Artikel ini berisi daftar yang lebih baik ditulis dalam bentuk prosa. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengubah artikel ini ke dalam bentuk prosa, jika sesuai. (Desember 2025)
Video tentang stres di tempat kerja (lihat juga: Bagian 2 )
Stres kerja adalah stres psikologis yang berhubungan dengan pekerjaan seseorang. Stres kerja mengacu pada kondisi kronis. Stres kerja dapat dikelola dengan memahami kondisi stres di tempat kerja dan mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki kondisi tersebut.[1] Stres kerja dapat terjadi ketika pekerja tidak merasa didukung oleh supervisor atau rekan kerja, merasa seolah-olah mereka memiliki sedikit kendali atas pekerjaan yang mereka lakukan, atau menemukan bahwa upaya mereka di tempat kerja tidak sepadan dengan imbalan pekerjaan.[2] Stres kerja menjadi perhatian bagi karyawan dan pemberi kerja karena kondisi pekerjaan yang penuh tekanan terkait dengan kesejahteraan emosional karyawan, kesehatan fisik, dan kinerja pekerjaan.[3]Organisasi Kesehatan Dunia dan Organisasi Perburuhan Internasional melakukan sebuah penelitian. Hasilnya menunjukkan bahwa paparan jam kerja yang panjang, beroperasi melalui peningkatan stres kerja psiko-sosial. Ini adalah faktor risiko pekerjaan dengan beban penyakit terbesar yang dapat diatribusikan, menurut perkiraan resmi yang menyebabkan sekitar 745.000 pekerja meninggal karena penyakit jantung iskemik dan stroke pada tahun 2016.[4]
Kematian akibat jam kerja panjang per 100.000 orang (15+), studi bersama yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia dan Organisasi Perburuhan Internasional pada tahun 2016.Rata-rata jam kerja tahunan per pekerja di negara-negara OECD dari tahun 1970 hingga 2020
Sejumlah teori psikologi [8][9][10] setidaknya sebagian menjelaskan terjadinya stres kerja. Teori-teori tersebut meliputi model permintaan-kontrol-dukungan, model ketidakseimbangan usaha-hadiah, model kesesuaian orang-lingkungan, model karakteristik pekerjaan, model stres diatesis, dan model sumber daya permintaan pekerjaan.
Dampak
Pegawai
Fisiologis: tekanan darah tinggi, peningkatan denyut jantung, gangguan pernapasan, ketegangan otot, masalah pencernaan, peningkatan risiko penyakit jantung, kanker, diabetes tipe 2, dan penuaan dini.[11][12][13][14] Stres yang berkepanjangan dapat mengganggu fungsi sistem imun sehingga tubuh lebih rentan terhadap infeksi. Selain itu, stres dapat memengaruhi regulasi hormon seperti kortisol yang berperan dalam metabolisme dan respons tubuh terhadap ancaman. Dalam jangka panjang, kondisi ini menurunkan ketahanan fisik dan kemampuan tubuh untuk melakukan pemulihan.
Psikologis/Emosional: kecemasan, depresi, harga diri menurun, gangguan tidur, penurunan kepuasan kerja dan hidup, serta burnout.[11][12][13][14][15] Stres juga dapat mengganggu kemampuan konsentrasi dan proses pengambilan keputusan individu. Ketidakstabilan emosional yang berkelanjutan dapat memicu konflik interpersonal di lingkungan kerja. Jika tidak ditangani, dampak psikologis ini dapat menghambat produktivitas dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Perilaku: penurunan kinerja, absensi, turnover tinggi, kecelakaan kerja, penyalahgunaan zat, dan gangguan komunikasi.[12][14][15] Perubahan perilaku ini sering muncul sebagai mekanisme coping yang tidak sehat akibat tekanan kerja yang terus-menerus. Kebiasaan buruk seperti merokok berlebihan atau konsumsi alkohol dapat memperburuk kondisi fisik dan mental. Selain itu, perilaku berisiko dapat menciptakan lingkungan kerja yang tidak aman dan mengurangi efektivitas tim.
