuknya listrik dan televisi. Gambar-gambar awal sudah menyiratkan itu: sebuah desa yang tenang dan gemuruh tiang pancang ditancapkan . Yang menarik juga adalah gaya bercerita Sjuman kali ini. Ia menggunakan sebuah bangunan cerita.[1]