Sebelum tahun 1819, pulau itu dikenal dengan beberapa nama. Rujukan pertama dipercaya terdapat dalam karya Ptolemaeus dari abad ke-2 yang mengidentifikasi pelabuhan pesisir di ujung selatan Semenanjung Melayu, yang disebut Sabana. Namun, para sejarawan umumnya mengaitkan catatan pelancong Tiongkok abad ke-3 yang menggambarkan sebuah pulau di lokasi yang sama yang disebut Pu Luo Chung, ejaan dari nama Melayu untuk Singapura, Pulau Ujong, sebagai catatan pertama yang diakui.
Ptolemaeus, Geographia, VIII. Peta Asia ke-11. Sabana disebutkan terletak di ujung Semenanjung Emas yang diduga merupakan Semenanjung Melayu
Dari teks-teks sejarah utama yang berasal dari sebelum abad ke-14, para sarjana telah mengenal sekitar 24 nama yang mungkin merujuk ke Pulau Singapura.[1] Singapura mungkin telah ditandai di peta kuno dari abad ke-2 Masehi dalam Geographia karya astronom Yunani-Romawi Ptolemaeus. Sebuah tempat yang bernama Sabana atau Sabara ditandai pada Peta Asia ke-11 di ujung selatan Semenanjung Emas (yang diduga merujuk pada Semenanjung Melayu) ditengarai merupakan Singapura.[2] Tempat ini diidentifikasi sebagai nominon emporion atau pelabuhan perdagangan asing, sebagai bagian dari jalur perdagangan maritim yang membentang dari Asia Tenggara hingga India dan Laut Mediterania.[3] Identifikasi Sabana atau Sabara bervariasi, di mana berbagai penulis menduga tempat itu berada di Selangor atau dekat Klang, atau tepat di selatan Melaka, atau selatan Johor, serta Pulau Singapura itu sendiri. Belum ada bukti arkeologis dari periode ini yang ditemukan di Singapura.[2][4]
Catatan tertulis Tiongkok abad ke-3 menggambarkan sebuah lokasi bernama Pu Luo Zhong (蒲羅中), yang merupakan ejaan dari nama Melayu Pulau Ujong, "pulau di ujung" (Semenanjung Melayu), yaitu Pulau Singapura.[5] Catatan itu juga menyebutkan secara singkat sebuah kabar burung tentang orang kanibal berekor sepanjang 5 atau 6 inci yang tinggal di sana.[6] Sejauh mana Pu Luo Zhong dapat diidentifikasi dengan Singapura masih diperdebatkan hingga sekarang.[7]
Referensi lain yang mungkin untuk Singapura ditemukan dalam Nanhai Jigui Neifa Zhuan (Catatan Praktik Buddhisme yang Dibawa Pulang dari Laut Selatan), sebuah catatan perjalanan biksuBuddhaYijing dari Dinasti Tang. Yijing menyebutkan beberapa pulau yang terletak di Asia Tenggara saat ini. Salah satunya, yang disebut Mo-he-xin atau Mo-ho-hsin (摩诃新), yang diduga merujuk pada Singapura kuno.[8]
Prasasti Singapura
Pecahan Prasasti Singapura, bertuliskan aksara yang tidak diketahui, kira-kira dari abad ke-10 hingga ke-13.
Sebuah batu besar setinggi dan selebar 3 meter, dengan dilengkapi tulisan, ditemukan di muara Sungai Singapura. Batu tersebut diledakkan ketika Benteng Fullerton diperluas dan muara sungai diperlebar. Hanya beberapa fragmen yang bertahan, dan batu itu dikenal sebagai Prasasti Singapura. Beberapa tarikh diusulkan dari abad ke-10 hingga ke-13 untuk prasasti yang belum terbaca itu. Aksara yang digunakan diyakini terkait dengan aksara yang dipakai dalam bahasa-bahasa di Sumatra pada zaman itu.[9][10]
Singapura pada awalnya disebut "Temasek" atau "Tumasik", sebuah kata yang mungkin berasal dari kata "tasik" (kata Melayu yang juga bermakna danau atau laut).[11]Kakawin Nagarakretagama, sebuah kakawin berbahasa Jawa Kuno yang ditulis pada tahun 1365, menyebutkan sebuah pemukiman yang disebut Tumasik sebagai wilayah bawahan Majapahit.[12] Nama tersebut juga disebutkan dalam hikayat Sulalatus Salatin yang diperkirakan ditulis pada tahun 1535.[11] Temasek mungkin memiliki hubungan diplomatik dengan Vietnam, yang mencatatnya sebagai Sach Ma Tich, sejak awal abad ke-13.[13] Nama tersebut juga dicatat oleh penjelajah Tiongkok Wang Dayuan yang berkunjung ke pulau tersebut sekitar tahun 1330 dan menggambarkan sebuah tempat yang disebut Dan Ma Xi (單馬錫, transkripsi Tionghoa dari Temasek). Nama Dan Ma Xi atau Temasek ditulis dalam bahasa Tiongkok sebagai 淡馬錫 dalam peta Mao Kun.
