Bank Yudha Bhakti
Pendirian bank ini berawal dari terbitnya Paket Kebijaksanaan Oktober 1988 yang memberikan kemudahan untuk mendirikan bank baru. Pada bulan Desember 1988, Dephankam, Asabri, Pepabri, dan para pengembang perumahan pun mengadakan sebuah pertemuan. Topik yang dibahas dalam pertemuan ini adalah mengenai potensi pembentukan bank swasta baru di lingkungan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang ditujukan untuk mengoptimalkan pengelolaan dana proyek Kredit Perumahan Prajurit (KPR) maupun pengembangan bisnis bersama rekanan kemiliteran.[4]
Pada bulan Januari 1989, Menhankam memerintahkan pelaksanaan studi kelayakan pendirian bank baru, dan pada bulan Februari 1989, LPPI pun resmi ditunjuk untuk melaksanakan studi kelayakan tersebut melalui kerja sama dengan Bank Niaga. Adapun rapat perdana persiapan pendirian bank tersebut dilakukan tanggal 26 Juli 1989, yang dilanjutkan pemberian izin dari Menteri Keuangan di tanggal 14 Agustus 1989. Rapat selanjutnya pada 14 September 1989 resmi mengesahkan identitas perusahaan sebagai Bank Yudha Bhakti, dilanjutkan pendirian badan hukum perseroan terbatas bertanggal 19 September 1989. Tidak lama kemudian, pada 23 Oktober 1989 komposisi pemegang saham perdana Bank Yudha Bhakti resmi ditetapkan yang meliputi Inkopad, Inkopal, Inkopau, Inkoppol, Inkoppabri, Puskop Mabes TNI, dan Puskop Dephankam.[4]
Setelah melalui berbagai persiapan, Bank Yudha Bhakti mulai beroperasi sejak 9 Januari 1990.[4] Dengan modal awal Rp 10 miliar, meskipun didirikan dari lingkungan pertahanan, bank ini menargetkan berbagai sektor baik itu ritel, korporat sampai nasabah umum.[5] Mulai tahun 1996 bank ini menggaet investor lain diluar lingkungan ABRI,[6] yang menempatkan nama pengusaha Tjandra Mindharta Gozali (Grup Gozco) sebagai pemegang saham utama (39,28% di tahun 1999).[7] Dengan kondisi yang solid, Bank Yudha Bhakti tetap bertahan dari terjangan krisis moneter di akhir 1990-an dengan memperoleh predikat A maupun tidak memerlukan proses rekapitalisasi.[4]
Mulai tahun 2001 bank kongsi Gozco dan koperasi pertahanan ini mulai melakukan ekspansi kantor di Pulau Jawa dan Sumatra, sehingga di tahun 2014 memiliki lebih dari 30 kantor di berbagai daerah.[4] Dengan adanya kebutuhan permodalan dan berkurangnya bisnis militer di era pasca Reformasi, Gozco tampil sebagai pemegang saham mayoritas, dengan di tahun tersebut mencapai 61,1%. Adapun koperasi TNI dan Polri memegang 28,94% ditambah sejumlah pemilik lainnya.[6] Demi meraih modal tambahan lagi, pada 13 Januari 2015 Bank Yudha Bhakti go public dengan melepas sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Lewat IPO senilai Rp 34,5 miliar tersebut, bank kecil ini menawarkan 11,93% sahamnya ke masyarakat dengan harga IPO Rp 190/lembar.[8]
IPO tersebut juga diiringi dengan masuknya Asabri sebagai salah satu pemegang saham di BYB. Hal ini dilakukan demi menaikkan modal dasarnya yang per 31 Juni 2016 baru mencapai Rp 602 miliar, ditambah keterkaitan asuransi resmi tentara dan kepolisian tersebut dengan berdirinya bank ini.[9] Dengan penambahan modal, Bank Yudha Bhakti diharapkan bisa menaikkan modal intinya menjadi Rp 1 triliun dan memperluas bisnis di bidang ritel maupun kredit pensiunan.[10] Adapun persentase saham Asabri di Bank Yudha Bhakti tercatat berubah-rubah, dengan mulanya sebesar 21,89% di tahun 2015, lalu 35,22% di tahun 2016, dan selanjutnya menurun hingga 18,62% di akhir 2020.[11] Masuknya Asabri turut mendilusi kepemilikan pemegang saham lain, khususnya Gozco sebagai pengendali utama menjadi sekitar 40%.[12]
Menjadi Bank Neo Commerce
