Ia kawin dengan seorang laki-laki bernama AbuI 'Ash bin Al-Rabi'.[1] Lelaki ini adalah sepupu dari ibunya sendiri.[1] Suami Zainab awalnya bukan pemeluk agama Islam.[1] Suaminya beberapa kali dipenjarakan dan Zainablah yang berusaha untuk membebaskan suaminya.[1] Salah satu usaha Zainab membebaskan suaminya adalah dengan menjual seuntai kalung milik ibunya, Khadijah binti Khuwailid dan menebus suaminya dari Muhammad.[1] Muhammad mengajukan syarat kepada Zainab agar suaminya dapat dibebaskan.[2]
Makam Zainab di Baqi Madinah.
Syaratnya adalah Zainab harus pergi ke Madinah apabila ingin suaminya dibebaskan.[2] Zainab pun menyetujui syarat tersebut.[2] Suaminya sempat dibebaskan tetapi kemudian dimasukkan lagi ke penjara sampai akhirnya dibebaskan kembali karena Zainab turut campur tangan dalam proses pembebasan.[1] Setelah suaminya Zainab memeluk agama Islam maka Zainab menikah untuk kedua kalinya secara Islam.[1]
Zainab mempunyai dua orang anak yang bernama Ali dan Umamah binti Abul 'Ash ar-Rabi'.[1] Akan tetapi, Ali meninggal saat masih bayi.[1] Umamah, cucu kesayangan Muhammad, menikah dengan Ali bin Abi Thalib setelah wafatnya Fatimah binti Muhammad serta dinikahi al-Mughirah bin Naufal setelah 'Ali meninggal. Memiliki seorang anak.[1] atau menurut pendapat lain, 2 orang anak, yaitu Yahya bin al-Mughirah dan Muhammad al-Ausath bin 'Ali bin Abi Thalib.[3]
Meninggal
Zainab binti Muhammad Muhammad, dia meninggal tahun 8 H/ 629 M di Madinah pada usia 29 tahun dalam keadaan sakit dan dikuburkan di pemakaman Jannatul Baqi, kota Madinah, Saudi Arabia.[4]
Referensi
123456789101112Hassan Shadily. Ensiklopedia Indonesia. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve