Patung Sang Nila Utama didirikan di Situs Pendaratan Raffles sebagai bagian dari acara memperingati peringatan dua abad Pendirian Singapura modern, bersama dengan perintis Singapura lainnya pada periode modern.[1]
Sang Nila Utama adalah seorang pangeran Sriwijaya dari Palembang dan merupakan Raja Kerajaan Bintan ke-3 dan pendiri Kerajaan Singapura pada 1299.[2][3] Gelar resmi yang diadopsi pada penobatannya adalah Sri Tri Buana dengan arti "Raja Tiga Negara".
Biografi
Dalam Sulalatus Salatin, versi A. Samad Ahmad, Sang Nila Utama anak raja Shuran, Raja Sriwijaya terakhir. [4]
Dalam Sulalatus Salatin, Sang Nila Utama disebutkan sebagai putra pasangan Sang Sapurba dengan Wan Sundaria (anak dari Demang Lebar Daun, penguasa Palembang). Ia menikah dengan Wan Sri Bini, dan awalnya menjadi raja di Bintan sebelum pindah ke Singapura.[5]
Sang Nila Utama adalah ayah dari dua putra, dari hasil pernikahannya dengan Wan Sri Bini, yaitu Raja Kechil-Besar dan Raja Kechil-Muda. Sang putra sulung, Raja Kechil-Besar, menikah dengan Nila Panchadi, seorang putri dari India dan yang lebih muda, Raja Kechil-Muda menikah dengan sepupunya, seorang cucu dari Demang Lebar Daun. Setelah memerintah Singapura selama 48 tahun, Sang Nila Utama wafat pada tahun 1347 dan Raja Kechil-Besar naik tahta sebagai Sri Wikrama Wira sebagai Raja Singapura kedua, Kechil-Muda ditunjuk sebagai perdana menteri dan Bendahara dari pelabuhannya. Sang Nila Utama dimakamkan di Bukit Larangan, sekarang dikenal sebagai Fort Canning Hill.[6] Lokasi persis makamnya tidak diketahui, meskipun altar di Keramat Iskandar Shah dapat dianggap dekat dengan pemakaman kerajaan di atas bukit.
↑
Singapore. Ministry of Culture, Singapore. Ministry of Communications and Information. Information Division (1973). Singapore facts and pictures. Singapore: Ministry of Culture. hlm.9. ISSN0217-7773.
↑Abshire, Jean (2011). The History of Singapore. The Greenwood Histories of the Modern Nations. ABC-CLIO. hlm.19. ISBN978-0-313-37743-3. Diakses tanggal 2013-07-18. The Malay Annals do not include dates, but tracing the succession of Sang Nila Utama's descendants and dates surrounding events during their reigns suggests the establishment of the new settlement took place in 1299.
↑Ahmad, A. Samad (1612). "Sulalatus Salatin"(PDF). Sabirin.org. Diakses tanggal 6 Februari 2026.
↑Raffles, T. S., (1821), Malay annals (trans. John Leyden), Longman, Hurst, Rees, Orme, and Brown