Mahādvāra Gaing
Pada tahun 1214 Era Burma (sekitar 1852 M), di masa pemerintahan Inggris di Region Ayeyarwady, Sayadaw Ashin Ukkamsa Vimala dari kota Okpho (sekarang kota Ingapu) berselisih dengan para Sayadaw anggota ordo Sudhammā (Thudhamma Gaing) yang berada di bawah kekuasaan Inggris.
Perselisihan ini dipicu oleh persoalan penahbisan (upasampadā) di sīmā air (ye sim).[5][2][3] Selain itu, Okpho Sayadaw memutuskan bahwa ketika memberi penghormatan kepada Sang Buddha, seseorang tidak boleh melakukannya dengan mengucapkan kāyakamma, vacīkamma, dan manokamma (perbuatan/karma jasmani, ucapan, pikiran).[6] Menurutnya, yang benar adalah memberi penghormatan dengan konsep dvāra (pintu), yaitu dengan mengucapkan kāyadvāra, vacīdvāra, dan manodvāra (pintu jasmani, pintu ucapan, pintu pikiran).[6][note 1] Ia juga berpendapat bahwa Sangha dapat mengatur dirinya sendiri tanpa seorang Dhammarāja jika para biku secara ketat mengikuti Vinaya (disiplin monastik), menekankan niat moral dan menantang otoritas kerajaan dalam penahbisan.[7]
Kyìthè Layhtat Sayadaw (dari ordo Thudhamma), penulis kitab Jinattha-pakāsanī, membantah pandangan tentang penghormatan tersebut, dan berpendapat bahwa penghormatan dengan konsep kamma (perbuatan), alih-alih dvāra (pintu), adalah yang benar. Oleh karena itu, di Myanmar Bawah (Lower Myanmar), ordo yang dibentuk Okpho Sayadaw disebut Dvāra Gaing ("Ordo Pintu"), sedangkan ordo Thudhamma disebut Kamma Gaing ("Ordo Karma"). Namun belakangan, sebutan Kamma Gaing tidak lagi digunakan, dan kembali disebut sebagai Thudhamma Gaing.[2]
Ordo-ordo Dvāra ini kemudian terpecah lagi menjadi 3 jenis, yaitu: