Ekonomi Filipina mengalami kemunduran pada tahun 1998 akibat dari krisis finansial Asia 1997. Kemunduran ekonomi Filipina juga dipengaruhi oleh cuaca buruk yang melanda beberapa wilayah Filipina. Pertumbuhan ekonomi jatuh sebesar 4,4% dalam rentang waktu setahun (1997-1998) dari 5% menjadi 0, 6% Kenaikan pertumbuhan mulai pulih pada tahun 2000 dengan besar pertumbuhan ekonomi senilai 4%. Perlambatan pertumbuhan ekonomi Filipina merupakan akibat dari utang negara yang sangat besar jumlahnya. Utang negara meliputi 77% dari total produk domestik bruto negara Filipina. Utang negara ini ditujukan untuk perbaikan ekonomi. Anggaran belanja negara untuk pendidikan dan militer kemudian dikurangi. Kemunduran ekonomi Filipina diatasi oleh pemerintah melalui peningkatan infrastruktur, penambahan pendapatan negara melalui pergantian sistem pajak dan deregulasi, serta memberikan pengelolaan ekonomi kepada swasta. Pemerintah FIlipina juga mengadakan peningkatkan integrasi perdagangan di wilayah sekitar sebagai salah satu cara penyelesaian kemunduran ekonomi Filipina. Dalam pemulihan ekonomi. Filipina dipengaruhi oleh dua mitra dagangnya yang terbesar yaitu Amerika Serikat dan Jepang.[1]
Filipina juga bergabung dalam perjanjian yang menetapkan Kawasan Perdagangan Bebas Perbara-India. Kerangka perjanjian kerja sama ekonomi ini ditetapkan pada tanggal 8 Oktober 2003. Dalam perjanjian ini, Filipina termasuk bagian dari Perbara (Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara) bersama dengan Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, dan Myanmar. Sedangkan perjanjian perdagangan dilakukan terhadap negara India. Pada tanggal 13 Agustus 2009, ditetapkan protokol untuk mengubah perjanjian kerangka kerjasama yang ditandatangani di Bangkok, Thailand.[3]