Beberapa atau seluruh referensi dari artikel ini mungkin tidak dapat dipercaya kebenarannya. Bantulah dengan memberikan referensi yang lebih baik atau dengan memeriksa apakah referensi telah memenuhi syarat sebagai referensi tepercaya. Referensi yang tidak benar dapat dihapus sewaktu-waktu.
Sayyid Usman Syahabuddin bin Abdurrahman Banahsan Assegaf (Arab:السيد عثمان أصحاب الدين بن عبدالرحمن) atau Said Usman adalah seorang ulama yang pernah menjabat sebagai mufti, penasehat pribadi sultan dan panglima perang di Kesultanan Siak Sri Indrapura. [1][2][3]
Pada pemerintahan Sultan Alamuddin Syah, baginda tidak mau tunduk kepada Belanda dan Benteng Belanda di Pulau Guntung ditutup oleh Sultan.
Sultan Alamuddin Syah mengubah tradisi pernikahan yang biasanya terjadi antara anak dari keluarga atau dari kalangan suku sendiri. Sultan memiliki anak peraanan yang bernama Tengku Embung Badariah, menikahi dengan seorang dari keturunan Arab yang gagah dan rupawan dan memiliki langsung garis silsilah Nabi Muhammad SAW yang bernama Sayid Syarif Usman bin Syarif Abdul Rahman Syahabuddin. Mengenai asal-usul dari Sayid Syarif Usman ini, terdapat empat orang penyiar Agama Islam dari Negeri Arab (Yaman Tarim) yang turun ke wilayah Asia Tenggara, mereka adalah Syed Abdullah Al Qudsi, Syaid Usman bin Syahabuddin, Sayid Muhammad bin Akhmad Allydrus, Sayid Husen Al Qadri. [8][9][10]
Selain berdakwah Sayyid Usman juga dikenal sebagai ahli strategi perang, militer, ahli politik, ahli diplomasi dan juga ahli ekonomi. Beliau menjabat sebagai Diplomat dan Mufti Kerajaan di Kesultanan Siak yang bergelar "Tuan Besar Siak".
Tengku Busu Said Ahmad, Yang Dipertuan Muda Tebing Tinggi.
Nasab Silsilah
Sayyid Usman bin Abdurrahman bin Sa'id bin Ali bin Muhammad bin Hasan bin Umar Banahsan bin Hasan bin Ali bin Abubakar As Sakran bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Al-Ghoyyur bin Muhammad al-Faqih Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali' Qasim bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa Ar-Rumiy bin Muhammad Annaqib bin Ali Al-Uraidhiy bin Ja'far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Hussein dari Fatimah az-Zahra Putri Rasulullah ﷺ.
[12][13][14]
Peranan di Kesultanan Siak
Ketika Sultan Alamuddin dinobatkan menjadi Sultan Siak ke-4, situasi kerajaan begitu kalut dan ekonomi sedang terpuruk parah akibat peperangan terus menerus dengan Belanda. Jalur pelayaran di Kuala Siak diblokade Belanda yang mengakibatkan perniagaan ke Siak terganggu dan akibatnya ekonomi Kerajaan terancam lumpuh. [15]
Sementara di dalam istana Siak sendiri juga terjadi pecah belah akibat sikap pembesar kerajaan yang masih belum bulat dalam mendukung Tengku Alamuddin sebagai Sultan. Sebagian masih tetap loyal kepada Tengku Ismail, meski yang bersangkutan sendiri telah menyerahkan takhtanya kepada Tengku Alam. Dalam situasi demikian, Tengku Alam memerlukan pemikiran yang sangat teliti dan jernih untuk menentukan sikap terbaik agar segala kekalutan itu dapat teratasi. [16]
Saat inilah tampil Sayyid Usman sebagai menantu sultan yang sekaligus menjadi penasihat pribadi Sultan, beliau menyampaikan buah pikirannya sebagai tokoh yang sarat dengan pengalaman dan buah pikiran yang amat tepat dan bernas. Langkah pertama yang diambilnya adalah memadukan semua kekuatan yang ada di Siak, terutama di kalangan Istana dan pembesar Kerajaan. Untuk itu beliau menyarankan kepada Sultan agar bersikap lunak kepada bekas pengikut setia Tengku Ismail, dan tidak melucuti jabatan yang ada pada mereka.
Salah satunya Sayyid Usman ketika itu memberi masukan kepada Sultan untuk memindahkan ibukota kerajaan dari Mempura (Siak) ke Senapelan (Pekanbaru sekarang) yang lebih jauh ke hulu sungai Siak dengan pertimbangan antara lain;
- Supaya lebih jauh dari loji Belanda di Kuala Siak (Pulau Guntung), sehingga kalaupun Belanda berniat hendak menyerang Siak, akan memakan waktu lama untuk menuju hulu.
