Awal beroperasi dan berganti-ganti kepemilikan
Bank Victoria didirikan pada 28 Oktober 1992 dengan nama PT Bank Victoria, yang selanjutnya sedikit dimodifikasi menjadi PT Bank Victoria International di tanggal 8 Juni 1993.[2] Izin beroperasi sebagai bank umum non-devisa keluar pada 10 Agustus 1994 lewat Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 402/KMK.017/1994, dan operasionalnya dimulai sejak 5 Oktober 1994. Pada 25 Mei 1997 bank memperoleh izin tambahan sebagai pedagang valuta asing dari Bank Indonesia.[1] Memasuki tahun 1999 Bank Victoria International memiliki fokus usaha ke pembiayaan usaha menengah dan ritel, yang dilayani lewat satu kantor (pusat) di Gedung Panin Bank Jakarta.[2]
Sebagai salah satu bank yang lahir pasca-Pakto 88, kepemilikan Bank Victoria sejak awal didominasi kalangan usahawan, meskipun beberapa kali mengalami perubahan struktur pemegang saham. Saat didirikan, masing-masing 50% saham bank dikuasai dua pebisnis properti, Richard R. Wiriahardja (pemilik Grup Ristia) dan Juanetta Hertati Tjandra.[3] Belum juga beroperasi, Bank Victoria beralih kepemilikan kepada pengusaha perkayuan Benny Luhur.[4][5] Mulai tahun 1999, struktur pemegang saham utamanya berubah lagi melalui keberadaan PT Suryayudha Investindo Cipta dan PT Nata Patindo. Adapun kedua perusahaan ini dimiliki Benny Luhur, Sukmawati dan Untung Woenardi.[2] Nama terakhir merupakan eks-pemilik Bank Surya (ditutup 1998) sebelum dijual ke Sudwikatmono dan Bambang Sutrisno di tahun 1987.[6]
Mampu bertahan dari krisis moneter di akhir 1990-an, Bank Victoria sukses melakukan go public pada 30 Juni 1999. IPO dilakukan dengan mencatatkan 250 juta saham seharga Rp 100/lembar, ditambah 80 juta waran seri I di Bursa Efek Jakarta. Tahun berikutnya, perusahaan menawarkan obligasi perdananya di Bursa Efek Surabaya. Pasca-IPO, Bank Victoria mulai berekspansi dengan membuka kantor cabang pertama pada tahun 1999, disusul 9 kantor cabang lain sepanjang September-Desember 2000.[7] Per tahun 2006, Bank Victoria memiliki 32 kantor cabang yang tersebar di Jabodetabek, yang mempekerjakan 188 orang dan menghimpun aktiva Rp 2,8 triliun.[8]
Memasuki awal 2005, Bank Victoria justru terjerat isu tidak sedap. Muncul dugaan bank ini ikut terlibat dalam beberapa penyimpangan aturan perbankan dan korupsi[9] yang melibatkan direktur utamanya Untung Woenardi dan Agus Sidharta. Menurut Drajad Wibowo, keduanya bahkan sudah sepakat di tahun 2002 untuk masuk "daftar orang tercela" jika terlibat adanya pelanggaran. Pelanggaran tersebut salah satunya berupa pemberian kredit mencurigakan sebesar Rp 1,6 triliun pada dua entitas, yaitu Glory Dragon dan Harvest Hero, yang belakangan keduanya terseret dalam sengketa antara perusahaan pembiayaan Panca Overseas Finance dan International Finance Corporation (IFC). IFC menuduh Panca Overseas telah melibatkan dua entitas diduga fiktif tersebut dalam bisnisnya.[10] Meskipun sempat berbuah suspensi perdagangan saham BVIC di BEJ,[11] Bank Indonesia menilai belum ada bukti yang kuat untuk membuktikan dugaan Drajad tersebut.[12]
Akuisisi keluarga Tanojo
Pada tahun 2005, lewat akuisisi saham di pasar modal, masuklah nama Suzanna Tanojo sebagai salah satu pemegang saham utama PT Bank Victoria International Tbk. Melalui Trans Universal Holding Limited dan PT Victoria Sekuritas, kepemilikan saham Suzanna di BVIC mulanya hanya sebesar 26,79%,[4] yang belakangan naik menjadi 48% di akhir 2007.[13] Adapun wanita kelahiran 1958 ini dikenal sebagai putri Wakijo Tanojo, salah satu tokoh penting dalam bisnis raksasa FMCG lokal Wings. Usaha lain yang belakangan mereka kembangkan secara pribadi seperti di industri kimia (PT Sulfindo Adiusaha), properti (PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk) dan keuangan (Grup Victoria Investama).[14][15]
