Tulungagung (juga sering disebut Tulungagung Kota) adalah kecamatan yang berperan sebagai ibu kota dan pusat ekonomi dari Kabupaten Tulungagung. Tulungagung merupakan kecamatan terkecil tetapi kepadatan penduduknya tertinggi.[1] Kecamatan ini berada di tepian Sungai Ngrowo dan terdapat persimpangan jalan nasional strategis yang menghubungkan Kediri di utara, Trenggalek di barat, dan Blitar di timur. Sebagai ibu kota, Kecamatan Tulungagung memiliki kantor dinas, Taman Aloon-Aloon, pusat peribadatan, pusat perbelanjaan, gelanggang olahraga, rumah sakit, hingga Stasiun Tulungagung.[2][3]
Kecamatan Tulungagung yang sekarang merupakan pemindahan ibu kota yang awalnya berada di Kalangbret. Saat itu, wilayah ini masih bernama Kadipaten Ngrowo yang kemudian diubah menjadi Kabupaten Tulungagung dengan ibu kota di Kecamatan Tulungagung. Peristiwa pemindahan ini terjadi sekitar tahun 1824 dengan bupati pertama di lokasi yang baru adalah Raden Mas Tumenggung Pringgodiningrat.[2]
Geografi
Lokasi Tulungagung
Tulungagung adalah kecamatan terkecil di Tulungagung dan terletak di tengah kabupaten. Kecamatan ini berada di persimpangan antara Kediri, Blitar, dan Trenggalek. Wilayahnya berupa dataran rendah dan dipisahkan oleh Sungai Ngrowo yang mengalir menuju Sungai Brantas di utara. Seluruh wilayah kecamatan yang berada di timur Sungai Ngrowo berciri urban dan padat penduduk. Sedangkan wilayah di barat ada yang masih berupa pedesaan dan terdapat persawahan, misalnya Kelurahan Kedungsoko. Bagian timur dan barat Ngrowo terhubung oleh berbagai jembatan seperti Jembatan Lembu Peteng, Sembung, dan Kutoanyar. Akibat perkembangan penduduk yang pesat, kawasan urban di Kecamatan Tulungagung melebar hingga kecamatan tetangga seperti Kedungwaru dan Boyolangu.[4]
Batas wilayah Kecamatan Tulungagung adalah sebagai berikut:[4]
Pada masa Kesultanan Mataram, berdiri sebuah kabupaten bernama Ngrowo dengan ibu kota Kalangbret yang berada di barat Sungai Ngrowo. Kabupaten ini berdiri sekitar tahun 1700-an dan bupati pertamanya adalah Ngabehi Mangundirono. Pada masa Bupati Ngrowo ke-4 yaitu Raden Mas Tumenggung (RMT) Pringgodiningrat, dilakukan pemindahan ibu kota Ngrowo ke seberang Sungai Ngrowo di daerah yang dinamakan Tulungagung, ditandai dengan pembangunan alun-alun yang dibantu oleh Kyai Abu Manshur dari Tawangsari. Kemudian nama Kabupaten Ngrowo diubah menjadi Kabupaten Tulungagung pada masa Raden Tumenggung Cokroadinegoro sekitar tahun 1902.[2][5]
Di zaman Belanda, Kecamatan Tulungagung dijadikan pusat dari kawedanan atau daerah pembantu bupati Tulungagung. Saat itu, Kabupaten Tulungagung terdiri dari beberapa kawedanan yaitu Tulungagung, Kalangbret, Ngunut, dan Campurdarat. Kawedanan Tulungagung sendiri mencakup Kecamatan Tulungagung, Boyolangu, Kedungwaru, dan Ngantru. Pada zaman kemerdekaan, sistem kawedanan dihapus dan kecamatan berada langsung dibawah kabupaten.[6] Kecamatan Tulungagung berkembang pesat dengan dibangunnya Stasiun Tulungagung dan jalur rel kereta Kediri-Tulungagung-Blitar sekitar tahun 1883 oleh Staatsspoorwegen. Di zaman itu, juga ada jalur kereta lain yang sekarang sudah tidak aktif seperti jalur Tulungagung-Campurdarat-Tugu (Trenggalek).[7]
Daftar kelurahan
Berbeda dari kecamatan lainnya yang memiliki desa, wilayah Kecamatan Tulungagung dibagi menjadi beberapa kelurahan. Kecamatan Tulungagung terdiri dari 14 kelurahan yang terbagi lagi menjadi beberapa rukun warga dan rukun tetangga. Kelurahan tersebut yakni sebagai berikut:[4]