- Supaya lebih dekat ke Tapung di hulu Siak yang pada masa itu menjadi penghasil kekayaan hasil hutan terbesar seperti kayu gaharu, damar, rotan, kemenyan dan perikanan sungai.
- Supaya dapat menghimpun kekuatan baru dengan menggalang Askar pasukan perang yang diambil dari masyarakat suku asli yang tersebar di sekitar pendalaman Siak hingga kehulunya.
- Membuka jalur dagang baru di bagian hulu Siak yang juga berdekatan dengan hulu Kampar dan hulu Rokan sehingga menghidupkan jalur perniagaan baru setelah Kuala Siak diblokade Belanda.
Pada tahun 1762 saran tersebut dilakukan, dimana ibukota kerajaan Siak dipindahkan ke Senapelan yang nantinya daerah ini menjadi cikal bakal kota Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau saat ini. Disinilah beliau mulai menyusun kekuatan dan memulihkan perekonomian Kerajaan. Langkah tersebut berdampak sangat positif bagi Kesultanan Siak. Dengan adanya jalur perdagangan dan pusat perdagangan baru, ekonomi kerajaan Siak sangat meningkat, setelah sebelumnya terjebak didalam kekalutan demi kekalutan.
Dengan keahliannya, Sayyid Usman memberikan perananan yang besar dalam perkembangan kerajaan Siak dengan berkali-kali memimpin pertempuran. Hal ini membuat Kesultanan Siak memiliki 12 daerah jajahan atau yang disebut dengan jajahan 12 negeri, yang mencakup Kota Pinang, Pagarawan, Negeri Bedagai, Negeri Kualuh, Panai, Bilah, Batubara, Negeri Asahan, Negeri Serdang, Negeri Deli, Negeri Langkat, hingga akhirnya berhasil mengambil alih Karang Temiang dari Kesultanan Aceh.
Pada awalnya seni tari dan musik zapin dijadikan sebagai hiburan bagi murid-murid setelah mengaji agama di lingkungan kerajaan. Namun setelah Tengku Embung Badariyah binti Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (1766 – 1780 M) menikah dengan Sayyid Usman Syahabuddin, keberadaan tari zapin makin berkembang di wilayah Great Tradition (Lingkungan Istana) dan berakulturasi dengan budaya lokal. Akhirnya, tari zapin menjadi seni hiburan di kalangan istana bahkan dalam acara seremonial kerajaan sehingga dikenal dengan sebutan Zapin Istana (Siak Sri Indraapura).
Peranan dalam dakwah
Komplek Makam Marhum Pekan, Senapelan Pekanbaru
Sayyid Usman juga memiliki peran yang besar dalam perkembangan dakwah Islam di Siak dan sekitarnya. Dengan berkeliling dari kampung ke kampung, Sayyid Usman mendekati berbagai lapisan masyarakat dalam rangka menerangkan akidah islam yang sebenarnya. Dengan berbekal ilmu pengetahuan agamanya yang luas, cara bicara yang memikat, dan dengan membaur dengan adat Melayu setempat, membuat ia mampu menanamkan nilai-nilai luhur ajaran Islam kedalam seluruh lapisan masyarakat kala itu, hingga akhirnya masyarakat Melayu Riau dikenal sangat identik dengan Islam.
Sayyid Usman Syahabuddin mengembangkan ajaran Islam di sepanjang Sungai Siak, Sungai Rokan, dan Pesisir Timur Sumatera. Sebagai penyebar agama Islam, beliau dikenal namanya sebagai Tuan Said Osman atau Engku Said Osman.
Di dalam syair Cik Nakhoda Agam peranan beliau menyebarkan Islam diceritakan,
Tuan Sayyid Osman orang bertuah
Menyebarkan Islam tiada lengah
Budinya elok fiil pun indah
Mukanya manis mulutpun ramah
Engku Sayyid orang pilihan
Membawa Islam sampai ke Rokan
Mudik ke hulu memakai sampan
Banyaklah orang ikut berjalan
Dalam memasyarakatkan ajaran Islam kepada masyarakat Siak, Sayyid Usman turut menggunakan pendekatan seni budaya lokal Melayu sebagai media dakwah. Dengan dibantu istrinya Tengku Embung Badariyah, Sayyid Usman membuat beberapa Syair Melayu bernuansa Islam dan tarekat, diantaranya adalah Zapin Bismillah, Zapin Imam Berempat, Zapin Pulut Hitam, Zapin Siti Payung, Zapin Gunung Banang, Zapin Dunya Zaman dan lain-lain.