Masuknya pemilik baru tersebut diiringi perubahan identitas Bank Victoria lewat logo baru di tahun 2006. Logo yang merupakan hasil penyegaran logo pertama bank ini, melambangkan tiga landasan bisnis bank yaitu layanan personal, inovasi produk, dan manajemen yang pruden.[8] Berkeinginan masuk ke bisnis perbankan syariah, pada tahun 2007 Bank Victoria mengakuisisi sebuah bank kecil bernama Bank Swaguna yang mengalami kesulitan modal. Bank Swaguna selanjutnya mengalami konversi bisnis ke bank syariah, dengan nama baru yaitu Bank Victoria Syariah (BVS). BVS mulai beroperasi pada 1 April 2010.[1] Per Juni 2011, Bank Victoria memiliki 85 kantor cabang (1 cabang utama, 64 cabang pembantu dan 20 kantor kas) yang mayoritasnya tetap berlokasi di Jabodetabek. Aset yang dihimpun sebesar Rp 10,30 triliun, sedangkan kredit yang disalurkannya mencapai 3,54 triliun.[16]
Berusaha memperluas bisnisnya, pada tanggal 13 Desember 2016 Bank Victoria berhasil memperoleh izin bank devisa dari Otoritas Jasa Keuangan. Lewat izin tersebut, bank bisa menghadirkan produk remitansi, perdagangan internasional, treasury maupun bisnis lainnya. Selanjutnya, bank ini mulai mengembangkan jaringan di luar Jabodetabek, dengan membuka kantor cabang di Semarang, Makassar, Surakarta dan Medan sepanjang 2018 dan 2019. Sebaliknya, beberapa kantor eksisting yang dirasa kurang bagus direlokasi atau ditutup. Dengan adanya pandemi COVID-19, tahun 2020 dicanangkan Bank Victoria sebagai titik melakukan digitalisasi layanan perbankan lewat pengoptimalan internet banking, mobile banking (IBMB) dan Victoria Internet Banking Bisnis (ViBiz) yang diharapkan mempermudah nasabah melakukan transaksi.[1]
Sayang, memasuki periode berikutnya (2022-2025) Bank Victoria terpaksa menjual kepemilikannya di Bank Victoria Syariah. Setelah sempat dilepas ke induknya (Victoria Investama), pada tahun 2025 bank tersebut diakuisisi oleh BTN yang mengubah namanya menjadi Bank Syariah Nasional.[1] Pelepasan saham tersebut diklaim mampu membantu BVIC memenuhi kebutuhan modal inti sesuai kewajiban OJK, yaitu Rp 3 triliun pada 23 Desember 2022.[17]
Pemegang saham
Untuk menambah permodalannya, Bank Victoria tercatat sudah melakukan beberapa kali rights issue dan penerbitan obligasi maupun waran hingga 2025.[1] Sejak 2014, BVIC diketahui telah berpindah pencatatan di Bursa Efek Indonesia dari pengembangan ke papan utama. Pada tanggal 30 Desember 2016, bank ini berhasil menarik investor strategis yaitu anak usaha bank pemerintah Jerman, KfW bernama Deutsche Investitions-und Entwicklungsgesellschaft (DEG). Mereka membeli 9,9% saham BVIC dengan harga Rp 277 miliar. Dana yang diperoleh lewat akuisisi ini selanjutnya ditujukan bagi pengembangan cabang, teknologi dan sistem informasi, maupun bisnis ritel komersial kepada segmen UMKM.[18] Lewat kerjasama dengan DEG, Bank Victoria diharapkan bisa memperkuat bisnis UMKM-nya, sekaligus mengembangkan sistem standar internasional pada aspek sosial, lingkungan, manajemen dan tata kelola perusahaan.[19] Sayang, kiprah DEG di bank ini hanya bertahan kurang lebih 5 tahun, dengan menghilang sebagai pemegang saham signifikan di tahun 2022.[20]
Melalui aksi korporasi yang dilakukannya, keluarga Suzanna Tanojo terus memperkuat kepemilikannya di Bank Victoria. Dari awalnya masuk lewat dua perusahaan yaitu Victoria Investama (d/h Victoria Sekuritas) dan Trans Universal, mereka selanjutnya membeli kepemilikan di pemegang saham lain, yaitu pada PT Nata Patindo dan PT Suryayudha Investindo Cipta. Di PT Nata Patindo, keluarga Tanojo mengakuisisi saham[21] yang mulanya dimiliki Sukmawati.[4] Saat ini, kepemilikan saham perusahaan tersebut di BVIC hanya tersisa 0,31%.[1] Suzanna Tanojo juga mengakuisisi saham Sukmawati di PT Suryayudha dan menjadi pemegang sahamnya bersama Benny Luhur.[21][4] Namun, sejak 6 Maret 2018, perusahaan ini tidak lagi memiliki saham Bank Victoria.[22] Lewat konsolidasi kepemilikan, per akhir 2025 mayoritas saham BVIC dikuasai oleh keluarga Tanojo, dimana Suzanna memegang 6,32% secara langsung dan 60,17% lewat PT Victoria Investama Tbk.[1]