Ibadat umat beriman
Dimulai dengan suatu litani yang lebih panjang untuk berbagai niat, bagi perdamaian, Gereja, para uskup (Yakobus, Klemens, Evodius, dan Anianus disebutkan), para imam, para diakon, para pelayan, para lektor (pembaca Kitab Suci), para penyanyi, para perawan, para janda, yatim-piatu, orang-orang yang sudah berumah tangga, orang-orang yang baru dibaptis, orang-orang di dalam penjara, musuh-musuh, para penganiaya dst., dan akhirnya "bagi segenap umat Kristen". Sesudah litani diadakan pengumpulan kolekte, kemudian sapaan lainnya dari uskup dan Salam damai.
Sebelum Persembahan para diakon berdiri di pintu-pintu untuk kaum pria dan para subdiakon di pintu-pintu untuk kaum wanita "agar tak seorang pun dapat keluar, dan tak satu pintu pun dapat dibuka", lalu diakon memperingatkan agar semua katekumen, orang-orang yang tidak percaya, dan para bidaah untuk meninggalkan tempat, para ibu untuk mengawasi anak-anak mereka, agar jangan ada orang yang berpura-pura, dan semua orang agar berdiri dengan takut dan gentar. Lalu para diakon mengantarkan persembahan kepada uskup di altar.
Para imam berdiri mengelilingi altar, dua diakon menggerakkan kipas (‘ripÃdia) ke atas roti dan anggur lalu Anafora (kanon) dimulai. Uskup sekali lagi menyapa umat dengan kalimat dari II Korintus 13:14, dan dijawab umat dengan: "Dan serta rohmu juga". Uskup berkata: "Arahkan hatimu." Dijawab: "Sudah kami arahkan kepada Tuhan." Uskup: "Marilah kita bersyukur kepada Tuhan." Umat: "Sudah layak dan sepantasnya." Uskup: "Sungguh layak dan terutama pantas untuk bernyanyi bagi Engkau, yang adalah Allah sejati, yang ada sebelum semua ciptaan, yang dari-Nya semua makhluk di surga dan bumi beroleh nama.…" dan demikianlah doa Ekaristi dimulai.
Uskup berkata-kata mengenai "Putera tunggal, Sang Sabda dan Allah, yang selain Kebijaksanaan, adalah yang pertama dari segala ciptaan, Malaikat dari kumpulan-Mu yang besar", menyebut juga mengenai taman Eden, Habel, Henokh, Abraham, Melkisedek, Ayub, dan orang-orang kudus lainnya dari Perjanjian Lama. Setelah uskup berkata: "bala malaikat yang tak terhitung jumlahnya … para Kerubim dan para Serafim yang bersayap enam … bersama dengan beribu-ribu malaikat agung dan berlaksa-laksa malaikat tak terputus dan tak henti-hentinya berseru", "lalu seluruh umat bersama-sama berkata: 'Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Semesta Alam, surga dan bumi penuh kemuliaan-Nya, terpujilah selama-lamanya, Amin.'"
Uskup kemudian berkata: "Engkau sungguh kudus dan kudus sepenuhnya, tertinggi dan terpuji selama-lamanya. Dan kuduslah, Putera tunggal-Mu, Tuhan dan Allah kami Yesus Kristus…"; dan kemudian Uskup tiba pada kisah institusi: "pada malam sebelum dikhianati, Ia mengambil roti dengan tangan-Nya yang kudus dan tak berdosa dan menengadah pada-Mu, Allah dan Bapa-Nya, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya seraya berkata: Inilah Misteri Perjanjian Baru; ambillah daripadanya, makanlah. Inilah tubuh-Ku, yang dipecah-pecahkan bagi banyak orang demi pengampunan dosa-dosa. Demikian pula setelah mencampur anggur dan air dalam piala, dan setelah memberkatinya, Ia memberikannya kepada mereka seraya berkata: Minumlah kalian semua daripadanya. Inilah darah-Ku yang ditumpahkan bagi banyak orang demi pengampunan dosa-dosa. Lakukanlah ini demi peringatan akan Aku. Karena setiap kali kalian makan roti ini dan minum dari piala ini, kalian mewartakan kematian-Ku sampai Aku datang."
Menyusul anamnesis ("Oleh karena itu untuk mengenang sengsara dan wafat dan kebangkitan dan kembali-Nya ke surga dan kedatangan-Nya yang kedua kelak …"), Epiklesis atau permohonan ("utuslah Roh Kudus-Mu, saksi dari sengsara Tuhan Yesus ke atas persembahan ini, agar Dia mengubah roti ini menjadi tubuh dari Kristus-Mu dan piala ini menjadi darah Kristus-Mu …"), dan semacam litani (doa umat) bagi Gereja, kaum klerus, Kaisar, dan bagi segala macam dan keadaan manusia, yang diakhiri dengan doksologi (pujian bagi Allah Tritunggal), "lalu seluruh umat berkata: Amin." Dalam litani ini terdapat permohonan khusus (sesudah doa bagi Kaisar dan tentara) yang melibatkan orang-orang kudus bagi orang-orang yang hidup yang bagi mereka uskup berdoa: "Kami juga mempersembahkan kurban ini bersama segenap batrik, para nabi, para rasul yang benar, para martir, para pembela iman, para uskup, para imam, para diakon, para subdiakon, para lektor, para penyanyi, para perawan, para janda, umat awam, dan semua nama yang Engkau kenal, yang kudus dan berkehendak baik." Setelah salam damai (Damai Allah beserta kalian semua) diakon mengajak umat untuk berdoa bagi berbagai hal yang hampir sama dengan litani uskup tadi, lalu uskup menghimpun semua doa mereka dalam suatu kolekte.
Uskup kemudian menunjukkan kepada mereka Ekaristi Kudus, sambil berkata: "yang serba kudus bagi orang-orang kudus" dan mereka menjawab: "Satu jua yang kudus, Satu jua yang adalah Tuhan, Yesus Kristus dalam kemuliaan Allah bapa, dst." Uskup membagikan komuni suci dalam bentuk roti kepada tiap umat, sambil berkata: "Tubuh Kristus", dan penerima komuni menjawab:"Amin". Diakon melanjutkan dengan piala, sambil berkata: "Darah Kristus, piala kehidupan." Dijawab: "Amin." Pada saat umat menerima komuni, didaraskan mazmur 33 (Aku hendak memuji Tuhan setiap waktu). Seusai komuni diakon mengambil yang tersisa dari Sakramen Mahakudus untuk disimpan dalam tabernakel (pastofória). Kemudian diikuti ucapan syukur singkat, lalu uskup membubarkan umat dan diakon mengakhiri perayaan dengan berkata: "Pergilah dalam damai."
Seluruh liturgi tersebut, menurut si penyusun berasal dari para Rasul, dan dia menyisipkan kalimat-kalimat yang menerangkan bahwa bagian liturgi tertentu disusun oleh Rasul tertentu, misalnya: "Dan aku, Yakobus, saudara Yohanes putera Zebedeus, berkata bahwa diakon harus pertama-tama berkata: 'Tak seorang pun dari para katekumen,'" dst. Buku kedua Ketetapan Rasul-Rasul Kudus memuat garis besar suatu liturgi (hampir tidak lebih dari sekadar catatan-catatan kaki) yang dalam praktiknya berhubungan dengan liturgi di atas.