Perang Batubara melawan VOC Belanda, 1680 - 1830 an
Dalam sejarah kawasan Pesisir Timur Sumatera, terutama Batubara, Asahan, Deli, Siak, dan Riau, terjadi sebuah peperangan besar pada abad ke-17 dan 18 yang berkaitan dengan tokoh bangsawan Melayu dan sayyid dari Riau.
[17]
Batubara adalah salah satu wilayah yang menolak masuk ke dalam sistem monopoli VOC. Daerah itu beberapa kali menjadi lokasi ekspedisi militer VOC terhadap Batubara.
VOC mencatat beberapa serangan dan hukuman dagang terhadap Batubara karena:
menolak monopoli perdagangan lada dan timah,
dianggap memberi perlindungan pada pelaut Aceh dan Johor yang memusuhi VOC,
menolak pemasangan post dan kontrol Belanda.
Beberapa ekspedisi besar VOC ke Batubara:
1670–1690-an: VOC menyerang pesisir Timur Sumatera termasuk Batubara dan Asahan, pada masa pasca kejatuhan Kesultanan Johor dan melemahnya Aceh.
1740–1780-an: Konflik berulang antara VOC dan raja-raja Batubara & Asahan. VOC menyerang kampung-kampung pesisir yang tidak tunduk pada monopoli lada.
1780–1830: Catatan kolonial menyebut Batubara dianggap wilayah bandel karena memiliki hubungan erat dengan kerajaan Melayu lain seperti Johor–Riau–Lingga–Siak yang berhubungan satu sama lain.
Dalam kacamata Belanda, Batubara bukan kekuatan besar. Belanda mengklasifikasikan kerajaan di pesisir Timur Sumatra dalam beberapa kategori:
Besar: Siak, Deli (akhir abad 19), Aceh, Riau-Lingga
Menengah: Asahan, Langkat
Kecil tapi berpengaruh lokal: Batubara, Kualuh, Bilah
Batubara masuk kategori ketiga. Jadi secara size dan jumlah prajurit, Batubara memang bukan kekuatan besar.
Tapi Batubara tetap dianggap sumber masalah. Walaupun kecil, Batubara memiliki ciri yang membuat Belanda tidak bisa menyepelekan:
1. Posisi strategis di jalur Selat Malaka
Kapal-kapal dari Deli, Asahan, Riau, bahkan dari India–Arab, melewati jalur Batubara.
Siapa menguasai Batubara, dapat kendali pesisir.
2. Punya jaringan kuat dengan Siak dan Riau
Ini membuat Batubara tidak bisa dipaksa semudah kerajaan kecil lain.
3. Para penghulunya keras melawan intervensi
Belanda mencatat:
"Batubara is klein maar koppig"
Batubara kecil tetapi keras kepala.
Mereka menolak kontrak, menolak monopoli, bahkan menolak pendataan penduduk
Oleh karena itu, VOC menyerang Batubara karena dianggap mengganggu kepentingan Belanda di Selat Malaka. Banyak tokoh dari Siak, Riau, dan Johor yang terlibat.
[18]
Dalam tradisi lokal Batubara, Asahan, dan Riau, beberapa bangsawan atau ulama yang gugur pada periode tertentu dianugerahi gelar syahid. Salah satunya diyakini adalah Sayyid Usman Syahabuddin.
Wafat
Sayyid Usman syahid dalam peperangan melawan Belanda di Batubara, Sumatera Utara. Oleh anaknya, Sultan Syarif Ali, jenazah beliau dibawa ke Riau, dimakamkan di Kompleks Makam Marhum Pekan, Senapelan, Pekanbaru dan diberikan gelar Marhum Barat.
Dalam tradisi kerajaan Melayu, seseorang biasanya bangsawan atau ulama besar) setelah wafat sering diberi gelar:
Marhum + ciri tempat wafat
Marhum + ciri arah
Marhum + ciri tempat dimakamkan
Marhum + ciri peristiwa kematian
Gelar Marhum Barat diberikan kepada Sayyid Usman Syahabuddin dikarenakan jenazah beliau masuk dari arah barat kota Senapelan Pekanbaru
Jenazah Sayyid Usman datang dari Batubara, menyusuri Sungai Siak, lalu masuk ke Senapelan dari arah barat, maka gelar Marhum Barat dapat merujuk pada arah kedatangan jenazah.