Artikel ini berisi tentang Serikat Yesus, juga dikenal sebagai Ordo Jesuit. Untuk filsafat tentang ajaran Yesus, lihat Yesusisme. Untuk kelompok, lihat Jesuit (band). Untuk kue kering, lihat Jesuite. Untuk roti lapis, lihat Jesuita (roti lapis).
Serikat Yesus (bahasa Latin:Societas Iesucode: la is deprecated ; disingkat: S.J. atau SJ), juga dikenal sebagai Ordo Jesuit atau Jesuit (/ˈdʒɛʒuɪts,ˈdʒɛzju-/;[2]bahasa Latin:Iesuitaecode: la is deprecated ),[3] adalah sebuah ordo religius yang terdiri dari tarekat reguler yang memiliki hak kepausan bagi pria di Gereja Katolik yang berpusat di Roma. Didirikan pada tahun 1540 oleh Ignatius Loyola dan enam orang rekannya, dengan persetujuan Paus Paulus III. Serikat Yesus terlibat dalam penginjilan dan pelayanan kerasulan di 112 negara. Para Jesuit bekerja di bidang pendidikan, penelitian, dan kegiatan budaya. Mereka juga mengadakan retret, melayani di rumah sakit dan paroki, mensponsori karya sosial dan kemanusiaan langsung, dan mempromosikan dialog ekumenis.
Para anggota Serikat Yesus menyatakan pengakuan akan "kemiskinan, kesucian, dan ketaatan abadi" dan "berjanji akan ketaatan khusus kepada Paus berkenaan dengan misi." Seorang Jesuit diharapkan untuk sepenuhnya siap sedia dan patuh kepada atasannya, menerima perintah untuk pergi ke mana pun di dunia, bahkan jika diharuskan untuk hidup dalam kondisi yang ekstrem. Ignatius, pendiri utamanya, adalah seorang bangsawan yang memiliki latar belakang militer. Baris pembukaan dokumen pendirian Serikat Yesus dengan demikian menyatakan bahwa serikat ini didirikan untuk “siapa pun yang ingin mengabdi sebagai prajurit Allah,[a] untuk berjuang terutama demi pembelaan dan penyebaran iman, dan demi kemajuan jiwa-jiwa dalam kehidupan dan doktrin Kristen".[7] Oleh karena itu, para Jesuit kadang-kadang disebut sebagai "prajurit Tuhan" dalam bahasa sehari-hari.[8] "Marinir Tuhan",[9] atau "Pelayan Tuhan".[10] Serikat Yesus turut serta dalam Kontra-Reformasi dan kemudian dalam pelaksanaan Konsili Vatikan Kedua.
Para misionaris Jesuit mendirikan misi di seluruh dunia dari abad ke-16 hingga abad ke-18 dan mengalami keberhasilan dan kegagalan dalam mengkristenkan penduduk asli. Para Jesuit selalu menjadi kontroversi dalam Gereja Katolik dan sering kali berselisih dengan pemerintah dan lembaga sekuler. Dimulai pada tahun 1759, Gereja Katolik mengusir para Jesuit dari sebagian besar negara di Eropa dan dari koloni-koloni Eropa. Paus Klemens XIV secara resmi menindas ordo tersebut pada tahun 1773. Pada tahun 1814, Gereja mencabut penindasan tersebut.
Pada 1537 mereka pergi ke Italia untuk mendapatkan persetujuan Paus atas ordo mereka.[13][15]Paus Paulus III memberikan mereka persetujuan dan mengizinkan mereka untuk ditahbiskan menjadi pastor dalam Gereja Katolik.[13] Mereka menerima tahbisan di Venesia oleh Uskup Arbe (24 Juni).[13][12] Mereka mengabdikan diri untuk menyebarkan agama Katolik dan kerja amal di Italia, karena rencana perjalanan mereka ke Yerusalem terhalang oleh pecahnya kembali perang antara kaisar, Venesia, Paus, dan Kerajaan Ottoman.[13]
Ignatius menulis Konstitusi Serikat Yesus yang disahkan pada 1554.[16][15] Konstitusi ini menciptakan organisasi dengan kepemimpinan tunggal dan menetapkan penyangkalan diri dan ketaatan mutlak kepada Paus dan para pemimpinnya.[16] Prinsip utamanya menjadi Motto Yesuit: Ad Maiorem Dei Gloriam ("demi lebih besarnya kemuliaan Allah").[13][15][17]
Ignatius Loyola dan para Yesuit pengikutnya percaya bahwa pembaruan Gereja harus dimulai dengan pertobatan hati.[16][18] Salah satu sarana utama untuk menghasilkannya adalah Latihan Rohani yang disebut retret Ignasian.[16] Selama empat minggu dalam kebisuan orang menjalani meditasi terpimpin mengenai hidup Kristus.[16] Pada masa itu, mereka secara teratur bertemu dengan seorang pembimbing rohani yang menolong mereka memahami panggilan atau pesan Tuhan melalui meditasi mereka.[16]Retret ini mengikuti pola Penyucian-Pencerahan-Kesatuan sesuai dengan tradisi mistik Yohanes Kasianus dan para Bapa Padang Pasir.[16] Ignatius menciptakan inovasi yang membuat mistisisme kontemplatif ini bisa diikuti oleh semua orang, dan menggunakannya sebagai sarana membangun kembali kehidupan rohani Gereja.[16][15]
Yesuit juga mendirikan banyak sekolah, yang menarik anak para elite karena metode pengajaran mereka yang maju dan moral yang tinggi.[15][11] Sekolah Yesuit memainkan peranan penting dalam memenangkan beberapa negara Eropa kembali ke Katolik, setelah beberapa lama didominasi oleh Protestan, terutama Polandia[11][17]