Organisasi
Penurunan produktivitas dan efisiensi kerja.[16][12][15][17] Stress yang berkepanjangan dapat mengganggu kemampuan konsentrasi dan pengambilan keputusan karyawan. Kondisi ini juga berdampak pada menurunnya kualitas kerja dan meningkatnya kesalahan dalam proses operasional. Akibatnya, organisasi harus mengalokasikan lebih banyak waktu dan sumber daya untuk memperbaiki hasil kerja yang tidak optimal.
Meningkatnya biaya akibat absensi, klaim kompensasi, dan turnover.[18][11][15][19] Absensi yang tinggi memaksa organisasi menanggung biaya pengganti sementara atau lembur bagi karyawan lain. Tingginya tingkat turnover juga menambah beban biaya rekrutmen dan pelatihan pegawai baru. Selain itu, tuntutan kompensasi terkait kesehatan atau kecelakaan kerja dapat mengurangi anggaran operasional organisasi.
Kerugian ekonomi, baik di tingkat nasional maupun global.[11][19] Stress kerja berdampak pada menurunnya produktivitas agregat yang kemudian menghambat pertumbuhan ekonomi. Biaya kesehatan dan kehilangan jam kerja akibat stress juga menambah beban negara dan perusahaan. Pada skala global, akumulasi kerugian ini dapat mengurangi daya saing tenaga kerja dan memengaruhi stabilitas pasar tenaga kerja.
Dimensi dan indikator
Dalam Manajemen Sumber Daya Manusia, Stres kerja diukur menggunakan beberapa dimensi maupun indikator. Berbagai instrumen dan penelitian telah mengidentifikasi sejumlah dimensi stres kerja, yang dapat berbeda tergantung pada konteks pekerjaan dan alat ukur yang digunakan. Berikut adalah dimensi-dimensi stres kerja yang dipakai dalam berbagai penelitian; Setiap dimensi stres kerja diukur melalui berbagai indikator spesifik, yang dapat berupa pernyataan atau item dalam kuesioner, data perilaku, maupun analisis kata kunci.
Workload/Work Overload: Merujuk pada kuantitas pekerjaan dan persepsi kekurangan sumber daya untuk menyelesaikan tugas, termasuk tekanan intensitas kerja dan beban kerja yang tinggi[20][21][22]
Frekuensi lembur, tekanan waktu, tenggat waktu, tingkat pengulangan tugas, dan intensitas kerja[20]
Role Ambiguity dan Role Conflict: Ketidakjelasan ekspektasi peran serta konflik tuntutan pekerjaan dari atasan atau organisasi[22][23]
Ketidakjelasan tanggung jawab, konflik tuntutan dari atasan, dan ambiguitas peran[23]
Control/Decision Latitude: Tingkat kendali atau otonomi dalam pengambilan keputusan terkait pekerjaan[24][25][26]
Partisipasi dalam pengambilan keputusan, otonomi kerja, dan pengaruh terhadap tugas
Tuntutan (Demand): Tuntutan psikologis yang dihadapi individu
Kontrol (Control): Sejauh mana individu dapat mengontrol pekerjaannya
Dukungan Rekan Kerja (Support from Colleagues): Dukungan yang diterima dari rekan kerja
Hubungan (Relations): Kualitas hubungan interpersonal di tempat kerja
Peran (Role): Sejauh mana individu memahami perannya di tempat kerja
Perubahan (Change): Bagaimana perubahan organisasi dikelola[24]
Work Environment dan Work Equipment: Faktor lingkungan kerja dan kelengkapan alat kerja, seperti paparan kebisingan atau kondisi fisik tempat kerja[23][27]
Tempat Kerja Berbahaya (Harmful Workplace): (1) Paparan terhadap bahan kimia beracun (2) Lingkungan kerja yang panas dan lembab
Tuntutan Pekerjaan (Job Demands): (1) Beban kerja fisik yang tinggi (2) Tekanan waktu (3) Tuntutan kognitif yang tinggi
Keadilan (Fairness and Justice): (1) Penyalahgunaan metode penilaian kinerja (2) Metode penilaian yang bias
Aturan dan Peraturan (Rules and Regulations): (1) Kurangnya kepatuhan terhadap aturan (2) Kebijakan dan prosedur yang tidak efisien
Kesejahteraan dan Fasilitas Keuangan (Welfare and Financial Facilities): (1) Penurunan fasilitas (2) Kompensasi yang tidak memadai
Signifikansi Tugas (Task Significance): Kurangnya makna dan pengakuan atas pekerjaan
Dukungan Manajemen (Management Support): kurangnya dukungan dan penghargaan terhadap karyawan.
