Februari
Pada 19 Februari, 2 orang dinyatakan positif SARS-CoV-2 di Qom.[3] Kemudian pada hari itu, Kementerian Kesehatan dan Pendidikan Kedokteran Iran menyatakan bahwa keduanya telah meninggal dunia.[9]
Pada 20 Februari, 3 kasus baru dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan. Dua dari mereka berasal dari kota Qom dan satu dari Arak.[10]
Pada 21 Februari, 13 kasus baru dilaporkan. Tujuh kasus berasal dari Qom, 4 kasus dari Teheran, dan 2 kasus dari Provinsi Gilan. Dua orang lagi di Iran meninggal karena COVID-19.[11]
Pada 22 Februari, Kementerian Kesehatan Persia melaporkan 10 kasus yang terinfeksi sehingga jumlahnya menjadi 29 dan dua kematian lainnya sehingga total dari kasus tersebut menjadi delapan kasus. Delapan dari kasus baru berasal dari kota Qom dan dua dari Teheran.[12]
Pada 24 Februari, Menurut Wakil Menteri Kesehatan Iran Iraj Harirchi, "Dua belas orang telah meninggal dan 61 orang telah terinfeksi virus korona baru", ia membantah klaim anggota parlemen bahwa "50 orang meninggal di negara itu akibat virus korona".[13] Seorang penumpang Lebanon yang melakukan perjalanan ke Iran mengalami gejala virus korona dan berada di sebuah rumah sakit di Beirut.[14]
Pada 25 Februari, Iraj Harirchi dinyatakan positif terinfeksi SARS-CoV-2.[15] Sesi tertutup parlemen termasuk Menteri Kesehatan Saeed Namaki dan Ahmad Amirabadi Farahani, yang sehari sebelumnya mengklaim bahwa 50 COVID-19 kasus kematian telah terjadi di Qom,[16] diadakan. Suhu tubuh diuji sebelum pertemuan parlemen dan tiga anggota parlemen, termasuk Amirabadi Farahani, diminta untuk mengundurkan diri dari sesi tersebut dan karantina sendiri. Ketiganya menghadiri sesi tersebut. Amirabadi Farahani kemudian berbicara dengan para jurnalis dan memberikan wawancara televisi mengenakan topeng dan sepasang sarung tangan.[17]
Pada 27 Februari, Kementerian Kesehatan Iran melaporkan 245 warganya terinfeksi virus korona dan terdapat 26 kasus kematian.[18] Wakil Presiden Iran untuk Urusan Wanita dan Keluarga, Masoumeh Ebtekar serta Ketua Komite Urusan Keamanan dan Luar Negeri Parlemen Iran, Mojtaba Zolnour, didiagnosis menderita COVID-19.[6][19] Mantan Duta Besar Iran untuk Vatikan, Hadi Khosroshahi, meninggal karena infeksi COVID-19 di Qom.[20]
Pada 28 Februari, Kementerian Kesehatan Iran melaporkan 205 kasus baru yang dikonfirmasi dan 9 kasus kematian baru. Kementerian Kesehatan juga melaporkan bahwa 50 orang telah pulih.[21]