Kongsi Asabri dan Gozco tersebut bertahan hingga 2019 ketika muncul pemodal baru, yaitu perusahaan fintech kredit Akulaku. Masuknya fintech yang didirikan pemodal asal China itu dimulai sejak tahun 2018, meskipun dalam perkembangannya sempat terkatung-katung karena pemegang saham eksisting kala itu masih mempertimbangkan beberapa peminat lain. Selain diharapkan bisa menaikkan permodalan Bank Yudha Bhakti,[13] Akulaku diharapkan bisa membantu perusahaan menyiapkan program-program dan layanan perbankan berbasis digital.[14] Menjelang masuknya pemodal baru, kondisi BYB di tahun 2018 memang mengalami perlambatan, terlihat dari rugi mencapai Rp 136,98 miliar, penurunan dana pihak ketiga, serta kredit macet yang meningkat.[15]
Masuknya Akulaku dimulai ketika pada 21 Maret 2019 mereka membeli 5,2% saham Gozco di BBYB seharga Rp 158,7 miliar, yang dilanjutkan pembelian di bulan yang sama sehingga mencapai 14,24% di April 2019.[15] Kenaikan saham Akulaku terus berlanjut seiring proses rights issue yang dilakukan perseroan, dengan di bulan September 2019 menjadi 24,08%, menjadikannya sebagai salah satu pemegang saham terbesar dan calon pengendali perusahaan.[16] Selanjutnya, untuk meresmikan rencana transformasi ke bank digital bersama Akulaku, pada 30 Juli 2020 PT Bank Yudha Bhakti Tbk resmi mengganti namanya menjadi PT Bank Neo Commerce Tbk, yang mulai berlaku efektif per 7 September 2020.[17] Nama Bank Neo Commerce (BNC) mengombinasikan kata "neo" (baru) yang diklaim sebagai semangat bank menawarkan produk-produk dan layanan perbankan baru, dan "commerce" yang menjadi tujuan bank menghadirkan layanan yang saling menguntungkan dengan nasabah.[17]
Pasca-perubahan nama ini, tiga pemegang saham utama BNC meliputi Akulaku (24,98%), Gozco (20,12%), Asabri (18,62%) dan pemegang saham lainnya.[18] Seiring waktu, kepemilikan saham Asabri dan Gozco terus berkurang hingga di bawah 10%, dimana Asabri merosot drastis hingga hanya 0,53% per Agustus 2021,[11] sedangkan Gozco menjadi sekitar 7% di tahun 2024. Dengan naiknya Akulaku menjadi pemegang saham pengendali, tahun 2021 dijadikan permulaan Bank Neo Commerce bertransformasi menjadi bank digital.[19] Mereka mencanangkan peluncuran produk mobile banking berfitur lengkap untuk ritel maupun layanan cash management dan internet banking korporat untuk nasabah perusahaan.[20] Di tahun yang sama, kantor pusat perusahaan juga dipindah ke Treasury Tower, Jakarta.[2][3]
Adapun produk perbankan digital awal BNC meluncur secara soft launch pada akhir Maret 2021 dengan nama Neo+. Aplikasi yang selanjutnya berganti nama menjadi Neobank ini dengan cepat menjadi salah satu produk perbankan terpopuler di Google Play Store dan App Store, sehingga mampu meraih 10 juta unduhan hanya dalam beberapa bulan setelah diluncurkan. Adapun kelebihan yang ditawarkan aplikasi Neo+/Neobank seperti tabungan berbunga tinggi (6%), pembukaan rekening cepat,[21] adanya fitur "gamifikasi" yang mengutamakan "cuan" untuk nasabah, dll.[22] Respon positif di tengah pandemi COVID-19 ini ikut mengerek kinerja perusahaan, lewat kenaikan aset menjadi Rp 19,69 triliun dan penyaluran kredit hingga Rp 10,24 triliun di tahun 2022, walaupun kondisi perusahaan masih mencatatkan kerugian. Untuk memuaskan nasabahnya, perusahaan pun terus menghadirkan berbagai fitur, kerjasama dan layanan bagi para pengguna Neobank.[23]
Memasuki tahun 2025, setelah bertahun-tahun sempat merugi, Bank Neo Commerce mencatatkan laba senilai Rp 566 miliar. Hal tersebut terjadi meskipun bank ini mengalami perlambatan pertumbuhan dalam hal aset dan kredit dibandingkan awal beroperasinya Neobank (2021).[2] Pada tahun tersebut nasabah BNC telah mencapai 30 juta dengan sekitar 10-12%-nya adalah pengguna aktif. Dengan berbagai program perusahaan mengharapkan BNC bisa menjadi bank utama bagi nasabah-nasabah mereka.[24]