"Banyak orang yang berambut kusut masai dan berdebu dan hanya memiliki dua pakaian lapuk hingga tidak diperhatikan orang sama sekali, tetapi seandainya ia memohon kutukan kepada Allah bagi mereka, pastilah akan diluluskannya. Dan di antara orang-orang itu ialah Al-Barra' bin Malik".[5][7]
Barra bin Malik berkata, "Saat menggali parit, di beberapa tempa kami terhalang oleh tanah yang sangat keras dan tidak bisa digali dengan cangkul. Kami melaporkan hal ini kepada Nabi. Ia datang, mengambil cangkul dan berkata, "Bismillah ... " Kemudian menghantam tanah yang keras itu dengan sekali hantaman. Beliau bersabda, "Allah Mahabesar, aku diberi tanah Persia. Demi Allah saat ini pun aku bisa melihat Istana Mada'in yang bercat putih." Kemudian ia menghantam untuk ketiga kalinya, dan berkata,"Bismillah ... " Maka hancurlah tanah yang masih tersisa. Kemudian ia berkata, "Allah Mahabesar. Aku diberi kunci-kunci Yaman. Demi Allah dari tempatku ini aku bisa melihat pintu-pintu gerbang Shan'a."[8]
Diketahui juga bahwa Al-Barra' memiliki suara yang bagus sehingga Muhammad sering memintanya mendendangkan puja-puji syair dalam berbagai perjalanan yang mereka tempuh.[6]
Kota Shushtar (Tustar) yang dikepung pasukan muslim bersama al-Barra bin Malik.
Saat Abu Bakar menjadi khalifah, terjadi pertempuran Yamamah yang menewaskan banyak pasukan di kedua belah pihak. Pimpinan musuh, Musailamah, terdesak mundur dan masuk ke dalam benteng, saat itulah Barra mengajukan diri untuk dilemparkan ke dalam benteng musuh menggunakan pelontar atau naik tameng pasukan muslim dan dilempar
“Berdirikan aku di atas perisai kalian, kemudian lemparkan aku dengan kuat melewati pagar itu sehingga aku bisa membukakan pintu untuk kalian!”[9]
Akhirnya Barra masuk sendiri ke dalam benteng menghadapi banyak pasukan musuh dengan penuh luka lalu membuka gerbang benteng dari dalam, sehingga pasukan muslim bisa masuk dan mengalahkan musuhnya.[9] ia mendapatkan lebih 50 luka, karena sabetan pedang dan tombak. Darah mengucur dari luka-lukanya. Namun, kaum muslim segera merawat luka-lukanya dan setelah beristirahat selama sebulan, al-Barra pulih kembali.
Semasa Khalifah Umar, ia mengatakan kepada panglimanya di Irak agar jangan mengangkat Barra sebagai komandan karena ia terlalu berani dan tidak mempedulikan keselamatan dirinya saat berperang karena mencari kematian (mati syahid menurut Islam).[10]
Kematian
Daerah Tustar (Shustar)
Setelah pertempuran besar Qadisiyyah di masa Umar, pasukan muslim terus maju ke arah timur wilayah Persia (Iran) di mana Kaisar Persia melalui jendralnya Hurmuzan terus memobilisasi pasukan di wilayah benteng Tustar (Tustur/Sistar) yang berada di antara Basrah dan Isfahan. Pasukan muslimin dipimpin Abu Musa al-Asy'ari dan Abu Sabrah bin Abu Ruhm.
Pengepungan terjadi selama lebih 2 bulan pada 17 H / 641 M, Barra sendiri bertempur dengan membunuh lebih 100 pasukan musuh sampai akhirnya ia berdoa,“Aku bersumpah atas nama-Mu ya Allah, berilah kami kekuatan dan pertolongan untuk menumpas mereka dan pertemukanlah kami dengan Nabi-Mu yang mulia.”[9] Ia pun terbunuh (syahid menurut umat Islam) dalam bertempur di tepi Benteng Tustar (Tustur/Shustar) terkena senjata musuh bersama Majza'ah bin Tsaur. Salah satu riwayat mengatakan tubuh Barra tersangkut senjata pengait besi musuh yang dilemparkan dari atas benteng.[11]