Sesuai dengan tradisi Katolik Roma, mereka mengajarkan penggunaan upacara dan dekorasi di dalam ritual dan Devosi Katolik.[11] Karena itu, banyak Yesuit perdana yang menonjol dalam seni visual dan pertunjukan maupun dalam musik.[11]
Kaum Yesuit berhasil mendapatkan pengaruh yang menonjol pada Periode Modern Awal karena para imam Yesuit sering bertindak sebagai "konfesor" raja-raja pada masa itu.[16][15] Disamping itu mereka berperan penting dalam Reformasi Katolik dan dalam berbagai misi Katolik karena struktur mereka yang kendur (tanpa harus tinggal dalam suatu komunitas, melakukan "doa ofisi" bersama, dan lain-lain) membuat mereka lebih fleksibel untuk memenuhi kebutuhan orang-orang pada masa itu.[16][15]
Pengembangan
Misi awal di Jepang dirasakan positif oleh pemerintah Jepang sehingga pemerintah memberikan kaum Yesuit tanah feudal Nagasaki pada 1580.[16][15][19] Namun hak ini dihapus pada 1587, karena pemerintah Jepang khawatir atas berkembangnya pengaruh Yesuit di sana.[16][15][19]
Dua misionaris Yesuit, Gruber dan D'Orville, mencapai Lhasa di Tibet pada 1661.[16]
Misi Yesuit di Amerika Selatan menimbulkan kehebohan hebat di Eropa, terutama di Spanyol dan Portugal, karena mereka dianggap mengganggu upaya penjajahan pemerintah kerajaan.[16][15] Kaum Yesuit sering kali menjadi satu-satunya kekuatan yang menghalangi perbudakan orang Indian.[16][15] Di banyak tempat di Amerika Selatan terutama wilayah yang kini dikenal sebagai Brasil dan Paraguay mereka membentuk pemerintahan kota Indian-Kristen yang disebut reduksi (bahasa Spanyol: Reducciones).[16][15] Ini adalah masyarakat teokrasi yang dianggap ideal.[16] Salah satu sebab terjadinya tekanan pada kaum Yesuit saat itu adalah bahwa mereka banyak menghalangi perbudakan orang Indian oleh bangsa Spanyol dan Portugis.[16][15]
"Hidup dan Karya Confucius, oleh Prospero Intorcetta, 1687
Para sarjana Yesuit yang bekerja dalam misi asing ke masyarakat kafir memainkan peranan penting dalam memahami bahasa mereka yang tidak dikenal.[16][15] Merekapun berusaha untuk memproduksi tata bahasa dan kamus bahasa tersebut dalam huruf Latin, suatu usaha pertama yang terorganisasi dalam linguistik.[16][15] Ini dilakukan, contohnya, untuk bahasa Jepang dan Tupi-Guarani (sebuah bahasa masyarakat pribumi di Amerika Selatan).[16][15][19]
Serikat ini dipulihkan kembali oleh Paus pada 1814, lalu terjadilah pertumbuhan yang luar biasa seperti yang diperlihatkan oleh begitu banyaknya kolese dan universitas Yesuit yang didirikan.[16][15] Meskipun banyak dipertanyakan, kaum Yesuit biasanya mendukung otoritas kepausan dalam Gereja dan beberapa anggotanya terkait dengan gerakan Ultramontanis dan deklarasi Infalibilitas kepausan pada 1870.[15]
Yesuit kini
Yesuit pada masa kini merupakan ordo keagamaan terbesar di Gereja Katolik.[16][15] Anggotanya lebih dari 20.000 orang dan melayani di 112 negara di enam benua.[16][15] Pemimpin Umum Yesuit saat ini adalah Pater Arturo Sossa Abascal.[15][11] Ciri pelayanan Serikat Yesus adalah bidang misi, hak asasi manusia, keadilan sosial, dan pendidikan tinggi (utama).[16][15][11] Serikat Yesus menyelenggarakan kolese dan universitas di berbagai negara dan di seluruh dunia, seperti Filipina, India, dan Indonesia.[16][15] Di Amerika Serikat, Yesuit mengelola lebih dari 50 kolese, universitas, dan sekolah menengah.[16][15]
Pada 1859 van den Elzen, SJ dan J.B. Palinckx, SJ tiba di Indonesia, dan memulai kembali karya Yesuit di Indonesia.[20] Pada tahun 1865 de Vries SJ mengunjungi Singkawang dan membaptis lima katekumen setelah dipertemukan oleh seorang Tionghoa bernama Yu Ken Yong asal Malaka. Yesuit di Singkawang mendirikan sekolah pertama yang awalnya dikhususkan bagi anak-anak Tionghoa. Anak Dayak dibuatkan sekolah di Laham dan Sejiram.[21] Pada 1893 W.J. Staal, SJ ditugaskan sebagai Vikaris Apostolik yang berkedudukan di Batavia.[20]
Dalam pelayanan pastoral, Yesuit mengajar agama, membimbing retret, memberi bimbingan rohani, mendirikan pusat riset dan pengembangan di bidang pastoral.[20]
Dalam bidang sosial kemasyarakatan, sejumlah Yesuit aktif dalam bidang sosial budaya dan kemasyarakatan.[20]Petrus Josephus Zoetmulder memiliki pengetahuan mendalam mengenai sastra Jawa dan berhasil menyusun dua jilid kamus Jawa Kuna.[20]
Aloy, Aloysius. RB. Sugiantoro (ed.). Semangat Dayak: Catatan Perjuangan Politik Partai Persatuan Dayak-PPD (1945-1963). Jakarta: Penerbit Buku Kompas. ISBNÂ 978-623-241-007-7.