Long Ya Men dan Ban Zu
Peta Mao Kun dari Wubei Zhi dibuat berdasarkan peta navigasi awal abad ke-15 buatan Zheng He, yang menunjukkan Temasek (淡馬錫) di kiri atas, dan Longyamen (龍牙門) di panel kanan. Temasek digambarkan memiliki dua pemukiman berbeda menurut Wang Dayuan, Longyamen dan Banzu.
Tercatat pada tahun 1320, Dinasti Yuan mengirim misi untuk memperoleh gajah dari Long Ya Men (龍牙門, Gerbang Gigi Naga).[14] Orang-orang Longyamen kemudian merespons pada tahun 1325 dengan mengirim upeti dan misi perdagangan ke Tiongkok.[15]Long Ya Men diyakini sebagai pintu masuk ke Pelabuhan Keppel di era modern. Dalam karyanya Daoyi Zhilüe, Wang Dayuan menggambarkan Long Ya Men sebagai dua bukit Temasek yang tampak seperti "gigi Naga" yang di tengahnya terdapat selat, dan menulis tentang tempat itu:
Sawahnya tandus dan hanya ada sedikit padi ... Pada zaman dahulu, ketika menggali tanah, seorang kepala suku menemukan hiasan kepala berhiaskan permata. Awal tahun dihitung dari terbitnya bulan [pertama], ketika kepala suku mengenakan hiasan kepala ini dan mengenakan pakaian [upacara] untuk menerima ucapan selamat [dari rakyat]. Hingga kini, tradisi demikian masih dipelihara. Penduduk pribumi dan orang Tionghoa tinggal berdampingan. Sebagian besar [penduduk asli] mengikat rambut mereka menjadi sanggul, dan mengenakan baju katun pendek yang diikat dengan sarung katun hitam.
—Wang Dayuan, terjemahan oleh Paul Wheatley.[16][17]
Perhiasan yang ditemukan di Banzu, sekarang bernama Fort Canning Hill
Wang lebih lanjut menyebutkan bahwa kayu laka dan timah dihasilkan di sana dan penduduk asli berdagang dengan orang Tionghoa dari Quanzhou, tetapi kapal jung Tiongkok yang dalam perjalanan kembali dari Samudra Barat (西洋) kerap berurusan dengan perompak yang menyerang dengan dua hingga tiga ratus perahu.[17] Wang menggambarkan pemukiman lain di sebuah bukit di belakang Long Ya Men yang disebut Ban Zu (班卒, ejaan dari nama Melayu pancur, yang juga berarti mata air). Pemukiman ini diduga terletak di Fort Canning Hill, dengan mata air yang dulunya terletak di sisi barat bukit.[18] Warga Ban Zu digambarkan sebagai orang yang jujur, dan mereka "mengikat rambut mereka pendek, dengan sorban satin berlapis emas," dan berpakaian kain merah.[19]
Wang juga melaporkan bahwa orang Siam menyerang Temasek beberapa tahun sebelum ia berkunjung, tetapi kawasan itu selamat dari serangan yang berlangsung selama sebulan.[20] Reruntuhan pemukiman di bukit masih terlihat pada awal abad ke-19 dan dideskripsikan oleh Residen John Crawfurd. Pada tahun 1928, beberapa ornamen emas yang berasal dari pertengahan abad ke-14 ditemukan di Fort Canning Hill.[21]
Penggalian terkini di Fort Canning Hill memberi bukti bahwa Singapura merupakan pelabuhan yang cukup penting pada abad ke-14[22] dan digunakan untuk transaksi perdagangan antara orang Melayu dan Tionghoa. Berbagai dokumen menunjukkan bahwa setelah jatuhnya kekuasaan Sriwijaya, Temasek secara bergantian diperebutkan oleh Majapahit dari Indonesia dan Ayutthaya dari Thailand.
