Referensi silang: Ayub 1:6
Adegan ini merupakan pertemuan kedua makhluk-makhluk sorgawi yang dipimpin oleh Tuhan Allah (lihat keterangan pada Ayub 1:6, juga 1 Raja–raja 22:19–22; Ayub 15:8; Mazmur 82:1; 89:7; Yeremia 23:8). Dalam Kitab Ayub, "שטן" (shatan; bahasa Indonesia: setan; iblis) bukanlah nama pribadi Iblis, sebagai kemudian dalam sastra Yahudi dan Kristen, melainkan kata Ibrani ini, yang diawali dengan kata sandang ha- berarti "pendakwa" atau "penuduh" (bahasa Inggris:adversarycode: en is deprecated atau accuser), salah satu anggota dewan sorgawi yang berfungsi sebagai semacam jaksa penuntut (bandingkan Zakharia 3:1). Pendakwa ini menuduh kesalehan Ayub itu "dibeli" dengan perlindungan dan pemberian ilahi.[4]
Ayat 3
Firman TUHAN kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan.[5]
bahasa Ibrani: ויאמר יהוה אל־השטן השמת לבך אל־עבדי איוב כי אין כמהו בארץ איש תם וישר ירא אלהים וסר מרע ועדנו מחזיק בתמתו ותסיתני בו לבלעו חנם׃
Transliterasi Ibrani: wa·yo·mer YHWH el-ha·sya·tan ha·syam·ta li·be·kha el-ab·di i·yob ki ein ka·mo·hu ba·'a·retz isy tam we·ya·syar ye·re e·lo·him we·sar me·ra we·'o·de·nu ma·kha·ziq be·tu·ma·to wa·te·si·te·ni bo le·ba·le·'ow khi·nam.
Ayub, penderita yang tak bersalah, melambangkan Yesus Kristus dan semua orang percaya yang benar di bawah Perjanjian Baru.
1) Sebagai teladan orang benar yang menderita pada zaman Perjanjian Lama, Ayub menjadi lambang Kristus—Orang Benar yang sempurna—yang menderita sekalipun Ia tidak bersalah. Kristus yang tidak berdosa menderita dalam tubuh-Nya semua dampak kejahatan dan "dipukul dan ditindas Allah" (Yesaya 53:4; bandingkan 1 Petrus 2:24; 4:1).
2) Lagi pula, Ayub menjadi teladan ketabahan yang sabar di tengah-tengah kesukaran, suatu hal yang dituntut dari anak Tuhan di dalam Kristus (Yakobus 5:11; juga Ibrani 11:1–40 yang menyebut banyak pahlawan iman yang menderita dan mati tanpa menerima kelepasan). Sebagaimana Ayub menderita tanpa salah karena kesetiaannya kepada Allah dan kebenaran-Nya, demikian juga semua orang percaya yang setia sedikit banyak akan menderita. Perjanjian Baru menyatakan bahwa "setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya" (2 Timotius 3:12) -- suatu penderitaan yang dianggap sebagai memasuki "persekutuan dalam penderitaan Kristus" (Filipi 3:10; bandingkan Kolose 1:24). Dengan demikian para penderita yang tidak bersalah menjadi sahabat Allah (bandingkan 1Petrus 2:21; 4:1; 4:13; 5:10).[6]
Ayat 7
Kemudian Iblis pergi dari hadapan TUHAN, lalu ditimpanya Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya.[7]
"Barah" dari bahasa Ibrani: שְׁחִין she-khin, sama dengan kata yang dipakai untuk barah yang menimpa orang Mesir[8] dan raja Hizkia,[9] serta yang dicatat dalam bagian hukum Taurat.[10]
Ayat 11
Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya masing-masing, yakni: Elifas, orang Teman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama. Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia.[11]
bahasa Ibrani: וישמעו שלשת ׀ רעי איוב את כל־הרעה הזאת הבאה עליו ויבאו איש ממקמו אליפז התימני ובלדד השוחי וצופר הנעמתי ויועדו יחדו לבוא לנוד־לו ולנחמו׃
↑The New Oxford Annotated Bible with the Apocrypha, Augmented Third Edition, New Revised Standard Version, Indexed. Michael D. Coogan, Marc Brettler, Carol A. Newsom, Editors. Publisher: Oxford University Press, USA; 2007. ISBN 0-19-528881-5, 978-0195288810