Masalah Struktural (Structural Problems): perubahan struktur organisasi yang terlalu sering dan ketidakstabilan manajemen.
Kekerasan dan Pelecehan (Violence and Harassment): kurangnya kepercayaan dari manajer dan adanya perilaku saling menjelekkan antar karyawan
Promosi Jabatan (Job Promotion): masalah dalam proses kenaikan jabatan dan pengembangan karier.
Keamanan Kerja (Job Security): ketidakpastian dan ketidakamanan dalam status pekerjaan.
Konflik Kerja–Keluarga (Work-Life Conflict): jadwal kerja yang menyebabkan konflik dengan kehidupan keluarga.
Jadwal Kerja (Work Schedule): masalah ketidakjelasan atau inkonsistensi jadwal kerja yang berdampak pada keseimbangan kerja–hidup.
Kewenangan Pengambilan Keputusan (Decision Latitude): tanggung jawab yang diberikan tanpa disertai kewenangan untuk mengambil keputusan
Berbagi Informasi (Information Sharing): kurangnya komunikasi dan transparansi di dalam organisasi[27]
Job Insecurity dan Career/Achievement: Ketidakpastian pekerjaan, tekanan promosi, dan harapan terhadap pencapaian karir[20][22][26]
Latitude pengambilan keputusan (decision latitude)
Dengan demikian, dimensi dan indikator stres kerja sangat bergantung pada konteks pekerjaan, instrumen yang digunakan, dan tujuan pengukuran, namun secara umum meliputi aspek beban kerja, peran, kontrol, dukungan, lingkungan kerja, keamanan kerja, hubungan interpersonal, dan keseimbangan kehidupan kerja[22][24][27]
↑Centers for Disease Control and Prevention. (Accessed December, 2019). Occupational Health Psychology (OHP). Atlanta: Author.
↑Griffin, M.A, & Clarke, S. (2010). Stress and well-being at work. In S. Zedeck (Ed.), APA handbook of industrial and organizational psychology. Washington, DC: American Psychological Association.[halamandibutuhkan]
↑Hart, P.M & Cooper, C.L. (2002). Occupational stress: Toward a more integrated framework, In D.S. Anderson, N. Ones, and H.K. Sinangil, (Eds.), (2018) Handbook of industrial, work and organizational psychology, Vol. 2, Organizational Psychology (pp.93–115). Thousand Oaks, CA, Sage.[halamandibutuhkan]
↑Cooper, C. L. (1998). Theories of organizational stress. Oxford, UK: Oxford University Press.[halamandibutuhkan]
↑Mark, George M.; Smith, Andrew P. (2008). "Stress models: a review and suggested new direction". Dalam Houdmont, J.; Leka, S (ed.). Occupational Health Psychology. Nottingham University Press. hlm.111–144. ISBN978-1-904761-82-2.
↑Schonfeld, I.S., & Chang, C.-H. (2017). Occupational health psychology: Work, stress, and health. New York: Springer Publishing Company.[halamandibutuhkan]