Pada suatu ketika dalam sejarahnya, nama Temasek diubah menjadi Singapura. Kitab Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu) memuat kisah tentang seorang pangeran dari Palembang, Sri Tri Buana (juga dikenal sebagai Sang Nila Utama), yang mendarat di Temasek setelah selamat dari badai pada abad ke-13. Menurut kisah tersebut, sang pangeran melihat makhluk aneh, yang kemudian diidentifikasi sebagai singa. Meyakini hal ini sebagai pertanda baik, ia mendirikan pemukiman bernama Singapura, yang berarti "Kota Singa" dalam bahasa Sanskerta. [23]:37,88–92[24]:30–31 Tidak ada bukti bahwa singa pernah hidup di Singapura, meskipun harimau malaya pernah ada di pulau itu hingga awal abad ke-20. Namun, singa merupakan hewan yang sering disinggung dalam agama Hindu, yang dominan di wilayah tersebut selama periode itu (kata Melayu "singgasana" secara harfiah bermakna "kursi singa" dalam bahasa Sanskerta). Terdapat pula spekulasi bahwa kata "Singapura", dan kisah perjumpaan dengan singa, direka oleh para sejarawan istana Kesultanan Melaka untuk memuliakan Sang Nila Utama dan garis keturunannya.[25]
Catatan yang berbeda diberikan oleh apoteker Portugis Tomé Pires dalam Suma Oriental, yang disusun tidak lama setelah perebutan Melaka oleh Portugis. Sumber Jawa yang dikutip oleh Pires sebaliknya menyatakan bahwa Temasek adalah daerah kekuasaan Siam yang penguasanya, bergelar Sang Aji, dibunuh oleh Parameswara dari Palembang pada akhir abad ke-14.[26] Parameswara kabur ke Temasek dari Palembang setelah digulingkan oleh Majapahit, dan dengan kasar merebut kekuasaan Sang Aji delapan hari setelah disambut di Temasek, kemudian melarikan diri ke Muar, kemudian Melaka untuk menghindari pembalasan dari Siam.[27]
Nama "Singapura" mungkin berasal dari periode ini. Beberapa orang berpendapat bahwa Singapura dinamai menurut "takhta singa" yang didirikan Parameswara di Palembang sebagai tantangan bagi Majapahit, dan karenanya ia diusir dari Palembang.[28] Parameswara menguasai Singapura selama beberapa tahun, hingga serangan selanjutnya dari Majapahit atau Ayutthaya di Siam memaksanya pindah ke Melaka di mana ia mendirikan Kesultanan Melaka.[29] Meski terdapat kesamaan antara Sang Nila Utama yang mistis dan Parameswara yang historis, keduanya dianggap berbeda.[29]
Bukti arkeologis menunjukkan bahwa pemukiman utama di Benteng Canning ditinggalkan pada era ini, meskipun pemukiman perdagangan kecil terus berlanjut di Singapura untuk beberapa waktu setelahnya.[28] Singapura menjadi bagian dari Kesultanan Melaka, dan konon merupakan wilayah kekuasaan laksamana legendaris Hang Tuah.[30] Namun, pada saat Portugis tiba di awal abad ke-16, Singapura yang sudah ada sebelum Melaka didirikan telah menjadi "reruntuhan besar" menurut penguasa Melaka Afonso de Albuquerque.[31][32]
Kesultanan Johor
Setelah Albuquerque merebut Melaka pada tahun 1511 untuk Portugis, laksamananya melarikan diri ke Singapura. Pada abad ke-16 dan awal abad ke-17, tempat ini sempat memperoleh kembali status penting sebagai pusat perdagangan negara penerus Kesultanan Melaka yakni Johor di mana sang sultan menempatkan seorang syahbandar di Kallang. Pada tahun 1603, orang Melayu Johor membentuk aliansi dengan Belanda dan menangkap sebuah kapal Portugis, Santa Catarina di lepas pantai timur Singapura; barang jarahan berupa porselen kemudian dikenal sebagai keramik Kraak, dan arbitrase atas legalitas serangan Belanda melibatkan risalah karya Hugo Grotius, Mare Liberum, yang secara luas dianggap sebagai cikal bakal hukum maritim modern.[28]
Portugis menghancurkan pos di Singapura pada tahun 1613,[33][34] tetapi tak lama kemudian pada awal tahun 1620-an, dibangunlah sebuah benteng di Selat Singapura untuk menandingi kekuatan Belanda yang sedang bangkit.[28] Pengunjung daerah tersebut pada abad ke-17 menyebutkan bahwa daerah tersebut dihuni oleh Orang Laut yang hidup di perairan di bawah kekuasaan Johor,[35] tetapi Singapura tidak banyak disebutkan dalam sejarah kecuali sebagai lokasi pertempuran laut antara Johor dan Siak pada tahun 1767.[28]
Referensi
↑Kwa, Chong Guan (2019). Seven hundred years: a history of Singapore. Singapore: Marshall Cavendish. hlm.19–20. ISBN978-981-4828-10-9. OCLC1103575493.
↑"島夷誌略". Full original text: 門以單馬錫番兩山,相交若龍牙狀,中有水道以間之。田瘠稻少。天氣候熱,四五月多淫雨。俗好劫掠。昔酋長掘地而得玉冠。歲之始,以見月為正初,酋長戴冠披服受賀,今亦遞相傳授。男女兼中國人居之。多椎髻,穿短布衫。繫靑布捎。 地產粗降眞、斗錫。貿易之貨,用赤金、靑緞、花布、處甆器、鐵鼎之類。蓋以山無美材,貢無異貨。以通泉州之貨易,皆剽竊之物也。舶往西洋,本番置之不問。回船之際,至吉利門,舶人須駕箭稝,張布幕,利器械以防之。賊舟二三百隻必然來迎,敵數日。若僥倖順風,或不遇之。否則人為所戮,貨為所有,則人死係乎頃刻之間也。